
Beberapa jam yang lalu...
Bagus saat ini baru saja selesai makan siang, ia dari semalam menghubungi Amira Tan karena sangat mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya tersebut. Kemarahan yang ditunjukkan semalam membuat rasa bersalah menyeruak di dalam hati.
Bahkan tadi sebelum berangkat kerja, ia mampir ke kontrakan Putri karena ingin memastikan sesuatu. Apakah yang dikatakan oleh Amira Tan benar, bahwa ia akan menerima Putri dengan tangan terbuka jika Arya suatu saat menceraikan.
Ya, ia akui setelah tadi melihat mantan istrinya yang sedang duduk berdua di teras depan bersama bayi yang baru saja dilahirkan, membuat Bagus menyadari jika cintanya masih sama pada wanita yang telah mengkhianati pernikahan.
Ia memang bodoh seperti yang dikatakan oleh Amira Tan semalam. Bahwa perasaan cintanya pada Putri masih sama seperti pertama kali jatuh cinta.
Ia akan menerima Putri kembali jika suatu saat nanti hubungan dengan Arya bermasalah. Namun, jawaban ketus dari Putri tadi membuatnya sadar jika wanita yang telah memberikan dua anak untuknya tersebut tidak sudi untuk kembali lagi padanya.
Bagaimana mungkin Putri kembali pada pria tidak berguna sepertinya? Itu adalah hal yang tidak mungkin karena Putri masih sangat cantik dan muda. Pastinya bisa mendapatkan pria lain yang lebih baik daripada ia.
Bahkan pria kaya dan muda seperti Arya saja didapatkan. Bagaimana mungkin akan kembali bersama pria tua miskin dan lemah di atas ranjang sepertinya.
Itu tidak mungkin dan ia harus sadar diri. Saat ia menatap ke arah ponsel miliknya, merasa khawatir pada Amira Tan karena nomor wanita itu tidak aktif.
Jika semalam saat pergi dari rumah kontrakannya, nomor Amira Tan masih aktif, tetapi tidak mau mengangkat telpon darinya. Ia berpikir jika kakak iparnya tersebut sangat marah padanya. Jadi, ia memilih untuk menghubungi lagi sekarang.
Ia berharap Amira Tan mau mengangkat telpon darinya dan tidak marah lagi. Namun, begitu nomor yang dihubungi malah dijawab operator, membuat Bagus merasa ada yang tidak beres.
Bagus kini bangkit berdiri dari posisinya yang duduk di bawah pohon rindang dan melindunginya dari sengatan sinar matahari.
"Lebih baik aku datang ke kantornya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja."
Tanpa membuang waktu, Bagus kini mengatakan pada beberapa rekan yang masih bersantai, bahwa ia akan melanjutkan untuk mencari penumpang.
__ADS_1
Padahal ia ingin menemui sang kakak ipar yang cemburu padanya. Selama fokus mengemudi, pikiran Bagus terpecah. Antara dua bersaudara yang sebenarnya sama-sama memiliki watak arogan dan keras.
"Putri sangat membenciku dan tidak sudi menerimaku lagi sebagai suaminya, tapi takdir seolah mempermainkanku ketika kakak tiri istriku yang merupakan wanita hebat itu malah mencintaiku."
"Bukankah ini sangat konyol? Rasanya aku ingin sekali tertawa saat Amira Tan bertingkah seperti wanita muda yang patah hati ketika cemburu. Jika ia hanyalah wanita sederhana, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menjadikannya ibu dari anak-anakku."
"Tidak bisa dipungkiri jika anak-anakku membutuhkan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Namun, itu bukan Amira Tan karena ia adalah seorang wanita hebat dan berkuasa yang mungkin akan menjadikan aku alas kakinya saja jika menikah nanti."
"Ia tidak tahu bagaimana kehidupan sebenarnya rumah tangga. Banyak konflik di dalamnya yang sering memicu jalan perceraian. Bukan cerita manis dan selalu lancar seperti di film-film atau cerita novel karena menyatukan dua hati dengan watak berbeda, akan selalu menimbulkan beberapa masalah."
