
Bagus yang saat ini berjalan menyusuri gang sempit kontrakan sambil menenteng makanan, sempat beberapa kali menyapa para tetangga yang terlihat sedang duduk-duduk di depan.
Ia yang tadi langsung pulang setelah kembali dari kantor wanita yang berprofesi sebagai pengacara, kini tengah menimbang-nimbang keputusannya. Apakah ia akan memberitahukan tentang perihal kedatangannya pada Putri atau menyembunyikannya.
Memikirkan hal-hal negatif yang akan membuat rumah tangganya menjadi tidak nyaman karena Putri selalu bersedih saat membahas tentang sang ayah yang tidak pernah ingin ditemui karena telah membuat sang ibu hidup menderita sampai meninggal.
'Lebih baik aku merahasiakan tentang pertemuanku dengan kakak tirinya yang berprofesi sebagai pengacara itu. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika ia mengetahui semua hal tentang Putri hanya dengan menatapku.'
'Aku yakin bahwa ia selama ini mencari tahu tentang Putri, sedangkan istriku sama sekali tidak tahu apapun tentang keluarga dari ayah kandungnya.'
Begitu menginjakkan kaki di rumah kontrakan, Bagus kini langsung mengetuk pintu rumah yang terlihat sangat sepi karena tertutup dan korden pun sama sekali tidak dibuka, sehingga ia tidak bisa melihat keadaan di dalam rumah.
"Sayang, aku pulang."
Ia yang menunggu pintu dibuka, mendaratkan tubuhnya di atas kursi kayu berwarna coklat tua di teras depan dan melepaskan sepatunya. Mendengar suara dari sang istri yang menjawab dari dalam rumah, Bagus merasa lega karena sang istri ada di rumah.
Tidak seperti kemarin lusa yang pergi dan menginap di tempat teman yang sama sekali tidak ia kenal.
'Syukurlah istriku ada di rumah. Aku benar-benar sangat takut jika pergi lagi dan terpengaruh dengan orang lain. Istriku terlalu lugu dan gampang terbawa pengaruh buruk dari teman-temannya yang mungkin akan membawa dampak negatif,' gumam Bagus yang saat ini tengah menatap ke arah plastik berisi makanan untuk anak istri.
"Semoga ia tidak marah lagi seperti kemarin dengan menganggap seperti seorang pembantu selama menjadi istriku."
Bagus kini bangkit berdiri dari kursi dan merasa aneh saat sang istri tak kunjung membuka pintu dan kembali mengeluarkan suara.
"Sayang, kenapa tidak dibuka pintunya?"
Sementara itu di dalam rumah kontrakan, Putri yang terlihat sangat kebingungan saat mendengar suara bariton dari sang suami, kini refleks menatap ke arah sosok wanita dengan tubuh gemuk di depannya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pulang lewat pintu belakang karena aku tidak ingin suamiku melihatmu. Cepatlah!"
Putri yang tidak ingin ketahuan oleh sang suami, buru-buru mengarahkan tangan untuk mendorong wanita dengan tubuh gemuk itu ke pintu belakang.
Sementara itu, wanita yang saat ini hanya menuruti perintah untuk segera pergi, masih merasa sangat heran dengan tingkah aneh Putri, tetapi tidak bisa bertanya maupun menolak saat diusir tiba-tiba.
'Astaga, sebenarnya ada apa dengan wanita ini? Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan suaminya? Sepertinya ada bau-bau aneh di sini. Apakah Putri selama ini berbuat hal buruk di belakang suaminya?' gumam wanita yang saat ini melangkahkan kaki menyusuri gang kecil belakang rumah yang membuatnya harus mencari tahu sendiri dengan arah jalan pulang menuju jalan raya.
Sementara itu, Putri yang tadi langsung buru-buru mengganti pakaiannya dengan baju rumahan, tidak lupa mencuci muka untuk menghilangkan bekas riasan di wajahnya.
Akhirnya, ia kini terlihat jauh lebih segar dengan wajah sudah basah dan sengaja membiarkannya agar sang suami tidak merasa curiga dan melihat sendiri penyebab ia lama membuka pintu.
'Semoga pria tua itu tidak curiga padaku,' gumam Putri yang kini telah berjalan menuju ke arah pintu keluar dengan handuk kecil melingkar di leher dan sekilas melihat putranya sedang bermain di lantai.
