
Putri yang semakin bertambah khawatir begitu mendengar komentar dari Arya yang seperti sedang mengejeknya habis-habisan.
Putri sama sekali tidak tersinggung dengan itu karena memang pada kenyataannya adalah seperti itu. Hanya saja, ia merasa sangat takut jika Bagus mendengar dari dalam dan kembali membanting apapun yang terlihat.
'Bagaimana ini? Bagus yang saat ini masih dikuasai oleh amarah, pasti akan bertambah murka. Apa terjadi sesuatu pada Arya? Kenapa dia bisa nekad datang ke sini tanpa memberitahu aku lebih dulu?'
Tidak ingin sibuk bertanya-tanya sendiri di dalam hati, kini Putri memilih untuk bertanya sendiri pada sosok pria yang tidak berhenti berkomentar mengenai tempat tinggalnya.
"Apa yang terjadi padamu? Aku yakin terjadi sesuatu yang besar, hingga membuatmu tiba-tiba memilih datang ke sini. Meskipun aku sangat senang bisa melihatmu dan datang ke sini, tapi khawatir jika ada hal buruk yang terjadi."
Arya yang kini mengalihkan pandangannya dari setiap sudut rumah dan kini melihat wajah pucat wanita yang jauh berbeda seperti biasanya. Meskipun sama sekali tidak menanggapi perkataannya, ia sama sekali tidak marah.
"Papa melakukan semua cara agar aku hidup menderita dan segera kembali ke rumah. Satu-satunya sahabat baikku pun diancam oleh papaku dan akhirnya aku terpaksa pergi ke sini. Di antara dua pilihan, memilihmu dan tinggal di sini untuk sementara, atau aku kembali ke rumah."
Ia kini mengangkat tangannya untuk mengusap lembut pipi putih Putri. "Kamu sangat pucat, Sayang. Jadi ini pengaruh kamu hamil?"
Putri yang sangat merindukan sentuhan tangan itu, kini kulitnya seketika meremang dengan sentuhan pria yang sangat dicintainya. Ingin sekali ia mencium pria di hadapannya karena hanya dengan melihat Arya saja sudah membuat hasratnya naik.
Ia tahu bahwa ini adalah efek kehamilannya yang membuatnya merasa sangat merindukan sentuhan Arya yang sangat memabukkan.
Namun, ia hanya menelan saliva dengan kasar karena tidak mungkin melakukan kegilaan saat ada Bagus di dalam kamar, sehingga ia hanya bisa mengumpat di dalam hati.
__ADS_1
'Sial! Hanya dengan melihat Arya saja, membuatku merasa sangat bergairah seperti ini. Tahan, Putri. Jangan berbuat gila di depan Bagus karena dia akan bertambah murka dan mungkin akan membuatmu menyesal. Dia bisa menolak mentah-mentah Arya jika membuat Bagus marah.'
'Jadi, aku harus bersikap baik di depannya dengan menahan diri. Arya yang memilihku dan tidak memilih pulang ke rumah, benar-benar membuatku merasa sangat bahagia.'
Putri kini menggelengkan kepala dan menurunkan tangan dengan buku-buku kuat itu dari pipinya. Kemudian mendekati Arya dan berbisik di dekat daun telinga pria itu.
"Kita harus bersikap sopan di depan Bagus agar mengizinkan kita tinggal di sini. Jadi, aku mohon bersikaplah yang baik dan jangan mengandalkan emosi, oke! Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir padaku."
Sementara itu, Arya yang tadinya merasa kesal karena penolakan Putri saat disentuhnya dan membuatnya berpikir bahwa wanita itu tidak mau disentuh di depan sang suami karena masih mencintai pria itu.
Namun, tuduhannya seketika sirna begitu mengetahui tentang semuanya. Akhirnya memilih untuk menyetujui apapun yang dikatakan oleh Putri karena memang untuk saat ini tidak mempunyai pilihan lain untuk tinggal di kontrakan sempit yang sudah bisa membuatnya berpikir bahwa ia tidak akan betah.
