Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
182. Wanita aneh


__ADS_3

Pagi hari di rumah kontrakan, Putri kali ini ingin membahas mengenai hal yang berhubungan dengan masalah kehamilan. Ia saat ini tengah mengambilkan nasi untuk sarapan sang suami dan menaruh di depan meja.


Kemudian mulai membuka percakapan pagi dengan tatapan tak lepas dari wajah tampan sang suami yang terlihat sangat fresh dengan rambut sedikit basah tersebut.


Hari ini ia dan sang suami mandi bersama dan kembali melanjutkan ronde kedua setelah semalam pria tampan itu tidak membuatnya tidur nyenyak.


Hingga ia yang tadi pagi langsung mandi, malah harus membuka pintu saat Arya menyusul masuk dan meminta jatah lagi. Tentu saja ia harus berusaha keras untuk membuat sang suami selalu puas dalam urusan ****.


Meskipun dalam keadaan hamil karena menyadari bahwa ia memiliki suami yang masih muda dan memiliki nafsu besar. Tidak ingin sang suami berselingkuh karena tidak puas dalam urusan ****, sehingga tidak menolak saat Arya meminta kapan pun.


Seperti pagi ini sudah meminta jatah, padahal semalam sudah membuat ia tidak bisa tidur karena sibuk melayani.


"Sayang, kapan kerjaan kamu libur? Kita perlu periksa ke dokter. Beberapa kali aku merasa perutku sakit. Lalu, kemarin ada bercak darah.”


"Apa?" Wajah Arya seketika memancarkan kekhawatiran karena berpikir jika terjadi sesuatu pada calon anak yang masih berada dalam kandungan.


"Memangnya sudah waktunya?” tanya Arya yang melanjutkan pertanyaan saat masih sangat terkejut dengan penjelasan sang istri.


Tidak ingin membuat khawatir, kini Putri kembali memfilter perkataan untuk meralatnya. “Belum, makanya kita perlu ke dokter untuk memastikannya. Aku hanya ingin tahu kenapa bisa mengeluarkan flek. Padahal masih sekitar satu bulan lagi masa persalinan menurut kalender dokter."


Arya saat ini masih berpikir untuk mengambil keputusan dan membuat ia menimbang keputusan. Kemudian beberapa menit berlalu, is memilih untuk meminta izin cuti karena lebih mementingkan keadaan bayi dalam kandungan sang istri.


“Ya sudah, Aku akan meminta izin untuk libur. Kita ke dokter dan memeriksakan anak kita, Sayang."


“Iya," sahut Putri yang terdiam sejenak karena sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu otak saat ini.


'Apakah ini terjadi karena kami sering bercinta? Kami memang sering melakukan itu dalam beberapa hari ini. Itu semua karena perasaan Arya seperti sedang baik. Saat ia bekerja, lebih sering meminta jatah. Seolah tidak pernah merasakan capek setelah bekerja dan masih lembur malam di rumah.'


Lamunannya yang yang seketika buyar ketika mendengar suara bariton dari sang suami yang kini telah bertanya.


“Hari ini ada bekal untuk kubawa?” tanya Arya yang baru saja selesai dengan kegiatan makan pagi dengan menu ayam dimasak pedas.


“Ada, sebentar aku ambilkan dulu.” Refleks Putri langsung bangkit berdiri dari kursi dan mengambil kotak bekal yang ada di rak piring.


Kemudian dengan sangat cekatan ia mengisi dengan nasi, sayur dan juga lauk. Ia sengaja memberikan gizi lengkap untuk sang suami agar semakin bersemangat dalam bekerja. Apalagi ia saat ini berpikir jika Arya selalu terlihat sangat kelelahan setelah pulang kerja, sehingga merasa iba.


Setelah mendapatkan bekal yang bisa dibawa ke kantor, Arya melangkah keluar dari rumah dan berpamitan tepat di depan pintu. Tentu saja seperti biasa, ia mencium kening sang istri.


