
Sementara itu, Arya yang tadinya berdiri tak jauh dari tempat Putri berada, awalnya ingin tertawa melihat tingkah wanita yang tidak bisa membuka parfum miliknya.
Namun, wajahnya berubah merah menahan amarah saat parfum satu-satunya yang dibawa olehnya telah hancur berkeping-keping di lantai.
Bahkan ia yang masih belum mengalihkan pandangannya dari Putri, mengetahui bahwa wanita itu kini tidak berani menatap wajahnya karena merasa takut.
Ia menganggap parfum seperti nyawa kedua untuknya karena baginya, itu melengkapi penampilan hingga menjadi sempurna dan digilai banyak wanita saat mengendus aroma tubuhnya.
'Astaga, nasib parfum kesayanganku. Jika orang lain yang melakukannya, aku benar-benar sudah membuat perhitungan!' umpat Arya yang saat ini meraih ponsel miliknya di saku celana untuk mengetik sesuatu di sana.
Ia sudah mengetik pesan pada Rendi untuk membeli parfum yang sama untuknya karena tidak tertarik dengan parfum lain.
Belikan aku parfum yang biasa kupakai karena hari ini ada seseorang yang berani menghancurkannya. Malam ini, parfum favoritku harus kau antar ke sini. Jika tidak, aku benar-benar akan menghajarmu.
Di saat ia baru selesai mengirimkan pesan pada Rendi—sahabatnya yang selalu membantunya dan siap diperintah apapun olehnya.
Pedomannya adalah ia sama sekali tidak meminta uang pada Rendi, tapi parfum. Jadi, ia berpikir bahwa sahabatnya itu tidak keberatan untuk membantunya. Apalagi sang ayah hanya melarang untuk meminjamkan uang dan memberikan tempat tinggal.
Hal itulah yang membuatnya merasa sangat percaya diri dan berpikir bahwa sahabatnya itu tidak akan pernah keberatan.
Masih sama, suara Putri yang terdengar gemetar, tertangkap indra pendengaran Arya. Ia tahu bahwa wanita itu terlihat sangat ketakutan setelah melakukan kesalahan.
Putri yang tadinya masih menunduk menatap nasib nahas dari botol kaca sangat indah yang menghasilkan aroma wangi menguar di udara memenuhi ruangan kamarnya, merasa gugup sekaligus takut untuk mengangkat kepalanya menatap Arya.
Pria yang kali ini moodnya sangat buruk dan mungkin akan bertambah besar karena perbuatan cerobohnya.
Baru kali ini ia merasa tidak berharga saat berhadapan dengan sebotol parfum yang merupakan barang favorit milik sang kekasih.
Namun, ia kini terpaksa memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan bisa melihat sosok pria yang saat ini tengah memegang ponsel. Ia bisa melihat rahang tegas dengan netra penuh kilatan api yang menatapnya tajam.
"Arya, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tahu salah dan memang ini murni kesalahanku."
Putri bangkit dari posisinya untuk mengambil ponsel yang tadi sudah ia charge karena kehabisan daya. Niatnya adalah ingin melihat parfum itu di pusat belanja online dan ingin menggantinya.
__ADS_1
Tentu saja Putri ingin mencari parfum itu di media sosial untuk bertanggungjawab. Namun, belum sempat ia menyalakan ponselnya, tiba-tiba sudah direbut oleh Arya.
Arya yang saat ini masih memegang ponsel Putri di tangan kanan, kini mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang benar-benar mengusik ketenangannya dan membuatnya merasa sangat kesal.
"Kamu telah membuatku kesal, tapi malah mau melihat ponsel?"
Refleks Putri langsung menggelengkan kepala untuk menguraikan kesalahpahaman tersebut.
"Bukan ... aku ingin mengganti parfum milikmu. Jadi, aku akan memesannya lewat online saja."
Refleks Arya terbahak karena merasa tingkah Putri yang polos terlihat sangat konyol di matanya.
"Kamu tidak akan menemukannya dan akan terkena serangan jantung jika mengetahui harganya!" umpat Arya yang masih mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
Saat ini, Putri baru saja menelan ludah dengan kasar dan tidak bisa membayangkan berapa harga dari parfum milik Arya yang sangat wangi, sehingga ia memilih untuk pasrah dan menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku."
Putri yang lagi-lagi hanya bisa menelan kasar salivanya, memasang wajah memelas untuk menyembunyikan rasa gugup saat Arya yang menatapnya dengan sangat tajam, seperti binatang buas yang mau memangsanya.
