
Di perusahaan saat tiba jam istirahat, Arya tampak duduk seorang diri di depan loker. Ia ingin menghabiskan waktu dengan menutup mata selama satu jam.
Tanpa bekal, nyatanya ia tidak bisa membeli apapun karena memang tidak memiliki sepeser pun uang di dompet. Uang Arya setiap harinya hanya bisa digunakan untuk membayar angkutan umum saja.
Perut yang terdengar protes karena tidak diisi apapun selama istirahat, membuatnya terganggu dan memutuskan untuk mengambil air di pantry.
Ia membuat secangkir teh hangat untuk menenangkan perut itu. Namun, tiba-tiba saja Rani datang dan memberikan makanan.
“Nih, makan. Aku lihat kamu tidak membawa bekal.” Rani yang dari tadi memperhatikan Arya tidak seperti biasa, yaitu hanya membuat teh saat jam makan siang, membuatnya tidak tega.
Ia memilih untuk membagi makanan yang dibawa tadi dari rumah. Bukan berniat mencari muka atau merasa iba, tetapi bisa merasakan apa yang dialami oleh karyawan baru ketika tidak punya uang.
Apalagi dulu ia pernah berada di posisi yang sama seperti Arya, sehingga ingin berbuat baik pada pria itu. Berharap kebaikan yang ditanam akan berbalik padanya suatu saat nanti. Ia tidak mengharapkan imbalan apapun, tapi hanya ingin saling membantu.
Namun, ia kembali mendapatkan tanggapan sinis dan membuatnya merasa heran karena pria tersebut sangat arogan. Ia tidak tahu apa penyebab pria itu selalu sinis padanya, tetapi tidak menyerah untuk melakukan hal yang dianggap baik.
Arya kali ini merasa semakin yakin jika Rani memang sedang mencari simpati agar ia nanti akan menaikkan posisi cleaning service itu setelah menjadi pimpinan perusahaan, sehingga merasa semakin kesal dan marah.
'Dasar wanita munafik! Apa dia pikir aku adalah pria bodoh yang tidak tahu apapun? Rasanya aku sangat ilfil melihat wanita munafik seperti ini,' gumam Arya yang kali ini masih menatap tajam sosok wanita dengan wajah lugu tersebut.
Arya kini mengibaskan tangan dan membuka suara untuk menyadarkan wanita itu. “Tidak perlu! Ambil dan makan sendiri. Kau tidak perlu peduli denganku!”
“Astaga. Baru kali ini aku bertemu dengan orang keras kepala. Padahal aku hanya ingin berbagi dan tidak berharap apapun dari semua ini. Tenang saja, aku tidak akan meminta uangmu."
Rani memang tipe orang yang tidak gampang menyerah karena ia sudah banyak berjuang di era gempuran kemewahan dan gaya hidup berkelas dari para staf perusahaan dengan gaji beberapa kali lipat darinya.
Sementara ia hanya memiliki gaji sedikit dan hanya cukup untuk makan, tapi merasa bersyukur dengan apa yang didapatkan. Hingga ia semakin bertambah kesal begitu mendengar tanggapan yang dianggap salah karena tidak mengetahui niat baik.
Arya yang kini terkekeh dan terlihat tersenyum menyeringai karena sama sekali tidak percaya karena berpikir jika tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahkan sebuah kebaikan, pasti berharap mendapatkan timbal balik.
Hal itulah yang membuatnya sangat yakin jika Rani kali ini hanya sedang omong kosong semata.
“Tidak ada namanya memberi tanpa pamrih. Aku tahu, kamu pasti memiliki niat tersembunyi. Dasar wanita munafik!"
Merasa kesabaran telah habis, kali ini Rani tidak bisa tinggal diam dan memasang wajah masam saat membuka mulut. “Terserah! Kamu mau makan atau tidak, aku letakkan di sini."
"Aku tidak akan mengambilnya lagi dan juga tidak perduli dengan makanan ini kamu makan atau tidak. Kamu bisa membuangnya jika tidak mau memakannya.”
Rani melangkah pergi dari pantry dengan wajah memerah karena merasa sangat kesal dan marah.
