
Rani Paramitha baru saja sampai di rumah mewahnya dengan wajah memerah karena dikuasai oleh pengarah ketika mengingat kejadian dikontrakan yang menjadi tempat tinggal putranya.
Kini, terlihat wanita paruh baya itu tampak kesal dengan penolakan yang dilakukan Putri. Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika, ternyata Putri tidak mudah terpengaruh dengan uang yang ditawarkan tadi. Padahal uang itu dengan jumlah sangat besar dan bisa digunakan membeli apapun yang diinginkan oleh wanita miskin itu.
Wanita dengan bibir merah itu melempar tasnya ke atas ranjang berukuran king size di dalam ruangan kamarnya, lalu berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan. Beberapa kali ia berdecak kesal mengingat perkataan wanita yang sangat dibencinya tersebut.
“Cinta? Dasar wanita tidak tahu diri! Bagaimana bisa ia menolak uang yang sangat banyak ini? Aku akan membuat pelajaran dengannya! Wanita murahan tidak boleh terus berada di samping Arya "
"Bagaimanapun, Arya adalah pewaris tunggal perusahaan keluarga dan jangan sampai hanya karena seorang wanita murahan itu, harus kehilangan semua. Aku tidak rela jika masa depan putraku yang sangat kubanggakan hancur karena Putri."
Ia memijat kening yang terasa sakit karena memikirkan apa yang terjadi pada keluarganya. Rani Paramitha tidak biasanya berdiam diri dengan masalah seperti ini.
Hanya saja, beberapa kali ancaman tegas dilontarkan oleh sang suami dan membuat Rani mundur untuk memberikan pelajaran pada Putri. Semua itu karena sang suami tidak ingin nama baik keluarga dipertaruhkan jika sampai ia berbuat jahat pada wanita yang menjadi menantu tak diinginkan tersebut.
“Aku harus meyakinkan suamiku untuk menyelamatkan Arya. Aku harus merencanakan sesuatu agar tidak ada yang bisa mengambil Arya dari keluarga ini.”
Wanita dengan tangan mengepal itu pun berdiri. Kemudian berjalan kembali menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri sebelum suaminya pulang.
Ya, ia tadi menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan para sahabatnya di sebuah restoran karena ingin melampiaskan kemarahan akibat hari ini melihat posisi putra kesayangannya yang bekerja sebagai seorang cleaning service.
Berpikir jika amarahnya akan berkurang setelah berkumpul dengan para sahabatnya. Namun, saat para temannya berpamitan pulang, ia masih belum merasa lebih baik, sehingga memilih untuk datang menemui wanita yang telah membuat putranya pergi dari rumah.
Setengah jam kemudian, ia baru saja selesai melakukan ritual membersihkan diri dan saat baru saja keluar dari kamar mandi,
benar saja apa yang dipikirkan tadi, bahwa sang suami ternyata sudah pulang.
__ADS_1
Bahkan ia berpikir baru selesai membersihkan diri. Saat ini, ia sudah melihat suaminya tengah duduk di sofa dengan wajah lelah.
Terlihat pria paruh baya tersebut tengah meregangkan dasi dan melepaskan satu persatu kancing kemeja.
Tatapan matanya tampak tidak peduli dengan sang istri yang kini hanya mengenakan wardrobe berwarna putih dan juga handuk kecil melilit di atas rambut basah itu. Ia bahkan saat ini tengah menaikkan kedua alis ketika melihat sang istri baru mandi.
“Kamu sudah sampai rumah? Aku kira kamu mau lembur, Sayang.”
Masih menatap penuh keheranan, kini Ari Mahesa memilih untuk menginterogasi sang istri yang ditebak olehnya tadi baru saja pulang dari acara bersama para wanita sosialita.
“Kamu ke mana saja hari ini? Memangnya kenapa jika aku tidak pulang larut malam seperti biasanya? Kamu lebih suka aku tidak ada di rumah?”
Tidak ingin suasana memanas di antara ia dan sang suami, refleks Rani langsung menggeleng perlahan. Menandakan jika ia kali ini ingin merayu sang suami agar mau mendukung rencana besar yang tadi sempat terlintas ketika berada di dalam kamar mandi.
Padahal tadi di perusahaan seperti sangat sibuk."
Rani kini menelan kasar saliva sebelum mengungkapkan ide di kepalanya yang akan membuat Putri tidak menjadi prioritas utama putranya.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu mengenai putra kita." Ia yang baru saja menutup mulut, kini merasa sangat kecewa dengan jawaban dari sang suami yang tidak banyak berbicara dan seolah tengah mendapat masalah.
“Aku lelah. Jangan menambah beban pikiranku hari ini untuk memikirkan sesuatu. Besok saja dilanjutkan. Setelah mandi, aku ingin beristirahat karena kepala agak pusing."
Ari Mahesa berlalu melewati istrinya dan masuk kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena seharian bekerja.
Sementara Rani saat ini merasa sangat sangat kecewa karena belum bisa mengatakan rencananya pada pria yang telah menghilang di balik pintu tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan suamiku ketika moodnya baik Sekarang bukanlah saat yang tepat. Pasti hari ini ia sedang dibuat pusing dengan banyak pekerjaan."
"Salah sendiri, semua itu bisa terjadi karena tidak membiarkan putra sendiri membantu. Malah menyuruh Arya menjadi petugas kebersihan. Mimpi buruk apa aku semalam, hingga hari ini melihat putraku bernasib malang dengan membersihkan perusahaan."
Rani yang saat ini masih terdiam di sofa, mendengar suara gemericik air dan membuat ia menatap ke arah kamar mandi. Di mana sang suami berada saat ini.
"Baiklah, aku akan mengatakan rencanaku pada suami besok pagi saja," ucap Rani dan mulai berjalan ke arah ruangan walk in closet untuk mengganti wardrobe dengan piyama.
Kemudian turun ke lantai satu, mengambilkan makanan untuk sang suami. Sudah menjadi kebiasaan Ari Mahesa makan di dalam kamar saat malam hari karena semenjak kepergian Arya, suasana rumah sangat sepi.
Tentu saja ada yang hilang dari rumah itu dan semakin hari, membuat Rani kesepian saat sudah jarang bertemu dengan Arya setelah bekerja di perusahaan dan membuatnya sangat shock hari ini.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rani sudah bangun dan kini mereka telah berada di ruang makan. Ia kini mencoba untuk membuka suara.
“Aku mau ke kantor hari ini. Aku tidak bisa melihat Arya masih bekerja sebagai petugas kebersihan di sana. Mau dikemanakan muka kita sebagai orang tua jika para rekan bisnismu tahu mengenai hal ini? Mungkin mereka akan membuat masalah dengan membatalkan kerja sama dengan seorang ayah yang kejam pada putranya sendiri.”
Rani membuka percakapan pagi tanpa memperdulikan jika berhasil menyulut emosi suaminya.
Sementara saat ini Ari Mahesa masih tampak diam dan tidak menjawab apa yang diinginkan istrinya itu.
Hingga saat sang istri kembali berkata dan membuat pria yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya itu berhenti, lalu berdiri dari posisinya dan mengarahkan tatapan tajam.
To be continued...
__ADS_1