
Putri merasa jantungnya seperti mendapat hujaman tombak tajam begitu Bagus kini sudah bukan lagi suaminya. Masih menggendong bayinya, ia meremas tangan untuk meluapkan perasaan membuncah yang dirasakan.
"Maafkan aku," lirih Putri yang saat ini menatap punggung lebar pria yang sudah sepuluh tahun menjadi suaminya menghilang di balik pintu.
Ia merasa jika kebahagiaannya seperti berakhir setelah Arya kembali ke rumah keluarga dengan alasan sang ibu yang dirawat di rumah sakit.
Namun, tetap saja ia mencoba untuk berpikir positif. Bahwa Arya sedang berusaha untuk merayu sang ayah, agar mau menerimanya dan diizinkan tinggal di rumah besar keluarga Mahesa.
Sementara itu, Amira Tan yang sebenarnya ingin sekali mengantarkan Bagus pulang dengan mobilnya, tidak jadi melakukan niatnya karena saat ini berpikir jika ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan saudara tirinya tersebut.
"Aku sebenarnya datang ke sini karena ada perlu denganmu. Bukan karena hanya ingin menjenguk bayimu, tapi ini ada sesuatu yang harus kamu jawab dengan jujur."
Putri memilih untuk mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan posisinya masih menggendong Xander. Putranya kini sudah tenang dan kembali tidur, tapi masih belum ia baringkan di atas ranjang.
Sementara itu, Amira Tan yang tidak ingin pembicaraan penting mereka didengar oleh orang lain, ia memeriksa, apakah Bagus sudah pergi.
Begitu ia mengetahui bahwa Bagus sudah pergi dari rumah kontrakan Putri, kini mengungkapkan ketakutannya.
"Aku sudah tahu semuanya, jadi kamu tidak perlu menutupi apapun dariku. Mengenai Arya pergi dari sini dan tinggal di rumah keluarga besarnya. Aku pikir kamu akan mengatakan pada Bagus, lalu kalian kembali bersama."
"Namun, ternyata aku salah karena sepertinya kamu ingin merahasiakan semua yang terjadi dari Bagus. Sekarang aku merasa sangat lega karena sepertinya kekhawatiranku tidak beralasan."
Meskipun sebenarnya kalimat panjang lebar dari Amira Tan terdengar seperti ambigu, tetapi Putri bisa menangkap jika saudara tirinya tersebut sepertinya tidak menyukai jika ia kembali dengan mantan suami.
"Aku seharusnya senang karena memiliki seorang saudara tiri yang merupakan pengacara hebat dan mengetahui semuanya. Namun, ada satu hal yang selalu menggangguku. Apa yang membuatmu menyukai Bagus?"
__ADS_1
"Kamu adalah seorang wanita yang hebat dan pastinya banyak para pria hebat dan mapan yang ingin menikahimu, tapi kenapa memilih Bagus dari sekian banyak pria di dunia ini?"
Putri memang sama seperti Amira Tan, tidak terlalu saling menyukai sebagai saudara. Namun, ia kali ini ingin menjadi seseorang yang berguna.
Ia berharap bisa menyadarkan Amira Tan agar tidak menyesal dan meneruskan jejaknya, yaitu berselingkuh saat tidak merasa puas memiliki seorang suami lemah dan miskin.
Sementara itu, Amira Tan sama sekali tidak tertarik untuk membahas tentangnya karena hanya ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Putri jika nanti sudah tidak mempunyai siapapun ketika bercerai dengan dua suaminya.
"Lupakan untuk mengurusi hidupku. Lebih baik katakan apa rencanamu saat kehilangan dua suamimu?"
"Aku hanya bercerai dengan Bagus karena memang pernikahan kami tidak bisa diselamatkan, tapi bukan berarti aku juga akan berpisah dengan Arya karena dia akan kembali ke sini lagi setelah ibunya bangun dari koma. Arya hanya sedang kesal padaku karena ibunya kecelakaan saat pulang menjenguk kami."
"Saat ini, Arya merasa bersalah karena melihat ibunya koma. Hal itu pasti dimanfaatkan oleh ayahnya untuk menekan suamiku. Hingga tidak bisa menolak atau pun membantah lagi saat pria bernama Ari Mahesa tersebut menyuruh suamiku untuk bertanggungjawab."
