Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
165. Merasa tidak tega


__ADS_3

Kalimat telak bagaikan sebuah tamparan yang dirasakannya, membuat Arya terdiam seketika.


Bibirnya benar-benar terkatup rapat dan tidak ingin lagi mengungkapkan keinginannya karena jauh lebih sakit dihina habis-habisan oleh sang ayah.


Bahkan jantungnya masih belum bisa normal dalam keadaan saat ini. Ada banyak yang perlu diperhitungkan. Bagaimana bisa ia bekerja tanpa kendaraan? Jarak dari tempatnya saat ini cukup jauh dari jarak rumah orang tuanya.


Namun, ia berusaha untuk menemukan jalan keluar sendiri nantinya. Saat ini, ia hanya fokus pada sang ayah yang malah berceramah dan membuat telinganya sakit. Namun, ia berpura-pura untuk menjadi anak baik dan tidak melawan orang tua.


Ari Mahesa ingin menyadarkan putranya agar bisa membiasakan diri seperti orang-orang kalangan bawah yang tidak mengeluh dengan rutinitas sehari-hari mereka.


Berpikir bahwa itu adalah jawaban dari pilihan yang selama ini diambil oleh putranya agar menerima segala konsekuensi.


“Ada banyak staf biasa yang menggunakan kendaraan umum. Bukankah kamu datang dengan kendaraan umum juga? Apa itu membuatmu keberatan untuk berangkat bekerja? Atau ... kamu malu karena menjadi staf biasa tanpa memiliki harta?”


Kali ini batas kesabaran Rani sebagai seorang istri sekaligus ibu sudah habis, sehingga memilih untuk langsung memutuskan pembicaraan dari ayah dan anak itu.


“Sayang, jangan terlalu keras pada Arya. Kasihan ia. Setidaknya, berikan satu mobil yang bisa digunakan sebagai kendaraan untuk semangat bekerja.”


“Inilah hasil didikanmu. Dia menjadi manja dan mengharapkan bantuan orang lain. Putra kesayanganmu ini tidak akan bisa belajar jika terus kamu berikan semua itu. Tindakanku selama ini memberikannya hukuman agar ia berpikir. Jika keberatan dengan semua keputusanku, kalian bisa pergi dari sini!”


Hening seketika mengelilingi suasana di ruang tamu tersebut.


Rani seketika menutup rapat mulutnya dan tidak tahu lagi harus merayu seperti apa pada suaminya tersebut. Ia hanya mengerjapkan mata dan melirik sekilas pada sosok putranya yang sama bingung sepertinya.


Sejujurnya ia ingin sekali mengumpat, tapi tidak bisa melakukannya karena takut harus meninggalkan segala kemewahan yang selama ini didapatkan, sehingga hanya bisa diam saat ini tanpa bisa apa-apa.

__ADS_1


Tidak hanya Arya yang menelan ludah kasar saat ini, Rani pun menjadi sasaran empuk suaminya karena membela sang anak. Arya tidak ingin kemurkaan sang ayah merebak ke mana-mana, sehingga membatalkan niat untuk mengizinkannya bekerja di perusahaan.


“Baiklah, Pa. Aku akan berusaha untuk bisa bekerja sebagai staf biasa di perusahaan. Ini semua demi keluarga kecilku.”


“Bagus jika kamu memiliki pikiran seperti itu. Seorang pria harus bisa membahagiakan keluarganya, dengan cara apapun.”


Setelah percakapan itu, Ari Mahesa beranjak dari sana dan masuk ke ruang kerjanya karena tidak ingin lemah melihat wajah murung dan mengenaskan anak dan istrinya.


Sementara Rani yang masih duduk menemani putranya mulai memiliki pikiran licik.


“Mama mau setelah wanita itu melahirkan, kamu tinggalkan saja dan kembali ke rumah ini. Mama yakin jika papamu akan menerimamu jika kamu meninggalkan wanita itu."


