Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
76. Maafkan ibu


__ADS_3

Setelah pertengkaran hebat yang terjadi dalam rumah tangganya, kehidupan mereka seperti berubah hambar karena semenjak perkataan dari Arya yang mengungkit tentang masa lalu mertuanya, membuat wanita yang tak lain adalah Putri selalu bersikap datar dan jarang tersenyum lagi.


Sementara di sisi lain, Bagus yang merasa sangat bersalah karena membuat Putri bersedih saat memikirkan dosa sang ibu, serta seperti mengutuk sang istri mengalami kecelakaan, benar-benar membuatnya menyadari kesalahannya.


Ia memilih untuk diam agar tidak semakin membuatnya merasa berdosa dan Putri malah akan semakin membencinya. Mengorbankan kehangatan rumah tangganya karena sang istri seperti sangat marah padanya dan sudah tidak mau lagi bersikap lembut seperti dulu.


Mencoba bersabar dan menunggu hingga perasaan sang istri jauh lebih baik, Bagus membiarkan Putri bersikap semaunya karena ia berpikir bahwa waktu bisa menyembuhkan luka dan ia juga selalu meminta maaf untuk menunjukkan penyesalannya.


Namun, meskipun sudah satu bulan berlalu, sikap Putri padanya sama sekali tidak berubah dan membuatnya sangat kebingungan. Tidak ada lagi senyuman dari sang istri yang selalu menyambutnya saat pulang kerja dan menghilangkan penat setelah seharian bekerja.


Bahkan ia sudah hampir satu bulan tidak pernah bercinta dengan sang istri karena tidak ingin memaksa untuk melayani nafsunya.


Sudah satu bulan berlalu dan sikap Putri sama sekali tidak berubah, hingga kenyataan pahit dirasakannya begitu mendapat surat gugatan cerai dari sang istri saat pulang kerja.


Bagus kini menatap ke arah sang istri yang seperti biasanya, yaitu duduk di kasur lantai sambil menemani putranya bermain.


"Apa maksudmu, Putri? Apa ini? Kenapa tiba-tiba ada gugatan cerai dari pengadilan? Apa karena kesalahanku yang mengungkit tentang masa lalu ibumu membuat kamu menuntut cerai? Kita masih bisa membicarakan semuanya secara baik-baik, tapi kamu selalu diam dan tidak mau membuka suara dan kesempatan untukku."


Putri yang selama ini berhubungan diam-diam dengan Arya, semakin merasa lega begitu mengetahui bahwa hari ini gugatan cerai atas namanya telah datang dan ia yakin akan segera bercerai dan menikah dengan pria yang sangat dicintai dan mencintainya.


Apalagi ia sudah benar-benar muak dan ilfil melihat pria yang menurutnya tidak jauh lebih baik dari Arya. Sudah tidak sabar untuk menikah dengan Arya, Putri yang kini mendongak menatap ke arah sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Lebih baik tanda tangani surat perceraian kita dan berpisah secara baik-baik. Aku sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena benar-benar muak padamu. Apalagi rasa cintaku kini sudah musnah dan berubah menjadi kebencian."

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghabiskan seumur hidup dengan pria yang sudah membuatku merasa sangat muak. Kau tenang saja karena aku tidak meminta apapun darimu karena mengetahui bahwa selama ini tidak ada harta yang bisa dibagi setelah bercerai."


Tanpa menunggu jawaban dari Bagus, Putri kini bangkit berdiri dari posisinya dan berniat untuk melakukan tugasnya, yaitu menyuapi putranya.


Namun, tiba-tiba ia melihat putranya menangis tersedu-sedu karena suara teriakannya tadi saat meluapkan semua perasannya pada pria yang membuatnya merasa semakin emosi.


Bagaimana tidak, ia melihat sosok pria yang sudah tidak lagi dicintainya itu malah berteriak dan merobek kertas di tangan. Bahkan menatapnya dengan tatapan tajam hingga seperti berhasil menembus jantungnya.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Putri! Ingat itu baik-baik di pikiranmu karena selama aku masih hidup, tidak akan pernah membiarkan anak-anak kita besar tanpa orang tua yang lengkap."


