
"Apa kamu akan bersikap berbeda pada Putri jika ia ingin menginap di sini saat sudah bercerai denganmu? Kamu pasti akan membuka lebar pintu rumah dan juga senang hati dan tersenyum bahagia menyambutnya?" seru Amira Tan dengan wajah memerah karena saking kesalnya pada pria di hadapannya.
Belum sembuh sakit hati yang dirasakan, tapi pria itu malah menabur garam di atas lukanya saat ini. Pengusiran yang dilakukan oleh Bagus hanyalah sebuah alasan untuk menolaknya dan itu membuat Amira Tan marah, sekaligus kesal.
Sementara itu, Bagus saat ini bertambah pusing melihat kemurkaan dari kakak iparnya tersebut yang selalu salah paham padanya. Bahkan ia memijat pelipis ketika tengah merasakan rasa pusing di kepala.
Ia tahu jika sosok wanita yang terlihat memerah wajahnya tersebut sedang menunjukkan rasa cemburu yang berlebihan.
Menurutnya, kecemburuan Amira Tan tidak berdasar dan serasa mencekiknya hingga sulit bernapas lega. Antara bingung dan sungkan yang bercampur tidak tega selalu dirasakan oleh Bagus saat berhadapan dengan saudara tiri Putri.
"Kenapa kamu selalu marah tidak jelas seperti ini? Kamu bukan lagi remaja yang sedang datang bulan dengan emosi sulit dikontrol. Jadi, jangan bertingkah seperti itu. Aku tadi berbicara fakta. Bahwa sekarang sudah sangat malam dan tidak pantas jika seorang wanita dan pria yang bukan merupakan suami istri berada di dalam rumah."
"Aku harap kamu mengerti, Kakak ipar. Tidak perlu membawa nama Putri di sini karena aku sudah selesai dengannya. Bahkan kamu sendiri yang mengurus perceraian kami, kan?"
Kali ini, Bagus berbicara dengan nada penuh penekanan, tetapi tidak sampai berteriak karena suasana malam penuh kesunyian akan dengan mudah membuat suaranya menggema dan akan sangat malu jika orang lain mengetahui hal sepele, tetapi berdampak buruk pada nama baiknya.
Namun, respon yang sangat mengejutkan telah ditunjukkan oleh Amira Tan dan berhasil menamparnya karena rahasianya diketahui oleh wanita yang ia ketahui menyukainya.
Amira Tan yang merasa amarahnya semakin kuat, kini tidak bisa menahannya lagi. Bahkan telah meledak saat ini setelah ia bangkit dari posisinya yang awalnya duduk di atas kasur lantai tipis di depan televisi yang masih menyala tersebut.
Dengan mengarahkan tatapan tajam, ia seolah ingin menguliti pria di hadapannya hidup-hidup.
"Jika kamu memang sudah selesai dengan Putri, kenapa masih menyimpan foto wanita yang telah mengkhianatimu dan telah bahagia bersama pria lain? Astaga! Apa kamu masih mencintainya dan berpikir akan menerima Putri jika diceraikan oleh Arya?"
"Kamu menolakku dengan alasan sangat konyol. Bahwa selamanya tidak akan menikah lagi. Aku tahu itu hanya sebuah omong kosong belaka karena saat kamu melihat Putri ditinggalkan oleh Arya, pasti akan dengan senang hati menerimanya kembali."
__ADS_1
"Bukankah apa yang kukatakan benar? Jadi, jangan bersikap munafik di depanku!" Amira Tan kini mengeluarkan dompet yang berada di saku blazer dan langsung melemparkan di dekat Bagus.
Hingga dompet itu sudah bernasib nahas dengan tergolek di lantai dingin kontrakan itu.
Bagus saat ini sama sekali tidak bisa berkomentar apapun setelah mendapatkan kalimat pedas yang seketika menusuk jantungnya.
"Aku bisa merobek mulutku jika apa yang kukatakan tidak benar!" Setelah puas meledakkan amarahnya, kini Amira Tan memilih untuk segera meninggalkan rumah yang dianggapnya seperti neraka itu.
