
"Aku tadi memang tidak berniat untuk datang menemui Putri, tapi saat dalam perjalanan pulang ke rumah, berubah pikiran. Aku berpikir ini adalah pertemuan terakhir antara ibu dan anak." Bagus memang tidak ingin ada kesalahpahaman, jadi ia memilih untuk menjelaskan hal yang sebenarnya.
"Pertemuan terakhir? Kamu berbicara seperti seseorang yang akan mati saja." Amira berbicara sinis karena masih berpikir jika Bagus hanya sedang menipunya. Jadi, ia tidak bisa menghilangkan rasa kesal dan marah pada pria itu.
Hingga ia menelan ludah dengan kasar ketika mendengar rencana besar yang diungkapkan oleh Bagus berhasil membuatnya merasa seperti kehilangan semangat.
"Aku bukan mau mati, tetapi akan pulang ke kampung dan tidak akan kembali lagi ke sini. Kamu tenang saja, seperti yang kukatakan bahwa aku tidak akan pernah menikah setelah bercerai dengan Putri. Jadi, kamu tidak perlu cemburu ketika aku saat ini berbicara dengan ibu dari anakku."
Bagus memang tidak bisa menerima cinta Amira Tan, tetapi ia juga berharap wanita itu tidak terluka dengan berpikiran buruk. Sebagai seorang pria dewasa, pastinya ia tahu jika wanita di hadapannya itu tengah merasa cemburu karena mencintainya.
Namun, meskipun ia tidak bisa memadamkan api cemburu karena tidak bisa menerima cinta kakak iparnya tersebut, tetapi tidak mau jika Amira berpikir jika ia akan memaksa Putri untuk kembali.
Ya, ia sudah melepaskan perasaan yang dimiliki. Bagus tidak akan pernah lagi menyimpan rasa cintanya untuk Putri. Ia berpikir bahwa sudah saatnya mengubur cintanya dan melupakan luka yang ditorehkan wanita itu.
"Apa kamu yakin akan pergi dari sini? Apa tidak bisa tetap berada di sini?" tanya Amira yang saat ini merasa sangat kecewa dengan keputusan Bagus.
Apalagi saat ia mendengar jika pria yang disukai tidak akan pernah menikah lagi, membuatnya patah hati. "Apa kamu ingin menjadi petani yang pergi ke sawah pagi hari dan pulang sore? Kemudian seharian di rumah dan asyik mendengarkan nyanyian hewan-hewan malam seperti jangkrik, kayak dan burung hantu?"
Kehidupan kampung seperti itu yang saat ini ada di otak Amira Tan saat ini karena ia hanya bisa melihat itu di televisi. Tanpa tahu dengan jelas tentang yang sebenarnya. Mungkin ia akan tahu jika melihat sendiri atau bahkan merasakan tinggal di kampung yang notabene jauh dari segala hiruk pikuk kesibukan seperti di kota besar.
Bagus hanya tertawa saat mendengar tanggapan Amira Tan yang dianggapnya sok tahu tentang kehidupan di kampung, tetapi itu malah cukup menghiburnya.
"Sepertinya kamu benar karena aku akan jauh lebih damai ditemani oleh binatang kecil yang setiap hari bernyanyi untuk menghiburku di malam hari. Sepertinya kamu melupakan hewan yang sering terlihat di kampung."
__ADS_1
Amira Tan kini merasa penasaran karena menganggap jika yang disebutkan tadi sudah mencakup hewan di kampung. "Memangnya hewan apa lagi?"
"Ular."
"Astaga! Apa kamu gila! Memangnya kamu mau tidur ditemani ular?" Amira Tan refleks memukul lengan kekar di balik kemeja yang dikenakan Bagus.
"Sepertinya kamu tidak percaya. Apa yang kamu katakan memang benar karena dulu aku tidur ditemani ular."
"Kamu hanya menipuku. Jika tidur dengan ular, yang ada malah kamu tidak bisa bangun karena sudah ditelan oleh ular di perut." Amira Tan kini memilih tidak menanggapi candaan konyol adik iparnya dan berniat untuk berjalan menuju ke arah pintu utama.
