
Sosok wanita dengan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya, mengempaskan diri di atas ranjang saat merasa frustasi, terluka dan pastinya sakit hati atas sikap dingin serta penolakan dari Wahyu siang tadi.
Wanita yang tak lain adalah seorang pengacara tersebut, kini menatap langit-langit kamar dengan perasaan berkecamuk.
"Dasar pria bodoh dan tidak peka! Pantas saja Putri pergi meninggalkanmu," sarkas Amira Tan yang saat ini benar-benar sangat marah dan kesal atas penolakan Bagus yang kemungkinan besar ia tidak mungkin bisa bertemu dengan mereka lagi.
Amira tampak resah, peringatan yang diberikan Bagus sungguh membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyenangkan hati Putra.
Wanita yang akhir-akhir ini jauh lebih tertarik dengan kehidupan adik iparnya itu, memang sangat jarang menaruh perhatian selama keberadaan Putri masih di sisi adik iparnya.
Amira memikirkan beberapa cara untuk bisa membahagiakan Putra. Hingga akhirnya, sebuah keputusan diambil. Ia tidak peduli dengan peringatan Bagus dan justru ingin menemui Putra saat Bagus ada di rumah.
Ya, hanya itu satu-satunya cara untuk bisa secara langsung memberikan perhatian pada anak balita yang menggemaskan, menurutnya.
Wanita itu mencari tahu kapan Bagus akan berada di rumah seharian. Dengan mengirim seseorang untuk bisa bertanya-tanya saat menumpang di taksi milik Bagus. Akhirnya, Amira mendapatkan hari di mana Bagus akan mengambil libur dalam sehari.
Persiapan dilakukan Amira mulai dari mainan yang akan diberikan untuk Putra, lalu makanan khusus yang ia buat sendiri. Amira Tan juga membeli beberapa makanan untuk camilan Putra dan Bagus dengan bermodalkan media sosial.
Akhirnya ia bisa belajar membuat beberapa kue dan camilan yang pas untuk kedua orang yang akan menjadi targetnya.
Setelah semua siap, tepat keesokan harinya.
Amira Tan memasukkan semua barang-barang yang ia bawa ke mobilnya. Lalu, mengemudi hingga sampai di rumah sederhana itu.
Dengan sedikit kesulitan, Amira membawa turun semua barang-barang dari bagasi mobilnya.
Sementara itu, Bagus sudah berdiri di depan pintu, melihat apa yang dilakukan wanita itu.
__ADS_1
“Apa ini? Kenapa kamu bawa banyak sekali barang-barang seperti ini?” tanya Bagus penuh keheranan dan juga mengarahkan tatapan penuh selidik.
Ia merasa curiga jika wanita yang baru saja datang tersebut sedang mempunyai tersembunyi karena mengetahui jika seseorang mempunyai keinginan, akan melakukan segala cara, seperti membeli banyak barang yang akan diberikan pada target.
Seperti itulah yang saat ini tengah dipikirkan oleh Bagus saat ini. Hanya saja, ia menyadari jika bukan orang sehat itu, sehingga bisa membuat seorang Amira Tan yang merupakan wanita hebat itu membutuhkan bantuannya.
“Aku membawa ini untuk Putra dan kamu. Aku tidak mau tahu, kalian harus menerimanya. Jika tidak, aku akan sangat marah padamu!”
Amira Tan membuka suara setelah menaruh semua barang bawaannya di atas meja ruang tamu. Tanpa menatap ke arah sosok pria yang berada di sebelah kirinya karena jujur saja ia merasa sangat gugup saat pria dengan tubuh jauh lebih tinggi darinya tersebut masih menatapnya.
Akhirnya Bagus tidak memiliki pilihan lain, ia tidak ingin menjadikan wanita baik di depannya itu kecewa dan berbalik membenci mereka.
Pria itu pun membantu Amira Tan hingga semua makanan dan mainan sudah berada di ruang makan.