Arya yang awalnya menatap siluet wanita yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu, kini ia terus menatap makanan yang ada di atas meja.
Beberapa kali terlihat jakunnya naik turun, hingga kesulitan menelan ludah sendiri.
Kondisi perutnya sangat tidak bersahabat. Arya harus memakan sesuatu agar tidak lemas dan sakit.
Ia sadar jika waktu kerja masih lama dan pekerjaannya masih banyak untuk hari ini. Bahkan ia berencana untuk mengambil lembur seperti biasa agar mendapatkan sedikit uang dari beberapa karyawan.
Terpaksa, pada akhirnya mengambil makanan itu dan memasukkan ke dalam mulut. Awalnya, ia yang pertama kali mengunyah makanan di dalam mulut, mencoba untuk menikmati rasanya. Hingga ia terlihat sangat cocok dengan rasa makanan itu dan kembali melanjutkan ritual makan.
Sepuluh menit kemudian, setelah selesai, ia meminum kembali teh hangat yang sudah dibuatnya tadi. Kini, ia merasa kenyang dan bersemangat untuk bekerja lagi.
Merasa lebih baik, Arya kini berjalan menuju ruang loker dan melanjutkan pekerjaan dengan membawa alat-alat kebersihan.
Bekerja bersama seseorang yang tidak disukai, membuatnya merasa enggan melakukan apapun. Ya, saat ini ia berada di lantai tiga bersama Rani.
Wanita yang sudah memberikan setengah bekal pada Arya itu hanya bersikap biasa. Melakukan pekerjaan seperti biasa tanpa perduli siapa yang menjadi rekan saat ini.
Rani sudah bekerja cukup lama di perusahaan itu. Kinerja wanita itu memang terbilang cukup baik untuk seorang tukang kebersihan.
Kini, ia harus dipasangkan dengan Arya, seorang pria yang baru dikenal. Saat hari pertama pria itu bekerja, Rani memang sedang libur, sehingga tidak bertemu pada hari pertama. Akan tetapi, saat ia kembali bekerja, Rani baru tahu jika saat ini rekan kerjanya diganti.
__ADS_1
“Apa kau bisa bisa bantu aku untuk membersihkan bagian atas AC? Aku tidak bisa baik ke kursi, takut jatuh,” ujar Rani sambil menarik kursi dari samping dan diletakkan di bawah AC.
“Merepotkan saja!” gerutu Arya yang tetap saja membantu pekerjaan karena tadi memang mendengar perintah dari kepala cleaning service pada Rani agar membantu membersihkan AC.
Setelah selesai dengan AC, keduanya berpindah pada lantai yang terlihat kotor karena debu dari sepatu milik staf di sana.
Rani menyapu lantai dengan teliti, hingga tidak meninggalkan jejak debu lagi.
Setelah itu, Arya mendapatkan bagian mengepel karena memang hari ini berbagi tugas.
“Itu, ada yang terlewat!” ujar Rani memberitahu sambil menunjuk ke arah lantai yang belum bersih dan seperti biasa, mendapatkan tanggapan wajah sinis.
Arya hanya melirik dan enggan berkata. Dilakukannya semua pekerjaan bersama tanpa adanya percakapan yang terlihat akrab. Ia bekerja tanpa bicara karena memang sangat malas melihat Rani. Ingin sekali ia meminta untuk diganti rekan bekerja, tetapi berpikir jika nanti malah mendapatkan teman pemalas.
Nanti malah ia yang repot sendiri. Sebenarnya ia akui jika Rani adalah tipe wanita pekerja keras dan sangat rajin, tetapi berpikir jika wanita itu melakukan hal itu karena ingin terlihat baik di matanya. Ia tidak ingin tertipu dan memilih untuk diam tanpa berkomentar.
Setelah ruangan di lantai tiga selesai dibersihkan, Rani meneguk minuman dan saat melihat Arya tidak membawa air minum, refleks kembali memberikan perhatian dengan sebotol air mineral.
Memang ia selalu membawa dua botol saat bekerja dan kali ini memberikan pada pria dengan biji-biji peluh di pelipis.
“Ini, kamu pasti haus.”
