Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
262. Merindukanmu


__ADS_3

Namun, saat hari ini ia melihat Putri berada pada titik terendah dalam hidup, membuatnya ingin memberitahukan rahasia besar yang selama ini ia tutupi.


Putri refleks langsung menggelengkan kepala karena bukan itu tujuan utama ia bertanya. Ia hanya ingin memastikan masih mempunyai seorang ayah kandung yang sehat. Hanya itu saja karena tidak berharap diakui oleh pria yang membuatnya bisa hadir di dunia.


Meskipun berasal dari hubungan terlarang. Ya, saat ini ia berpikir jika sang ayah masih hidup, paling tidak ada yang bisa dibanggakan di depan orang. Bahwa ia tidak sendirian di dunia ini karena masih mempunyai ayah dan dua saudara tiri.


"Tidak! Aku hanya bertanya saja. Semoga ayahmu akan sehat selamanya dan bisa melihatmu menikah dan menimang cucu. Ayahmu pasti akan merasa sangat bahagia jika itu terjadi."


"Sebenarnya ayahku ... bukan, tetapi ayahmu juga. Ia mengalami amnesia disosiatif dan tidak mengingat jika memiliki seorang putri dari wanita lain. Sebagian memorinya hilang saat mengalami penyerangan ketika pulang dari kantor. Ia hanya mengingatku satu-satunya putrinya."


"Apa?" Wajah Putri terlihat sangat terkejut dengan mata membulat sempurna karena sama sekali tidak pernah menyangka jika memori sang ayah hilang. Ia yang berpikir pria itu tidak pernah mau melihatnya karena membencinya, ternyata salah.


"Aku bisa mengajak ayah ke sini dan mengatakan jika kamu adalah temanku. Jika kamu ingin melihat ayah, aku bisa melakukan itu." Amira Tan saat ini tengah menghibur saudara tirinya karena ia merasa bersalah telah menyembunyikan tentang masalah tes DNA palsu yang dilakukan oleh Ari Mahesa.


Ia menganggap itu untuk menebus kesalahannya karena jika mengatakan pada Putri sekarang, yang akan mendapatkan masalah adalah Jack.


Jack tadi menceritakan padanya karena memang menganggap jika ia bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan rahasia. Jika sampai kabar ini tersebar sebelum pihak Mahesa angkat bicara, sudah dipastikan jika karir pengacara seperti Jack akan hancur.


Amira Tan hanya bisa melakukan hal itu untuk sedikit menghibur Putri. Hingga ia mengerutkan kening ketika mengetahui jawaban adik tirinya tersebut.


"Tidak. Aku sudah merasa senang karena kamu sudah tidak terlalu membenciku. Aku tidak ingin terbuai dengan sesuatu yang tidak jelas. Biarkan saja seperti ini dan anggap aku tidak ada untuk ayahmu. Dia akan selamanya menjadi ayahmu."


"Aku mempunyai ayah sendiri. Meskipun dia sudah meninggal, tapi paling tidak, aku merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Aku sudah selesai." Putri bangkit berdiri dari kursi dan membawa piring kotor ke belakang.


Ia mencuci piring dan meletakkan di tempat yang tersedia. Hingga suara dari ponsel Amira Tan yang berdering mengalihkan perhatiannya. Masih diam mendengarkan, Putri bisa menebak jika yang menghubungi adalah Bagus.


"Halo."


Amira Tan mengerutkan kening saat tiba-tiba Bagus menghubungi. Ia tahu jika pria itu tidak akan pernah menelpon saat tidak ada hal penting.

__ADS_1


"Apa kamu masih ada di rumah Putri?"


"Iya."


"Aku kehilangan dompetku. Sepertinya terjatuh di sekitar rumah atau sofa. Bisa tolong kamu carikan?"


"Baiklah. Aku akan mencarinya dan mengantarkan ke rumah nanti."


"Satu lagi."


"Apa?"


"Putra meminta jajanan yang tadi kubeli karena belum sempat menikmatinya. Tadi sebenarnya aku ingin membeli lagi di supermarket dekat rumah, tapi saat mencari dompet, ternyata tidak ada."


Saat Amira Tan hendak membuka mulut untuk berkomentar, ia mendengar suara tangisan Putra dan samar-samar mengatakan meminta jajan.