Pemandangan yang terlihat sangat romantis meskipun hanya dengan sebuah hal kecil. Arya pun tak lupa berpamitan pada sang calon anak di dalam perut itu.


"Baik-baik di rumah bersama mama, ya Sayang," ucap Arya yang saat ini membungkukkan badan dan mengecup lembut perut buncit itu. Kemudian mengusapnya beberapa kali.


“Hati-hati di jalan,” ujar Putri yang tersenyum sembari melambaikan tangan begitu melihat sang suami yang selalu membuatnya merasa sangat bahagia sekaligus terharu.


Arya membalas lambaian tangan Putri. Setelah itu, ia melanjutkan langkah kaki menuju halte seperti biasa.


Tentu saja seperti biasa, rutinitas pagi sehari-hari untuk menuju ke kantor adalah berdesak-desakan di dalam bus dan sering tidak mendapatkan kursi. Bahkan dulu awal-awal ia naik bus, selalu sering hampir terjatuh saat supir mengerem mendadak.


Namun, lama-kelamaan Arya telah terbiasa dan sudah bisa menyeimbangkan diri ketika supir tiba-tiba mengerem ketika ada penumpang yang mau masuk.


Sampai di tempat kerja, ia langsung saja mengganti pakaian rapinya dengan seragam cleaning service. Tampak dari pintu masuk ruang loker terlihat Rani yang terburu-buru datang.


Ternyata wanita itu hampir saja terlambat jika tidak segera melakukan presensi sidik jari pada alat yang disediakan di depan ruang pantri.

__ADS_1


"Kau seperti sedang dikejar anjing saja," sarkas Arya yang berbicara tanpa melihat ke arah wajah wanita dengan suara deru napas memburu tersebut.


Ia bisa mendengar suara napas terengah dari Rani. Tentu saja menunjukkan bahwa wanita yang terlihat berlarian beberapa saat lalu tersebut tidak ingin terlambat bekerja.


"Astaga, kamu ini. Aku bukan dikejar anjing, tapi waktu." Rani sudah melepaskan jaket dan memasukkan tas ke dalam loker.


Ia hanya menyisakan ponsel di saku celana dan kembali mengunci loker karena ingin segera mengikuti briefing sebelum bekerja.


"Makanya bangun pagi! Jangan tidur melulu saat sudah siang. Jadi terlambat, kan jadinya! Dasar wanita pemalas!" Arya kali ini berpikir jika Rani bangun terlambat dan teringat pada sang istri yang selalu bangun pagi dan bisa dibanggakan.


Mungkin hanya satu kali Putri bangun terlambat saat ia bekerja di perusahaan. Itu pun karena ia semalaman mengajak sang istri lembur dan dimaklumi pasti kelelahan karena ulahnya. Hingga bangun terlambat.


Sementara Rani kini mengerutkan kening saat melihat Arya tersenyum sendiri. "Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu? Apa kamu berpikir bahwa aku adalah wanita pemalas yang suka bangun siang? Asal kamu tahu, aku tadi terlambat karena menolong seorang anak sekolah jatuh saat hampir menabrak pembatas jalan."


"Anak itu melamun karena sedang memikirkan orang tuanya yang pagi-pagi bertengkar. Jadi, dia naik motor dengan melamun. Hingga terjadi kecelakaan tunggal di dekat tempat tinggalku."


Arya tampak tidak perduli dengan perkataan Rani karena waktu sudah menunjukkan jam breafing.


Kemudian memilih melanjutkan langkah menuju lantai satu dan berkumpul bersama yang lain untuk mendapatkan pengarahan sebelum bekerja.


Melihat rekannya pergi, Rani segera merapikan seragam yang sedikit kusut dan berlari menyusul untuk mendengarkan pengarahan mengenai hasil kerja mereka.


