
Ari Mahesa bergegas ke rumah sakit saat dokter yang menangani sang istri di rumah sakit mengatakan jika sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap siang ini. Sebelum jam makan siang, pria paruh baya tersebut sudah berada di rumah sakit untuk mendampingi istri tercinta.
Rani Paramitha sudah sepenuhnya sadar. Ia tersenyum senang saat melihat kedatangan suaminya.
Dokter sudah memastikan jika kondisi pasien sudah semakin membaik, hanya tinggal menunggu perkembangan selanjutnya.
Hingga wanita paruh baya itu benar-benar dinyatakan sehat dan bisa meninggalkan rumah sakit.
“Pa, Arya di mana?” Rani langsung menanyakan keberadaan putranya pada sang suami.
“Nanti sore Arya baru kan ke sini, Ma. Masih ada urusan yang harus dia selesaikan,” jawab Ari Mahesa. Ia terpaksa berkata bohong pada istrinya karena tidak ingin membuat wanita itu khawatir.
Ia yakin setelah istirahat cukup dan minum obat, putranya akan kembali sehat seperti semula.
Ari Mahesa menemani istrinya makan siang di rumah sakit. Bahkan pria itu menyuapi sang istri makan.
"Apa Papa yakin, Arya akan datang? Apakah wanita itu akan mengizinkan Arya bertemu dengan Mama?" tanya Rani lagi. Keresahan tergambar jelas di wajah wanita paruh baya itu.
"Papa sudah pastikan ia akan datang."
"Mama takut, Pa. Wanita itu pasti sangat marah karena ia tidak berhasil tinggal dirumah kita karena kecelakaan yang menimpaku."
"Tidak ada yang perlu Mama khawatirkan. Kondisimu baru saja membaik. Jangan terbebani dengan pikiran yang tidak perlu, ya. Percaya padaku, putra kita akan datang." Ari Mahesa menggenggam tangan sang istri dan meyakinkan wanita itu. "Sekarang Mama makan dulu, ya."
“Mama bisa sendiri. Papa makan saja, kan belum makan siang juga.” Rani mencoba menolak saat suaminya menyodorkan makanan pada sendok di tangan pria itu.
“Tangan Mama belum sembuh total setelah kecelakaan. Biar saja Papa yang menyuapi. Aku bisa makan setelah Mama selesai.”
Tidak ada lagi penolakan dari Rani. Ia menurut saja saat suaminya menyuapkan sedikit demi sedikit makanan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuknya. Barulah setelah selesai menyuapi, Ari Mahesa menyantap makan siang yang sudah dipesankan oleh asistennya.
Ia makan di ruang rawat inap sang istri sembari menunggu wanita itu di sana.
Setelah memastikan jika sang isti sudah kembali tidur, barulah ia kembali ke kantor. Ari Mahesa tidak bisa berlama-lama di rumah sakit karena harus menghadiri meeting penting di perusahaan.
Jadwalnya cukup padat sampai malam nanti. Namun, ia berjanji pada sang istri untuk kembali secepatnya setelah pertemuan terakhir dengan kliennya hari ini.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda, Arya baru terbangun lagi saat jam makan
siang. Ia merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik. Rasa pusing yang pagi tadi sempat ia rasakan sedikit membaik.
Hanya saja, ia merasa badannya masih pegal-pegal semua, hidungnya agak tersumbat dan tenggorokannya sedikit sakit.
"Aku tidak boleh sakit." Arya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia turun ke bawah untuk menyantap makan siang yang sudah tersaji di atas meja makan. Menu yang dihidangkan cukup lengkap.
Tiba-tiba ia merasakan sepi di hatinya. Arya harus makan di meja yang besar itu hanya seorang diri.
Dulu, saat ia masih tinggal bersama orang tuanya, meja makan itu selalu diisi oleh mereka bertiga.
Begitupun saat ia sudah menikah dengan Putri. Wanita itu selalu menemaninya makan. Walaupun terkadang Putri sudah makan di tempatnya kerja saat wanita itu masih menjadi asisten rumah tangga di di rumah para tetangga. Namun, wanita itu selalu mempunyai waktu untuknya.
'Sial! Kenapa aku terus memikirkan Putri?' Arya berkali-kali mengumpat pada diri sendiri.
Ia kemudian segera menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Tuan Besar berpesan agar Anda istirahat saja siang ini di rumah. Saya sudah sediakan obat, tolong diminum setelah makan siang. Siang ini, nyonya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah semakin membaik. Namun, tuan besar berpesan agar Anda ke rumah sakitnya sore saja karena siang ini, nyonya juga pasti sedang istirahat." Mery yang berdiri di belakang majikan segera memberitahu pria itu dan menyampaikan pesan yang diberikan oleh tuannya.