Karena merasa sangat haus dan tadi lupa membawa air minum saat terburu-buru, Arya menerima minuman itu dan segera meneguknya hingga tersisa separuh.
Sementara itu, melihat keringat bercucuran di wajah Arya, membuat Rani seakan terpesona dengan pemandangan di depannya saat ini.
“Apa yang sedang kamu lihat?” tanya Arya yang menyadari saat Rani tidak berkedip menatap wajahnya.
Refleks Rani menggeleng perlahan dan tidak ingin ada kesalahpahaman, sehingga kembali membuat pria itu mengomel dan mengejek.
“Tidak ada. Itu, keringatmu terlalu banyak, jangan sampai menjadi bau badan.” Rani berusaha untuk menguraikan suasana penuh ketegangan di antara mereka dengan sedikit candaan dan tangannya bahkan sudah menutup hidung untuk berakting secara totalitas.
Sementara di sisi lain, Arya tidak terima dengan ejekan dari Rani. Kemudian beranjak dari sana dan pergi mencari keberadaan kepala cleaning service.
“Ada apa?” Pria yang sedang menaikkan kedua alis karena merasa heran saat Arya tiba-tiba memanggil.
“Bisa ganti rekan? Aku malas mempunyai rekan seperti Rani karena dia sangat menyebalkan." Arya tidak berbohong karena selalu berbicara apa adanya, agar semua orang tahu jika sifat aslinya memang seperti ini.
Apalagi ia bukanlah tipe pria munafik yang suka bersikap palsu karena tidak berani. Hingga ia merasa sangat kecewa dengan jawaban pria itu.
"Sepertinya untuk saat ini tidak bisa. Tidak ada yang mau bekerja denganmu,” ucap pria itu dengan terus terang karena tidak ingin lagi menutupi kejadian sebenarnya.
“Apa?” Arya membulatkan kedua mata dan merasa sangat kesal untuk kesekian kali karena tidak menyadari tingkah para cleaning service lain.
"Memangnya kenapa mereka tidak mau?"
"Mereka hanya mencari aman saja karena takut berbuat kesalahan dan suatu saat akan kamu pecat setelah kembali pada posisi aslimu."
Arya yang awalnya seperti bersungut dan emosinya sedang diuji saat ini, berubah memahami apa maksud pria itu.
Jika pada awalnya ia tidak paham, kini tidak heran lagi. Ia tahu kenapa mereka tidak mau menjadi rekannya? Arya malah merasa menjadi bahan bully para pekerja lain?
Ia kini mengangguk mengerti, lalu kembali bekerja dan menerima rekan satu-satunya tersebut, yaitu membantu Rani di lantai selanjutnya. Meskipun di dalam hati selalu merasa sangat kesal pada wanita itu.
Toilet yang sudah diperbaiki kini tidak membuatnya kesal, lagi. Kemudian menceritakan kisahnya tanpa melihat siapa yang sedang diajak berbicara. Semua itu karena ia tidak ada teman bercerita. Hingga melupakan kekesalan pada Rani.
Tentu meski Arya terlihat garang, Rani mendengarkan dengan baik.
Rani yang dari tadi menutup mulut karena fokus mendengarkan, kini merasa lega karena sikap arogan pria itu sedikit berkurang, meski hanya sedikit.
“Ya, saat aku mengambil cuti, merasa kepala HRD sudah mengetahui kerusakan yang terjadi di sini. Hanya saja, belum ada yang bisa memperbaiki. Aku salut padamu karena bisa membersihkan dengan baik.
__ADS_1
"Mungkin jika menjadi dirimu, aku tidak akan mau. Bahkan tidak ada cleaning service di sini yang mau melakukannya. Lalu, kenapa kamu menerima pekerjaan itu?” tanya Rani dengan raut wajah penuh keheranan.
Pertanyaan Rani tersebut yang akhirnya membuat Arya semakin kesal saat merasa seperti orang bodoh. “Itu artinya, kita bisa menolak jika tidak menyukai pekerjaan itu?”
Refleks Rani menggeleng perlahan untuk menjelaskan tentang semua yang ia ketahui.
