Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
89. Merasa lega


__ADS_3

Hari sudah malam, Putri sedari tadi tidak bisa berhenti tersenyum saat memikirkan masa depannya nanti .Saat Arya menikahinya sesuai janji, walau hanya siri.


Putri kini tengah menyuapi putranya dan tidak lupa membereskan semuanya saat sudah selesai.


Beberapa saat kemudian, ia melihat Bagus yang tengah menidurkan putra mereka dan lebih memilih untuk membawa ponselnya.


Ia memanjakan matanya dengan melihat media sosial. Putri berpikir bahwa sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya, dan pastinya sangat menunggu hari itu datang.


Dering telepon terdengar, ponselnya pun ikut bergetar. Putri sedikit terkejut mendapati Arya yang meneleponnya. Apakah ia merindukannya? Pikir Putri saat ini.


Dengan cepat Putri menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. Berharap jika akan ada hal baik yang datang diantara mereka.


***


Sementara di sisi lain, Arya masih ragu dengan apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus memberitahu Putri atau tidak.


Ia ragu, bahkan merasa takut jika Putri meninggalkannya setelah mengetahui semuanya. Bahwa ia diusir dari rumah tanpa membawa apa-apa.


Hanya uang seadanya yang mungkin hanya cukup untuk makan beberapa hari saja. Apalagi ia biasanya selalu makan di restoran yang tentu saja harganya sangat menguras kantong.


"Ren, apa aku harus memberitahu Putri soal ini? Apa dia akan tetap memilihku meski aku tidak punya apa-apa?" tanya Arya pelan.


Rendi yang sedang meneguk air soda itu hampir saja tersedak, ia menoleh ke arah sahabatnya yang seperti sudah pasrah. Rendi tidak tega jika melihat sahabatnya yang biasa datar dan arogan seperti Arya mendadak menjadi jinak dan merepotkan seperti ini.


"Jika wanita itu memang mencintaimu, ia tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Ya, kecuali jika dia hanya mencintai uangmu saja, maka itu adalah bagian terburuknya," kekeh Rendi yang membuat Arya sontak merinding. Ia anggap itu sebuah lelucon?


"Aku benar-benar sangat ragu, Ren. Aku terlalu mencintainya dan tidak bisa kehilangannya, tapi sekarang juga merasa sadar diri. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuknya."


Rendi menghembuskan napas kasar. Kemudian ia menepuk pundak Arya dan mencoba memberikan solusi lainnya.


"Kau tanyakan langsung saja padanya sekarang. Kau tanyakan dan pastikan apa dia akan tetap bersamamu atau tidak," ucap Rendi yang kini ingin menenangkan perasaan sahabatnya.


Setelah dipikirkan, Rendi ada benarnya juga. Ia tidak bisa terus berpikiran negatif tanpa tahu apa kepastiannya. Namun, apakah jawaban dari Putri dapat membuatnya puas atau tidak.


Hingga satu keputusan sudah bulat, Arya akan memberitahu Putri akan masalah ini. Ia adalah seorang pria dan tidak pantas jika terus bersembunyi di balik masalah.

__ADS_1


"Halo," suara Putri di seberang sana terdengar sangat senang.


Apa Putri sudah memiliki harapan untuk menikah dengannya. Pria dengan kekayaaan yang membuatnya menyilaukan mata.


"Putri, bisakah aku menanyakan satu hal?"


"Tentu. Memangnya mau menanyakan apa, Arya?"


Arya terdiam dan menggigit kuku jarinya karena gugup. Ini lebih menakutkan dibanding apapun. Arya menelan salivanya kasar. Ia tunda terlebih dahulu telponnya. Arya kembali menetralkan suaranya, lalu ia lanjutkan perkataannya.


"Begini aku ...."


"Kamu tidak akan menikahiku?"


"Bukan. Bisakah kamu berjanji untuk tidak marah saat mendengarnya?" tutur Arya dengan wajah memerah penuh kecemasan. Akan sangat tidak lucu jika Putri tiba-tiba merajuk dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.


"Iya, lalu apa? Cepatlah," ujar Putri di seberang sana.


