
Di sisi lain, Jack saat ini ingin sekali berteriak dan mengumpat wanita yang dianggapnya sangat bodoh karena tidak menyadari bahwa pria yang dicari ada tepat di depan mata.
'Bagaimana kamu tidak tahu jika aku sangat mencintaimu dan menjadikan satu-satunya wanita yang bertahta di hati. Para wanita yang pernah berkencan denganku, tidak pernah mendapatkan cintaku.'
'Kenapa kamu sangat bodoh dalam urusan cinta? Rasanya aku ingin sekali menyadarkannya, tetapi sepertinya itu akan membuat hubungan kami semakin renggang. Biarkan saja semuanya mengalir seperti ini.'
'Aku harap suatu saat nanti kamu akan mengerti sendiri bahwa tidak ada wanita lain yang kucintai selain dirimu, Amira Tan.'
Jack keluar dari kamar dengan wajah gontai. Ia tidak bisa berpikir jernih untuk mencari sebuah ide agar bisa mendapatkan hati Amira Tan.
'Aku tidak tahu bagaimana caranya. Akan lebih baik jika pria itu segera pergi dari sini karena berkata bahwa akan kembali ke kampung halaman. Jika saat itu tiba, aku sudah tidak mempunyai saingan. Amira Tan pasti akan melihat bahwa rasa cintaku padanya jauh lebih besar dari apapun.'
Saat ia sudah menuruni anak tangga dan mendaratkan tubuhnya di sofa dengan berbaur bersama dua pria di hadapannya tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian, Amira Tan sudah memakai pakaian santai, yaitu setelan piyama berwarna biru. Ia menghampiri tiga pria yang sedang berbincang di ruang tamu.
"Apa yang sedang kalian bicarakan di belakangku?" tanya Amira yang saat ini melirik ke arah Bagus.
Jika sebelumnya mengalami masalah dan bertengkar hebat, kali ini ia tidak mempermasalahkan apapun lagi dan berpikir jika pria yang ada di hadapannya tersebut sangat tulus mengkhawatirkannya.
"Apakah kamu benar-benar mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja. Itulah kenapa aku bisa bertemu dengan Jack di tempat tinggalnya. Tadi Jack sangat marah karena mengkhawatirkan dan akhirnya membuat bartender itu babak belur."
Amira Tan seketika membulatkan mata begitu menyadari apa yang dikatakan oleh Bagus menjadi penyebab dari orang asing yang tadi ia hubungi dan marah-marah di ruangan.
"Jadi, Jack tadi menghajar bartender itu? Astaga! Kenapa kamu melakukan itu, Jack? Pria itu adalah orang yang baik karena sama sekali tidak menyentuhku. Aku memang dibawanya ke hotel, tetapi ia mengetahui apa yang boleh dan apa yang dilarang."
"Pantas saja aku tadi mendapatkan telpon dari nomor asing yang mengumpat dan menghinaku. Jadi, ini semua karena kamu penyebabnya?" Amira Tan kini mengarahkan tatapan tajam pada Jack karena merasa sangat kesal saat pria itu berbuat sesuka hati.
__ADS_1
Jack saat ini sama sekali tidak merasa menyesal karena telah menghajar pria yang sudah babak belur di bagian wajah.
"Itu adalah hukuman pada pria itu karena tidak mendengarkan perkataanku. Aku sudah memintanya untuk menurunkanmu dari motor, tetapi malah melanjutkan dengan kecepatan tinggi dan aku gagal mengejarnya."
"Kamu memang selalu seperti ini, Jack. Aku jadi berhutang budi pada pria itu." Amira Tan kini bangkit dari posisinya yang dari tadi duduk di sofa.
Ia berencana pergi ke tempat tinggal Noah untuk melihat keadaan pria itu. "Antarkan aku ke rumahnya sekarang!"
"Apa? Kenapa harus datang ke sana?" Jack kali ini bertambah kesal atas permintaan dari Amira Tan.
Di sisi lain, Bagus hanya diam saja karena bisa mengerti posisi Amira Tan yang saat ini merasa bersalah pada pria itu. "Jika Jack tidak mau, tidak masalah jika aku yang mengantarkanmu ke sana."