"Aku akan ke sana setelah menemukannya." Mematikan sambungan telepon tanpa mendengarkan tanggapan dari Bagus.


Putri yang saat ini melihat Amira Tan, ingin mengetahui apa yang terjadi dan begitu dijelaskan, ia pun langsung ikut mencari di sekitar area depan dan berpikir mungkin jatuh di sana.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat apa yang dicarinya berada di atas rerumputan dan mengambilnya, lalu membuka dompet itu. Ia terdiam sejenak dan seketika berkaca-kaca bola matanya begitu melihat foto berukuran kecil di sana.


Foto hitam putih tanpa warna itu adalah saat ia masih sekolah dan sama sekali tidak pernah menyangka jika Bagus masih menyimpan di dalam dompet saat ia sudah bersama pria lain.


"Kenapa kamu masih menyimpan ini? Padahal aku sudah menyakitimu. Dasar pria bodoh!"


Saat Putri hendak memberitahu Amira Tan bahwa ia telah menemukan dompet tersebut, berjenggit kaget saat berbalik badan dan ternyata saudara tirinya sudah berdiri tepat di belakangnya.


Sudah bisa dipastikan jika Amira Tan mendengar umpatan dan mengetahui jika di dalam dompet itu ada fotonya. Bahkan saat ini ia melihat raut wajah penuh kekecewaan yang ditampilkan itu merupakan sebuah bentuk patah hati.

__ADS_1


"Maaf."


Putri langsung memberikan dompet itu setelah ia mengambil fotonya. Padahal tadi ia berniat untuk membiarkan di sana karena berpikir jika itu mungkin bisa sedikit menghibur perasaan Bagus, tetapi ia berubah pikiran begitu saudaranya mengetahui hal itu.


Amira Tan menerima dompet kulit berwarna coklat tua itu. "Pria itu memang bodoh. Bahkan aku sudah berkali-kali mengatakan hal itu padanya, tapi sama sekali tidak tersinggung."


"Namun, aku sadar bahwa ada seseorang yang jauh lebih bodoh daripada Bagus."


Putri tentu saja bisa menangkap siapa yang dimaksud oleh Amira Tan dan ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan menepuk pundak wanita yang masih memakai seragam kantor tersebut.


"Sepertinya Putra sudah menunggu jajanan kesukaannya. Lebih baik kamu segera ke sana karena malam semakin larut."


"Kau benar. Tadi ia menangis tersedu-sedu saat meminta ini." Amira Tan menunjuk ke arah kantung plastik berisi aneka Snack di tangannya.


Putri pun mengangguk dan membuka mulut. "Tolong katakan pada putraku. Bahwa aku meminta maaf karena tadi memukulnya. Anak adalah seorang malaikat kecil yang tidak pernah menyimpan dendam dan selalu memaafkan perbuatan kesalahan ibunya."


Amira Tan membenarkan perkataan dari Putri dan memilih untuk masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin dan berbicara sebelum pergi.


"Kamu tenang saja. Nanti aku akan menyampaikan pada Putra. Aku pergi. Beristirahatlah dan jangan lupa kunci pintu!"


Setelah melihat Putri mengangguk perlahan, Amira Tan pun mengemudikan mobil meninggalkan area tempat tinggal Putri.


Di sisi lain, Putri masih belum beranjak dari tempatnya berdiri dan mengamati mobil berwarna merah yang semakin menjauh ditelan pekatnya malam.


Ia kembali ditemani kesunyian malam dan kesejukan angin yang berhasil menusuk hingga ke tulang.


"Apa kamu tidak datang lagi, Arya? Apa kamu tidak merindukan kami? Aku dan anak kita merindukanmu. Tuhan, lindungi suamiku dan jangan biarkan ia melupakan anak dan istrinya yang masih setia menunggu di sini."


Tanpa bisa ditahan lagi, kini bulir air mata mulai membasahi pipi putih Putri dan membuatnya tidak bisa menyembunyikan rasa sesak di dada.

__ADS_1


Tangisnya seketika pecah ditelan keheningan malam dan ia berlari masuk ke dalam rumah karena tidak ingin ada tetangga yang mendengarnya.


To be continued...


__ADS_2