Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
71. Wanita misterius


__ADS_3

Sosok pria yang tengah berdiri di balik dinding kaca ruangan istirahat yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat saat jam makan siang.


Saat ini, sosok pria yang tak lain adalah Bagus sedang mengamati lalu lalang kendaraan. Ia kini tengah memikirkan sesuatu yang mengganggunya tadi pagi saat mencari penumpang.


Ketika ia berangkat, tidak sengaja menabrak mobil seorang wanita dan saat meminta maaf dan ingin mengganti rugi, malah mendapatkan tanggapan yang sama sekali tidak terduga.


Wanita itu sama sekali tidak meminta uang darinya karena malah memberikan sebuah kartu nama padanya dan membuat ia merasa sangat terkejut.


Saat ini, Bagus tengah memegang kartu nama wanita yang tadi mobilnya sudah ia tabrak hingga bagian depan ringsek.


"Siapa sebenarnya wanita itu? ucap Bagus yang dari tadi berada di tangannya.


"Wanita itu bahkan mengenal Putri dan benar-benar tidak sopan. Bisa-bisanya ia mengatakan menghubunginya saja jika nanti bercerai dengan istriku. Jika ia pria, aku mungkin sudah meninju wajahnya tadi."


"Bahkan sampai sekarang, pernikahanku baik-baik saja, tapi mengatakan tidak perlu membayar jika nanti mengurus perceraian di pengadilan saat menggunakan jasanya."


"Bagaimana mungkin aku bertemu dengan seorang pengacara yang mengatakan aku akan bercerai dengan istriku. Memangnya ia peramal? Bisa melihat masa depan orang dan mengetahui tentang rumah tanggaku?"


Bagus sama sekali tidak berniat untuk datang ke kantor di mana wanita itu bekerja.


Ia yang tadi mengirimkan pesan pada Putri untuk menanyakan mau dibelikan apa, tetapi tidak kunjung dibaca, berpikir bahwa wanita itu sedang tertidur pulas dengan putranya.


Kemudian menikmati bekal makanan yang dibawanya tadi.


Setelah beberapa saat berlalu, ia kembali memeriksa ponselnya. Sudut bibir melengkung ke atas begitu melihat pesannya yang tadi dikirimkan pada Putri baru saja dibaca.


Bagus kini memilih untuk menunggu pesannya dibalas dan berjalan ke arah kursi. Kemudian mendaratkan tubuhnya di sana sambil menunggu Putri membalas pesannya.


Hari ini ia tidak banyak mendapatkan penumpang dan membuatnya merasa sangat bosan, sehingga memilih untuk mengirimkan pesan pada sang istri.


Namun, setelah lama menunggu, tidak kunjung ada balasan dan membuatnya terlihat mengurutkan kening.

__ADS_1


"Padahal tadi Putri baru saja membacanya, tapi kenapa tidak membalas pesanku?"


Merasa sangat penasaran, ia kini sudah memencet tombol panggil dan setelah menunggu hingga beberapa saat, suara Putri terdengar serak dan bisa dipastikan baru saja bangun.


"Maaf mengganggumu, Sayang. Aku pikir kamu sudah bangun karena tadi membaca pesanku."


"Aku tadi terbangun dan melihat jam berapa di ponsel. Tidak sengaja aku melihat pesanmu, tapi saat ingin membalas, aku ingin buang air kecil. Setelah selesai, aku lupa untuk membalas pesan ini dan kembali pergi tidur sambil memeluk Putra."


Kini, Bagus mulai mengerti kenapa sang istri tidak membalas pesannya.


"Sepertinya kamu sangat mengantuk. Bagaimana keadaan Putra sekarang? Apa masih demam?"


"Tidak. Sudah jauh lebih baik setelah minum obat dan juga vitamin yang kemarin dari klinik."


Bagus saat ini tengah menimbang-nimbang untuk membicarakan tentang wanita yang tadi ditemuinya.


'Apa aku ceritakan tentang wanita aneh itu pada Putri? Bahwa tadi ada seorang wanita yang berprofesi sebagai pengacara mengatakan tentang perceraian dengannya,' gumam Bagus yang saat ini berpikir tidak boleh ada yang disembunyikan.