Putra bersorak senang mendapatkan semua itu dari Amira Tan. Tidak hentinya Putra memeluk satu persatu mainan yang masih terbungkus rapi itu.
Bahkan ancaman serta larangan beberapa hari yang lalu sama sekali tidak diperdulikan oleh wanita itu.
“Tidak masalah. Aku punya banyak uang dan tidak akan jatuh miskin hanya karena membeli ini. Jika masih ada yang kurang, aku akan memberikannya untukmu dan Putra. Aku tidak keberatan memberikan semua ini untuk kalian.”
Bagus semakin tidak enak hati menerima semua kebaikan Amira Tan. Akhirnya sebuah keputusan diambil dengan tegas.
“Terima kasih atas kebaikan ini. Hanya saja, kembali lagi, aku tidak akan menerima semua ini. Kamu bisa menggunakannya untuk kepentingan sendiri. Jangan pernah memberikan semua ini lagi pada kami."
"Aku masih bisa melakukan apapun untuk Putra, tapi tidak akan pernah memanjakannya seperti yang kamu lakukan. Putraku harus menjadi seorang anak yang kuat dan tangguh serta harus dewasa."
"Jika kamu selalu memanjakannya seperti ini, aku takut akan tumbuh menjadi anak manja dan ingin selalu dituruti keinginannya."
__ADS_1
Amira Tan tampak kecewa, kali ini emosinya sedang tidak baik. Apalagi penolakan dilakukan secara langsung di hadapannya.
“Sebaiknya, kamu kembali bekerja. Gunakan semua uangmu untuk hal lain yang jauh lebih penting dari kebutuhanku dan Putra. Sungguh, aku sangat berterima kasih karena kebaikanmu.”
Tangan Amira Tan mengepal kuat. Tatapan matanya kini berubah penuh kekesalan, tiba-tiba saja sebuah kalimat keluar dari mulutnya.
“Apakah kamu adalah pria se-naif itu? Apa kamu sama sekali tidak melihat ketulusanku pada kalian? Ini semua aku lakukan karena ...."
Amira Tan yang masih menggantung perkataannya karena ragu untuk mengatakan secara langsung dan menyadari jika Bagus kemungkinan besar akan langsung berubah sikap padanya.
Namun, ia sadar jika terus menyimpan semua sendiri, hanya akan tersiksa dan akhirnya meluapkan semua.
"Aku menyukaimu dan sangat menyayangi Putra. Apa kamu puas sekarang! Inilah alasannya kenapa aku selalu datang pada kalian seperti orang bodoh yang tidak diinginkan!"
Ungkapan yang mendadak itu membuat Bagus bungkam beberapa saat. Bahkan suasana di ruang tamu itu seketika hening dan hanya menyisakan suara deru napas mereka.
Nasib baik tadi putranya sudah bermain di depan ruangan santai dengan suara televisi yang menyala cukup keras, sehingga tidak mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh sosok wanita dengan pakaian kerja tersebut.
Bagus tidak pernah menyangka jika kakak iparnya akan menaruh perasaan padanya. Bahkan ia seolah merasa bahwa itu adalah sangat konyol dan juga dipermainkan oleh takdir karena berkutat pada dua bersaudara yang kemungkinan besar akan menyakiti hatinya.
Tentu saja, Bagus masih tahu diri, tidak ingin kembali sakit hati adalah tujuannya saat ini. Sejujurnya ia saat ini ingin terbahak begitu mendengar ungkapan perasaan dari sang kakak ipar.
Apalagi mengetahui bahwa wanita di hadapannya tersebut bukanlah orang biasa. Menikah dengan Putri yang merupakan wanita biasa saja sudah tersakiti hingga hancur tak tersisa seperti ini.
Bagaimana mungkin seorang kakak ipar yang berprofesi sebagai pengacara hebat, serta memiliki paras yang cantik tersebut menyukainya. Ia hanyalah seorang pria lemah miskin dan tidak berguna seperti yang sering diungkapkan oleh Putri.
To be continued...
__ADS_1