
Amira Tan sejujurnya merasa tidak tega dengan pria yang terlihat penuh aura muram dan kesedihan karena dikhianati. Berharap larangannya akan didengar dan pria itu memilih untuk tidak ikut campur lagi atas kehidupan istri yang dianggapnya sangat durhaka.
Namun, ia saat ini merasa sangat kesal begitu melihat pergerakan dari Bagus ketika berusaha untuk membuka kunci pintu mobil dan mengungkapkan kalimat bernada penekanan.
"Berhentilah! Biar aku naik ojek online untuk pulang ke rumah kontrakan. Kamu temui saja klienmu karena itu jauh lebih penting daripada mengantarkan aku untuk menemui istriku yang mengalami penyiksaan oleh ibu pria itu."
Kini Amira Tan yang semakin merasa kesal karena tidak berhasil membuat Bagus mengurungkan niat agar tidak kembali ke kontrakan. Tentu saja ia merasa sangat marah pada pria yang dianggapnya sangat lemah dan juga bodoh karena gampang dimanfaatkan oleh orang lain.
Tentu saja ia bukanlah tipe wanita yang pintar menyembunyikan perasaan dan juga bukan orang munafik yang berpura-pura baik di depan orang yang dibenci ataupun sebaliknya, sehingga saat ini sudah tidak bisa menahan emosi yang meluap di dalam dirinya.
"Kenapa Tuhan menciptakan pria sebodoh dirimu di dunia ini dan akhirnya diinjak-injak oleh orang lain. Jika boleh, rasanya aku ingin memukul kepalamu agar mengalami amnesia disosiatif dan melupakan kebodohan yang terlalu baik pada Putri."
"Satu hal lagi yang membuatku merasa sangat kesal. Putri, wanita itu benar-benar sangat keterlaluan karena tidak berhenti melakukan dosa dan durhaka pada suami, tapi berakhir menyusahkan orang lain."
'Mungkin jika dia tidak merepotkan seperti ini, aku tidak akan merasa emosi berlebihan,' gumam Amira yang akhirnya memilih untuk memutar mobil di persimpangan menuju ke arah kontrakan.
Meskipun bibirnya masih sibuk mengumpat dengan disertai wajah masam, tetap saja ia menuruti keinginan dari suami saudara tirinya tersebut. Meskipun pada akhirnya ia membatalkan pertemuan dengan kliennya karena berpikir bahwa ada hal yang lebih penting.
Amira bahkan tidak takut kehilangan satu kliennya karena berpikir ada yang jauh lebih penting, yaitu bisa melihat apa yang dilakukan seorang ibu untuk melindungi putranya dan juga apa yang dilakukan oleh seorang pria yang mencintai wanitanya?
Hal itulah yang membuatnya sangat penasaran sekaligus ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian yang membuat para tetangga sekitar menonton seperti sedang melihat siaran langsung.
'Pasti tadi di tempat Putri sangat menegangkan dan juga heboh. Mungkin akan lebih baik jika ada yang mengabadikan momen itu. Semoga saja ada, agar aku bisa melihat sendiri bagaimana Putri dihukum oleh ibu Arya yang terkena sangat arogan itu.'
__ADS_1
Lamunan panjang dari Amira seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari Bagus yang menatapnya dengan intens.
"Kenapa tidak berhenti? Turunkan aku di depan sana? Jadi, kamu bisa langsung menemui klienmu." Bagus yang masih memegang ponsel karena ia ingin menghubungi nomor Putri untuk memastikan apakah istrinya baik-baik saja atau terluka karena perbuatan dari ibu pria itu.
Namun, ia mengurungkan niatnya setelah mendengar umpatan dari Amira yang mengejeknya adalah pria paling bodoh di dunia ini.
Amira Tan yang masih sangat dongkol dengan pria di sebelahnya, sama sekali tidak ingin membuka suara dan tetap fokus mengemudikan mobil membelah kemacetan ibu kota.