Meskipun sebenarnya sangat malas karena harus mendapatkan pengarahan, tapi tidak ada pilihan lain daripada tiba-tiba dikurangi gaji karena dianggap tidak disiplin.


Sepuluh menit kemudian, Rani mulai mengambil alat kebersihan setelah breafing selesai. Bahkan tadi ia mengekor Arya karena memang harus menjadi rekan bekerja.


Mereka sampai di lantai tiga. Pagi ini tidak banyak karyawan yang hadir. Hal itu karena akhir pekan banyak yang memilih bekerja dari rumah.


Meski pada dasarnya tidak ada program yang mendukung hal itu. Mereka hanya tahu bahwa akhir pekan lebih mengutamakan pengiriman laporan pada hari sebelumnya.


Bahkan suasana tidak biasa itu dianggap sangat aneh, tapi sedikit membuat ia lega karena hari ini tidak terlalu banyak orang yang datang untuk bekerja.


"Kamu lupa jika saat ini akhir pekan? Tentu mereka memilih untuk bekerja di rumah. Mengirim laporan dengan ponsel yang sudah dimiliki masing-masing orang." Rani menjawab sambil memulai pekerjaan dengan menyapu sebelum mengepel.


Tidak mengerti dengan ucapan Rani, Arya akhirnya bertanya pada salah seorang karyawan di sana yang pernah ia bantu saat lembur.


"Apa kamu tahu ke mana para karyawan itu pergi? Aku tidak menemukan mereka yang sering memerintah di sini. Apakah mereka sedang mengambil cuti secara bersamaan?"


"Tidak, mereka tidak sedang mengambil cuti. Kebanyakan dari mereka memilih untuk bekerja di rumah dan mengirimkan laporan melalui grup yang sudah tersedia, yang aku maksudkan adalah grup yang ada di salah satu aplikasi online yang ada di ponsel."


"Semua dilakukan atas izin manajer yang bertugas di sini. Jadi, tidak heran jika pada akhir pekan kantor akan terlihat lebih sepi dari biasanya," jawab pria berusia 30 tahunan tersebut.


Masih tetap merasa heran pada kinerja dan peraturan di perusahaan sang ayah, kini Arya mengungkapkan nada protes karena berpikir hal itu akan membuat perkembangan perusahaan menurun.


"Apakah pemilik perusahaan mengetahui hal ini? Karena yang aku tahu, program seperti ini tidak memiliki izin dari pemilik perusahaan. Jadi, jika salah satu dari kalian ada yang mengadukan hal ini, aku yakin orang itu akan mendapatkan bonus lebih tinggi dari biasanya."


"Jadi, ia akan dianggap menjadi penyelamat di perusahaan ini dan aku bisa memastikan orang tersebut akan mendapatkan kenaikan jabatan secara drastis."


Arya berusaha menghasut karyawan yang ada di depannya agar mau menceritakan tentang hal yang terjadi di perusahaan.


Pikiran karyawan biasa itu kini mulai terlihat ingin menyampaikan apa yang dikatakan oleh Arya.


Karyawan biasa itu sudah jenuh dengan pekerjaan yang hanya melakukan beberapa tugas tidak penting. Ia ingin melakukan suatu gebrakan pada posisi saat ini, kebetulan sekali hari itu ada banyak orang yang tidak datang ke kantor dan memilih bekerja di rumah.

__ADS_1


Setelah puas mendengarkan karyawan itu dan mengetahui semuanya, Arya kembali melanjutkan pekerjaan di lantai tiga.


Sementara itu, Rani yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, mencoba untuk bertanya pada Arya mengenai perbincangan beberapa saat lalu.


"Apa yang baru saja kamu katakan pada karyawan itu? Sepertinya pria itu memiliki rencana licik setelah kamu menjelaskan mengenai program bekerja di rumah. Apa kamu ini sengaja memecah belah mereka dan merebut posisi di sana?"


"Aku yakin apapun yang kamu katakan di sana itu hanyalah sebuah ucapan kosong belaka."