"Aku kabur dari rumah, orang tuaku tidak merestui dan menyuruhku untuk pergi saja, mereka menyita semua fasilitasku."


Arya menghela napas panjang, ia kembali melanjutkan perkataannya saat sudah siap.


Putri terdiam, tidak ada jawaban dari panggilan yang saling terhubung itu. Hatinya saat itu bagai dihancurkan begitu keras, sudah pasti Putri tidak mau hidup susah.


"Tentu. Kamu ingat, kebahagiaanku ada padamu," jawab Putri.


Mendengar hal itu, Arya tertegun tidak berkutik. Ia mencoba menyadarkan kepalanya. Apakah ini mimpi atau memang benar terjadi? Namun, jika dibilang mimpi, ini terlalu nyata.


"A-apa?" tanya Arya memastikan karena merasa tidak percaya mendengar jawaban wanita di seberang telpon.


Ia takut salah dengar dan berakhir memalukan. Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa gugup dan rasa penasarannya.


"Aku tetap akan menikah denganmu, Arya. Apa kamu pikir aku akan meninggalkanmu?"


Arya terdiam selama beberapa saat. Semua bebannya bagai terangkat. Hatinya merasakan sesuatu yang hilang, yaitu kecemasannya? Ia akui jika sekarang benar-benar sangat merasa terharu. Ternyata ia tidak salah memilih wanita.

__ADS_1


Putri mencintainya juga dengan tulus. Tanpa memandang apapun itu, baik harta atau yang lainnya.


"Arya," panggil Putri dari seberang telpon.


Sepertinya wanita itu kebingungan karena Arya yang mendadak terdiam setelah mendengar jawabannya.


"Terima kasih, Sayang. Namun, untuk biaya pernikahannya, bisakah kamu juga membantuku mencari caranya?"


"Tentu. Akan aku usahakan,"


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu. Semuanya kuserahkan padamu karena saat ini benar-benar tidak bisa berbuat apapun karena orang tuaku melarang semua yang kukenal untuk membantu."


"Kamu jangan khawatir. Aku sangat mencintaimu dengan tulus dan tidak memandang hartamu. Jadi, meskipun kamu sekarang tidak punya apa-apa, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Beristirahatlah dan jangan banyak beban pikiran. Aku mencintaimu."


Arya yang kini merasa sangat bahagia mendengar pengakuan Putri dan membuatnya tidak pernah menyesal memilih wanita itu dari pada keluarganya.


Kemudian Arya menutup panggilan tersebut dan meletakkan ponsel miliknya di sebelah tempat duduknya.


Rendi juga terlihat sangat puas saat melihat ekspresi Arya. Ekspresi yang sepertinya akan ia lihat sekali dalam hidupnya.


Arya melempar tatapan ke arah Rendi, ia tersenyum sambil berdiri dan menyerukan kalimat mengungkapkan rasa leganya.


Melihat sahabatnya yang bahagia, Rendi pun ikut bahagia. Ia dengan cepat langsung memesan makanan untuk merayakan kemenangan Arya.


Sementara itu, Arya masih terduduk dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa lega yang bercampur dengan bahagia, adalah hal yang dirasakan saat ini.


Tidak ada kalimat yang akan menggambarkan perasaan Arya saat ini.


Bahkan Rendi ikut bertepuk tangan saat Arya menceritakan percakapannya dengan Putri tadi.


"Sudah kubilang, bukan? Itu tandanya dia memang benar-benar mencintaimu. Jangan sampai kehilangan wanita yang sangat mencintaimu seperti itu," puji Rendi terhadap sahabatnya.


Arya mengangguk perlahan menuruti perkataan Rendi.


Hingga pada akhirnya mereka melakukan gerakan high five sebelum bel pintu berbunyi. Makanan mereka telah tiba dan tidak membuang waktu, langsung menyantapnya.

__ADS_1


Beberapa potongan pizza sangat cocok dengan minumam bersoda di malam yang sejuk ini dan tentunya berhasil mengenyangkan perut yang semula keroncongan.


To be continued...


__ADS_2