Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
231. Kecelakaan


__ADS_3

Derap langkah seorang pria menggema di lorong sebuah rumah sakit ternama di sana. Ia berjalan dengan langkah lebar, agar cepat sampai di ruangan yang ditunjuk oleh salah satu petugas rumah sakit.


Degup jantung terpacu lebih cepat, bercampur dengan kepanikan dan rasa khawatir yang membuncah di dada.


Arya segera bergegas ke rumah sakit saat mendapat panggilan telpon dari seseorang yang memberitahu jika sang ibu terlibat dalam sebuah kecelakaan beruntun.


Dari jarak beberapa meter, ia bisa melihat pria paruh baya yang tengah duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di luar ruangan.


"Pa ...." Arya berdiri di samping sang ayah dengan napas yang masih tersengal. "Bagaimana keadaan ...."


Belum sempat Arya melanjutkan kalimatnya, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat sempurna di pipi kanan pria tersebut.


Arya menatap sang ayah yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Masih punya nyali kamu datang kemari?"


Ari Mahesa yang merupakan sosok ayah tersebut menatap nyalang dengan mata merah penuh amarah pada putranya yang dianggap adalah penyebab dari semua yang terjadi hari ini.


"Jika saja mama kamu tidak mengunjungi klinik tempat wanita sialan itu melahirkan, kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi."


"Papa tidak akan pernah memaafkan kalian jika sampai terjadi apa-apa pada mama kamu di dalam sana, Arya!"


Sementara itu, Arya hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat mendengar kemurkaan dari sang ayah.


Ia enggan untuk menyanggah ucapan sang ayah. Saat ini, ia hanya ingin tahu keadaan sang ibu yang mengalami kecelakaan saat pulang dari kilinik bersalin.


"Kamu ...." Kalimat Ari Mahesa terhenti dan ia memegang dada kirinya yang terasa nyeri.


"Tuan. Sebaiknya Anda tenang. Jika terlalu emosi, kesehatan Anda juga akan menurun."


Seorang pria yang merupakan asisten pribadi, menenangkan pria tersebut dan kembali mengajak untuk duduk.


"Nyonya besar sedang menjalani operasi karena benturan yang cukup keras pada bagian kepala, sehingga menyebabkan pendarahan dan keretakan di bagian sana."


"Dokter akan melakukan penanganan yang terbaik untuk nyonya besar. Sebaiknya kita berdoa saja, agar operasi bisa berjalan dengan lancar." Pria tersebut beralih menatap Arya. Ia seolah-olah tahu akan kecemasan tuan mudanya tersebut.


Arya langsung terduduk lemas di kursi. Kakinya seolah tidak mampu untuk menopang beban tubuhnya. Pria itu terlihat menggeleng beberapa kali.


'Tuhan, tolong selamatkan mamaku.' Arya merafalkan doa dalam hati.


Rasanya semua terjadi begitu cepat. Baru saja beberapa jam lalu ia merasakan kebahagiaan karena bisa memeluk dua wanita yang sangat ia sayangi dan sama-sama berarti dalam hidupnya.


Akan tetapi, semesta seakan tidak ingin ia larut terlalu lama dalan kebahagiaan itu.


Arya mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk membungkuk dengan kedua tangan yang ia tumpukan di atas paha, sementara jari-jarinya meremas rambut dengan frustrasi. Arya memejamkan mata, berharap ini hanyalah mimpi.


"Apa belum cukup menyakiti mamamu dengan kamu lebih memilih wanita itu? Papa yakin, wanita itu sekarang tengah tersenyum puas mendengar kabar mamamu mendapatkan kecelakaan."

__ADS_1


Ucapan sang ayah yang begitu lirih, berhasil membuat Arya tersentak dari lamunannya.


Ia beralih menatap sang ayah. Netranya bisa menangkap sebuah kesedihan yang mendalam dari manik mata milik pria paruh baya di sampingnya.


"Istriku bukanlah wanita seperti itu karena aku sangat mengenalnya. Dia juga sama sedihnya seperti aku, Pa," sanggah Arya dengan cepat untuk mematahkan asumsi sari sang ayah.


"Ya, Papa lupa. Sampai kapanpun, kamu akan terus membela wanita itu." Sebuah senyum getir terulas di sudut bibir Ari Mahesa mendengar jawaban dari putranya


Arya menyadari itu adalah senyum kekecewaan yang saat ini ditampilkan oleh sang ayah.


"Pa, ini adalah kecelakaan dan siapa saja bisa mengalaminya. Papa ...."


Arya tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat gelengan kepala dari Putra Wijaya—asisten sang ayah. Arya mengerti arti dari gelengan dan tatapan mata pria tersebut.


Baiklah. Kali ini Arya tidak akan mendebat sang ayah dan memilih mengalah saja. Ia juga tidak ingin membuat pria itu semakin salah paham dan membenci Putri.


"Kenapa kamu tidak melanjutkan kalimatmu?" tanya Ari Mahesa seraya menatap tajam putranya.


"Tuan, sebaiknya kita fokus saja dengan keadaan nyonya. Anda tidak perlu memikirkan hal lain yang akan membuat kesehatan bisa menurun."


Putra mengingatkan sang atasan. Jika diikuti, perdebatan ayah dan anak itu tidak akan pernah ada akhirnya.


Hening. Tidak ada lagi yang berkata setelah Putra Wijaya mengucapkan kalimat tersebut. Mereka memilih untuk diam dan larut dalam pikiran masing-masing dengan hati yang masih diselimuti kecemasan.


