Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
295. Tidak dianggap


__ADS_3

Putri yang beberapa saat lalu bersimbah air mata, berjalan dengan perasaan hancur karena dikhianati oleh orang-orang yang sangat dipercayai.


Belum sembuh saat luka menganga dirasakan ketika Arya menceraikan tanpa ingin mendengar penjelasan mengenai konspirasi mengenai Xander, ditambah lagi mengenai saudara perempuan yang ternyata juga menginginkan kehancuran rumah tangga.


'Apa yang sekarang harus kulakukan, Tuhan? Di saat aku sudah sangat hancur lebur seperti ini karena sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya setelah ini. Bahkan aku sudah sendirian tanpa sandaran.'


'Bahkan saudara yang aku kira menyayangiku, ternyata ingin rumah tanggaku bersama Arya hancur. Apa karena ingin membalas dendam padaku karena tidak berhasil mendapatkan Bagus?'


Putri saat ini serasa berjalan di atas bara api dan mungkin sebentar lagi akan menjadi abu. Bahkan tidak ada lagi hal yang bisa dipikirkan saat ini mengenai hidupnya saat ini.


Satu-satunya hal yang saat ini diinginkan hanyalah ingin segera pergi dari tempat yang memberikan sejarah terkelam penuh kehancuran sepanjang sejarah hidupnya.


Tanpa menoleh, Putri berharap Amira Tan tidak mengetahui kepergiannya karena ingin sendirian dan tidak diganggu oleh siapapun. Bahkan saat ini merasa sangat bingung, apa yang harus dilakukan setelah ini.


'Saat ini, sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Semua orang menginginkan aku hancur. Jika itu terjadi, bagaimana dengan nasib Xander? Aku masih mempunyai putra yang harus kubesarkan dengan baik. Sekarang, aku sudah menjadi janda dan harus membesarkan Xander dengan baik.'


'Ini tidak pernah terpikirkan olehku. Menjadi single parent saat aku bahkan tidak mempunyai pekerjaan. Bagaimana aku bisa membesarkan Xander yang malang karena sang ayah tidak mengakui putranya sendiri. Putraku, maafkan ibu karena membawamu hanya pada penderitaan.'


Saat Putri hendak menyeberang karena ingin terus berjalan menjauh dari Perusahaan, indra pendengaran menangkap suara dari seseorang yang memanggil nama.


Tentu saja ia tahu siapa itu, tapi sama sekali tidak memperdulikan hal itu dan terus berjalan karena ingin menjauh. Bahkan saat ini semakin mempercepat langkah kaki karena tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat perasaan sedang terluka dan hancur berkeping-keping seperti kaca pecah yang berhamburan.


Namun, beberapa saat kemudian, Putri melihat Amira Tan—saudara tirinya yang sangat dibenci karena telah menipu dan mengkhianatinya.


"Putri! Kita harus bicara!"


Niat baik tidak dianggap, Amira Tan yang tadinya berjalan keluar dari perusahaan Mahesa, mengedarkan pandangan ke sekeliling area sana untuk mencari keberadaan Putri yang diketahui sedang terluka saat ini.


Ingin segera menguraikan kesalahpahaman karena tidak ingin hubungan yang selama ini baik kini akan berubah buruk dengan apa yang terjadi hari ini, ia buru-buru melangkahkan kaki jenjang menyusuri trotoar.


Amira Tan merasa yakin jika Putri tidak ingin pulang bersama dan memilih naik kendaraan umum.


Satu-satunya tempat yang diyakini ada wanita malang itu adalah halte bus.

__ADS_1


"Syukurlah Putri belum berjalan jauh," ucap Amira Tan yang kini berjalan cepat untuk semakin mendekati wanita dengan posisi memunggungi tersebut.


"Putri! Kita perlu bicara!" teriak Amira Tan yang kini semakin mempercepat langkah kaki karena melihat Putri sangat mengenaskan.


Amira Tan mendengar Putri tertawa miris karena berpikir jika yang terjadi adalah mengungkapkan tentang sesuatu yang menyedihkan tengah dirasakan adik perempuannya tersebut.


Kini, Amira Tan sudah berdiri di hadapan Putri. Kemudian memegang lengannya untuk mengungkapkan permohonan maaf.


"Putri, aku melakukan ini demi kebaikanmu. Bukan ingin menghancurkan saudara sendiri. Aku melihat dengan mata kepala sendiri saat Arya pergi ke Club malam bersama wanita itu."


"Bukankah itu sudah jelas membuktikan jika Arya telah berselingkuh darimu? Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi tanpa memberitahumu tentang kenyataan ini."


Amira Tan kemudian menghentikan sejenak apa yang dikatakan karena ingin melihat bagaimana reaksi dari Putri. Namun, saat hanya ada wajah datar dari wanita di hadapan tersebut, kini memilih untuk melanjutkan.


"Aku tidak rela jika saudaraku dibohongi dan dikhianati. Jadi, aku memutuskan untuk menemui Arya agar segera menceraikanmu jika memang lebih mementingkan wanita itu dari pada dirimu."


