
"Astaga, maafkan aku. Ini adalah pecahan gelas yang tadi dilempar Bagus tadi saat marah ketika aku mengungkapkan idemu untuk tinggal di sini. Padahal tadi aku sudah membersihkannya, tapi sama sekali tidak pernah menyangka jika ada yang masih tertinggal di bawah meja. Sekali lagi maafkan aku, ya!"
Tanpa menunggu jawaban pria yang masih menunduk menatap ke arah kaki berdarah tersebut, Putri buru-buru bangkit dari posisinya karena ingin mengambil obat untuk mengobati luka akibat terkena pecahan gelas akibat perbuatan Bagus.
Putri sibuk menepuk jidatnya berkali-kali saat merutuki kebodohannya karena sangat ceroboh ketika tidak membersihkan dengan baik.
'Dasar bodoh! Karena kelalaianmu, Arya jadi korbannya. Kasihan sekali Arya karena terkena pecahan gelas yang dilempar Bagus tadi. Kenapa aku merasa bahwa sekarang Arya sedang terkena karma karena membuat Bagus terluka.'
'Mungkin sebentar lagi aku juga akan merasakannya karena menyakiti Bagus yang tidak berdosa dengan cara menduakan dan memohon untuk diizinkan tinggal di sini.'
Putri masih sibuk menyalahkan diri sendiri dan menganggap semua yang terjadi adalah akibat dari perbuatannya sendiri, termasuk yang terjadi pada Arya.
Namun, ia berusaha untuk berpikir positif dan tidak ingin dibebani dengan rasa takut sekaligus bersalah karena memikirkan hal tersebut.
'Aku tidak akan pernah bisa hidup tenang jika terus memikirkan rasa takut akan karma yang disebutkan oleh Bagus dan saudara tiri sialan itu,' umpat Putri yang hanya bisa melampiaskan rasa frustasinya di dalam hati.
Kemudian ia mengambil obat dari laci dan kembali ke meja makan untuk mengobati kaki Arya.
Sementara itu beberapa saat lalu, Arya merasa sangat marah pada pria yang menjadi penyebab ia terkena pecahan gelas dan juga pada Putri yang tidak bersih membersihkan pecahan gelas, membuatnya sibuk mengumpat di dalam hati.
'Sialan! Mereka seperti sedang sengaja melakukan ini padaku. Seumur-umur, baru kali ini aku menginjak pecahan kaca di dalam rumah. Seharusnya aku memakai sepatuku tadi. Jadi, tidak akan langsung menancap di kakiku.'
Saat Arya mengumpat, ia merasakan perutnya keroncongan. Menandakan bahwa saat ini cacing-cacing di perutnya minta diisi dan membuatnya benar-benar ingin segera menikmati makanan di atas meja.
Namun, ia merasa sangat heran ketika melihat sesuatu di dalam mangkuk berwarna kuning. Ia pun mengambil sendok dan mencicipi sedikit rasa dari makanan yang menurutnya seperti sup, tetapi berwarna kuning.
"Makanan apa ini? Kalau sup, kenapa warnanya kuning?"
__ADS_1
Pertama kali melihat sesuatu yang menurutnya sangat aneh, tetapi merasa cocok di lidahnya, membuat Arya langsung mengambil piring dan menaruh nasi. Niatnya adalah ingin segera menikmati makanan yang tadi dimasak oleh Putri dan membuatnya menyadari bahwa wanita itu pintar memasak.
Ia merasa makanan itu sangat lezat ketika mencobanya sedikit tadi. Hingga ia ingin segera memanjakan lidah dan perutnya dengan makanan yang dimasak oleh Putri.
Namun, ia yang berniat untuk mengambil sup tersebut, menghentikan kegiatannya ketika dilarang oleh suara Putri yang baru saja datang dan membuatnya menoleh ke arah belakang.
"Tunggu!" Putri kini menyalakan kompor karena ingin menghangatkan sup ayam yang sudah dingin. Kemudian beralih menatap ke arah sosok pria yang sudah memegang sendok di tangan dan malah membuatnya terkekeh geli
Ia seperti sedang melihat seorang anak kecil yang kelaparan dan menunggu makanan siap.
"Bukan begitu cara makannya!"
Arya yang sangat kelaparan, merasa sangat kesal karena kegiatannya tertunda akibat larangan Putri yang menurutnya sangat konyol, sehingga ia kini menaikkan sudut alisnya.