Hingga ia bisa melihat Putri yang saat ini berdiri di sana dengan menggenggam tangan balita laki-laki malang yang harus hidup tanpa kasih sayang seorang ibu di usia yang masih sangat kecil.
Hingga ia merasa iba dan ingin menggantikan peran Putri dengan menjadi ibu Putra, tetapi tidak mendapatkan tanggapan oleh Bagus. Tidak hanya itu saja, ia sempat mengatakan pada sang ayah bahwa menyukai seorang supir taksi, tetapi hanya mendapatkan sebuah kemurkaan dan semakin membuatnya merasa frustasi.
Amira Tan kini seperti biasa dan tidak berubah saat menyapa Putri. "Selamat atas kelahiran putramu." Memberikan kantong plastik berukuran cukup besar pada Putri.
Namun, ia cukup terhibur karena paling tidak, selama beberapa jam tidak akan merasa kesepian. Ada Bagus, Amira Tan dan putranya yang menemani dan membuatnya senang
Putri dari tadi berdiri di depan pintu dan merasa sangat aneh ketika melihat interaksi antara Bagus dan Amira yang seperti sangat dekat. Hingga terbersit di pikirannya jika mereka berdua memiliki hubungan.
Namun, beberapa detik kemudian, ia merasa jika itu tidak mungkin terjadi karena yakin jika pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut sangat mencintainya.
'Tidak mungkin Bagus tertarik pada saudara tiriku. Aku merasa heran karena kakak tiriku menyukai pria miskin dan tidak normal seperti Bagus. Amira pasti akan menyesal jika sampai menikah dengan Bagus.'
__ADS_1
Putri yang sibuk bergumam sendiri di dalam hati karena memikirkan saudara dan suaminya yang masih belum menjadi mantan, kini mengajak tamunya untuk masuk ke dalam.
"Aku ingin melihat putramu karena tujuanku ke sini adalah ingin menemuinya. Di mana kamarnya?" Amira Tan tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran karena ingin melihat seperti apa keponakannya tersebut.
Apakah mirip dengan Putri, Arya atau Bagus. Ia ingin memastikan sendiri dengan mata kepala dan menilai jika tes DNA dari keluarga Mahesa hanyalah sebuah kebohongan semata untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai tersebut.
"Ikutlah denganku!" Putri kali ini masih menggandeng tangan mungil Putra dan berjalan menuju ke arah ruangan kamar.
Sementara Bagus sama sekali tidak tertarik untuk ikut karena tujuan utamanya datang ke sana adalah ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan Putri sebelum kembali ke kampung halaman bersama putranya.
Hingga ia pun kini kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan melihat dua wanita bersaudara tersebut menghilang di balik pintu.
"Amira Tan tidak pernah berubah. Ia tidak pernah bisa sekedar untuk berbasa-basi terlebih dahulu saat bertamu."
Bagus memilih untuk menunggu sampai dua wanita itu keluar dengan menghilangkan kebosanan melihat ponselnya.
Sementara itu di dalam ruangan kamar yang saat ini sudah ada Putri dan Amira, tengah menatap intens wajah seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur pulas dan tidak bergerak sama sekali.
Hanya embusan napas teratur terdengar dan aroma khas bayi yang sangat segar menguar di udara.
Amira Tan menatap wajah bayi laki-laki itu dan hanya bisa berkomentar di dalam hati. 'Aku sekarang yakin jika hasil tes DNA itu palsu. Melihat wajah bayi ini, sudah bisa kumengerti jika dia adalah buah hati antara Putri dan Arya. Bukan benih Bagus yang lemah itu.'
'Bahkan Ari Mahesa sampai tidak mau mengakui cucu sendiri hanya karena tidak ingin malu jika mempunyai menantu seperti Putri. Mereka memang kaya, tetapi sama sekali tidak punya hati.'
__ADS_1
Amira Tan kini ingin memastikan sesuatu pada Putri dan memilih untuk menanyakannya. "Apa kamu akan kembali pada Bagus jika rumah tanggamu berantakan?"
To be continued...