'Menggigitku? Apa dia drakula?' lirih Putri yang hanya bisa berbicara di dalam hati untuk meluapkan perasaannya yang benar-benar dikuasai oleh kekhawatiran sekaligus ketakutan.
"Apa kamu tidak mereka terlalu membesar-besarkan hal kecil ini? Itu hanya sebuah parfum dan bisa membelinya lagi. Memangnya berapa harganya?"
Refleks Arya kini tertawa terbahak-bahak dan mengarahkan tangannya untuk menyentil kening wanita yang dianggapnya sangat percaya diri tersebut. "Jika kamu bisa mengganti parfumku dengan uangmu, aku pun bisa membelimu saat ini juga, Sayang."
Putri hanya mengerjapkan kedua mata begitu kalimat terakhir Arya seperti zaman perbudakan di zaman dulu.
'Astaga! Sekarang sudah tidak zaman perbudakan, tapi ia berbicara seolah-olah semua hal bisa dibeli dengan uang karena kaya.'
Putri mengarahkan tangannya untuk meminta kembali ponsel yang direbut oleh Arya. "Mana ponselku? Aku jadi penasaran dengan harga parfum yang kamu gunakan."
Sementara Arya mengarahkan tangannya ke belakang karena tidak ingin menuruti keinginan dari wanita yang sudah mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak ingin kamu pingsan hanya gara-gara melihat harganya dan malah membuatku repot. Sekarang yang paling penting adalah kamu harus menerima hukumanmu dulu karena aku tidak akan puas sebelum memberimu sebuah hukuman."
Merasa ada bahaya yang mengincarnya, Putri refleks langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin masuk dalam perangkap Arya yang malah membuat otaknya berpikir kotor.
"Aku tidak suka dihukum karena bukan anak kecil."
Tanpa mempedulikan nada protes itu, Arya kini sudah maju beberapa langkah untuk mendekat dan ia mulai mengarahkan tangannya pada dagu lancip wanita yang berdiri tepat di hadapannya.
"Parfum itu seperti nyawa keduaku dan kamu telah menghancurkannya. Apakah kamu sanggup membayar nyawa keduaku? Meskipun harga parfum itu bagiku murah, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu harus menerima hukumanmu seperti yang kuinginkan. Bukankah tadi aku mengatakan ingin menggigitmu? Jadi, bersiaplah."
Tanpa menunggu reaksi dari sosok wanita yang masih terdiam membisu di tempatnya, Arya berniat untuk mendekatkan wajahnya. Ia kali ini mengincar ceruk leher jenjang putih Putri dan berniat untuk menggigitnya di sana
Mengerti akan apa yang akan dilakukan oleh Arya, yaitu memberikan kiss mark di lehernya yang mungkin akan bisa dilihat Bagus dan membuatnya merasa bersalah, membuat Putri kali ini refleks menggelengkan kepala.
"Jangan! Hukuman yang lain saja. Jangan menggigit leherku!" Putri kini sudah melindungi lehernya dengan telapak tangan dan berharap Arya menghentikan hukuman.
Melihat wanita itu membuatnya semakin bertambah kesal, refleks Arya langsung meraup tubuh wanita itu ke atas lengannya dan membawanya ke kamar mandi.
Sebenarnya, niatnya adalah ingin menurunkan Putri ke dalam bathtub dan mengisinya dengan air untuk membuat wanita itu basah.
Namun, ia mengerutkan dahi saat tidak menemukan apa yang dicarinya. "Astaga, sempit sekali kamar mandinya. Bathtub pun untuk berendam tidak ada."
Arya terlihat semakin kesal karena semua hal yang ada di depan mata tidak sesuai ekspektasinya.
Saat tubuhnya yang tiba-tiba melayang ke atas karena sudah digendong ala bridal style oleh Arya dan membuatnya menjerit dengan menggerakkan tubuhnya.
"Arya, turunkan aku! Apa yang kamu lakukan? Ini hanya kontrakan, jadi tidak ada bathtub. Tidak perlu heran. Cepat turunkan aku."
Putri sudah menggerakkan tubuhnya agar pria yang masih menggendongnya itu mau menurunkannya dan usahanya berhasil karena beberapa saat kemudian, Arya menurunkannya ke bawah.
Ia yang merasa takut saat berada di dalam kamar mandi bersama dengan Arya karena ancaman dari Bagus tadi, berniat segera keluar dari sana. Namun, bajunya ditarik dari belakang hingga ia tidak bisa berjalan.
To be continued...
__ADS_1