Refleks Arya langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin menuruti kemauan sang ibu. Meskipun ia ingin kembali ke rumah itu dan kembali merasakan segala fasilitas seperti dulu, tapi tidak bisa meninggalkan wanita yang sangat dicintai dan juga calon buah hatinya.


“Tidak mungkin aku akan melakukan itu, Ma. Bagaimanapun, aku masih mencintai Putri. Apalagi selama ini Putri telah membuktikan cintanya padaku dengan bekerja saat ia sedang dalam keadaan hamil."


Tentu saja merasakan rasa nyeri di telinga, membuat Arya meringis menahan rasa sakit akibat perbuatan sang ibu. "Astaga, sakit, Ma! Lepaskan!"


Tidak tega melihat putranya kesakitan karena dihukum olehnya, membuat Rani kini menurunkan tangan dari daun telinga yang baru saja dipelintirnya.


"Seandainya kamu menuruti apa kata Mama, ini semua tidak akan pernah terjadi. Mana mungkin kamu akan hidup menderita di luaran sana. Mama sudah tidak tahu harus bagaimana membuat kalian berdua berubah pikiran. Anak dan ayah sama-sama keras kepala."


Kalimat panjang lebar dari sosok wanita yang terlihat memerah wajahnya karena kesal, kini Arya hanya menghela napasnya, lalu berdiri dari tempat duduk.


"Lebih baik Mama doakan saja agar hidupku bahagia setelah bekerja di perusahaan dan papa berubah pikiran, lalu segera memberikan posisi penting padaku."

__ADS_1


Hanya helaan napas yang kini diungkapkan oleh Rani karena lagi-lagi tidak berhasil membuat putranya meninggalkan wanita yang sangat dibencinya.


Arya memilih segera berpamitan kepada sang ibu karena tidak ingin semakin berdebat. Ia ingin segera kembali ke rumahnya karena khawatir dengan keadaan Putri. Apalagi hari hampir sore. Ia yakin jika sang istri akan mencari dan khawatir jika tidak segera pulang.


“Arya pulang dulu, Ma. Putri pasti sudah menunggu.”


“Mama sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuatmu kembali ke sini. Baiklah. Hati-hati di jalan dan ini … sedikit untukmu. Kamu bisa makan enak malam ini.”


Seketika raut wajah Arya terlihat berbinar begitu melihat lembaran uang berwarna merah di tangan sang ibu dan diberikan padanya.


"Wah ... terima kasih, Ma. I love you," ujar Arya yang langsung menerima uang itu dan memasukkannya ke dalam saku celana karena sang ibu memberikan kode.


Ia memahami semuanya, bahwa sang ibu tidak ingin ayahnya sampai mengetahuinya karena memberikan secara diam-diam. Kemudian ia langsung memeluk erat tubuh sang ibu dan beberapa saat, ada rasa haru menyeruak di dalam hatinya karena akan pergi dari rumah itu lagi.


Meninggalkan sang ibu yang sangat disayanginya. Apalagi suara dari sang ibu, lagi-lagi membuatnya trenyuh.


"Mama sangat menyayangimu, Putraku. Semoga kamu segera bisa kembali ke rumah ini dan kita berkumpul sebagai keluarga lengkap dan bahagia seperti dulu lagi." Rani mengusap beberapa kali punggung lebar nan kokoh itu.


Sejujurnya ia sangat berat melepaskan putranya, tapi tidak tahu apa yang bisa dilakukan.


Selama beberapa menit, terlihat ibu dan anak yang sedang mengungkapkan perasaannya karena akan berpisah.


Setelah dirasa cukup tenang, kini Arya melepaskan pelukannya dan kembali berpamitan. Kemudian ia berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.


Sementara itu, Rani saat ini hanya diam terpaku di tempatnya dan sudah tidak bisa lagi menahan bulir air mata yang telah menganak sungai di pipinya.

__ADS_1


Ia menangis tersedu-sedu dengan tubuhnya sudah terjatuh di sofa. Tentu saja ia benar-benar sangat sedih karena melihat putranya harus hidup menderita karena wanita bernama Putri yang ingin disingkirkan.


To be continued...


__ADS_2