
Sementara itu, kemacetan terjadi saat kecelakaan dan orang yang keluar dari kendaraan hampir saja mendapatkan kemurkaan.
Banyak kendaraan yang berhenti untuk memeriksa dan menolong korban kecelakaan. Bahkan sebagian mengamankan pelaku penabrakan dan juga mengatur lalu lintas serta memanggil polisi.
Sementara itu, ada salah satu pria dengan memakai setelan jas lengkap menyuruh supir untuk menipiskan mobil karena ingin melihat korban kecelakaan.
Karena merasa sangat iba pada nasib seorang wanita yang diketahui adalah pemilik catering, seketika menyuruh orang untuk membantu wanita itu naik ke dalam mobilnya dan langsung membawa ke rumah sakit.
Pria paruh baya yang saat ini duduk di sebelah supir, sesekali menatap ke arah belakang dan tidak berhenti merapal doa untuk keselamatan wanita yang baru bekerja sama dengan perusahaanya.
Merasa bersalah karena kejadian berada tepat di depan perusahaannya dan juga tengah mengantarkan menu makan siang untuk hari ini, pria baru bayar tersebut ingin membantu dengan membiayai semua pengobatan hingga wanita itu sembuh.
"Semoga wanita ini bisa diselamatkan," lirih pria dengan setelan jas berwarna hitam yang baru saja pulang dari menemui klien di salah satu hotel bintang lima.
Sementara itu, sang sopir yang bisa mengerti perasaan bos yang sangat dihormati itu, langsung mengaminkan doa dan semakin menambah kecepatan agar segera tiba di rumah sakit terdekat.
Kemudian pria yang merupakan pemilik perusahaan tersebut mengabarkan pada salah satu serta yang mengurus makan siang untuk para petinggi, sementara memesan dari restoran terdekat dan mengatakan alasannya.
Bahwa makanan yang diantarkan sudah bernasib nahas seperti wanita yang bersimbah darah tersebut karena mengalami kecelakaan.
"Malang sekali nasib wanita ini," ucap pria yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatian dari wanita yang pernah ditemui di salah satu restoran ketika menandatangani surat kerjasama.
Sosok pria paruh baya yang tak lain bernama Bambang Priambodo berusia 55 tahun yang tadi membawa Putri ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan, masih menunggu di depan ruangan operasi.
Bahkan karena atas dasar perikemanusiaan, tidak mau meninggalkan wanita itu dan ingin mengetahui hasil dari operasi yang tadi dilakukan oleh para tim dokter setelah ia menandatangani surat persetujuan mewakili anggota keluarga karena tidak mengetahui siapa yang bisa dihubungi.
Itu semua karena ponsel milik wanita itu sudah hancur, sehingga tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mengabarkan kecelakaan dan akhirnya memilih untuk menunggu sampai wanita itu sadar.
Namun, Bambang Priambodo sengaja menunggu proses operasi karena ingin mengetahui bagaimana hasil dari para dokter yang menyelamatkan wanita tersebut.
Jujur saja saat melihat wanita itu mengalami kecelakaan, merasa sangat tiba karena dulu orang tua meninggal juga karena ditabrak oleh orang yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi dalam kondisi mabuk.
Bahkan tadi langsung menyuruh orang mengurus pelaku agar di bawah ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah menyebabkan seorang wanita bernasib malang.
Hingga mendapatkan kabar dari salah satu orang yang disuruh dan mengatakan jika tersangka mengemudikan mobil dalam suasana hati yang marah karena bertengkar dengan sang istri, hingga tidak memperdulikan apapun, sehingga melaju dengan sangat kencang dan berpikir tidak takut mati jika sampai kecelakaan.
__ADS_1
Namun, yang terjadi malah membuat seseorang mengalami kemalangan. Karena perbuatan pria yang dikuasai oleh emosi saat bertengkar dengan istri sudah membuat wanita tidak bersalah menjadi korban.
Bambang Priambodo mengabarkan untuk menunda pertemuan dengan salah satu klien karena ingin tetap berada di rumah sakit untuk menunggu korban kecelakaan tersebut.
Setelah beberapa jam berlalu, pintu ruangan operasi terbuka dan terlihat seorang dokter berjalan keluar dan langsung dihampiri.
"Bagaimana keadaan pasien yang mengalami kecelakaan itu, Dokter?"
"Proses operasi berjalan lancar dan untungnya pasien tidak banyak kehilangan darah," ucap pria berseragam operasi tersebut.
"Syukurlah jika wanita itu bisa selamat dari kematian." Bambang Priambodo terlihat berbinar dan merasa lega karena tidak sia-sia perjuangannya untuk menunggu proses operasi yang berlangsung beberapa jam tersebut.
"Namun, ada satu hal yang harus saya sampaikan." Sang dokter memang tidak langsung mengatakan kemungkinan terburuk karena berpikir bahwa yang terpenting adalah pasien sudah berhasil diselamatkan dari maut.
Sementara itu, sosok pria paruh baya itu saat ini merasa ada yang tidak beres dari perkataan sang dokter ketika berekspresi seperti akan mengabarkan sebuah hal buruk padanya.
