
"Kamu yakin tidak akan menelan ludah saat kuceritakan tentang malam pertama kami? Aku kasihan, nanti kamu langsung pergi ke kamar mandi," ucap Arya yang tertawa terbahak-bahak saat menanggapi pertanyaan sepupunya.
"Sialan! Kamu membuatku iri saja. Mentang-mentang yang sudah merasakan surga dunia, sekarang berlagak paling jantan. Sepertinya otakmu mulai terkontaminasi dengan hal-hal mesum, sehingga sangat ingin tahu dengan cerita malam pertamaku bersama kekasihku, tapi aku akan menjelaskan intinya saja."
"Biar kamu tidak merasa penasaran dan segera bermain solo di kamar mandi. Ternyata benar kata orang, kalau bercinta itu membuat kita merasakan surga dunia. Kalau kamu ingin merasakannya, sana cari sangkar yang pas untuk burungmu. Nikmatnya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
Sontak saja Risky terbahak mendengar kata-kata konyol yang merupakan ungkapan dari Arya.
"Sepertinya sepupuku sudah benar-benar gila karena berbicara se-vulgar ini tentang hal intim. Aku tidak tega padamu. Kamu boleh datang sesukanya, asalkan jangan buat berantakan apartemenku dan bersihkan bekas perbuatan kalian."
Kini, wajah Arya berubah berbinar begitu mendengar suara dari sepupunya yang memberinya izin untuk datang ke apartemen.
"Terima kasih. Kamu benar-benar bisa diandalkan. Baiklah, aku akan kembali menemui kekasihku dulu. Rasanya aku sudah rindu berat. Padahal baru beberapa menit tidak bertemu. Oh ya, passcode?"
"765431, itu passcode apartemenku. Memangnya sekarang kamu tidak sedang bersamanya? Kalau ada pria lain lain meliriknya, bagaimana?"
"Tenang saja, ia sangat tergila-gila padaku dan tidak akan pernah melirik pria lain. Ia akan langsung mengeluarkan taringnya saat ada pria iseng yang menggodanya. Jadi, aku sama sekali tidak merasa khawatir karena ia bisa melawan para pria hidung belang."
"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, bersenang-senanglah, Brother. Aku sedang sibuk sekarang. Bye."
Arya kini memasukkan ponsel ke saku celananya setelah sambungan telepon terputus. Ia pun mengedarkan pandangannya di lantai satu, mencari-cari di mana keberadaan sang kekasih yang diketahuinya tadi memilih beberapa barang.
Namun, saat melihat Putri terlihat tengah tersenyum manis pada seorang pria yang memunggunginya. Kedua tangannya langsung mengepal, rahangnya mulai mengeras dan sorot matanya berubah merah begitu melihat pemandangan yang berhasil membuatnya murka.
"Apa ini? Apa kamu sedang berselingkuh dengan seorang pria di belakangku? Berani-beraninya kamu bermain di belakangku. Sepertinya aku harus memberi pelajaran padamu agar tahu diri dan sadar akan posisimu. Siapa sebenarnya pria itu?"
Arya buru-buru berjalan menghampiri Putri dan berteriak dengan suaranya yang nyaring.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?"
Dengan mata penuh kilatan amarah, Arya langsung meraih bahu laki-laki yang berada di depan Putri dengan membalikkan ke arahnya seraya langsung melayangkan pukulan ke arah wajah pria yang membuatnya merasakan kemarahan yang luar biasa.
__ADS_1
Hingga suara pukulan yang cukup keras tersebut, serta merta membuat tubuh seorang pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut terhuyung ke belakang. Sontak saja darah segar menetes dari sudut bawah bibirnya yang robek.
Pria itu mulai mengusap darah di bibirnya dan kilatan amarah mulai terlihat jelas di netra pekatnya.
Sedangkan Putri yang melihat kejadian kekerasan di depan matanya, langsung menjerit karena ketakutan dan refleks memegangi telinganya.
Arya yang masih dikuasai oleh amarah, menatap tajam ke arah pria yang sudah dipukulnya tersebut.
"Jadi, kau laki-laki yang menggangu wanitaku? Apa kau ingin kuhabisi?"
Dengan tatapan yang sangat tajam, Arya beralih menatap ke arah Putri yang terlihat masih sangat terkejut.