Amira Tan semakin mengeratkan genggaman pada lengan wanita yang seolah masih betah dengan bibir terkatup rapat tersebut. "Aku ingin kamu hidup bahagia bersama Xander tanpa tersakiti oleh pria yang menyakitimu."


"Stop!" Putri refleks mengempaskan tangan Amira Tan dan langsung menutup kedua telinga dengan telapak tangan.


Berpikir jika wanita itu terlalu banyak mencampuri urusan rumah tangga yang harusnya bisa diperbaiki.


Putri saat ini berpikir jika hari ini tidak datang ke perusahaan, mungkin masih menjadi istri Arya. Berharap jika mengetahui tentang perselingkuhan sang suami secara diam-diam dan akan berusaha untuk menyelesaikan dengan cara baik-baik.


Dengan berusaha untuk membuat Arya kembali seperti dulu, Putri akan melakukan apapun untuk membuat sang suami kembali.


Namun, semua itu hanyalah angan semu ketika hari ini sudah diceraikan oleh Arya. "Sekarang semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi dan aku kehilangan Arya."


Putri bahkan tidak kuat lagi menopang beban berat tubuh, sehingga memilih untuk berjongkok di trotoar sambil kembali berurai air mata.


"Aku sangat mencintai Arya dan berpikir akan selamanya bahagia. Kenapa hanya penderitaan yang aku dapatkan sekarang?" Suara serak karena efek menangis dan tubuh bergetar hebat terlihat jelas saat ini.


Mungkin semua orang tidak akan pernah tega melihat pemandangan mengenaskan dan menyayat hati tersebut. Seorang wanita dengan wajah penuh air mata tengah berada di pinggir jalan dengan berjongkok.

__ADS_1


Bahkan seperti sedang mengungkapkan semua kesedihan yang dirasakan melalui cara yang mengenaskan dan tidak memperdulikan keadaan sekitar.


Sementara itu, Amira Tan yang masih berdiri menjulang di hadapan Putri, kini saking bersitatap.


Bahkan tatapan mereka sangat menjelaskan tengah merasa geram karena sikap Putri yang masih mengharapkan Arya setelah mengetahui berselingkuh.


Ingin sekali ia mengumpat untuk melampiaskan kekesalan melihat sikap Putri yang dinilai konyol, tapi mengurungkan niat karena tidak tega.


Namun, tidak bisa diam melihat kebodohan Putri dan masih berusaha untuk menyadarkan. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Putri?"


"Dengan berkata seperti itu, bukankah kamu mentolerir perbuatan seorang suami yang berselingkuh? Apa kamu tidak merasa keberatan hanya dijadikan istri di belakang layar, sedangkan wanita itu kebalikannya?"


"Bukankah kamu tahu jika orang tua Arya sama sekali tidak menerimamu? Hal berbeda didapatkan wanita itu karena hubungan mereka langsung mendapatkan persetujuan dan aku yakin sebentar lagi akan menikah dan mengundang para awak media untuk mengabarkan berita itu."


"Sementara kamu, hanya bisa diam di kontrakan sempit dan menerima semuanya demi ambisimu untuk selamanya menjadi istri Arya. Apa hidup seperti itu yang kamu inginkan?" Amira Tan benar-benar merasa sangat geram dan marah melihat sikap Putri yang sangat lemah.


"Jika memang seperti itu, lebih baik kamu kembali saja ke perusahaan dan katakan pada Arya. Bila perlu, berlututlah di kaki bajingan itu agar menerimamu kembali."


Jika beberapa saat lalu, Amira Tan merasa bersalah pada Putri, tapi sekarang, yang tersisa hanyalah kebencian karena berpikir jika yang terjadi adalah kebodohan seorang istri saat tidak rela kehilangan suami.


Hal yang paling dibenci oleh Amira Tan dari Putri kini bertambah karena melihat kebodohan saudara perempuan tiri tersebut.


"Buat apa mengikat seorang pria yang bahkan sudah tidak lagi mencintaimu? Ketika pasangan memilih untuk menduakan cinta, itu sudah jelas membuktikan siap kehilangan."


"Jika Arya saja sudah siap kehilangan dirimu, lalu untuk apa kamu membuktikan cintamu yang bahkan sudah tidak dianggap. Ataukah kamu ingin tetap berstatus sebagai nyonya Mahesa karena mengharapkan bisa menjadi bagian dari keluarga konglomerat?"


Amira Tan tidak perduli semakin menyakiti perasaan Putri. Bagaikan menyiram bensin ke dalam api, itu yang merupakan pepatah paling cocok untuknya saat ini.


Saat ini, Amira Tan sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin menyadarkan saudaranya. Bahkan kini merasa geram karena wanita itu sama sekali tidak berkomentar apapun dan memilih untuk mengunci rapat bibir.


Tanpa berpikir panjang, Amira Tan kini kembali meluapkan kekesalan pada Putri. "Kenapa diam saja? Cepat kembali ke perusahaan Arya dan berlututlah untuk memohon agar bisa tetap menjadi istri bajingan itu! Mulai sekarang, aku tidak akan pernah ikut campur masalah pribadimu."


Kemudian Amira Tan berjalan meninggalkan Putri karena merasa sangat marah ketika niat baik tidak dianggap.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2