Begitu membuka pintu di depannya, ia bisa melihat sosok suami tengah tersenyum simpul saat menunjukkan kantong plastik padanya.
"Akhirnya dibuka juga. Aku membeli makanan. Jadi, kamu tidak perlu capek-capek memasak, Sayang. Sebenarnya kamu sedang apa? Kenapa lama sekali membuka pintu?" ucap Bagus yang saat ini melangkah masuk ke dalam rumah dan berniat untuk mencium kening sang istri, tetapi tidak bisa melakukannya saat Putri menghindar dengan berbalik badan.
Namun, ia ingin menyelesaikannya agar tidak berlarut-larut dan menahan pergelangan tangan kiri sang istri yang membelakanginya.
"Sayang, kamu masih marah? Apa yang harus kulakukan agar kamu tidak marah padaku? Katakan padaku agar aku bisa memperbaiki diri."
Saat Putri sangat malas berinteraksi dengan Bagus dan berusaha untuk menghindar, tetapi tangannya ditahan, akhirnya membuatnya menoleh ke belakang dan menatap sosok pria yang sekarang seperti membuat hanya merasakan jijik dan risi saat bersentuhan.
"Lepaskan tanganku! Aku mau memandikan Putra!"
Tidak ingin menuruti keinginan bernada perintah dari sang istri, kini Bagus hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku belum selesai berbicara. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kamu beberapa hari ini marah-marah tidak jelas seperti ini? Jika ada salah yang kulakukan, lebih baik katakan sekarang padaku, agar bisa merubah diri menjadi lebih baik."
Saat ini, Putri menatap ke arah pergelangan tangan kirinya yang masih ditahan oleh sang suami dan ia merasa seperti telah mengkhianati Arya yang sangat mempercayainya.
Apalagi hari ini ia tahu Arya akan membantunya untuk mengurus perceraian dan membuatnya kini mengempaskan tangan, hingga membuatnya terbebas dari kuasa sang suami.
"Sudah kubilang lepaskan dari tadi! Aku hanya sedang tidak mood beberapa hari ini. Jadi, jangan membuatku semakin bertambah kesal padamu. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini, tapi yang jelas jangan membuatku semakin bertambah ilfil!"
Tanpa menunggu jawaban dari umpatannya, kini Putri sudah membungkuk untuk menggendong putranya.
"Saatnya kita mandi, Sayang."
Wajah Putri yang tadinya masam saat berhadapan dengan sang suami, seketika berubah jauh lebih baik saat menatap putranya saat ini.
Seolah merasa bahwa putranya adalah pelipur lara dan membuat mood buruknya berubah lebih baik saat bersama dengan balita itu.
Ia yang saat ini sudah masuk ke dalam kamar mandi, memilih untuk langsung menutup pintu karena tidak ingin diganggu oleh pria yang terlihat sangat marah padanya.
'Ia sepertinya sangat marah, tetapi dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak murka padaku. Aku tahu bahwa ia tidak akan pernah berbuat kasar karena sangat mencintaiku,' lirih Putri yang saat ini sudah sibuk memandikan sang anak.
Sementara di luar kamar mandi, Bagus yang mengempaskan tubuhnya di kursi sambil masih menenteng kantong plastik berisi makanan, mengedarkan pandangan ke sekeliling area rumah kontrakan yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggalnya.
Ia mengingat semua sikap Putri yang sudah berubah dan selalu menghinanya dengan mengatakan hidup layaknya seorang pembantu dan menderita saat menjadi istrinya.
'Apakah Putri sudah bosan hidup bersamaku karena serba kekurangan seperti ini? Apa yang harus kulakukan jika apa yang dikatakan oleh kakak tirinya benar? Bagaimana jika ia memilih berselingkuh dengan pria lain yang memiliki kekayaan?'
'Ataukah itu memang sudah terjadi? Aku harus bertanya padanya,' gumam Bagus yang saat ini memilih untuk berdiri dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin bicara denganmu! Kamu tidak sedang dekat dengan pria lain, bukan?" tanya Bagus yang saat ini sudah dipenuhi berbagai macam pikiran buruk di kepalanya saat ini dan semakin bertambah kesal karena sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
To be continued...