
Bagus seketika membulatkan mata begitu mendengar nominal uang yang diinginkan oleh wanita yang berbicara seperti tanpa dosa tersebut.
Bahkan selama ini ia hidup pas-pasan karena gaji juga tidak seberapa. Meskipun setiap hari ia selalu bersyukur karena masih bisa diberikan kesehatan agar tetap bekerja dan memberikan nafkah kepada keluarga kecilnya.
Karena baginya, kesehatan adalah nikmat tak terhingga yang patut disyukuri karena meskipun kaya, jika sakit, tidak akan bisa menikmati dan hanya akan dihabiskan di rumah sakit. Sementara saat ini ia sangat sehat dan bisa bekerja setiap hari.
Meski ia tahu bahwa Putri selalu mengeluh tidak cukup atas uang belanja yang selama ini diberikan setiap minggu. Apalagi mengetahui bahwa kebutuhan hidup semakin meningkat karena harga bahan-bahan pokok sangat mahal.
Belum lagi biaya-biaya yang lain, seperti biaya sekolah, listrik, kontrakan dan kebutuhan mendadak lain seperti putranya saat sakit dulu. Bahkan saat ia menyisihkan sebagian penghasilan untuk menabung, selalu mengalami pengeluaran tidak terduga dan membuatnya mengambil simpanannya.
Karena itulah, simpanan miliknya hanya segitu dan diberikan pada Putri yang bahkan hanya memikirkan diri sendiri dengan mengorbankan mereka.
"Aku hanya bisa memberikan uang segitu karena memang yang kumiliki hanya satu juta. Mengenai masalah lainnya, kau bisa mencari jalan keluar sendiri. Bukankah pria itu terlihat sempurna di matamu? Jadi, suruh dia menjadi kepala keluarga yang baik dengan bekerja dan memberikan nafkah untukmu."
Tanpa memperdulikan ekspresi Putri yang berubah masam dengan bibir mengerucut dan aura yang memancarkan sangat kesal padanya, Bagus kini berbalik badan dan berniat untuk mengambil uang yang selama ini ia simpan tanpa sepengetahuan sang istri.
Bagus kali ini berjalan masuk menuju ke ruangan kamar dan membuka lemari untuk mengambil uang yang diselipkan pada saku celana panjang yang terlipat di dalam sana dengan rapi.
Sementara itu, sosok wanita yang masih belum juga merasa lega meskipun sudah mendapatkan pertolongan oleh Bagus, ia berpikir apa yang harus dilakukan setelah menikah dengan Arya, tapi tidak mempunyai uang sepeser pun.
Putri terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruangan kamarnya sendiri untuk mencari cara lain dengan bisa mendapatkan uang tambahan.
'Bagaimana ini? Aku harus mencari pinjaman pada siapa lagi? Tidak mungkin aku langsung menyuruh Arya yang merupakan keturunan dari keluarga konglomerat itu untuk bekerja setelah menikah denganku. Dia pasti akan merasa ilfil padaku.'
__ADS_1
'Arya bahkan tidak pernah bekerja kasar karena tangannya sangat halus melebihi tanganku yang merupakan seorang wanita.
"Apa yang harus kulakukan? Pada siapa lagi aku bisa meminjam uang empat juta sisanya?'
Entah sudah berapa menit berlalu karena saat ini Putri memutar otak untuk mencari pinjaman tambahan.
Mendadak ia mendapatkan sebuah ide di kepalanya begitu mendengar suara dari sosok pria yang membawa uang di tangan.
'Aku bisa memanfaatkannya lagi untuk menolongku,' gumam Putri yang saat ini sudah menemukan ide brilian.
"Ini uangnya! Setelah kamu menikah dengan pria itu, jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku. Hiduplah berbahagia dengan pria yang selalu kamu banggakan itu."
Bagus kini seperti baru saja melepaskan beban berat di pundaknya setelah memberikan uang pada sang istri untuk menikah lagi. Tentu saja ia seperti seorang pria yang sama sekali tidak mempunyai harga diri karena tidak marah pada wanita yang berselingkuh di belakangnya tersebut.