Namun, tidak ingin membuka suara dan memilih untuk menunggu sampai sang dokter menjelaskan semua hal yang terjadi pada wanita itu.
Setelah melihat respon penasaran dari pria yang menolong, kini sang dokter langsung menjelaskan kemungkinan buruk yang terjadi dari akibat kecelakaan yang menimpa wanita tersebut.
Akhirnya berhasil menjelaskan kemungkinan yang dipikirkan dan berharap pria di hadapannya bisa menyampaikan pada pasien jika nanti tersadar.
"Pasien akan segera dipindahkan di ruang perawatan sebentar lagi. Saya permisi dulu." Melangkah pergi meninggalkan pria yang terlihat sangat syok begitu mendengarkan penjelasan darinya.
Bambang Priambodo benar-benar merasa iba pada wanita yang mengalami kemalangan tersebut hingga berakhir kehilangan kemampuan untuk berjalan lagi.
Hingga beberapa saat kemudian melihat para perawat mendorong brankar dengan wanita yang menjadi korban kecelakaan tersebut masih tidak sadarkan diri.
Bahkan bisa melihat wajah pucat seperti mayat hidup dan mengingatkannya pada sang ibu yang telah meninggal karena kecelakaan. Tidak hanya itu saja, saat ini merasa seperti mengalami Dejavu karena dulu sang istri meninggal ketika tidak berhasil diselamatkan saat operasi kanker otak.
Jadi, saat melihat wanita itu didorong oleh perawat, mengingat hal sama terjadi sepuluh tahun lalu ketika kehilangan sang istri yang sangat dicintai.
Bahkan sampai sekarang tidak berniat untuk menikah lagi karena sangat mencintai sang istri yang sudah meninggal. Bambang Priambodo yang merasa sangat terpukul atas kematian sang istri, memilih untuk menghilangkan kesedihan dengan cara menyibukkan diri di kantor.
Bahkan bekerja mati-matian untuk membuat perusahaan semakin berkembang. Hingga kegilaannya berhasil membuat perusahaannya menjadi jajaran teratas di kota yang sudah diakui kesuksesan oleh para saingan.
__ADS_1
Namun, hal yang paling disesali adalah karena terlalu larut dalam kesedihan dan melampiaskan pada gila kerja, putranya menjadi korban karena kurang kasih sayang dari orang tua.
Bambang berpikir bahwa selalu memenuhi kebutuhan putranya dengan bergelimang harta, bisa membuat keturunannya tersebut bahagia.
Namun, tidak seperti yang diharapkan karena putranya terjebak dalam lingkaran dosa yang membuatnya tidak bisa memperbaiki kesalahan.
Bahkan meskipun sudah berusaha untuk membantu putranya keluar dari lingkaran itu, tidak berhasil melakukannya.
Bambang Priambodo hanya memiliki satu putra bernama Aldiano Priambodo berusia 35 tahun dan berharap bisa menjadi pemimpin perusahaan yang hebat setelah ia meninggal.
Namun, harapannya seolah pupus karena putranya tidak pernah tertarik dengan perusahaan dan lebih memilih menghabiskan waktu di club malam.
Mungkin jika putranya tidak terjebak dalam lingkaran terlarang yang menjerat dalam hubungan paling buruk, tidak akan merasa terpuruk.
Namun, karena putranya terjebak dalam kehidupan yang tidak pantas, yaitu menyukai sesama jenis, benar-benar membuatnya merasa sangat berdosa karena telah mendorong keturunan dalam pergaulan yang tidak wajar.
Usahanya untuk menyembuhkan putranya Dengan cara memanggil dokter terbaik, sama sekali tidak berdampak apapun dan membuatnya benar-benar merasa bingung harus melakukan apa lagi.
Semenjak mengetahui bahwa putranya menyukai sesama jenis dan sama sekali tidak tertarik pada wanita, sehingga Bambang lebih menghabiskan banyak waktu untuk menolong orang yang membutuhkan.
Berharap dengan melakukan itu sambil berdoa agar putranya kembali ke jalan yang benar. Seperti yang dilakukan saat ini, sama sekali tidak keberatan untuk menolong wanita yang mengalami kecelakaan tersebut.
Bambang Priambodo saat ini sudah melihat para perawat memindahkan wanita tersebut ke atas ranjang perawatan.
"Terima kasih."
"Jika ada apa-apa, bisa memencet tombol di atas ranjang perawatan," ujar salah satu perawat wanita yang baru saja selesai mengecek keadaan pasien setelah dioperasi.
Kemudian berlalu pergi dari sana dan menutup pintu.
Saat Bambang Priambodo mengalihkan pandangan dari para perawat yang menghilang di balik pintu menuju ke arah wanita di atas ranjang tersebut, tidak berkedip menatap.
"Kamu masih selamat dan lolos dari kematian, tapi aku merasa tidak yakin apakah kamu bisa menanggung semuanya begitu mengetahui kakimu tidak bisa lagi berjalan." Bambang Priambodo saat ini mendaratkan tubuh di kursi dan masih tidak mengalihkan perhatian dari sosok wanita yang dianggap bernasib malam tersebut.
To be continued...
__ADS_1