
Beberapa saat yang lalu sebelum Arya datang ke kontrakan Putri ...
Saat ini, Arya yang masih bermalas-malasan di atas ranjang karena sibuk memikirkan hubungannya dengan Putri yang masih belum memiliki kejelasan karena ada banyak kendala dan hambatan yang dirasakan olehnya karena perbuatan sang ayah.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sang ayah benar-benar membuat semua orang yang dikenal tidak bisa membantunya. Padahal ia mempunyai banyak teman, tapi tidak ada satu pun yang berani membantunya karena takut pada ancaman ayahnya.
"Sial! Aku tidak punya uang sama sekali sekarang. Bahkan untuk membeli rokok saja tidak ada. Rendi memang mengizinkan aku tinggal di sini, tapi aku tahu ini tidak akan lama. Semoga saja Putri bisa membujuk pria itu agar mau menerimaku tinggal di sana sampai orang tuaku mau merestui hubungan kami."
Saat Arya berniat untuk meraih ponsel miliknya di atas nakas, ia ingin menghubungi sang kekasih yang merupakan satu-satunya harapan dan menanyakan perkembangan dari idenya semalam. Apakah Putri sudah bertanya pada pria itu atau belum.
Apakah pria itu menerima atau tidak? Ia harus segera bertanya pada Putri sebelum sang ayah kembali bertindak untuk semakin membuatnya merasa tersudut.
Namun, saat ini, indra pendengaran Arya menangkap suara dari Rendi di luar kamar dan membuatnya memasang telinga.
Tidak hanya itu, ia yang merasa ada yang tidak beres, kini mendengar suara sahabatnya yang seperti sangat kesal dan marah, sehingga memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu dan menemui Rendi.
Begitu melihat siluet Rendi dari belakang yang sedang memegang ponsel dan berbicara dengan nada cukup tegas saat menyebut namanya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya.
Namun, Arya masih terdiam di tempatnya untuk mendengarkan pembicaraan dari sahabatnya dengan sang ayah.
"Aku pasti akan bicara dengannya, Pa. Papa tidak perlu mengancam seperti itu. Kasihan Arya karena saat ini tidak mempunyai tempat tujuan karena papanya tidak mau membantu dan memilih untuk menyudutkannya."
Rendi masih berusaha untuk merayu sang ayah agar tidak menyuruhnya untuk mengusir Arya karena tidak tega melihat sahabatnya itu harus tidur di bawah kolong jembatan saat tidak mempunyai uang.
__ADS_1
"Jika kamu tidak segera mengusir Arya dari apartemen, yang ada nanti tuan Ari Mahesa memutuskan hubungan bisnis dengan keluarga kita. Kamu tahu, kan jika kekuasaan dari ayahnya sangat luar biasa dan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Mahesa. Jika kamu tidak ingin perusahaan bangkrut, lebih baik cepat usir Arya sekarang!"
Rendi yang kali benar-benar dibuat bingung karena harus memilih antara keluarganya atau teman baiknya, belum bisa membuka suara.
Namun, sangat terkejut begitu melihat Arya tiba-tiba datang merebut ponsel miliknya dan memilih untuk mendengarkan pembicaraannya dengan sang ayah.
Bahkan ia yang berusaha untuk membuka mulut, tidak jadi melakukannya karena Arya kini mengarahkan tatapan tajam dan jari telunjuk di bibir, memberikan sebuah kode agar ia tidak bicara.
Saat Arya tidak jelas mendengar pembicaraan di telepon, ia langsung berinisiatif untuk merebutnya dan mulai mendengar suara bariton dari seberang telepon.
"Ini semua demi kebaikan keluarga kita, agar perusahaan tidak bangkrut. Lagipula Arya sudah dewasa dan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Jika dia tidak punya uang dan tidak ada yang membantunya, pasti akan kembali ke rumah dan itu jauh lebih baik dibandingkan tidur di jalanan. Lagipula ini bukan salahmu, tapi karena keinginan dari tuan Ari Mahesa."
