
Bagus saat ini sudah tiba di tempat kerja dan tengah mengganti pakaian dengan seragam supir taksi. Ia menatap pantulan wajah di cermin dan otaknya saat ini tengah dibebani oleh berbagai macam hal.
Ia merutuki kebodohannya sendiri karena tadi memilih untuk datang mengunjungi Putri sebelum ke tempat kerja.
Itu semua karena semalam belum sempat mengucapkan salam perpisahan pada Putri. Bahkan rencana untuk mengatakan pada wanita itu bahwa ia akan kembali ke kampung halaman, belum disampaikan.
Ia tadi datang ke rumah kontrakan Putri karena memikirkan tentang kemurkaan iparnya semalam saat berada di kontrakan.
Kini, ia mengingat tentang kejadian semalam di kontrakan yang membuatnya merasa sangat bersalah pada Amira Tan dan juga Putri.
***
Amira Tan yang saat ini mengemudikan mobil meninggalkan kediaman Putri dengan perasaan berkecamuk dan membuncah karena mengetahui jika sampai sekarang, Bagus masih sangat mencintai Putri.
Wanita yang sudah menjadi mantan istri karena ditalak dalam keadaan marah dan kesal oleh Bagus.
Amira Tan tadi sudah meletakkan dompet milik Bagus di atas dasbor mobil. Sesekali ia mengempaskan tangan pada kemudi dan mengumpat.
"Dasar pria bodoh! Kenapa aku pun tertular virus bodohnya? Sial sekali!" umpat Amira Tan yang saat ini merasa sangat marah.
"Seharusnya aku tidak melihat saat Putri membuka dompet ini."
"Jadi, tidak akan tahu jika di dalam dompet pria bodoh itu ada foto Putri." Amira Tan melirik sekilas ke arah dompet kulit di hadapannya dan berusaha untuk menormalkan perasaannya yang terluka.
"Aku adalah seorang wanita berpendidikan tinggi, punya penghasilan besar dan bisa mendapatkan pria manapun yang lebih baik dari Bagus. Jadi, buat apa aku merasa frustasi seperti ini?"
"Aku memang sangat bodoh karena berpikir jika Bagus adalah pria baik hati yang sangat langka di dunia ini. Bahkan berniat untuk mengobati kelemahan yang membuat rumah tangganya hancur. Masalah ejakulasi dini bisa disembuhkan dengan cara berobat."
__ADS_1
"Sedangkan penghasilan kecil dari seorang supir taksi bisa kuatasi dengan memberinya modal untuk membuka usaha. Apakah restoran atau toko dan yang lainnya. Bagiku itu tidak menjadi masalah," ucap Amira Tan yang mencoba untuk menenangkan perasaan yang kacau balau.
"Aku harus berbicara dengan pria bodoh itu nanti, agar ia mengurungkan niat untuk pulang ke kampung. Konyol sekali jika ia memilih untuk melarikan diri dengan menghabiskan waktu seumur hidup di kampungnya."
Tekad Amira Tan sudah bulat karena saat ini tidak bisa menyembunyikan perasaan cintanya pada Bagus. Ia berharap tawarannya akan diterima oleh iparnya tersebut.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil yang dikendarainya telah berhenti tepat di depan kontrakan Bagus dan baru saja ia membuka pintu, indra pendengarannya menangkap suara anak kecil yang memanggilnya.
Hingga ia pun langsung mengulas senyuman saat melihat Putra berlari ke arahnya. Tentu saja bukan karena senang melihat kedatangannya dan ingin memeluknya, tetapi karena ingin kantong plastik yang berada di tangan kanannya.
"Jajanku, Tante," ucap bocah laki-laki itu dengan mengulurkan tangannya untuk meminta berbagai macam Snack yang tadi dibeli dengan sang ayah.
Sementara itu, Bagus kini hanya diam mengamati pergerakan putranya yang tidak mau tidur meskipun hari telah larut. Hanya memikirkan aneka jajanan yang tadi belum sempat dimakan.
Sebenarnya ia pun juga bersalah karena sempat marah pada putranya ketika memukul bayi Putri yang tak lain adalah saudara tiri Putra. Namun, saat memikirkan jika putranya pun merupakan korban dari kesalahan orang tua, membuatnya menyesal.
