
Mobil Arya meninggalkan parkir tempat pesta, melaju menuju salah satu club malam yang ada di kota tersebut.
Arya melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi karena pria itu ingin segera sampai di club malam dan segera meneguk minuman yang akan memuaskan dahaganya akan alkohol.
“Janji jangan banyak minum, Arya!" Calista kembali mengingatkan.
“Sudah, jangan cerewet! Ayo, masuk saja dulu!” Arya menarik tangan Calista dan tidak menghiraukan ocehan wanita itu.
Sesampainya di dalam club, Arya langsung menuju bartender dan duduk pada kursi yang ada di sana. Arya meminta pekerja bartender untuk menyajikan minuman yang ia minta.
Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah yang putih bersih mengangguk dan memberikan apa yang Arya minta. Hanya satu kali tegukan, Arya langsung menghabiskan minuman di gelasnya.
Arya meminta agar pria jangkung yang merupakan bartender itu untuk kembali menuangkan minuman di gelasnya. Sekali lagi ia meneguk minuman tersebut sampai habis.
Sementara itu, Calista hanya menggelengkan kepala melihat bagaimana gilanya Arya menghabiskan minuman itu.
Kemudian menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya dalam. Sesekali Arya juga meneguk minuman di dalam gelasnya.
Saat habis, maka ia akan meminta untuk diisi kembali gelasnya.
Calista juga ikut meminum alkohol yang sama dengan Arya, tetapi hanya minum dengan perlahan. Ia tidak boleh ikut terbawa suasana seperti Arya. Setidaknya, saat Arya mabuk, masih ada salah satu yang sadar di antara mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Arya sudah mulai merancau karena ia sudah mulai mabuk.
“Kita pulang saja.” Calista merebut gelas minuman di tangan pria itu.
Ia kemudian meminta kepada salah satu petugas yang ada di sana untuk membantunya memapah Arya sampai ke mobil.
“Terima kasih.” Calista memberikan uang tips untuk petugas yang membantunya.
Beruntung Calista bisa mengendarai mobil milik Arya, sehingga ia tidak merasa kesulitan. Sesuatu yang membuat Calista bingung adalah kemana ia harus membawa Tomy?
Tidak enak jika membawa pria itu pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk.
Bahkan ia juga tidak enak mengantarkan Arya pulang ke rumah pria itu sendiri karena malam yang sudah sangat larut dan para pelayan di rumah mereka juga pasti sudah tidur.
“Apa aku bawa dia ke apartemenku saja, ya?” gumam Calista yang tengah memikirkan keputusan yang akan dilakukan.
Sepanjang perjalanan, Arya juga terus merancau memaki dan meluapkan perasaannya.
“Kenapa kamu tega padaku? Bukankah kamu tahu sebesar apa cintaku padamu?”
Calista sempat melirik Arya yang bersandar pada kursi mobil di sampingnya, sambil terus mengumpat dan memaki.
__ADS_1
'Dasar wanita sialan! Jadi benar, mereka memang sedang ada masalah? Pantas saja Arya mau menerima permintaanku.' Calista tersenyum senang.
Ini benar-benar kesempatan emas untuknya. Calista tidak peduli apa masalah mereka yang sebenarnya, yang pasti harus mendapatkan hati Arya.
Setelah lelah merancau, Arya mulai tidak bersuara lagi. Mata pria itu tertutup rapat. Sepertinya tertidur.
Calista terus melajukan mobil yang ia kendarai sambil sesekali melirik ke arah kursi di sebelahnya, di mana tempat Arya sedang bersandar dan tertidur.
'Bersiaplah untuk membuka hatimu lagi karena aku akan masuk ke sana bagaimanapun caranya. Tidak. Bukan hanya sekadar masuk, tetapi juga menetap di dalamnya.' Sebuah seringai terbit di bibir Calista.
Mobil yang Calista kendarai tiba di basement apartemennya. Setelah memarkirkan kendaraan roda empat tersebut, Calista membantu memapah Arya menuju lift yang ada di sana dan langsung menekan tombol angka yang akan menghubungkan langsung menuju kamar miliknya.
"Gila! Berat juga kamu, Arya."
Mereka sudah sampai di depan unit milik Calista. Kemudian segera menekan beberapa angka dan barulah ia bisa membuka pintu di depannya.
Calista memapah Arya menuju salah satu kamar yang ada di sana, yang pasti itu bukanlah kamar Calista.
