Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
162. Menunggu penjelasan


__ADS_3

Pekerjaan sudah menunggu, meski dengan rasa nyeri di pinggang, ia masih tetap bekerja dengan baik seperti biasa. Ya … walaupun ada beberapa pekerjaan yang dikurangi.


“Putri, kapan kamu mau selesai? Pekerjaan ini terlalu berbahaya untuk usia kandunganmu," ucap wanita yang yang berusia 40 tahunan tersebut saat merasa sangat iba melihat seorang wanita hamil besar masih bekerja untuk mencari uang.


“Nyonya, maafkan aku. Berikan aku waktu sampai akhir minggu ini. Aku masih membutuhkan uang sampai suamiku mendapatkan pekerjaannya." Putri benar-benar berharap sang majikan masih mempekerjakannya hingga ia yakin Arya bekerja.


“Baiklah, akan kuberikan waktu sampai akhir minggu ini.”


Maria sebenarnya sangat menyukai Putri karena cekatan dan rapi hasil kerjanya, tapi tidak ingin jika nanti terjadi hal-hal yang buruk karena wanita hamil besar rawan mendapatkan kecelakaan kerja dan akan berakibat buruk pada bayi yang dikandung.


Hingga ia memilih untuk menyuruh Putri libur dulu sampai melahirkan nanti dan bisa kembali bekerja setelah bayinya berusia beberapa bulan.


Rasa lega kembali muncul, Putri sangat beruntung hari ini. Entah karena kehamilannya yang membawa keberuntungan atau memang hari ini dewi fortuna sedang berada di dekatnya.


Selesai dengan pekerjaan hari ini, Arya tidak tampak menjemputnya. Putri berjalan pulang seorang diri dan berharap suaminya akan berdiri di pintu dan menyambutnya dengan penuh kasih.


Hari ini nyonya Maria memberikan satu bungkus makanan untuknya. Tentu Putri akan memberikan makanan itu kepada Arya karena memang menu satu itu sangat disukai pria berwajah tampan yang selalu dicintainya.


“Arya pasti senang karena hari ini akan mendapatkan makanan lezat ini.”

__ADS_1


Sampai di halaman depan, pintu rumah masih tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda siapa pun di sana. Ia membuka pintu dan masuk, dipanggilnya nama sang suami dari ruang tamu, tetapi tidak ada jawaban.


“Sepertinya Arya masih berada di luar. Pasti ia sedang mencari pekerjaan.” Putri meletakkan bungkusan makanan di atas meja, lalu berjalan ke kamar untuk membersihkan diri.


Aroma tubuh itu membuatnya mual dan ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Ia bergegas untuk menghidupkan shower dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air.


Rasanya sangat nyaman dan menyegarkan, setelah seharian berkutat dengan pekerjaan rumah. Putri menghabiskan waktu selama kurang lebih lima belas menit di kamar mandi, ia meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya.


Saat pintu kamar mandi dibuka, ternyata Arya masih belum pulang juga. Putri merasa cemas karena tidak biasanya sang suami akan berlama-lama di luar tanpa kembali pada jam-jam itu.


“Arya ke mana?”


Putri meraih ponsel dan mencoba untuk menghubungi suaminya. Sayang, semua panggilan ditolak, seakan pria itu tidak ingin dihubungi. Kini rasa gelisah mulai muncul dalam hatinya.


Ia berusaha untuk tenang dan mengenakan pakaian. Setelah selesai, ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang sudah dinantikannya.


Baru saja duduk di kursi, pintu rumah terbuka dan menampilkan Arya berjalan masuk. Secara otomatis ia bergerak mendekati suami dan bertanya apa yang terjadi di luar sana? Belum sempat ia bertanya, pria tersebut langsung berbicara padanya.


“Aku baru saja ke rumah.”

__ADS_1


Ucapan Arya membuat Putri tidak sabar untuk menunggu kelanjutan dari kalimat itu.


“Lalu, apa yang terjadi di sana? Apa papamu memberikan pekerjaan? Atau kamu kembali ke sana dan memimpin perusahaan?”


Arya menatap Putri dengan wajah memelas dan seperti tidak memiliki harapan. Lalu, beberapa saat kemudian, senyumnya merekah dan tiba-tiba dengan spontan tangannya menggendong tubuh Putri yang kini memiliki berat lebih dari sebelumnya.


“Aaarrh … Arya, turunkan aku! Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat senang?”


“Papa memberikan pekerjaan padaku.” Raut wajah Arya terlihat berbinar karena merasa lega sekaligus senang hari ini.


“Benarkah? Bagaimana bisa?” tanya Putri dengan membekap mulutnya dan merasa sangat terkejut.


Bagaimana ia tidak terkejut saat sang suami membawa kabar baik dan selalu ditunggunya dari dulu. Ya, hari ini ia berpikir bahwa penderitaannya akan berakhir dan menjadi seorang istri CEO perusahaan.


Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini dan tentu saja wajahnya terlihat berbinar seperti Arya, menjelaskan bahwa mereka sama-sama sangat bahagia hari ini.


“Ayo, aku akan menceritakannya padamu," ucap Arya yang kini sudah menurunkan tubuh Putri yang menurutnya semakin bertambah berat.


Kemudian mereka berjalan ke ruang tamu, lalu duduk berdampingan di sana.

__ADS_1


Ia benar-benar sudah tidak sabar mendengarkan bagaimana kisah suaminya yang memohon kepada kedua orang tuanya untuk bisa kembali diterima di rumah itu. 


To be continued...


__ADS_2