Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
264. Bayangan istri


__ADS_3

Tiga kali Arya menekan tombol pangilan pada kontak ayahnya, tetapi pria paruh baya tersebut belum juga mengangkat panggilan.


Ia juga baru ingat jika sang ayah mengatakan, kemungkinan akan pulang malam hari ini karena ada pertemuan dengan investor dari Singapura.


Namun, baru Arya akan duduk, ponsel di tangannya berdering dan nama sang ayah muncul di sana.


Arya segera mengangkat panggilan tersebut dan menceritakan tentang kondisi sang ibu pada pria paruh baya itu.


Ari Mahesa mengatakan jika ia akan langsung ke rumah sakit setelah pertemuannya dengan klien.


Sementara Arya memilih untuk menunggu di luar ruangan sampai dokter selesai memeriksa kondisi sang ibu.


“Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?” Arya segera menghampri dokter laki-laki tersebut ketika sang dokter ke luar dari ruangan sang ibu.


“Pasien sudah menunjukkan perkembangan yang bagus."


"Pasien juga sudah bisa merespon kami dengan berkedip dan anggukan pelan. Kami juga sudah melepaskan ventilator pada pasien karena sepertinya tidak memerlukan lagi alat tersebut."


"Kami akan terus memantau kondisi pasien dan melihat perkembangannya. Apakah sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap atau belum."


"Namun, untuk malam ini, biarkan pasien istirahat terlebih dahulu.” ujar sang dokter menjelaskan.


“Apakah itu artinya Mama saya sudah melewati masa komanya, Dokter?” tanya Arya lagi dengan binar wajah penuh kebahagiaan.


“Bisa dikatakan begitu. Kami sudah memeriksa semua organ vital pasien dan masih berfungsi dengan baik, tidak ada masalah apapun. Kita lihat lagi perkembangannya besok.”


“Baik. Terima kasih, Dokter," ucap Arya dan mendapat anggukan dari sang dokter.


Arya bahkan menghela napas lega. Ia kemudian melihat sang ibu dari kaca yang ada di depannya.


Dari sana, Arya bisa melihat jika alat bantu pernapasan yang selama satu minggu lebih menempel di tubuh sang ibu, kini sudah tidak ada lagi.


“Cepat pulih, Ma,” gumam Arya dengan bola mata berkaca-kaca, tanda bahwa ia saat ini sangat bahagia karena sang ibu akhirnya telah sadar dari koma.


Pukul delapan malam, Ari Mahesa sampai di rumah sakit tempat sang istri dirawat. Ia melebarkan langkahnya, suara decitan sepatu yang dikenakan beradu dengan lantai lorong rumah sakit.


Ari Mahesa harus menolak undangan makan malam dari salah satu rekan bisnisnya karena ingin segera ke rumah sakit dan melihat keadaan istrinya.


Rekan kerja yang memang sudah mengetahui kondisi sang istri pasca kecelakaan, memaklumi penolakan untuk makan malam bersama. Mereka turut mendoakan kesembuhan istri rekan bisnis mereka tersebut.


“Arya.” Ari Mahesa segera menghampiri putranya yang sedang duduk di depan ruang ICU. “Bagaimana kondisi mamamu? Apa ia benar-benar menggerakkan jarinya dan bisa bicara?” tanya Ari Mahesa dengan raut wajah penuh penasaran.


“Iya, Pa. Aku melihat dan mendengarnya sendiri. Dokter sudah memeriksa mama dan melepasakan ventilator karena sudah bisa bernapas tanpa bantuan alat itu lagi.”


“Terima kasih, Tuhan.” Ari Mahesa duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

__ADS_1


Ia mengusap wajahnya dan mengembuskan napas dengan lega. “Apa lagi yang dokter katakan?”


“Mereka akan memantau kondisi mama dan melakukan pemeriksaan kembali."


"Apakah mamamu sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap atau belum. Dokter juga sudah memeriksa semua organ vital, semuanya berfungsi dengan baik dan tidak ada masalah apapun.” Arya menjelaskan apa yang sudah dokter sampaikan sebelumnya.


“Syukurlah. Semoga Mama kamu bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap,” ujar Ari Mahesa dan mendapat sahutan dari putranya. “Apa kamu sudah makan malam?”


“Belum, Pa."


“Ya sudah. Kita makan malam ditempat biasa saja,” Ajak Arya pada putranya.


“Iya.”


***


Putri terus memandangi ponsel yang ia letakkan diatas nakas di samping tempat tidurnya.


Jam yang menempel di dinding kamarnya sudah menunjukkan tengah malam malam, tetapi ia masih belum bisa memejamkan mata. Ia seperti sedang menunggu ponsel itu berdering.


Sesekali ia menghela napas berat.


Apakah keinginanya agar Arya menelponnya, terlalu berlebihan? Putri masih mengingat pesan terakhir yang dikirimkan oleh suaminya sore tadi.


Arya mengatakan jika ia sedang lelah, ingin istirahat dan tidak mau diganggu. Dadanya terasa nyeri saat membaca chat dari pria yang masih menjadi suminya tersebut.


