Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
140. Sampah tak ternilai


__ADS_3

Amira Tan memilih untuk masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di belakang mobil mama dari Arya karena tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya. Bahkan ia masih memegangi pakaian milik Bagus dan mulai menekan tombol panggil pada ponselnya.


Namun, meskipun tersambung, tidak mendapatkan jawaban juga dan membuatnya merasa sangat kesal.


"Ke mana dia? Aku tinggal sebentar saja sudah menghilang. Astaga! Tapi lebih baik ia tidak melihat kekonyolan ini dari pada harus sakit hati untuk kesekian kalinya."


Ketika Amira Tan baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas yang ada di sebelah kirinya dan ia meletakkan pakaian Bagus di kursi sebelahnya, melihat kaca mobil diketuk dari luar.


Melihat ada Putri yang ternyata datang padanya, tentu saja membuatnya sangat malas untuk menghadapi wanita itu.


Namun, ia terpaksa membuka pintu mobil karena ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh Putri padanya. Seperti beberapa saat lalu, wajah garang dan masam kini terlihat jelas dari wajah Amira Tan ketika melihat adik tirinya tersebut.


"Ada apa? Apa kamu mau mengajakku gulat di sini?"


Refleks Putri menggelengkan kepalanya untuk menguraikan kesalahpahaman. "Aku khawatir pada Bagus. Tolong cari dia karena perasanku benar-benar tidak enak. Terakhir kali tadi dia masih ada, tapi kenapa tiba-tiba menghilang?"


"Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih karena tadi belum sempat, tapi bagaimana melakukannya jika ia tidak ada. Aku benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada mereka."


Di sisi lain, Amira Tan yang sebenarnya merasa sangat kesal pada sosok wanita di hadapannya, tidak ingin menanggapi, tetapi karena perasaannya juga serupa, membuatnya berpikir untuk mencari tahu keberadaan Bagus yang tiba-tiba menghilang.


"Apa Arya tadi tidak melihat Bagus? Coba tanya sana! Berani, tidak?"


Sengaja Amira Tan memancing Putri meskipun sebenarnya ia tahu jawabannya. Hanya saja, otaknya buntu karena tidak tahu di mana harus mencari Bagus.


Putri hanya bisa menelan ludah karena sadar, bahwa ia tidak mungkin bertanya hal itu pada Arya. Apalagi saat ini Arya sedang bersama dengan wanita yang sangat dibencinya.

__ADS_1


"Apa kamu mau membunuhku? Jika aku bertanya mengenai suami pada Arya yang sedang bersama mertuaku, maka tamat riwayatku!"


Mengerti bahwa wanita yang ada di hadapannya tersebut tak lebih dari seorang pengecut, hanya ditanggapi Amira dengan tersenyum masam.


"Kamu memang sama sekali tidak berguna. Kalau begitu, biar aku cari sendiri dan membawanya pergi jauh, agar tidak melihat pernikahan sialan ini!"


Saat Amira Tan baru saja menutup mulut, ia melihat mobil berwarna hitam berhenti di belakang mobilnya dan beberapa saat kemudian ada seorang wanita yang membawa pakaian, yaitu setelan jas lengkap. Merupakan pakaian yang akan dikenakan oleh Arya.


"Pergilah! Sebentar lagi acara dimulai. Impianmu untuk menjadi istri seorang Arya Mahesa sang konglomerat telah terkabul dan akhirnya kau berhasil membuat Bagus Setiawan menjadi pria yang tidak punya harga diri."


Amira Tan berniat untuk menutup pintu mobil, tetapi tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh Putri.


"Coba kamu cari di taman yang berada tidak jauh dari sini. Dulu aku sering mengajak putraku ke sana saat menangis. Bukankah tadi putraku menangis?"


"Dia paling suka bermain ayunan dan perosotan di taman. Siapa tahu Bagus mengajaknya ke sana," ucap Putri yang kini melepaskan tangannya dari pintu mobil begitu mendengar suara bariton dari Arya saat memangilnya.