"Cepat jelaskan padaku! Apa kau sedang berselingkuh di belakangku?"
Putri benar-benar merasa sangat terkejut dengan tuduhan konyol dari pria dengan wajah memerah tersebut.
"Arya, hentikan! Semua ini hanya salah paham! Lebih baik kita pergi dari sini. Aku akan menjelaskannya padamu."
Arya mengarahkan jari telunjuknya pada pria yang terlihat masih memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Mendengar perkataan Arya yang menuduhnya tanpa alasan, membuat emosi pria yang mengusap bibir itu semakin memuncak. Secepat kilat ia berjalan mendekati pria yang telah memukulnya dan melayangkan tinju pada wajah tampan pria di hadapannya.
"Dasar gila! Jaga perkataanmu itu! Kalau berbicara itu pakai otak, jangan mengandalkan emosi!"
Dengan wajahnya yang sudah berubah merah yang menandakan emosi sudah menguasai diri, pria bernama Baron mengarahkan tatapan menusuk.
Tentu saja tubuh Arya langsung terhuyung beberapa langkah akibat pukulan dari pria tersebut. Wajahnya pun terlihat memar akibat pukulan pria yang membalas perbuatannya..
"Berengsek"
Emosinya langsung bertambah dua kali lipat, Arya hendak menghajar pria yang sudah memukulnya. Namun, saat ia ingin menghampiri pria di depannya, Putri berteriak dan membuatnya bertambah kesal.
__ADS_1
"Arya, hentikan! Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Ia tadi menolongku dengan menggagalkan aksi pencopet yang akan mencuri dompetku. Aku tidak sengaja bertemu dengan pria ini di sini. Tadi, aku hanya mengucapkan terima kasih."
"Percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu dan sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan pria yang baru kutemui ini."
Putri kini bergelayut manja pada lengan Arya, untuk membuat pria yang diketahuinya masih berjiwa muda itu tidak lagi marah padanya.
"Percayalah padaku, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Tidak ada pria lain yang aku cintai selain dirimu. Bukankah aku sudah membuktikan semuanya padamu semalam?"
Melihat sikap manja Putri, membuat amarah Arya sedikit mereda. Perlahan deru napasnya yang memburu mulai kembali normal, ia memandang ke sekelilingnya dan menyadari ada beberapa pengunjung yang memperhatikan keributan yang ia perbuat.
Lalu ia memegang tangan Putri dan mengusapnya. Tanpa sengaja tatapan Arya beralih menatap ke arah pria di depannya. Kemudian ia mengibaskan tangan.
"Pergilah! Sebelum aku membuat wajahmu babak belur."
Suara tawa dari Baron seolah mewakili bahwa ia saat ini sama sekali tidak takut akan ancaman dari pria yang menurutnya masih sangat muda tersebut.
"Aku kasihan sekali denganmu, wanita cantik karena memiliki seorang kekasih kekanakan. Jangan sampai kau menyesal saat memilih seorang pria muda untuk menjadi pasangan."
Puas mengejek, Baron yang tidak menunggu tanggapan dari pasangan kekasih tersebut, berbalik badan dan mengumpat di dalam hati.
'Seharusnya aku tadi biarkan saja wanita yang tidak kukenal itu dicuri dompetnya oleh pencopet. Kenapa malah repot-repot menolongnya. Bahkan aku tidak mendapatkan keuntungan karena hanya kerugian yang kudapatkan. Sial!'
Ia menyentuh sudut bibir yang robek akibat pukulan pria yang tidak dikenalnya dan salah paham padanya.
Sedangkan di sisi lain, Arya merasa sangat emosi mendengar kalimat bernada penghinaan terhadapnya dan Putri. "Sialan! Jika ia tidak pergi, aku sudah kembali menghancurkan wajahnya!"
Saat Arya merasa emosi, berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Putri ketika mengingat kalimat terakhir dari pria yang menolongnya.
'Tidak! Pria itu hanya berbicara omong kosong karena aku akan berbahagia dengan Arya. Aku tidak akan pernah menyesal seperti saat menikah dengan Bagus,' gumam Putri yang mencoba untuk menolak kekhawatiran dan ketakutan yang kini mulai dirasakan olehnya.
To be continued...
__ADS_1