Ia terus meyakinkan hatinya jika Arya pasti sangat sibuk karena pria itu sekarang harus mengemban amanah sebagai pimpinan di perusahaan ayahnya.


Putri mencoba untuk terus menampik segala pikiran buruk yang tidak pernah bisa pergi dari pikirannya.


“Aku tidak boleh stres."


"Aku tidak boleh memikirkan hal-hal aneh. Kalau tidak, akan berpengaruh pada produksi asiku,” lirih Putri dengan suara bergetar.


Ya, sebagai seorang ibu yang sedang memberikan air susu ibu untuk putranya, Putri harus benar-benar menjaga kondisi tubuh dan juga mentalnya.


Ia tidak ingin stres dengan segala pemikiran yang belum pasti. Meskipun rindu, mencoba untuk menahan perasaan itu.


Mungkin sang suami masih membutuhkan adaptasi di lingkukan kantor yang baru dan juga jabatan yang pria itu terima saat ini.


Saat ini, yang ia tahu, seorang pimpinan perusahaan memang mengemban beban yang lebih besar dari karyawan biasa. Terlebih lagi, waku Arya sekarang pasti lebih banyak dihabiskan di kantor.


Putri selalu mengkhawatirkan kondisi suaminya. Apakah pria itu sudah makan?


Apakah suaminya bisa istrihat dengan teratur? Siapa yang mengurusnya di sana?

__ADS_1


Apakah pria itu selalu minum vitamin? Sekelebat pertanyaan itu terkadang ingin ia tanyakan pada suaminya langsung.


Terkadang juga ingin mendatangi kantor di mana Arya bekerja. Hanya untuk melihat keadaan suaminya. Namun, sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa saat ini. la hanya sebatas istri yang disembunyikan oleh suaminya.


Mungkin seandainya mereka bertemu di luar pun, Arya akan berpura-pura tidak kenal dengannya.


Putri mengerti keadaan ini dan ia tidak ingin terlalu memikirkan itu. Ia yakin jika semua ini hanya untuk sementara.


Ia kembali mengingat semua janji Arya padanya. Bukankah sang suami sudah berjanji jika ia adalah rumah tempat untuk kembali?


Ia dan Xander adalah harta yang paling berharga yang Arya miliki di dunia ini.


Putri tidak pernah membayangkan jika ia akan dicampakkan oleh Arya dan akan benar-benar dibuang dari hidup pria tersebut.


Terkadang cinta memang sebuta itu. Bukan hanya membutakan mata saja. Terkadang akal sehat pun tidak bisa berfungsi jika menyangkut soal cinta.


Begitu pun dengan Putri. Seharusnya perubahan Arya yang begitu kentara, bisa membuat pikiran dan mata hatinya terbuka lebar, serta mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Namun, cinta telah membuat wanita itu memilih diam dan menampik semuanya.


Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan Arya untuk membantu sang ayah menggantikan posisi pria paruh baya tersebut di perusahaan, Putri akan tetap menunggu sampai pria yang sangat dicintai kembali lagi bersamanya.


Putri terlalu percaya dengan semua kalimat dan janji yang pria itu ucapkan. Putri lupa jika hati dan pikiran manusia bisa berubah kapan saja, termasuk Arya.


***


Sementara itu Ari Mahesa dan Arya memutuskan untuk kembali ke rumah setelah makan malam.


Dokter sudah mengatakan jika mereka tidak perlu sampai menginap di rumah sakit untuk menunggu Rani karena sudah ada dua perawat yang memang dibayar khusus untuk menjaga istrinya sepanjang malam.


Mereka akan segera mengabarkan jika terjadi sesuatu dengan istrinya. Terlebih lagi, Rani masih dirawat di ruang ICU.


Di mana hanya pada waktu tertentu saja mereka bisa menjenguk dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Jika nanti wanita paruh baya itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, maka pihak keluarga bisa menemani di ruangan tersebut lebih lama.


“Istirahatlah, Pa. Besok kita akan kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi mommy. Hari ini Papa pasti sangat lelah,” ujar Arya singkat. Ia bisa melihat wajah lelah pria yang menjadi ayahnya tersebut.


“Iya. Kamu juga pergilah istirahat,” balas Ari Mahesa sembari menepuk pundak putranya sebelum ia meninggalkan dan masuk ke dalam kamar.


Arya pun melangkahkan kakinya setelah memastikan jika sang ayah sudah masuk ke dalam kamar. Ia sudah selesai membersihkan diri. Kini, hanya mengenakan kaos dan celana pendek yang memebungkus tubuhnya.


Tetesan air masih terlihat jelas dirambut hitamnya. Ia membawa sebuah handuk kecil yang akan dipakai untuk mengeringkan rambut yang masih basah.


Arya mengempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di sana. Perlahan ia mulai mengusap rambutnya dengan handuk yang dibawa. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti dan ia mentaap lurus ke depan tanpa berkedip.

__ADS_1


“Putri ....”


To be continued...


__ADS_2