"Sayang, tadi aku bertemu dengan seorang wanita gila yang berprofesi sebagai pengacara."


Hening selama beberapa saat, seolah keduanya sedang sama-sama memikirkan apa yang ingin dikatakan. Hingga suara Putri dari seberang telpon mulai terdengar.


"Sepertinya ada wanita yang menyukaimu. Katakan saja kamu belum menikah dan siapa tahu akan dikejar oleh wanita itu."


Bagus yang merasa marah pada Putri, tidak membenarkan semua perkataan konyol istrinya tersebut.


"Apa kamu sudah gila, Putri? Atau kamu mau mengikuti jejak ibumu yang berselingkuh dengan seorang pria saat masih berstatus sebagai istri orang hingga menghasilkan dirimu?"


Bagus yang mengingat bahwa dulu Putri sering dikucilkan oleh para tetangga sekitar rumah karena merupakan anak hasil perselingkuhan, sehingga saat ia pertama kali bertemu, langsung mengungkapkan niat seriusnya.


Nasib baik niatnya ditanggapi serius dan menikah dengan Putri dan mengajaknya ke Jakarta untuk membuka lembaran baru. Tinggal di tempat yang baru, agar tidak mendengar gunjingan dari para tetangga yang mengatakan bahwa buah tak jauh dari pohonnya.

__ADS_1


Semua orang berpikir bahwa Putri akan meneruskan jejak sang ibu yang berselingkuh dan mendapatkan karma tertabrak mobil hingga isi perut keluar.


"Jangan pernah berbicara buruk, Putri karena perkataan adalah doa. Jangan sampai mengatakan hal yang buruk dan menjadi kenyataan. Seperti ibumu yang meninggal karena kata para tetangga terkena balasan dari perbuatan yang dilakukan di masa lalu."


"Kamu benar. Bahkan aku tanpa tahu malu bisa berbicara seperti ini, sedangkan ibuku adalah seorang wanita yang telah merebut kebahagiaan seorang istri dan anak. Ibuku mungkin akan selalu dihina adalah seorang wanita murahan karena berselingkuh, tapi seburuk-buruknya dia tetap adalah ibuku."


Bagus refleks merutuki kebodohannya karena terpancing emosi mendengar Putri tadi menyuruhnya untuk mengaku belum menikah padahal berstatus sebagai istrinya.


Bagus yang saat ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun atas perkataan Putri yang terdengar menyayat hati karena tidak ingin semakin menambah kesedihan dari wanita yang diketahui sama sekali tidak bersalah tersebut.


Hingga ia kembali mendengar suara seorang anak yang terdengar seperti menahan tangis.


"Aku benar-benar minta maaf padamu, Sayang."


Saat ia berniat untuk kembali meneruskan perkataannya, tidak jadi melakukannya karena sambungan telepon sudah terputus. Embusan napas kasar terdengar jelas dari mulutnya saat ini.


"Seharusnya aku tadi tidak menceritakan wanita itu hingga berakhir mengungkit tentang ibunya. Istriku sekarang jadi bersedih. Semoga ia tidak bertambah marah karena memikirkan perkataanku tadi. Sepertinya aku harus membereskan wanita sialan itu!"


Arya kini bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke arah pintu keluar. Ia ingin bertemu dengan sang pengacara yang tadi memberikan kartu nama padanya dan mengatakan bahwa ia akan bercerai dengan Putri.


"Sepertinya aku harus mencari tahu tentang apa yang wanita itu maksud tadi. Bila perlu, aku akan memberikan pelajaran agar wanita itu tidak berbuat gila. Apa ia ingin menghasut agar rumah tanggaku berantakan?"


Tidak ingin sibuk bertanya-tanya sendiri, kini Bagus memilih untuk pergi ke kantor wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.


Meskipun sebenarnya di dalam hati, ia merasa sangat gelisah jika sampai ada hal buruk mengenai rumah tangganya.


"Semoga wanita itu hanya iseng saja dengan menyebutkan masalah perceraian tadi."


Meskipun membantah dan mengatakan bahwa rumah tangga baik-baik saja, tidak menghilangkan kegelisahan di dalam hati Bagus saat ini. Jujur saja ada kekhawatiran jika perkataan wanita benar-benar terjadi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2