
Setelah dari rumah sakit, Arya langsung bergegas kembali ke rumah untuk bersiap-siap.
Beruntung hari ini sang ayah bisa pulang pukul tujuh malam karena rekan bisnis yang akan ditemui tidak tidak bisa hadir. Itu semua karena ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.
Setelah berpamitan pada orang tuanya, Arya meminta agar supir segera mengantarnya kembali ke rumah.
Acara dalam undangan yang Calista berikan adalah pukul delapan malam. Arya tidak yakin jika ia bisa datang tepat waktu.
Selama dalam perjalanan, Arya menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Calista dan memberitahu jika kemungkinan mereka akan datang terlambat karena ia baru pulang dari rumah sakit dan harus kembali ke rumah untuk mengganti pakaian.
Arya bernapas lega saat Calista mengatakan tidak masalah karena ia sediri pun masih berada di salon dan belum selesai.
'Dasar wanita! Kenapa harus repot sekali? Apa saja yang ia lakukan di salon dari tadi? Hingga sampai sekarang masih belum selesai juga,' gumam Arya sembari menggelengkan kepala.
Ia tidak habis pikir dengan apa yang sebenarnya dilakukan para wanita itu di sana. Sama halnya seperti sang ibu yang selalu berlama-lama saat ke salon.
Sesampainya di rumah, Arya segera bergegas menuju kamarnya. Sebelumnya, ia juga meminta Calista untuk mengirimkan lokasi salon tempat wanita itu berada.
Ia memutuskan untuk menjemput langsung Calista agar lebih menghemat waktu perjalanan dan juga tidak perlu menunggu wanita itu seorang diri di tempat pesta teman.
Arya masuk ke dalam ruang ganti yang ada di kamarnya. Tempat di mana semua pakaian dan perlengkapan pria itu tersedia di sana.
Terlihat pemandangan lengkap yang menghiasi ruangan walk in closet.
Dari mulai baju, celana, kemeja, jas, sepatu, jam tangan dan tas, semua lengkap ada di dalam ruangan yang menghubungkan langsung dengan kamar mandi di kamarnya.
Setelah memilih pakaian apa yang akan dikenakan, pilihan Arya jatuh pada kemeja putih lengan pendek dan jas semi formal serta crop pant yang ada di sana, sedangkan untuk alas kaki, memilih sepatu loafer yang akan melengkapi penampilannya.
Tidak lupa jam tangan dari salah satu merek ternama yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
Ia memandangi pantulan diri di cermin, mengoleskan pomade di rambutnya dan menata sedemikian rupa untuk menyempurnakan penampilannya malam itu.
Ia tidak ingin membuat Calista malu. Setidaknya itulah sebagai ucapan terima kasihnya pada wanita itu karena sudah banyak membantunya selama ini di kantor.
Setelah dirasa sempurna, Arya memilih salah satu mobil mewah yang terparkir di bagasi rumah mewah orang tuanya. Mobil Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Telesto yang dibelikan oleh kedua orang tuanya sebagai hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu.
Arya membutuhkan mobil itu agar bisa melaju lebih cepat karena memiliki tenaga setara dengan 774 tenaga kuda. Ia langsung menghubungi Calista begitu pria itu tiba di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sementara mereka belum sampai di pesta itu. Arya terlihat kesal saat Calista memintanya untuk menunggu lagi.
Ia sudah mengirimkan pesan pada wanita itu untuk ke tiga kalinya dan jawaban Calista masih sama, meminta Arya untuk menunggu.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita tampak begitu cantik dan anggun.
Ia mengenakan dress panjang berwarna hitam yang terlihat begitu kontras dengan kulit putihnya, dengan belahan di bagian samping, dari bawah hingga atas lutut.
Menampakkan paha mulusnya saat ia berjalan. Sebuah liontin kecil dan mungil yang melingkar di lehernya, semakin memperindah penampilannya.
Bagian pundaknya akan terekspos dengan sempurna karena gaun itu memang di rancang terbuka di bagian sana.
__ADS_1
Calista terlihat mengetuk kaca pintu mobil Arya.
Arya segera menurunkan kaca tersebut dan menatap wanita cantik yang berdiri di samping mobilnya. Ia termangu untuk beberapa saat karena kecantikan Calista malam itu mampu menghipnotisnya.
Rambut panjang dibentuk sedemikian rupa, agar tidak menjuntai ke bawah dan itu semakin memperlihatkan leher dan pundaknya yang putih mulus.
Sempurna.
Hanya satu kata itu yang bisa ia ucapkan dalam hati untuk menjabarkan penampilan Calista malam ini.
“Kamu lama sekali." Arya berdehem dan melayangkan protes pada wanita itu.
Ia sengaja mengalihkan perhatian agar Calista tidak menyadari sedang mengagumi wanita itu.