Arya yang saat ini merasa sangat marah karena mendengar suara bariton dari seberang telpon menyebutkan sang sang ayah tengah berusaha untuk membuatnya hidup semakin menderita saat memilih untuk keluar dari rumah.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa maksud dari sang ayah yang masih berusaha untuk ikut campur setelah mengusirnya dari rumah.
Kini ia mengembalikan ponsel itu kepada sahabatnya yang masih diam membisu di tempatnya, seolah merasa bersalah padanya. Namun, ia tidak bisa mengeluarkan komentar apapun karena perasaannya benar-benar sangat kacau hari ini
Arya kini memilih untuk berjalan menuju ke ruangan kamar karena ingin berkemas. Sebelum diusir oleh sahabatnya dan membuat ia kesal sekaligus mengerti dengan perasaan dari Rendi, Arya memilih untuk pergi secepatnya.
Begitu berada di dalam kamar, ia sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dengan perasaan berkecamuk karena saat ini bingung harus pergi ke mana.
"Ini benar-benar sangat keterlaluan. Apa mau papa sebenarnya? Bukankah dia sudah mengusirku? Lalu kenapa masih mencampuri urusanku saat sudah tidak tinggal di rumah. Ini sangat keterlaluan. Aku semakin kesal dan tidak ingin kembali ke rumah."
__ADS_1
"Aku akan membuktikan pada papa dan mama, bahwa masih bisa hidup tanpa mereka, tapi sekarang aku harus ke mana? Semua saudara dan teman sudah tidak mungkin berani menerimaku tinggal di rumah mereka. Bahkan aku sekarang sudah tidak punya uang."
Saat Arya baru saja menutup mulut, ia merasakan sebuah tepukan di pundak dan membuatnya mengerti siapa yang datang.
Ia menoleh ke arah belakang dan bisa melihat raut wajah penuh penyesalan yang ditunjukkan oleh sahabatnya.
"Maafkan papa dan aku," ucap Rendi yang kini merasa sangat menyesal karena tidak bisa membantu sahabatnya lagi.
Sebenarnya tadi ia sangat menentang pemikiran sang ayah yang menyuruhnya untuk secepatnya mengusir Arya dari apartemen.
Ia benar-benar tidak tega, tetapi saat sang ayah mengatakan bahwa perusahaan terancam bangkrut jika ayah Arya mencabut saham, membuatnya tidak ada pilihan lain. Namun, begitu melihat sahabatnya tengah berkemas karena sadar diri, membuatnya merasa semakin bersalah.
"Apa rencanamu? Kamu mau pergi ke mana?"
"Tidak perlu meminta maaf padaku karena ini semua bukan salahmu, tapi salah papaku. Aku tidak tahu harus ke mana karena saat ini otakku buntu dan tidak bisa berpikir. Sebenarnya aku kemarin asal bilang pada Putri untuk mengatakan pada suaminya agar mengizinkan aku tinggal di sana setelah menikah."
"Namun, aku sama sekali tidak pernah menyangka jika yang terjadi adalah seburuk ini. Papa semakin menekanku dan membuat aku seperti tidak bisa bergerak leluasa. Menurutmu, apa pria itu akan memberikan izin?"
Arya yang kini menatap intens sahabatnya, kini menunggu jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Meskipun sebenarnya sudah mengetahui jawabannya karena tidak mungkin seorang suami mengizinkan pria selingkuhan istrinya tinggal di rumah yang sama.
Apalagi jika posisinya dibalik, maka ia mungkin akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya. Refleks Arya yang menyadari kebodohannya, kini tertawa miris.
Apalagi ia melihat raut wajah dari sahabatnya kali ini menunjukkan kebingungan dan seperti enggan untuk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kau pasti sekarang merasa aku sangat bodoh karena perbuatan orang tuaku yang tidak merestui hubunganku dengan Putri."
To be continued...