Ia benar-benar sangat tidak habis pikir. Kenapa sang istri berubah total semenjak berhubungan dengan pria yang merupakan keturunan konglomerat tersebut karena Putri seperti orang yang tidak pernah bersyukur.
'Sebenarnya pria itu hanya membawa pengaruh buruk untuk Putri, tapi dia sama sekali tidak menyadari itu,' gumam Bagus yang saat ini mengerjapkan kedua bola mata begitu mendengar komentar Putri.
"Sudah kukatakan bahwa uang segini tidak akan cukup untuk kebutuhan kami. Bukankah kamu dekat dengan wanita bernama Amira Tan itu? Jadi, kamu bisa meminjam uang padanya karena dia merupakan orang kaya."
"Katakan saja bahwa kamu ingin memberikan harta gono gini setelah menjadi suamiku selama lebih dari sepuluh tahun."
"Aku yakin dia tidak akan ragu untuk meminjamkan uang padamu karena menganggapmu adalah seorang pria yang sangat baik. Aku tadi bisa melihatmu bahwa dia sangat mengagumimu karena membelamu habis-habisan."
__ADS_1
Hanya itulah yang tersisa dari pikiran Putri saat ini. Ia kali ini berharap jika Bagus tanpa memikirkannya, langsung setuju.
Meskipun di depan wanita yang merupakan saudara tirinya tersebut, Putri benar-benar diuji kesabaran dengan kata-kata menyakitkan dan menusuk tepat di jantungnya, tetapi ia berpikir bahwa wanita itulah yang menjadi satu-satunya jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi bersama dengan Arya.
Ia berani meminjam uang pada siapapun yang mengenalnya meskipun sangat membenci karena berpikir bahwa nanti uang tersebut akan dikembalikan oleh Arya setelah pria yang sangat dicintainya tersebut kembali kepada keluarganya.
"Saat kamu meminjam uang pada Amira Tan, jangan pernah mengatakan bahwa itu uangnya akan aku pergunakan sebagai biaya pernikahan karena dia tidak akan pernah meminjamkan uang padamu karena dendam dan membenciku."
"Berbeda saat kamu mengatakan bahwa itu untuk harta gono-gini, karena merupakan tanggung jawabmu dan aku yakin bahwa dia pasti akan mau meminjamkan uang padamu. Seperti yang tadi kukatakan, aku butuh uang lima juta. Jadi, kamu bisa meminjam pada Amira Tan empat juta karena ini sudah ada satu juta."
Sementara itu, Bagus sama sekali tidak terpikirkan hal itu dan kali ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap tidak tahu malu wanita yang sudah sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.
"Apa kamu berpikir bahwa aku adalah pria yang bodoh? Bahkan kamu juga berpikir demikian pada saudaramu yang terpelajar dan cerdas itu. Dia tidak akan pernah tertipu karena mengetahui segala hal. Apalagi dia adalah seorang pengacara. Sadarlah itu!"
Bagus benar-benar sangat marah pada sosok wanita yang ada di hadapannya disebut. Namun, sialnya ia tidak bisa melakukan apapun untuk memberikan pelajaran demi meluapkan amarah.
Ia hanya memilih untuk menghilangkan perasaan membuncah yang dirasakan olehnya saat ini dengan cara merehatkan tubuh, serta mengistirahatkan otaknya yang dari tadi diforsir berlebihan oleh sang istri.
"Aku lelah dan ingin istirahat. Mengenai saran konyolmu itu, lebih baik kau lupakan karena Amira tidak akan pernah mau meminjamkan uang padaku. Lagipula aku tidak akan pernah mempermalukan diri sendiri untuk kesekian kali hanya karena dirimu."
"Sudah cukup aku kehilangan harga diri karena memberikan uang untuk biaya pernikahanmu."
To be continued...
__ADS_1