Ia sebenarnya masih belum puas untuk memaki pria yang dianggapnya sangat bodoh itu karena masih mencintai wanita yang sudah berkhianat dan juga tidak mencintai pria itu.
Jika saat ini di hadapannya adalah hutan atau hamparan laut yang luas, mungkin ia sudah berteriak sangat kencang untuk meluapkan emosi.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena saat ini berada di pemukiman warga padat penduduk. Jadi, ia mencoba untuk menahan diri dan memilih untuk segera meninggalkan area rumah kontrakan pria penyebab patah hati tersebut.
Bahkan ia kini menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi. Seolah tidak takut jika sampai kendaraan yang ia kemudikan itu menabrak mobil lain.
Saat merasa marah dan kesal, ia ingin pergi ke suatu tempat untuk meluapkan emosi yang membuncah di dalam hati. Hingga ia pun memilih untuk berbelok ke arah sebuah club malam terbesar di ibu kota.
Begitu memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan, Amira Tan menatap pantulan wajah di cermin dan meraih tas kerjanya. Ia mengaplikasikan bedak dan lipstik dengan warna merah menyala.
Kemudian mengurai rambut yang selalu rapi disanggul ke atas. Tanpa berniat untuk menyisir agar terlihat rapi, ia memilih untuk memakai sela-sela jari.
Bahkan ia kini sudah melepaskan blazer berwarna hitam yang membalut tubuhnya. Menyisakan pakaian tanpa lengan berwarna putih dan rok di bawah lutut.
Tanpa membuang waktu, Amira Tan beranjak dari posisinya yang berada di balik kemudi. Ia pun menutup pintu mobil cukup keras dengan gerakan yang menandakan sedang emosi.
__ADS_1
Kali ini, ia ingin bersenang-senang dengan meliukkan tubuhnya di bawah lampu remang-remang dengan alunan musik DJ yang memekakkan telinga bagi siapapun yang tidak terbiasa seperti dirinya.
Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena saat ini yang dipikirkan hanyalah ingin melepaskan beban berat yang seperti mau meledakkan perasaannya.
Amira Tan disambut oleh sapaan beberapa pria berbadan tinggi besar di depan pintu masuk. Kemudian ia mulai mengedarkan pandangannya ke arah ruangan dengan cahaya lampu remang-remang dan suara musik DJ yang sudah mengalun.
Diikuti oleh gerakan banyak orang saat bergerak untuk mengikuti irama musik yang menggema di ruangan sangat luas tersebut.
Ini adalah pertama kalinya seorang pengacara hebat sepertinya datang ke sebuah club malam dan ia tidak langsung masuk ke kerumunan orang-orang yang berjoget itu, tetapi menuju ke arah bartender.
Ya, sebelum ia mengikuti orang-orang yang bergerak liar seolah tanpa beban, Amira Tan ingin mencoba untuk minum-minuman beralkohol. Dengan berteriak, ia sudah memesan minuman paling mahal pada salah satu bartender.
Kemudian, langsung meneguk habis minuman yang sudah dibuatkan oleh pria berseragam hitam di depannya. Rasa panas menjalar di tenggorokannya saat pertama kali merasakan sensasi minuman keras.
"Satu lagi!" ucapnya yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari bartender.
"Sepertinya Anda baru pertama kali minum-minuman beralkohol, Nona. Lebih baik Anda pesan yang lain saja karena jika minum lagi, tidak akan bisa pulang. Bukankah Anda datang sendiri ke sini? Aku tidak ingin ada pria jahat yang memanfaatkan Anda."
Amira Tan refleks terbahak begitu melihat pria yang baru ditemuinya malah seperti sangat perhatian padanya, sedangkan pria yang disukai malah tidak pernah memperdulikannya.
Ia pun kini menatap ke arah sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang memiliki paras cukup tampan tersebut.
"Kalau begitu, kamu saja yang mengantarku! Jadi, berikan aku minuman yang tadi lagi!"
To be continued...
__ADS_1