Bahkan kini sudah menatap tajam sosok wanita di hadapannya seolah sangat suka mempermainkannya.
Apalagi ia melihat Airin malah sedang menertawakannya ketika kelaparan
Sementara Putri yang kini masih memegang obat di tangannya, refleks menggeleng perlahan karena tidak ingin Arya salah paham padanya.
Kemudian sudah berjongkok di bawah kaki Arya. "Menghadaplah kemari karena aku akan mengobati lukamu dulu sambil menunggu sup ayamnya panas. Makan itu harus saat panas. Kalau dingin, kurang nikmat."
"Nanti aku akan mengambilkannya untukmu karena ada cara tersendiri untuk menikmatinya dan kamu belum tahu. Itu semua agar rasanya lebih nikmat. Aku obati dulu lukamu ini."
Arya yang sebenarnya merasa ingin segera menikmati makanan itu, akhirnya tidak jadi melakukannya dan menuruti apa yang baru saja dikatakan oleh wanita di bawah kakinya tengah sibuk membersihkan luka dan juga mengobatinya.
Ia kini masih menatap intens sosok wanita di bawahnya yang terlihat sangat berhati-hati, seolah tidak ingin membuatnya kesakitan ketika mengobati luka di kakinya.
__ADS_1
"Jika mama melihat kakiku berdarah seperti ini karena terkena pecahan kaca di dalam rumah, pasti akan langsung memberikan pelajaran pada orang yang ceroboh hingga menyebabkan putranya terluka."
"Jadi, nanti saat kamu sudah tinggal di rumahku setelah orang tuaku menerimamu, jangan pernah berbuat ceroboh hingga membuatku terluka atau apapun itu. Mama sangat menyayangiku karena aku adalah putra satu-satunya dan akan sangat murka saat putranya terluka karena kecerobohan orang lain."
Sebenarnya saat Arya membahas tentang sang ibu, ada nada kegetiran yang terkandung di dalamnya. Tentu saja saat ini ia tengah mengingat sosok wanita yang sangat disayanginya tersebut karena selama 24 tahun, baru kali ini ia tinggal jauh dari orang tuanya.
Apalagi selama ini, sang ibu sangat menyayangi dan selalu menuruti apapun yang diinginkannya. Ini adalah pertama kali sang ibu tidak menuruti permintaannya dan membuatnya merasa bersedih.
Ia menyadari bahwa panggilan anak mama yang manja sangat pantas untuknya karena merasa bersedih ketika hidup jauh dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.
'Apa mama tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu, ma. Biasanya mama selalu menyiapkan semua hal untukku, termasuk mengambilkan makanan saat di meja makan. Sekarang Putri_ wanita yang akan menjadi istriku akan melayaniku.'
Putri yang tadinya fokus menatap ke arah luka di kaki Arya, kini mendongak menatap ke arah wajah muram pria yang diketahuinya sedang merindukan sosok ibu.
"Aku akan mengingatnya. Kamu tenang saja. Aku akan berusaha untuk merebut hati mamammu dan menjadi seorang istri sekaligus menantu yang baik. Akan kutunjukkan pada orang tuamu, bahwa aku pantas menjadi istri putra mereka."
"Baguslah," sahut Arya yang kini mengalihkan perhatiannya dari wajah Putri pada piring berisi nasi yang ada di atas meja. "Apa belum selesai juga? Aku benar-benar sangat lapar dan ingin makan."
"Iya, sebentar lagi. Ini tinggal memakai plester setelah diobati."
Baru saja Putri menutup mulut, ia mendengar suara ketukan pintu dan membuatnya bersitatap dengan iris tajam pria di atas kursi.
"Apa itu Bagus?" tanya Putri yang kini refleks bangkit dari posisinya yang berjongkok.
Sementara Arya hanya mengendikkan bahu karena tidak tahu. "Lihat saja. Bisa saja itu adalah orang lain."
Putri yang merasa sangat penasaran dengan siapa yang datang, kini mengangguk perlahan dan langsung berjalan menuju ke depan. Begitu berada di sana, ia membuka pintu dan membulatkan kedua mata begitu melihat seseorang yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa, Sayang?" tanya Arya yang berjalan dengan kaki pincang menuju ke arah depan dan mengerjapkan kedua mata begitu melihat seseorang yang saat ini mengarahkan tatapan menusuk padanya.
To be continued...