"Aku tinggal di apartemen Rendi dari kemarin, tapi hari ini ayahnya menyuruh untuk mengusirku karena takut jika perusahaannya bangkrut. Tentu saja papa yang merupakan dalang di balik semuanya. Dia pikir aku akan kembali ke rumah begitu tidak bisa bergerak dan tidak ada yang menolongku."
"Maafkan aku, Arya. Semua ini salahku, sehingga kamu diusir oleh orang tuamu, tapi aku tidak bisa mundur. Kita sudah melangkah sejauh ini, pasti bisa melewati semua ini sampai akhir."
Baru saja Putri menutup mulut, ia mendengar suara kunci pintu yang diputar dan sudah bisa dipastikan siapa yang akan keluar dari ruangan kamar. Ia refleks meremas kedua sisi pakaiannya dan mengarahkan tatapan berupa sebuah kode pada Arya untuk bersiap menghadapi Bagus.
Arya yang kini mengalihkan pandangannya dari sosok wanita yang sangat dicintai pada pintu ruangan kamar yang terbuka.
Kini, ia melihat sosok pria yang memakai celana bahan berwarna hitam dan kemeja kotak-kotak berwarna coklat sedang menggendong anak kecil yang sudah bisa dipastikan adalah putra Putri yang dulu masuk ke klinik karena demam.
__ADS_1
Arya yang kini memicingkan mata begitu melihat sosok pria yang menurutnya sangat tidak asing, tapi tidak mengingat siapa karena ia berpikir tidak mungkin pernah bertemu dengan seorang pria dari kalangan bawah tersebut.
Selama ini, ia bergaul dengan para anak-anak konglomerat dan tidak pernah berhubungan dengan orang-orang miskin kecuali sang kekasih.
"Aku seperti pernah melihatmu, tapi di mana?" Arya berbicara sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sosok pria yang kini terlihat memerah wajahnya karena dikuasai amarah.
Namun, ia sama sekali tidak merasa takut karena berpikir bisa melawan jika pria yang jauh lebih tua itu memukulnya.
Sementara itu, Bagus yang tadi ada di dalam ruangan kamar, bisa mendengar pembicaraan dari Putri dengan pria selingkuhannya dan itu membuat jantungnya seperti dihunus sebilah tombak tajam dan meninggalkan luka begitu dalam di hatinya saat ini.
Sialnya, ia tidak bisa marah di depan putranya yang dari tadi terlihat tertawa ceria karena mengingat ajakannya untuk membeli mainan dan makanan kesukaan.
Awalnya Bagus ingin segera mengusir pria yang telah menghancurkan hidupnya, tapi tidak bisa melakukannya begitu mendengar pria itu mengatakan jalan keluar terakhir yang akhirnya mengorbankan Putri.
"Aku akan memanggil orang untuk menikahkan kalian! Selama aku pergi, jangan berbuat dosa di rumah ini karena aku tidak ingin tempat tinggal putraku ternodai dengan perbuatan gila kalian."
Refleks Arya dan Putri saling bersitatap karena sangat terkejut dengan perkataan dari Bagus yang kini berjalan meninggalkan mereka melewati pintu dan kembali menutupnya.
Bagus yang merasa sangat sesak dadanya karena melihat wanita yang merupakan ibu dari anak-anaknya kini telah sepenuhnya bukan miliknya. Bahkan ia sendiri yang mengantarkan pada pernikahan.
'Tuhan, apa aku sangat hina dan tidak pantas untuk hidup bahagia dan damai dengan wanita yang kucintai? Kenapa Engkau memberikan sebuah cobaan padaku seberat ini?'
__ADS_1
Bagus berjalan keluar dari rumah kontrakan dan berniat untuk mencari orang yang akan menikahkan Putri dengan selingkuhannya agar tidak semakin berbuat dosa.
To be continued...