"Kenapa kamu selalu ingin tahu apa yang menjadi urusanku? Aku rasa selama ini cukup adil dengan aku tidak pernah ikut campur dalam masalahmu di luar dan di dalam perusahaan. Kamu harus tahu batasan yang ada di antara kita. Jika sudah mengerti, sebaiknya cepat pergi dari sini dan lakukan pekerjaanmu."


Arya melenggang pergi dari sana dan memilih sudut sisi kanan, tepatnya di bagian meja marketing. Siapa sangka saat berada di sana, menemukan beberapa lembar berkas penting.


Ia memilih untuk menyimpan berkas-berkas itu di saku seragamnya. Arya berencana akan memeriksa berkas-berkas itu di saat pekerjaannya selesai.


Apapun yang dilakukan Arya saat ini, itu semua demi pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin sekali kembali di perusahaan tersebut dan memegang jabatan sebagai CEO di sana.


Jam istirahat datang dengan cepat, seperti biasa, Arya akan berada di tempat. Di mana ia bisa memakan bekal yang dimasak oleh istrinya.


Arya hampir saja memasukkan sesendok makanan ke mulut, tetapi justru makanan yang ada di sana diambil tanpa izin oleh Rani.


"Hey, apa yang kamu lakukan?"


Kesal, Arya hampir saja memukul Rani yang tiba-tiba saja meraih makanannya tanpa izin. Arya baru saja akan memakan makanan itu, tetapi selera makannya telah hilang dan ia pun beranjak dari sana dengan meninggalkan Rani beserta kotak makanan di atas meja.


Sementara itu, Rani awalnya hanya ingin bercanda untuk menghilangkan rasa bosan dan lelah setelah bekerja. Ia mengikuti langkah Arya untuk keluar dari sana dengan membawa kotak makanan itu.


Niatnya adalah ingin meminta maaf karena sebenarnya ada banyak kesalahan yang dilakukan hari ini.


Akan tetapi, tetapi beberapa karyawan yang berkumpul di depan pantry tengah mengobrol dan mengatakan sesuatu hal yang selama ini tidak terduga.


Salah seorang karyawan menyebutkan bahwa Arya adalah anak dari pemilik perusahaan yang sedang dihukum dengan bekerja menjadi seorang cleaning service di sana.


Tanpa sengaja Rani mendengar semua percakapan itu dan langsung berbalik badan. Ia berjalan menghampiri Arya. Namun, langkah Rani terhenti saat ia bertemu dengan atasannya.


Rani kembali memastikan apa yang sudah dibicarakan oleh karyawan di sana. Ia tidak ingin rasa penasaran menggeluti diri.


Rani tampak terkejut setelah mengetahui siapa Arya sebenarnya, penjelasan kepala cleaning service tersebut membuatnya semakin tidak percaya.


Pantas saja, Arya sangat membencinya. Itu semua pasti karena pikiran sebagai penjilat yang membuat Rani menjadi dibenci secara tidak jelas.


Rani memiliki utang penjelasan agar Arya bisa mengerti dengan sikapnya selama ini.


Saat Rani bertemu dengan Arya di lantai empat, ia berdiri di hadapan pria itu dan menjelaskan maksud kehadirannya.


“Aku minta maaf karena tadi tidak sengaja. Meski sudah bekerja selama beberapa tahun, ternyata aku sama sekali belum bisa dikatakan sebagai karyawan yang baik, sehingga membuat kamu kesal."


Beberapa saat kemudian, akhirnya melangkah pergi dari sana setelah melihat pria itu hanya diam saja.


Arya merasa ada yang aneh pada wanita itu. Mungkin saja Rani salah meminum obat atau sebagainya.


Kembali fokus pada pekerjaannya, Arya memilih untuk bersikap biasa. Meskipun nyatanya tidak karena berpikir tentang perkataan dari Rani yang terdengar sangat aneh.


"Dasar wanita aneh!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2