“Tidak seperti itu. Kita tahu jika area ini sedang rusak dan bukan mendapat tugas untuk memperbaiki. Hanya saja, untuk kebersihan, kita bisa saja membersihkannya setelah bagian teknis memperbaiki semua, tentunya.”
Percakapan itu sungguh membuat Arya kesal dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri topik percakapan demi kepentingan tidak ingin tersulut emosi lebih jauh.
Beberapa jam telah berlalu. Jam kerja pun
telah usai, Rani memberikan satu kotak makanan.
Perbuatan Rani membuat Arya mengerutkan dahi. “Apa ini?”
“Kamu tidak tahu? Untuk mereka yang melakukan pekerjaan lebih dari jam kerja, akan mendapatkan makanan dan ini bagianmu. Aku tidak ambil tambahan pekerjaan hari ini. Jadi, kamu bisa mengambil nasi ini.” Mengarahkan dagu ke depan untuk memberikan sebuah kode pada Arya agar segera menerima.
Arya kali ini masih memicingkan mata karena merasa sangat aneh. "Aku sudah beberapa kali menambah jam kerja, tetapi tidak ada makanan seperti ini.”
“Benarkah? Tidak mungkin, aku sudah cukup lama bekerja di sini.” Rani kali ini ikut merasa heran karena tidak biasanya ada kejadian seperti itu.
Arya memikirkan lagi semua, sepertinya memang ada yang sengaja melakukan itu padanya dan ia berencana membuat perhitungan nanti.
Akhirnya ia menerima nasi kotak yang diberikan Rani, lalu meletakkan di atas meja.
“Baiklah, aku kembali dulu. Selamat bekerja!”
Rani berjalan menjauh dari Arya dan melambaikan tangan dengan posisi memunggungi ketika berjalan.
Meski rasanya sangat kesal karena wanita itu bersikap baik padanya, tetapi Arya tidak menolak kebaikan Rani.
Kini, ia kini membuka nasi kotak miliknya dan memakan semua yang ada di sana. Ia juga tidak lupa memberitahu Putri bahwa hari ini akan pulang malam.
Aku mengambil jam tambahan. Kamu bisa makan dan tidur terlebih dahulu, Sayang.
Baiklah, hati-hati saat kembali.
Ya.
Pesan pun terkirim dan ia kembali melanjutkan pekerjaan. Di lantai tiga adalah tempat di mana para karyawan menambah jam kerja. Mereka duduk dan mengerjakan semua pekerjaan yang ada di meja kerja.
Saat Arya tidak sengaja berjalan di belakang salah satu karyawan di sana, ia melihat laporan yang sedang dikerjakan. Arya mengerti dengan semua laporan itu karena dulu pernah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
"Kamu salah memasukkan laporan seharusnya seperti ini.”
Dengan lincah tangan Arya menari di atas keyboard, lalu laporan itu menjadi rapi dan terlihat memang sangat berbeda dari sebelumnya.
“Siapa kamu? Bukankah kamu hanya seorang cleaning service? Kenapa bisa tahu mengenai laporan ini?” tanya salah satu staf baru yang bekerja dua minggu di perusahaan.
"Jika kau tahu, pasti akan mengejekku seperti yang lain. Sudahlah, ini hanya bantuan kecil.” Arya berniat untuk pergi, tetapi tangannya ditahan.
"Kemarilah! Apa kamu bisa membantuku lagi? Aku sangat haus dan ingin minum. Jika tidak keberatan, pergilah ke mini market yang ada di seberang. Di sana ada penjual minuman kaleng dan cari yang dingin. Aku akan memberikan uang tambahan untukmu nanti."
“Baiklah, akan aku lakukan.” Arya sangat bersemangat saat mendengar uang tambahan yang bisa digunakan untuk keperluan lain.
“Lalu ini untukmu. Terima kasih sudah membantu.” Pria itu memberikan bonus karena mau membantu.
“Oke, siap. Terima kasih."
Arya tersenyum dan berjalan keluar dari gedung. Ia tampak senang mendapatkan tip dari salah satu karyawan di sana. Uang itu cukup untuknya berangkat besok.
__ADS_1
To be continued...