"Bukankah sebagai saudara yang baik, seharusnya kamu mendoakanku? Bukan malah berpikir aku akan menjadi janda setelah berstatus sebagai istri siri Arya. Aku tidak akan pernah kehilangan ayah dari Xander karena dia sangat mencintaiku."
'Apa tebakanku benar? Bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak tahu mengenai tes DNA? Apakah Arya tidak mengatakan apapun pada Putri? Apa sebenarnya yang direncanakan pria tua itu?'
Tentu saja saat ini Amira Tan tengah menyimpan rahasia besar itu karena berharap bisa mencari tahu tentang rencana dari Ari Mahesa.
'Aku sepertinya harus mencari tahu tentang apa rencana pria tua itu, tapi tanpa sepengetahuan Putri dan Bagus.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini Amira Tan menatap intens wajah masam Putri yang seperti sangat membencinya.
"Sepertinya kamu sangat percaya diri. Hanya saja, aku merasa kasihan dan ingin kamu memikirkan kemungkinan terburuk nanti karena bisa saja balasan dari perbuatanmu yang mengkhianati Bagus mulai mengincar kebahagiaanmu bersama Arya."
__ADS_1
"Aku lupa menanyakan perihal gugatan cerai dari Bagus. Apa kamu menginginkan sesuatu, seperti harta yang harus dibagi? Aku sudah mengurus semuanya dan memastikan keinginanmu."
Kalimat menakutkan yang seolah berhasil mencekik leher secara tidak langsung, hingga Putri saat ini memilih untuk menggelengkan kepala.
"Biarkan ia fokus mengurus dua anak kami dan aku tidak akan menuntut apapun darinya. Apalagi ia harus bertanggungjawab untuk menjadi orang tua tunggal. Jadi, aku tidak akan pernah menyusahkannya."
"Aku sadar telah jahat dan menjadi seorang istri durhaka, tapi aku ingin fokus menjadi seorang istri yang baik untuk Arya. Aku ingin bertaubat dan tidak akan pernah mengulangi kesalahan di masa lalu."
"Bukankah Tuhan akan mengampuni dosa umat-Nya yang serius bertaubat?" Putri kali ini ingin menunjukkan pada saudaranya tersebut jika ia bukan Putri yang jahat dan sudah menyesali kesalahan yang dilakukan.
Berharap sikap saudara tirinya tersebut berubah menjadi lebih baik dan tidak lagi ketus dan dingin padanya.
"Jika kamu mencintai Bagus dan dia mau membuka lembaran baru, aku akan ikut berbahagia. Aku tidak akan pernah mengganggu kalian jika suatu saat menikah. Bahkan sekalipun hubunganku dengan Arya bermasalah, aku tidak akan kembali lagi pada mantan suami."
Putri yang baru saja menutup mulut, kini sudah membaringkan tubuh bayinya di atas ranjang dan suara perutnya yang keroncongan karena dari tadi belum makan, membuat ia merasa malu karena diketahui oleh Amira Tan.
"Kamu pasti tidak nafsu makan karena tidak ada suami yang menemanimu." Amira Tan kini merasa iba melihat Putri yang terlihat sangat tulus ketika mengungkapkan penyesalannya.
Hal itu seolah mendinginkan amarah yang selama ini ia simpan untuk saudara tirinya tersebut. Namun, ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa karena masih canggung ketika bersikap baik pada Putri untuk pertama kalinya.
Ia terharu ketika mendengar Putri sama sekali tidak keberatan jika menyukai Bagus dan malah memberikan restu.
'Sepertinya kekhawatiranku hanyalah ketakutan tidak berdasar, tapi akan berbeda saat Bagus mengetahui jika hubungan Putri dan Arya sudah tidak tertolong lagi. Dia pasti akan langsung mengajak Putri rujuk. Aku sangat yakin itu,' gumam Amira Tan yang saat ini memutuskan untuk merahasiakan apapun yang diketahuinya dengan bersikap egois.
To be continued...
__ADS_1
To be continued...