Bagus yang sudah merobek surat dari pengadilan tersebut, kini melemparkan kertas tersebut ke hadapan Putri dan ia yang merasa sangat frustasi, kini memilih untuk keluar dari rumah dan menenangkan pikirannya.


Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika wanita yang sangat dicintai malah diam-diam menggugat cerai dirinya tanpa sepengetahuannya.


'Semua ini gara-gara wanita sialan itu! Jika aku dulu tidak bertanya pada Putri, semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku harus menemuinya!' umpat Bagus dengan wajah memerah dipenuhi kegelisahan saat berjalan menyusuri gang menuju ke jalan besar dan mencari kendaraan untuk mengantarkan ke kantor wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.


Sementara itu di rumah kontrakan, Putri yang masih berusaha untuk menenangkan putranya agar tidak terus menangis, masih menatap ke arah kertas yang berserakan lantai akibat perbuatan sang suami dan membuatnya benar-benar sangat kesal.


Ingin sekali ia menghubungi Arya dan menceritakan tentang semuanya mengenai respon dari Bagus begitu melihat gugatan cerai yang tadi datang, tetapi tidak bisa melakukannya karena putranya masih terus menangis tersedu-sedu.


Seperti mengetahui bahwa ia dan sang suami akan berpisah, membuat Putri sibuk menenangkan putranya agar diam dan tidak menangis lagi.


Cukup sulit ia menenangkan putranya dan setengah jam kemudian, berhasil membuat tangis bocah laki-laki berusia 3 tahun tersebut berhenti.

__ADS_1


Kini, ia melihat putranya sedang bermain kertas-kertas yang berserakan di lantai karena belum sempat membersihkannya.


Saat putranya sudah tidak menangis lagi, ia memilih untuk menghubungi sang kekasih, tetapi mengerutkan kening karena terdengar nada sibuk dari nomor yang dihubungi.


"Arya saat ini tengah berbicara dengan siapa? Dia tidak sedang berbicara dengan wanita, kan? Terlalu banyak wanita yang merupakan mantan-mantan kekasihnya, membuatku benar-benar tidak bisa tenang dan selalu gelisah saat memikirkan tentangnya."


"Aku takut Arya dijebak oleh wanita lain yang menyukainya. Seorang wanita yang benar-benar terobsesi, bisa melakukan hal apapun untuk bisa mendapatkan pria yang diinginkan. Tanpa mempedulikan bahwa pria itu memiliki kekasih maupun istri dan itu sekarang sering terjadi. Aku tidak ingin itu terjadi padaku."


Putri masih menunggu hingga panggilannya diangkat, tetapi tetap tidak diangkat juga dan membuat kegelisahan semakin mengakar dalam dirinya saat ini.


Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan begitu melihat siapa yang menelpon, seketika sudut bibirnya melengkung ke atas. Tanpa membuang waktu, langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Sayang. Kamu sedang berbicara dengan siapa tadi?"


Sementara ia menunggu suara bariton dari seberang telepon dengan perasaan gelisah, Putri yang masih melihat ekspresi putranya terlihat sangat senang ketika bermain kertas-kertas hasil robekan sang suami. Seolah anak kecil itu tahu apa arti dari kertas yang dirobek oleh sang ayah.


'Putraku terlihat seperti sangat bahagia melihat kertas itu dirobek ayahnya. Apa dia tahu bahwa ibu dan ayahnya akan bercerai dan sangat senang saat surat dari pengadilan telah dirobek?' gumam Putri yang kini masih tidak berkedip menatap ke arah putranya.


Menyadari bahwa putranya akan menjadi korban atas perceraiannya nanti karena ia akan sepenuhnya menyerahkan hak asuh pada sang suami.


'Maafkan ibu, putraku.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2