Setelah lima jam lebih menunggu dalam diam, seorang dokter akhirnya keluar dari dalam ruang operasi.


"Dokter ...."


"Operasi berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala apapun. Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Untuk saat ini, pasien masih belum sadarkan diri."


Dokter memberikan penjelasan singkat. "Kita akan terus memantau kondisi pasien setelah dipindahkan nanti."


Ketiga orang yang sedari tadi dengan setia menunggu, akhirnya menghela napas lega setelah mendengar penuturan dari dokter yang menangani Rani.


Setelah di pindahkan ke ruang ICU, pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut untuk memantau kondisinya.


Dokter tidak bisa memberikan jaminan jika wanita paruh baya itu akan secepatnya sadar. Mengingat bagaimana kondisi cedera otak yang dialami oleh pasien akibat kecelakaan.


Sementara itu, Ari Mahesa meninggalkan Arya sendiri. Ada hal penting lain yang harus ia urus mengenai kecelakaan yang terjadi pada istrinya.


“Apa kamu sudah mengurus semuanya?” tanya Ari Mahesa pada asistennya.


“Sudah, Tuan. Supir truk penyebab kecelakaan itu langsung menyerahkan diri ke kantor polisi. Diduga rem mobil yang ia kendarai mengalami masalah dan pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut."


"Berapa banyak korban dari kecelakaan tersebut?” tanya Ari lagi yang masih ingin mengetahui tentang perihal kecelakaan yang terjadi menimpa sang istri.


“Enam, Tuan. Dua pengendara motor dan empat lagi pengendara mobil. Dari lima korban yang terluka, hanya nyonyalah yang mengalami luka paling parah,” tutur Putra menjelaskan.

__ADS_1


Ari Mahesa mengerutkan kening mendengar penjelasan asistennya. Pria itu menatap sang asisten untuk menuntut penjelasan.


“Satu korban lagi?”


“Satu korban dinyatakan meninggal dunia saat perjalanan menuju rumah sakit karena mengalami luka yang sangat parah, Tuan.” Putra menunduk saat mengatakan hal itu.


Penjelasan ambigu dari asistennya, membuat Ari semakin curiga dengan apa yang terjadi.


“Meninggal?” Ari coba mengulangi kalimat asistennya, memastikan jika ia memang tidak salah mendengar.


“Siapa?” tanyanya lagi dengan tatapan penuh sorot penasaran.


Putra tidak langsung menjawab pertanyaan sang atasan. Pria yang memiliki usia sepuluh tahun lebih muda darinya itu, tampak ragu ingin mengatakan apakah ini waktu yang tepat untuk memberitahu tuannya.


"Katakan siapa korban meninggal dalam kecelakaan tersebut!” Ari Mahesa meninggikan satu nada suaranya saat sang asisten hanya diam.


Perasaan pria paruh baya tersebut semakin tidak enak.


“Pak Pram, Tuan.” Putra menyerah dan memilih untuk memberitahu tuannya.


“Apa?” Ari Mahesa mengeleng tidak percaya.


Pram adalah supir pribadi keluarga yang sudah bekerja puluhan tahu. Pria tersebut bekerja pada keluarga Mahesa jauh sebelum mereka memiliki Arya. Tentu hal tersebut juga menjadi pukulan berat bagi Ari Mahesa.


"Besok, antar aku untuk menemui keluarga Pram di kampung halamannya.” Ari berucap sembari mengusap kasar wajahnya karena ikut merasa bersalah dan berdosa atas kejadian malang itu.


“Baik, Tuan. Saya sudah menyampaikan ucapan belasungkawa atas nama keluarga besar Mahesa dan saya sudah sampaikan jika Anda belum bisa menemui keluarga almarhum secara langsung karena kondisi nyonya."


"Mereka memahami jika kecelakaan itu bukanlah atas kesalahan keluarga Mahesa. Saya juga sudah mengutus beberapa orang untuk membantu mengurus jenazah sampai dengan proses pemakaman dan mengirim doa.”


Putra Wijaya menjelaskan. Ia tidak ingin ada pikiran lain lagi yang membebani sang atasan. Sebisa mungkin, akan mengurus semuanya.


Tidak bisa dipungkiri jika Ari Mahesa juga merasa kehilangan atas kepergian supir pribadi keluarganya yang begitu tiba-tiba.


Mengingat bagaimana parahnya luka yang dialami sang istri, memang besar kemungkinan Pram juga bisa mengalami luka yang parah.


Dari hasil penyelidikan polisi tentang kecelakaan tersebut, mobil yang dikendarai Pram memang yang paling parah.


Truk yang mengalami rem blong tersebut tepat berada di belakang mobil mereka pada saat kecelakaan.


Jadi, mobil yang membawa istrinya adalah yang pertama tertabrak truk tersebut sebelum supir membanting kemudi pada pembatas jalan. Beruntung, truk tersebut tidak sedang melaju dalam kecepatan tinggi.


Berita kecelakaan itu langsung naik ke permukaan dan nama-nama korban pun langsung menjadi perhatian publik.


Setelah berita itu naik, banyak ucapan duka cita atas kecelakaan yang di alami oleh Rani dari rekan bisnis Ari Mahesa.


Beberapa kerabat dan teman Rani dan Ari Mahesa mulai berdatangan ke rumah sakit untuk menanyakan kondisi wanita itu.

__ADS_1


Sayangnya, mereka tidak bisa melihat kondisi Rani secara langsung karena wanita itu masih belum sadarkan diri pasca operasi yang dijalani.


To be continued...


__ADS_2