
Putri terbangun dengan rasa nyeri pada bagian bawahnya. Langkahnya sedikit tertatih karena menahan rasa nyeri. Sampai di kamar mandi, ia segera membersihkan tubuhnya dan berusaha untuk bisa pergi ke rumah nyonya Brenda.
Wajahnya tampak meringis saat air menyentuh bagian yang terluka. Namun, masih tetap melanjutkan kegiatannya hingga selesai dan segera mengenakan pakaian untuk berangkat bekerja.
Di atas ranjang, terlihat Arya masih berbaring dengan mata terpejam. Sebelum pergi, Putri menyempatkan diri untuk membersihkan kamar dan ruang lainnya. Saat tangannya memungut pakaian Arya, tampak ada lembaran uang yang tersimpan di saku celana.
Putri mengernyitkan dahinya. Dari mana suaminya mendapatkan uang sebanyak itu? Sementara yang bekerja hanyalah ia di rumah itu.
“Arya, bangun!” seru Putri sambil menggerakkan tubuh suaminya.
“Hmm ... ini masih pagi! Jangan buat keributan, Sayang.”
“Ini, kamu dapat uang dari mana?”
Seketika Arya membuka mata dan meraih pakaiannya dari tangan Putri.
Arya tampak emosi saat Putri memergoki uang yang semalam lupa disembunyikan karena terlanjur bergairah saat melihat tubuh telanjang sang istri.
“Kenapa kamu lancang sekali?"
“Apa? Aku bahkan tidak sengaja mengetahui hal itu. Arya, kita butuh banyak uang untuk makan, kebutuhan rumah, kebutuhanku, kebutuhan anak kita kelak.”
Arya memalingkan wajahnya sembari menyimpan kembali uang miliknya.
“Ini uang jatah makanku. Bukankah selama ini kamu makan di tempat kerja? Sementara aku tidak mendapatkan makanan yang layak darimu. Oleh karena itu, aku mencari uang sendiri untuk kebutuhanku.”
“Apa? Lalu, bagaimana dengan anak ini? Jika kamu bisa mencari uang sendiri, kenapa ada kita di rumah ini? Kamu memiliki kewajiban untuk memberikan aku nafkah, Arya! Bukan sebaliknya!”
Putri ingin sekali menjambak rambut pria yang bertelanjang dada tersebut karena saking kesalnya, tapi tidak bisa melakukannya karena takut jika Arya meninggalkannya.
“Kamu terlalu banyak berbicara, ini masih pagi. Sudah aku katakan untuk tidak mencari keributan sekarang. Bukankah kamu harus pergi bekerja? Cepat sana pergi!”
Arya mengibaskan tangan, benar-benar mengusir Putri dari kamar. Ia tidak rela jika uang pemberian sang ibu disentuh oleh Putri.
Langkah kaki Putri terlihat gontai begitu melihat kekesalan Arya. Bahkan saat ini memikirkan masa depan saja ia tak sanggup. Entah bagaimana nasibnya setelah ini?
Meskipun perasaan berkecamuk dan hati hancur karena melihat sikap Arya yang tidak berperasaan, tetapi ia tetap bekerja. Kini, ia sudah memasak untuk makan siang di keluarga majikan. Ada banyak bahan makanan yang bisa dijadikan masakan lezat di sana.
Kali ini ia sangat menginginkan makanan yang tengah dimasak. Sebuah menu dari barat, dengan bahan utamanya, daging.
'Aromanya sangat lezat, daging ini pasti mahal dan empuk. Bahkan aku beberapa kali mengidam, tapi tidak pernah kesampaian. Sangat berbeda saat bersama Bagus. Bahkan ia selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku, meski gaji hanya pas-pasan.'
Putri menepuk jidat berkali-kali merutuki kebodohannya karena selalu membandingkan Bagus dengan Arya yang bagaikan bumi dan langit. Ia ingin makan daging hari ini.
__ADS_1
Namun, sayangnya, hanya bisa mencium aroma makanan itu saja. Putri menghidangkan semua di atas meja makan setelah selesai memasak sambil menelan saliva berkali-kali.
Kembali pada pekerjaan lainnya, ia memastikan pakaian-pakaian yang masuk mesin cuci telah ditangani dengan baik. Setelah itu, giliran pakaian yang siap untuk disetrika.
“Meski melelahkan, aku berharap semua ini adalah harga yang pantas untuk melahirkanmu.”
Mengingat ucapan Arya mengenai uang yang ada di saku celananya pagi ini, membuatnya kesal dan masih teringat jelas sikap sang suami.
Sebuah kalimat yang tidak mencerminkan sebagai seorang pria yang sudah berkeluarga.
Beberapa kali terdengar notifikasi dari ponsel, Putri sungguh mengacuhkan pesan-pesan yang masuk dan panggilan dari Bagus. Namun, setelah semua pekerjaan selesai, Putri memutuskan untuk membuka pesan dari Bagus.
Entah mengapa hatinya seperti ingin tahu mengenai kabar pria itu dan putranya.
Aku bertemu Arya. Aku senang melihat pria itu memenuhi tanggung jawabnya sebagai suamimu. Kamu pasti seperti ratu sekarang.
Pesan itu membuat Putri terkejut.
"Ia bertemu dengan Arya, di mana? Kapan?"
Pikirannya seketika tidak tenang. 'Arya, apa yang kamu katakan pada Bagus?' gumam Putri sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku pakaiannya. Ia tidak ingin memikirkan semua masalah hidupnya yang benar-benar membuatnya stres.