"Iya, aku datang."


Putri buru-buru berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu masuk, di mana di sana sudah berdiri sosok pria dengan tubuh tinggi tegap dan memiliki paras rupawan yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah tampan itu.


'Arya tampan sekali. Aku jadi semakin mencintainya. Aku benar-benar tidak percaya akan menikah dengan Arya Mahesa—pria tampan dengan sejuta pesona yang membuatku tergila-gila,' lirih Putri yang saat ini tidak bisa mengalihkan pandangannya pada wajah tampan sang kekasih yang akan menjadi suaminya.


Beberapa lalu, Arya yang tadinya langsung berganti pakaian karena didesak oleh pria yang akan menikahkan mereka dengan alasan akan ada acara di tempat lain, sehingga buru-buru.


Namun, ia merasa sangat kesal saat calon mempelai pengantin wanita belum kembali juga dan membuatnya keluar dari rumah untuk memanggil. Tentu saja dengan membiarkan banyak pasang mata melihatnya saat berteriak pada Putri.

__ADS_1


Kini, ia sudah berjalan masuk dan duduk di kursi yang menjadi tempat pernikahan, sedangkan Putri yang sudah berjalan mengekor di belakang Arya, kini mendaratkan tubuhnya di sebelah pria tampan itu.


Jika biasanya di atas meja akan ada mahar pernikahan, tetapi saat ini sama sekali tidak ada apapun dan membuat Putri bertanya-tanya.


'Apa mahar yang akan diberikan Arya padaku? Dia tidak punya uang sama sekali.' lirih Putri yang kini menatap sekilas ke arah pria di sebelah kirinya.


Sebenarnya Putri kali ini ingin sekali bertanya, tetapi tidak ingin dianggap sebagai wanita yang mengincar harta, sehingga memilih untuk diam karena berpikir jika akan mengetahuinya nanti.


Sementara itu, Rani Paramita yang dari tadi hanya diam di tempatnya, tetapi pikirannya benar-benar sedang melanglang buana karena sedang menyusun siasat untuk menghancurkan rumah tangga putranya yang dianggap tidak penting.


'Aku akan membuat wanita ini dibenci oleh putraku. Arya akan membenci wanita murahan ini dan akhirnya menceraikan saat menyadari bahwa Putri tidak pantas mendapatkan cinta yang begitu besar.'


Sebenarnya tadi ia sama sekali tidak berniat untuk melihat pernikahan yang dianggapnya sangat tidak penting itu, tetapi merasa sangat iba begitu melihat Arya berkali-kali memohon.


Hingga ia memutuskan untuk tinggal, meskipun terpaksa dan akan segera kembali ke rumah. Namun, ada satu permintaan dari Arya yang membuatnya malah terhibur, yaitu tentang mahar pernikahan.


Tadi Arya meminta uang padanya untuk digunakan mahar pernikahan. Namun, ia yang sama sekali tidak merestui pernikahan itu, memilih untuk mengeluarkan uang dari dalam tas.


Bukan berlembar-lembar uang yang diambilnya di dalam tas karena ia mengeluarkan dompet dan hanya mengambil satu lembar uang kertas berwarna merah. Kemudian memberikannya pada Arya.


Meskipun melihat respon tak biasa dari putranya yang seolah sangat kesal, tetapi tidak bisa melakukan apapun.


'Wanita murahan ini tidak perlu mendapatkan mahar pernikahan mahal karena bagiku, hanyalah seonggok sampah tak ternilai dan lama-kelamaan akan tersisihkan.'


Kini, ia tersenyum smirk begitu melihat raut wajah Putri yang terlihat penuh kekecewaan begitu putranya ditanya apa mahar yang akan diberikan oleh sang calon mempelai pengantin pria pada pengantin wanita.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2