"Mama sudah dipindahkan siang ini?" tanya Arya yang ingin memastikan kembali jika ia tidak salah dengar.
"Iya, Tuan. Namun, sebaiknya Anda mengikuti perintah tuan besar untuk tidak ke sana siang ini karena juga harus istirahat. Kalau memaksakan ke sana, khawatir demam dan flu Anda semakin parah." Mery kembali mengingatkan. "Nyonya juga pasti akan khawatir jika melihat putranya datang ke sana dengan kondisi wajah yang pucat."
"Apa begitu kelihatan?" tanya Arya yang kini menyentuh wajahnya.
"Iya, Tuan. Maka dari itu, sebaiknya istirahat lagi setelah minum obat, agar sore nanti kondisinya sudah membaik."
"Baiklah." Arya kembali melanjutkan makannya.
Berita yang disampaikan oleh pelayan adalah kabar bahagia untuknya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang ibu ketika wanita yang sangat disayangi sudah sadar dari komannya.
Setelah makan dan meminum obat yang diberikan oleh pelayan, Arya kembali ke kamarnya untuk beristirahat kembali.
Benar apa yang dikatakan pelayan, Arya tidak boleh datang ke rumah sakit dalam keadaan sakit dengan wajah yang terlihat pucat. Pasti sang ibu akan sangat khawatir.
__ADS_1
Setelah 30 menit hanya berbaring di atas tempat tidur, Arya akhirnya terlelap juga dan mulai masuk ke alam mimpinya. Mungkin karena obat yang ia minum juga memberikan efek mengantuk.
Pukul empat sore, ia bangun dengan kondisi badan yang jauh lebih baik. Ia tidak merasakan pusing lagi di kepala dan badannya yang semula terasa sakit, setelah bangun tidur, sudah tidak terasa sakit lagi. Hidung dan tenggorokannya pun sudah jauh lebih baik.
Arya menggeliat, beranjak duduk dan merentangkan kedua tangannya ke atas kepala untuk menegangkan otot-otot di tubuh. Bahkan ia juga menggerak-gerakkan kepalanya.
"Syukurlah, badanku sudah jauh lebih baik," gumam Arya yang kini melakukan gerakan seperti pemanasan.
Ia meneguk air putih yang selalu tersedia di atas nakas di samping tempat tidur. Meneguknya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Setelahnya, ia bergegas mandi. Ia harus segera ke rumah sakit untuk manjenguk sang ibu.
Beberapa saat kemudian, Arya sudah rapi dengan setelah celana cinos berwarna hitam yang membungkus kaki panjangnya. Kaus berwarna putih dan jaket yang membungkus badannya, serta juga sepatu Sneakers berwarna putih yang semakin menambah sempurna penampilannya.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang. Tolong minta supir untuk menyiapkan mobil," titah Arya pada pelayan.
Ia kemudian mengambil kunci mobil yang tergantung di tempat penyimpanan kunci kendaraan yang lainnya.
"Anda tidak bisa membawa mobil sendiri, Tuan. Sigit akan mengantarkan Anda ke rumah sakit," ucap Mery. "Tuan besar yang memintanya," sambung Mery, memberitahu.
Arya terdengar menghela napas. Sang ayah kalau sudah memberikan perhatiannya, pasti begitu protektif. Padahal ia hanya sakit demam dan flu biasa saja.
Ia juga masih bisa berkendara seperti biasa. "Baiklah." Arya memilih untuk menurut.
Ia masuk ke dalam mobil di mana pria bernama Sigit sudah menunggu dan siap mengantrakan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, ia hanya memandang ke arah luar dari jendela mobil. Keadaan jalan sudah mulai padat karena memang bertepatan dengan jam pulang kerja beberapa perusahan.
Sesampainya di rumah sakit, Arya langsung menuju kamar di mana sang ibu di rawat. Sebelumnya, sang ayah sudah memberitahu kamar sang ibu dirawat dan juga mengatakan jika akan pulang terlambat karena sore ini harus menghadiri pertemuan dengan klien, mungkin akan berlanjut dengan maka malam bersama.
Arya paham dan ia berjanji pada sang ayah akan manjaga ibunya dengan baik. Ia lupa jika ada janji dengan Calista untuk menemani wanita itu ke pesta ulang tahun temannya.
Derap langkah Arya menggema di sepanjang lorong rumah sakit menuju kamar sang ibu. Setelah menemukan kamar sang ibu, ia segera membuka pintu ruangan di depannya.
"Calista?"
To be continued...
__ADS_1