'Seandainya saja ada yang bisa mengabulkan keinginanku saat ini, aku hanya ingin menghilangkan pria ini sejauh mungkin agar tidak bisa melihat lagi wanita tidak berperasaan itu. Meskipun aku dan Putri mengalir darah yang sama, tetapi saat ini lebih iba pada nasib pria malang ini.'
Cinta adalah hal yang membuat semua orang bisa berubah menjadi bodoh dan tidak masuk akal.
Terkadang meskipun menyadari bahwa hanya kenangan pahit yang dirasakan, tetapi tidak bisa membuangnya.
Bagus nyatanya tidak pernah merasa menjadi sosok sempurna karena cintanya untuk Putri tak pernah cukup.
Bagi Amira Tan, mungkin Bagus adalah malaikat yang menjelma menjadi manusia yang datang ke dunia untuk membantu Putri yang berselingkuh dan tetap ingin memberikan kehidupan yang baik, serta menutupi kehamilan dari benih pria lain.
Akan tetapi, Bagus tidak pernah benar-benar menjadi seperti malaikat dan ia juga tidak pernah benar-benar ikhlas merelakan perasaannya karena selalu terjebak sendiri dalam ikatan itu. Ia terjebak dalam cinta dan tidak tahu bagaimana cara melepas simpulnya.
Bahkan setelah mengetahui perselingkuhan Putri, memilih melepas sang istri ke pelukan lelaki lain. Hingga bagaikan berdarah-darah sendiri karena harus bersusah payah lagi menghilangkan perasaannya.
Ia benar-benar sangat terluka dan tidak bisa bersikap kejam meskipun telah disakiti berkali-kali oleh Putri. Entah mengapa rasanya seperti meneguk racun yang akan membuatnya tak tertolong lagi.
__ADS_1
Benar bahwa ia adalah seorang pria yang terkenal bijak dengan melepas Putri demi kebahagiaan istrinya tersebut. Namun, dalam cinta, seseorang mungkin tak bisa bijak pada diri sendiri.
Jujur saja sampai sekarang, hatinya menolak untuk melupakan Putri. Hatinya menolak untuk berhenti mencintai wanita itu. Bahkan mungkin hatinya menolak untuk tidak merindukan Putri. Terakhir adalah hatinya pun menolak untuk menerima wanita lain selain istrinya karena telah mati dan tidak ingin terluka lagi.
Benar kata orang, jatuh cinta itu seperti memasuki labirin. Tidak perduli bagaimana memulainya dan tak tahu bagaimana mengakhirinya. Ia sungguh terjebak.
Lelaki itu mengembuskan napasnya dengan berat. Matanya dipejamkan sesaat. Sekilas terlihat kantung matanya menggelap akibat kurang tidur dan kelelahan semalaman memikirkan Putri.
Meskipun ia sadar bahwa semua itu sama sekali tidak berguna karena cintanya untuk sang istri tetap terpatri di dalam hati. Apalagi dulu mimpinya adalah ingin menjadi pasangan suami istri hingga kakek nenek sampai ajal memisahkan.
Namun, semuanya gagal hanya karena sebuah pengkhianatan dan meninggalkan luka tak berdarah di dalam hatinya.
Hingga semua kepedihan itu bisa dilihat oleh Amira. Hati wanita itu sejenak berdenyut nyeri melihat sikap tenang Bagus. Bahkan sesekali melihat Bagus tersenyum saat berinteraksi dengan putranya.
Namun, sesungguhnya ia tahu senyuman itu benar-benar palsu.
Bagus hanya mencoba untuk terlihat baik-baik saja di hadapan putranya, seolah tak ada yang terjadi. Ia tahu bahwa nanti anaknya tidak baik-baik saja setelah Putri pergi dari hidup mereka.
Kini, Amira mengembuskan napasnya sejenak. "Jangan membuatku ingin memukul kepalamu karena kesal. Aku benar-benar sedang kesal saat ini."
Tentu saja Bagus tahu apa yang membuat kesal Amira dan akhirnya ia memilih untuk diam dan larut dalam pikirannya sendiri.
To be continued...
__ADS_1