Bahkan tadi putranya tidak berhenti menangis saat ia memarahi dengan menyebut anak nakal. Tanpa memperdulikan jika perasaan terluka Putra yang kekurangan kasih sayang sang ibu
Bahkan ia terkekeh geli ketika melihat putranya seperti kesusahan membawa kantung plastik besar tersebut.
Hingga Bagus kini memilih untuk membantu, tetapi gelengan kepala menjadi jawaban dari Putra yang masuk ke dalam rumah.
"Astaga! Sepertinya putraku masih kesal karena camilan miliknya kulupakan tadi," ucap Bagus yang saat ini beralih menatap ke arah sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya dan juga menatap tingkah menggemaskan putranya tersebut.
"Apa kamu mau langsung pulang? Atau masuk ke dalam dulu?"
Tanpa menjawab, Amira Tan sudah berjalan mengikuti langkah kaki mungil Putra yang menuju ke arah kasur lantai di depan televisi dan mendaratkan tubuhnya di sebelah balita tersebut.
__ADS_1
Ia pun membuka salah satu Snack yang diberikan oleh Putra karena ingin segera menikmatinya. Kemudian ia memberikannya kembali pada keponakannya.
Tentu saja ia masih bersikap ketus pada Bagus ketika mengingat pria itu menyimpan foto wanita yang merupakan adik tirinya. Meskipun dulu belum bercerai, tetapi Putri sudah tega mengkhianati pria itu.
Jadi ia heran pada pria yang malah tidak membenci Putri sama sekali. Selama setengah jam, Amira Tan menemani Putra menikmati jajanan dan susu. Terkadang tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan balita laki-laki itu.
Sedangkan di sisi lain, yaitu atas sofa, Bagus hanya diam dari tadi karena merasa bingung dan aneh ketika mendapatkan sikap ketus iparnya saat tida merasa melakukan kesalahan.
Kesalahan tadi sudah dijelaskan saat di kontrakan Putri dan ia menganggap jika itu telah selesai. Jadi, ia saat ini merasa heran. Kenapa Amira Tan bersikap ketus dan tidak mau berbicara padanya.
Hingga ia pun melirik ke arah jam yang menghiasi dinding dekat ruang tamu. Kontrakan yang tidak cukup besar, menjadikan dua ruangan tidak ada dinding pemisah.
Antara ruang tamu dan juga ruang santai, seolah menjadi satu. 'Ini sudah sangat malam. Rasanya tidak pantas jika kakak ipar masih ada di sini, tapi bagaimana caraku menyuruhnya pulang?'
'Dia pasti akan merasa tersinggung nanti karena berpikir aku mengusirnya. Apa aku tunggu saja ia hingga pulang sendiri,' gumam Bagus yang masih belum berani membuka mulut.
Ia sengaja membuka lebar pintu rumah karena tidak ingin ada fitnah yang mencemarkan nama baik mereka.
Detik demi menit telah berlalu dan malam semakin larut. Bahkan kini jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi masih belum ada tanda-tanda jika iparnya akan pulang.
Bagus yang sudah cukup lama bersabar, kini memilih untuk membuka mulut setelah melihat putranya telah tertidur di pangkuan wanita itu.
"Biar aku gendong untuk tidur ke kamar." Bagus bangkit berdiri dari posisinya dan seperti yang dikatakan, ia langsung menggendong Putra.
Kemudian Amira Tan kini meluruskan kaki yang kesemutan karena dari tadi memangku bocah laki-laki yang bermanja-manja padanya. Seolah ingin menunjukkan rasa rindunya pada kasih sayang seorang ibu yang sudah lama tidak dirasakan. Hingga ia pun mendengar suara bariton dari pria yang baru saja keluar dari kamar.
"Ini sudah sangat larut. Sebaiknya kau pulang, Kakak ipar. Aku tidak ingin para tetangga berpikir kita berbuat mesum di dalam rumah. Jadi, lebih baik sekarang kamu pulang. Aku lupa, apa kamu menemukan dompetku?"
__ADS_1
Bagus masih berdiri menjulang di hadapan wanita yang seolah enggan bangkit dari posisi duduk. Hingga ia pun kini mengerutkan kening saat tidak ada jawaban dari wanita yang malah menatapnya dengan tatapan tajam.
To be continued...