"Baiklah, kamu antarkan aku ke rumah bartender itu. Aku mau ganti pakaian dulu." Amira Tan langsung berjalan menuju ke arah anak tangga, meninggalkan tiga pria yang saat ini saling bersikap tersebut.
Jack semakin bertambah besar karena Bagus ikut campur urusannya dengan Amira Tan. "Dasar bodoh! Kenapa kau menawarkan bantuan untuk mengantarkannya ke sana?"
Kemudian ia mengangkat panggilan dari bosnya dengan menggeser tombol hijau ke atas.
"Bagus, cepat kau pergi ke alamat yang kukirimkan padamu karena ada pelanggan. Tadi pelanggan itu memesan taksi Jeff, tapi mengalami pecah ban, sedangkan yang lain sedang mengantarkan penumpang. Hanya kau yang tidak. Jadi, cepat ke sana!"
Bagus tidak bisa menolak perintah dari bosnya dan mengiyakannya. Kemudian mendapatkan alamat yang baru saja dikirimkan.
Ia seketika mengerjapkan kedua mata begitu alamat itu adalah tempat tinggal Putri. Bagus sama sekali tidak pernah menyangka harus mengantarkan tetangga Putri yang saat ini harus dijemput di salah satu Mall.
Di saat bersamaan, ia melihat Amira Tan sudah siap.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" Amira Tan berjalan menuju ke arah pintu utama setelah berpamitan pada sang ayah.
Sedangkan Jack yang masih merasa kesal, kini memilih untuk diam membisu. Hingga suara bariton dari Bagus, membuatnya seperti takdir berpihak padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Amira Tan karena barusan bosku menghubungi dan menyuruh untuk menjemput pelanggan. Jadi, aku harus pergi sekarang. Lebih baik kamu pergi bersama Jack. Maaf."
Bagus kini berpamitan pada ayah Amira Tan dan semuanya. Kemudian buru-buru menuju ke arah mobil taksi dan kemudian langsung mengemudikan meninggalkan area rumah mewah tersebut.
Tentu saja Amira Tan kini merasa sangat kesal karena tiba-tiba Bagus pergi. Padahal ia tadi berencana untuk membuat pria itu cemburu jika melihatnya bersikap perhatian pada bartender yang tengah terluka.
'Sial! Kali ini rencanaku gagal. Aku tidak bisa membuat Bagus melihatku bisa bersama dengan pria lain. Menyebalkan sekali.'
Lamunan Amira Tan buyar seketika begitu mendengar suara bariton dari Jack.
"Baiklah, aku yang akan mengantarkanmu. Ayo, kita pergi karena aku tidak akan membiarkanmu bertemu bajingan itu sendiri."
"Baiklah, kamu boleh mengantarkanku, tapi sesampainya di sana harus meminta maaf pada bartender itu." Amira Tan kini ingin memberikan sebuah hukuman pada Jack agar tidak selalu berbuat sesuka hati.
Terlihat Jack seketika membulatkan mata begitu mendengar perintah dari Amira Tan yang membuatnya merasa sangat lemas.
"Astaga, Amira. Apa tidak ada hal selain itu? Aku tidak mau meminta maaf pada si berengsek itu."
"Kalau begitu, jangan temui aku lagi!" Amira Tan memilih untuk berjalan keluar dari ruangan utama tersebut menuju ke arah mobilnya.
Sedangkan Jack kini mendapat sebuah semangat dari pria yang merupakan ayah wanita yang dicintai.
"Turuti saja perintah putriku. Anggap saja itu untuk mencari simpati dan harus bersikap baik, kan?"
Akhirnya, Jack yang tidak punya pilihan lain, memilih untuk segera menyusul Amira Tan karena tidak ingin pergi menemui sang bartender itu sendiri.
'Kenapa saingan aku semakin banyak dan membuatku makin tidak percaya diri pada kemampuan sendiri,' lirih Jack di dalam hati dan berlari menyusul Amira Tan yang sudah masuk ke dalam mobil.
To be continued...
__ADS_1