"Semoga Amira Tan baik-baik saja dan bekerja di kantornya." Bagus saat ini masih fokus mengemudikan taksi menuju ke kantor Amira Tan.
Hingga sepuluh menit kemudian, ia sudah tiba di depan gedung cukup luas tersebut. Setelah memarkirkan taksi di tempat yang telah disediakan, ia beranjak turun setelah melepaskan sabuk pengaman yang selalu setia menemaninya setiap hari saat bekerja.
"Lebih baik aku hanya bertanya saja untuk memastikan bahwa ia saat ini sedang bekerja. Jadi, aku tidak perlu masuk ke ruangan kerja Amira Tan karena hanya akan mengganggu wanita karir yang super sibuk itu."
"Apakah Nona Amira Tan ada di ruangan kerjanya?"
Sosok wanita yang saat ini mengalihkan pandangannya dari layar komputer, melihat pria yang tak asing lagi karena memang ia yang disuruh untuk mengurus masalah gugatan cerai.
"Tuan Bagus, selamat datang dan silakan duduk."
Bagus yang enggan untuk duduk, kini memilih untuk tetap berdiri dan ia merasa sangat aneh dengan ekspresi wanita di depannya, sehingga sekali lagi bertanya.
"Di mana Amira Tan?"
Sebuah jawaban berupa gelengan kepala membuat Bagus merasa sangat khawatir. "Apa maksudmu? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
__ADS_1
"Maaf, Tuan Bagus. Saya pun tidak tahu tentang keberadaan nona Amira Tan. Bahkan dari semalam nomornya tidak aktif. Tadi, orang tuanya juga datang ke kantor untuk memastikan."
"Dari semalam, nona Amira Tan tidak pulang ke rumah. Jadi, kami juga sedang sibuk menghubungi beberapa rekan kerja, siapa tahu melihat."
Refleks Bagus seketika merasa kehilangan tenaga. Tubuhnya kini lunglai dan terhempas ke kursi. Wajahnya mulai dipenuhi oleh kekhawatiran yang teramat sangat ketika memikirkan nasib wanita yang semalam marah-marah saat pulang dari rumahnya.
'Amira, kamu di mana? Apa karena masalah semalam, kamu tidak pulang ke rumah? Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu?'
Lamunan Bagus seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Apa Amira Tan sudah datang?" tanya sosok pria yang tak lain adalah Jack dengan wajah penuh kekhawatiran jelas terpampang nyata saat ini.
Wajah kusut berantakan dengan rambut acak-acakan dan kantong mata tampak mewakili perasaannya. Ia memang semalaman tidak tidur karena mengkhawatirkan keadaan Amira Tan yang dibawa pria bartender.
Semalam ia memang mengejar pria itu, tetapi kehilangan jejak dan kembali ke club. Niatnya adalah ingin menanyakan tentang alamat pria itu, tetapi saat sudah mengetahui, ternyata tidak ada.
Rambut Jack tidak disisir dan terlihat jelas bahwa saat ini ia semalaman mengkhawatirkan keadaan Amira Tan. Nomor Amira Tan tidak aktif dan saat ia menghubungi sang bartender pun juga sama. Seolah pria itu sengaja menghilang saat merusak seorang Amira Tan yang sangat dicintai.
Jack mengempaskan tangannya untuk meninju udara sekitarnya dan ia saat ini tidak bisa lagi menahan kemurkaan, serta kemurkaan.
"Aku akan membunuh pria itu jika sampai terjadi sesuatu pada Amira Tan!" sarkas Jack yang sudah keluar dari ruangan dan berkacak pinggang di depan kantor pengacara sahabatnya tersebut.
Ia bahkan saat ini tengah mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dan ingin mendinginkan otaknya yang dari semalam sudah diforsir terlalu berat. Sejak semalam ia tidak memejamkan mata sama sekali.
Bagaimana ia bisa tidur jika pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang Amira Tan diperkosa oleh pria berengsek yang menghilang di balik kemacetan malam semalam.
"Aku memang sangat bodoh karena kehilangan jejak pria itu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Bahkan sampai sekarang nomor Amira Tan dan bajingan itu tidak aktif."
__ADS_1
To be continued...