“Baru juga menunggu 15 menit, sudah protes.” Calista merengut kesal.
“Sudah, buruan masuk! Kita sudah terlambat.”
Calista berjalan memutari mobil dan kemudian masuk ke dalam kendaraan mewah yang sudah terbuka pintunya tersebut.
“Tidak masalah kalau pun kita terlambat. pangeran dan tuan putri memang selalu datang belakangan.
Mereka juga tidak akan memulai pestanya tanpa kedatangan kita,” ucap Calista saat sudah duduk di dalam mobil.
“Kenapa kamu terdengar begitu percaya diri? Memangnya ini pesta ulang tahunmu?” Srya mendelik malas.
Ia kemudian menghidupkan mobil dan menginjak pedal gas yang membuat mobil mewah miliknya melaju dengan cepat.
"Lebih kencang lagi! Ini sangat menyenangkan!” sambung Calista terlihat senang.
“Apa kamu tidak takut?” tanya Arya sambil terus melajukan mobilnya yang mulai mendahului kendaraan di depannya.
“Kenapa harus takut? Ini menyenangkan sekali!” Calista berteriak.
Sikapnya sungguh berbanding terbalik dengan penampilannya yang begitu anggun.
Hal itu membuat Arya menggelengkan kepala.
Awalnya Arya ingin memberi pelajaran pada Calista yang sudah membuatnya menunggu 15 menit, yaitu mengendari mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, bukannya takut, Calista malah menikmati.
Beberapa saat kemudian, mobil mewah milik Arya terparkir di sebuah gedung yang ternama di kota tersebut. Dari depan gedung sudah terlihat berbagai hiasan dan foto pemilik acara tersebut.
Arya segera turun dari mobil, lalu berjalan memutar. Tentu saja ia membukakan pintu untuk Calista.
Hal itu cukup membuat Calista tercengang karena tidak menyangka Arya akan melakukan itu.
Arya sedikit menundukkan badannya saat Calista tidak kunjung menerima uluran tangannya.
"Mau sampai kapan kamu di dalam mobilku? Apakah senyaman itu berada di dalam sana?" tanya Arya dengan berbisik.
__ADS_1
Calista mengerjap beberapa saat sebelum kemudian menyambut uluran tangan Arya.
Bahkan ia melingkarkan tangannya pada lengan kekar Arya dan mereka melangkah bersama menuju pintu masuk gedung.
Sebelumnya, Arya menyerahkan kunci pada petugas yang memang ditugaskan untuk memarkirkan kendaraan para tamu undangan.
Setelah menunjukkan kartu undangan mereka diizinkan untuk masuk dan bergabung bersama dengan tamu undangan lainnya.
Benar yang dikatakan Calista, mereka seketika menjadi pusat perhatian para tamu di sana.
"Calista ....."
Seorang wanita cantik yang mengenakan dress putih selutut menghampiri Calista dan seorang pria tampan.
"Aku pikir kamu tidak akan datang," ucap wanita itu.
"Pasti datang. Ini kan hari ulang tahunmu," balas Calista. "Selamat ulang tahun, Karin." Calista berbicara dengan tulus dan memeluk teman wanitanya tersebut.
"Calista ...."
Ketiga wanita lain datang menghampiri Calista dan memeluk wanita itu.
"Sudah kuduga kamu pasti datang," celetuk seorang teman yang bernama Melisa.
"Tentu saja aku akan datang."
"Apa kamu tidak berniat mengenalkan pria tampan yang datang bersamamu ini?" Salah seorang teman Calista yang lain berdehem dan menatap seorang pria tampan dengan senyum penuh kekaguman.
"Aku hampir lupa. Kenalkan, ini Arya, kekasihku." Calista merangkul Arya dan menunjukkan kuasa, bahwa pria dengan paras rupawan tersebut adalah miliknya.
"Arya." Pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan pada satu-persatu wanita yang merupakan sahabat Calista.
"Selamat ulang tahun."
Keempat wanita itu secara bergantian bersalaman dengan Arya.
Mereka memperkenalkan diri, menyebutkan nama masing-masing dengan senyum penuh kekaguman.
"Sudah, jangan lama-lama memandangnya. Bahaya, nanti kalian bisa jatuh cinta.
Calista menggandeng Arya menuju meja, di mana sudah tersaji berbagai makanan dan minuman di sana.
Malam itu, acara memang belum dibuka karena Karin yang sengaja menunggu Calista.
"Kamu mendapatkan kekasih seperti seorang model itu di mana?" tanya Cinta dan beberapa teman Calista yang lain.
"Arya, apa kamu punya adik atau saudara laki-laki? Kalau punya, kenalkan dengan kami. Siapa tahu cocok," seloroh Melisa sembari menopang dagu dengan sebelah tangan.
Arya hanya menanggapi dengan senyum yang terulas di bibir.
__ADS_1
To be continued...