Meskipun ia adalah seorang wanita yang sibuk bekerja, apartemen miliknya terlihat begitu bersih dan terawat. Itu karena ada seseorang yang akan membersihkan unit miliknya setiap hari.
Calista membaringkan Arya di atas ranjang tempat tidur yang ada di kamar itu. Sedikit membantingnya karena memang ia sudah tidak kuat lagi menahan berat badan Arya.
"Akhirnya.” Calista menghela napas dan mengusap sedikit peluh di keningnya.
Namun, Calista menghentikan langkahnya tepat saat ia hendak melangkah keluar dari pintu kamar tersebut.
Calista membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam kamar. Ia kemudian menarik selimut yang ada di atas ranjang untuk menutupi tubuh Arya.
Saat Calista hendak pergi dari sana, tiba-tiba Arya menahan tangan Calista, menariknya hingga tubuh wanita itu terhuyung dan terjatuh di atas tubuh pria yang masih meracau tidak jelas tersebut.
“Jangan tinggalkan aku!" ucap Arya dengan suara parau.
"Arya.”
Jujur, Calista merasa sangat gugup berada dalam posisi sedekat itu.
Calista berusaha melepaskan tangan Arya yang sudah melingkar di tubuhnya, tetapi sangat sulit.
Tiba-tiba Arya membuka mata dan tatapan mereka bertemu.
Calista semakin gugup menatap mata Arya yang begitu sayu.
Hingga tanpa aba-aba, Arya langsung menyambar bibir Calista dan **********.
__ADS_1
Sementara Calista hanya diam sembari membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang Arya lakukan.
Ia membiarkan Arya terus melakukannya karena Calista pikir, apa yang Arya lakukan hanya sebuah ciuman singkat saja. Namun, semakin lama, napas Arya semakin memburu.
Calista hanya memejamkan mata dan membalas ciuman yang Arya lakukan padanya.
Merasa mendapat balasan, Arya pun semakin memperdalam ciumannya dengan penuh hasrat dan entah sejak kapan posisi mereka sekarang sudah berubah.
Calista sudah dibawah kukungan tubuh Arya yang tidak ingin melepaskan ciuman mereka.
Setelah beberapa menit, Arya melepaskan pertautan bibir mereka dan menatap Calista dengan mata yang berkabut gairah. Ia menatap Wajah Calista dengan penuh hasrat.
Napas Calista mulai tidak beraturan. Ia menatap takjub pemandangan di depannya.
Sementara itu, Arya sudah meloloskan seluruh baju yang ia kenakan. Menampakkan otot-otot di tubuhnya yang kekar dan perut sixpack.
Arya tersenyum, masih dengan tatapan matanya yang sayu dan kembali menyambar bibir Calista, hingga mendapat balasan dari wanita itu.
Ciuman mereka semakin memburu dan saling menuntut. Ciuman Arya mulai turun ke leher dan dada Calista. Menghirup aroma tubuh wanita itu yang terasa menyenangkan.
******* demi lenguhan mulai keluar dari bibir Calista karena sentuhan yang Arya berikan mampu membuatnya melayang.
Dua anak manusia itu saling melepaskan hasrat yang sudah memburu sedari tadi. Calista sama sekali tidak menolak setiap sentuhan dan perlakuan Arya padanya di atas ranjang.
Ia justru begitu menikmatinya. Keduanya bersama-sama menjelajah dan menaiki puncak kenikmatan untuk melepaskan diri masing-masing dari dahaga hasrat yang sudah memuncak.
Setelah setengah jam berlalu, keduanya terkulai lemas dengan peluh yang membanjiri tubuh masing- masing.
Arya bahkan kini memeluk tubuh Calista yang sudah bergelung di bawah selimut yang sama dengannya.
"Aku mencintaimu ….”
Satu kalimat itu berhasil membuat bibir Calista mengulas senyum.
‘Secepat itu?’ tanya Calista dalam hati.
“Putri.”
Senyum Calista pun seketika redup saat Arya menyebut nama itu.
Sakit. Ada sesuatu yang menghantam hati Calista dengan begitu kuat, membuatnya terasa sangat sesak.
Calista mengulas senyum getir. Ternyata Putri masih menjadi wanita yang dicintai pria yang baru saja menikmati tubuhnya. Pria itu melakukannya karena mengira adalah istri.
__ADS_1
To be continued...