
Setelah selesai makan, Putri dan Arya keluar dari Mall. Mereka langsung masuk ke dalam mobil. Keduanya kini telah berada di dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.
Putri yang saat ini melihat ada banyak paper bag di kursi belakang, beralih menatap ke arah sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang mengenakan kemeja putih dan terlihat sangat memesona karena memiliki ketampanan yang berhasil membuat para wanita takluk di bawah kakinya.
Mata yang berkilat, serta tatapan menantang, seolah menegaskan bahwa wajah tampan itu adalah sebuah pahatan sempurna dan sanggup meluluhlantakkan kaum hawa yang menatapnya.
Lekukan pipi putih yang tajam, hidung mancung, bibir padat yang sensual dan lekukan kecil di dagunya yang sama sekali tidak ditumbuhi bulu-bulu halus sedikit pun.
Para wanita yang menyadari iris mata yang dimilikinya sangat berkilat. Rambut ber-pomade rapi dengan kepala yang elok, wajah keras, tampan, dan sangat indah selalu membuatnya digilai oleh para wanita, termasuk ia sendiri yang dari tadi tidak berhenti mengagumi pahatan sempurna di sebelahnya tersebut.
Sementara itu, Arya yang kini sudah mengemudikan mobil meninggalkan area Mall, melirik sekilas ke arah sosok wanita yang dari tadi tidak berhenti menatapnya.
"Jangan selalu menatapku karena aku tidak bisa bertanggungjawab saat kau berada di kontrakan. Jika kamu merindukan aku nanti, aku tidak mungkin datang karena takut akan dipukuli oleh para tetanggamu, Sayang."
Arya yang melihat respon Putri hanya terkekeh, ia menyadari bahwa hatinya bergetar saat berdekatan dengan seorang wanita cantik yang memiliki anak dua tersebut.
Bahkan ia menyadari saat bersama dengan Putri, selalu merasa sangat nyaman. Bahkan sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang sangat menarik dari wanita itu.
Arya membayangkan saat setiap hari ada yang selalu menyiapkan semua kebutuhan dan melayaninya bak seorang raja.
Dari tadi, sudut bibir melengkung ke atas, seolah menegaskan bahwa suasana hatinya sedang baik.
Sementara itu, Putri kini melihat mesin waktu di pergelangan tangan kiri. Tiga jam lagi adalah jam pulang suaminya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu karena saat ini sudah menyimpan sesuatu untuk mengobati kerinduanku padamu."
Menunjukkan sesuatu yang berada di dalam dompetnya pada Arya.
Arya yang kini tengah mengemudi, sekilas menatap ke arah dompet Putri dan melihat sesuatu miliknya di sana dan membuatnya sangat terkejut.
"Astaga, kapan kamu mencurinya?"
__ADS_1
Refleks Putri terbahak dan membuat ia merasa berhasil mengalahkan Arya. Kemudian ia memasukkan kembali tas miliknya di dalam tas.
"Tadi pagi saat kamu masih tidur, aku iseng-iseng membuka dompetmu untuk melihat isinya. Siapa tahu ada foto Early di sana, ternyata aku menemukan fotomu dengan masih mengenakan seragam sekolah.
"Sangat menggemaskan dan membuatku langsung mencurinya dan menaruh di dalam dompetku." Putri bercerita sambil terkekeh geli melihat ekspresi lucu wajah Arya yang kini berubah geleng-geleng kepala.
Arya yang saat ini merasa sangat heran sekaligus bangga memiliki Putri, kini mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
"Aku tadi memberimu kartu kredit, tapi kamu tidak mau dan beralasan nanti ketahuan suamimu, tapi malah menyimpan fotoku diam-diam. Apa kamu tidak khawatir pria yang kamu sebut tua itu tahu?"
Putri yang kini menunjuk ke arah gang kecil depan, kini menggelengkan kepala. "Belok kiri karena rumah wanita itu ada di dalam gang itu. Mengenai fotomu, itu kan kecil, tidak akan ditemukan olehnya karena akan menyimpan di tempat aman."
"Padahal kamu juga bisa menyimpan kartu kreditku di tempat yang aman. Sepertinya aku tahu kenapa kamu tidak mau menerimanya." Arya menghentikan mobilnya begitu Putri menunjukkan rumah berukuran kecil dengan cat tembok berwarna biru.
"Aku tidak ingin dicap sebagai wanita materialistis. Aku ingin kamu menyadari bahwa cintaku tulus padamu. Kamu tunggu sebentar di sini, aku akan menemui putraku."
Putri melepaskan sabuk pengaman dan saat hendak keluar dari mobil, ia merasakan pergelangan tangannya ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat yang tak lain adalah Arya.
"Berikan ini pada wanita itu sebagai bayaran menjaga putramu. Aku memberikan uang ini bukan karena menganggap kamu materialistis. Jadi, tenang saja."
Putri melihat dua lembar uang berwarna merah dan membuatnya tersenyum simpul. Kemudian mengambilnya. "Terima kasih. Aku tidak akan lama."
Putri pun kini langsung keluar dari mobil dan menutup pintu. Kemudian berjalan menuju rumah yang saat ini tertutup dan mengetuk pintunya.
Hingga beberapa kali ia mengetuk, tapi sama sekali tidak ada jawaban. "Kenapa sepi sekali? Ke mana wanita yang menjaga putraku?"
Raut wajah penuh kekhawatiran kini terlihat jelas dari Putri saat si pikirannya tercipta berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk.
"Dia bukan penculik anak-anak, kan?"
Merasa sangat takut sekaligus khawatir, Putri buru-buru berjalan menuju ke arah mobil dan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Wanita itu tidak ada di rumah. Bagaimana jika dia pergi dan menculik putraku?"
Wajah Putri kini sudah berubah pucat saat membayangkan terjadi hal buruk pada putranya. Diculik dan dijual organ dalam tubuh, kini hal itu yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Aku takut. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada putraku?"
Respon berbeda kini ditunjukkan oleh Arya yang terlihat sangat tenang. Ia kemudian menghibur Putri yang saat ini terlihat sangat panik.
"Jangan berpikir macam-macam dulu, Sayang. Hubungi wanita itu dulu. Bukankah kamu memiliki nomornya?"
Putri yang menyadari kebodohannya, kini buru-buru meraih ponsel miliknya di dalam tas.
"Kamu benar. Kenapa aku bisa lupa dan sebodoh ini? Aku memang dari semalam menonaktifkan ponsel karena tidak ingin pria tua itu mengganggu kita."
Saat ia berbicara sambil menyalakan kembali ponselnya, kini melihat banyak notifikasi masuk dan juga panggilan tak terjawab yang dilihatnya adalah dari sang suami.
Tanpa mempedulikan itu, Putri memilih membuka pesan dari wanita yang menjaga putranya. Begitu mengetahui apa yang terjadi, ia kini sudah membulatkan mata dan tubuhnya seketika lunglai. Seolah kehilangan tenaga begitu membaca pesan.
Putri, anakmu demam. Apa obat yang biasanya kamu berikan padanya? Aku akan pergi ke apotek untuk membeli obat.
Putri, kenapa tidak dibalas juga pesanku.
Akhirnya aku membeli obat seadanya di apotek.
Badan putramu masih panas.
Astaga, kamu di mana? Putramu memanggil-manggilmu dan menangis semalaman.
Aku membawa putramu ke rumah sakit karena panasnya tidak kunjung turun. Aku takut putramu akan mengalami kejang saat demam atau penyakit step yang merupakan kejang pada anak dan dipicu oleh demam yang biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.
To be continued...
__ADS_1