***
Dengan wajahnya yang teramat serius, seperti tidak ingin diganggu. Namun, Rani memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Sayang, bagaimana kalau kamu memberikan pekerjaan untuk putra kita? Anak itu tidak perlu tinggal di rumah ini. Hanya berikan pekerjaan saja untuknya di perusahaan.”
Sebuah topik perbincangan yang sangat serius, membuat Ari Mahesa melirik dari ekor matanya. Diletakkannya berkas-berkas itu, lalu menghadap istrinya.
“Apa perkataanku sebelumnya masih belum kamu pahami?” tanya Ari dengan nada tegas dan membuat Rani takut untuk kembali menjawab.
“Iya, aku tahu, tapi kasihan Arya. Ia putra kita satu-satunya di keluarga ini. Bukannya aku tidak menentang perbuatannya itu. Hanya saja, merasa kalau anak kita itu dijebak oleh wanita yang saat ini menjadi istrinya.”
Pria dengan bulu halus di sekitar wajahnya itu manatap tajam ke istrinya. Bibirnya sudah terlihat ingin mengucapkan banyak kalimat pertentangan.
“Keputusanku sudah tidak bisa aku ubah. Bagaimanapun, itu adalah konsekuensinya karena sudah membuat malu keluarga ini. Aku bahkan tidak sudi menganggapnya anak meski ia satu-satunya yang kumiliki.”
“Sayang, jangan berbicara seperti itu. Seakan-akan kamu tidak pernah merasa memiliki Arya. Kamu ingat sendiri bagaimana perjuanganku untuk bisa melahirkannya.”
“Ya, tapi aku tetap tidak menyukai keinginanmu itu. Biarkan Arya bertanggung jawab atas kesalahannya selama ini. Lama-lama, aku yakin ia akan mengerti dan lebih bertanggung jawab lagi.”
“Tapi, Sayang. Arya itu dari kecil tidak pernah hidup susah. Apa kamu tahu bagaimana kehidupan putramu sekarang?”
__ADS_1
Ari kini kembali mengucapkan kalimat bernada kemurkaan. “Tahu, aku tahu semuanya. Hanya saja, aku tidak ingin memberikan akses yang mudah padanya, seperti yang kamu lakukan."
"Jika kamu masih menyayangi Arya, sebaiknya hentikan semuanya. Biarkan Arya menjalani kehidupannya saat ini.”
Rani merasa kesal dengan jawaban suami yang dianggap tidak punya hari. Ia pun beranjak dari sana dan pergi begitu saja tanpa berpamitan. Meski namanya terpanggil beberapa kali, ia memilih untuk menjauh dari suaminya.
“Mau ke mana?” Ari Mahesa yang mengenal karakteristik istrinya, hanya bisa menggeleng dan kembali bekerja.
“Ada-ada saja istriku itu. Anak salah, masih saja dibela. Dasar wanita.”
Di kamar, Reni mencari cara lain untuk bisa menyelamatkan putranya dari hidup yang serba kekurangan. Ia sangat tidak setuju jika Arya masih bersama Putri. Namun, posisi mereka saat ini berstatus suami istri, meski keduanya hanya menikah siri.
"Suamiku, kenapa tidak mau dengar permintaanku? Kasihan Arya yang sekarang seperti gembel.”
Beberapa kali ia menatap ponselnya, sudah ada pesan masuk dari Arya mengenai pertanyaan seputar perusahaan keluarga.
Rani tidak bisa menjawab pesan itu, ia tidak ingin mengecewakan putranya saat ini.
***
Sementara itu di kontrakan, Arya menunggu dengan rasa gelisah dan tidak sabar. Ya, ia merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Pesan yang sudah dua puluh menit dikirim, tidak kunjung mendapat balasan.
Hampir saja rasa kesal menguasainya dan membuatnya mengatur napas dan memilih untuk menenangkan pikiran ke tempat nongkrong.
“Mama ke mana? Kenapa pesanku tidak kunjung dibalas?” gerutu Arya yang saat ini sudah berada di sebuah cafe.
Bahkan Arya sudah menghabiskan dua gelas minuman di sana. Hampir dua jam perasaan aneh membuatnya tidak bisa tenang. Hingga akhirnya memilih untuk menghubungi sang ibu.
“Ma, kenapa pesanku tidak dijawab?” tanya Arya dengan perasaan gelisah.
“Sayang, tunggu, ya! Mama masih berusaha untuk merayu papamu. Dia sangat keras kepala, sama seperti kamu, tapi Mama usahakan semua berjalan sesuai yang kita inginkan.” Rani masih mencoba untuk menghibur Arya, agar tidak kecewa.
“Jangan terlalu lama, Ma. Aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini." Arya kali ini berbicara sambil mengajak frustasi rambut.
“Bersabarlah dulu, Sayang. Mama masih berusaha. Mama tutup dulu, ada papamu.”
Sambungan telpon berakhir saat Arya bahkan belum menanggapi. Ia hampir saja melempar ponsel satu-satunya. Wajahnya yang geram ia tenggelamkan di antara kedua tangannya yang menjadi tumpuan di meja.
“Sial! Aku sudah tidak tahan lagi hidup miskin seperti ini!” umpat Arya dengan wajah memerah dan kedua tangannya mengepal.
"Apa aku tinggalkan saja Putri dan kembali ke rumah?" lirih Arya dengan raut wajah frustasi.
To be continued...
__ADS_1