Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
136. Rencana pertama


__ADS_3

Sosok wanita yang saat ini masih mengenakan pakaian kerja, tak lain adalah Amira Tan terlihat baru saja turun dari mobil dan berjalan menemui seorang pria paruh baya yang merupakan orang yang akan menikahkan saudara tirinya hari ini.


Tadi ia terlebih dulu menghubungi melalui telpon untuk mengungkapkan apa yang diinginkan mengenai pernikahan siri dari Putri.


Bahkan ia sampai mengeluarkan banyak uang untuk mengurus semuanya karena pernikahan diadakan mendadak, sehingga membutuhkan lebih banyak uang.


"Berapapun biayanya, aku akan membayar. Sebutkan saja karena aku ingin masalah ini cepat selesai dan wanita itu bisa segera menikah. Aku sudah mengirimkan alamatnya. Jadi, kalian bisa langsung ke sana dan membawa mereka karena pernikahan tidak boleh dilakukan di kontrakan."


Kini, dua pria yang berdiri di hadapan sang wanita cantik dan masih muda tersebut, repot langsung menghentikan kepala tanda mengerti karena tadi memang sudah dibahas di telpon.


"Baik, Nona. Saya akan langsung datang ke sana sekarang. Mengenai uangnya, mungkin nanti setelah semuanya selesai saja. Anda bisa langsung mentransfer ke rekening saya."


Tidak ingin membuang waktu, Amira Tan yang kini menganggukkan kepala, memilih untuk segera berpamitan karena melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan bahwa setengah jam lagi pertemuan dengan klien di salah satu restoran mewah.


Ia masih harus mengantarkan Bagus untuk sementara waktu berada di apartemen yang tadi dijanjikan olehnya.


Begitu melihat sosok pria yang sedang memangku bocah laki-laki berusia 3 tahun tersebut, ia benar-benar iba pada nasib ayah dan anak tersebut.


"Kita mampir ke supermarket depan untuk membeli makanan karena di tempatku tidak ada stok sama sekali. Kasihan nanti putramu akan kelaparan. Apalagi setelah berada di apartemen, akan sangat malas untuk keluar mencari makanan."


Sementara itu, Bagus saat ini tidak mood untuk berbicara, sehingga hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mulut. Ia dari tadi sibuk mengusap punggung putranya yang terlihat sangat senang karena bisa naik mobil mewah dan juga bermain dengan mainan baru.


'Putraku bahkan tidak mengetahui bahwa ibunya akan menikah dengan pria lain dan sebentar lagi meninggalkannya. Maafkan ayah karena telah gagal membangun keluarga bahagia bersama ibumu.'

__ADS_1


'Jangan membenci ibumu yang suatu saat nanti mungkin akan melupakanmu dan lebih bahagia hidup bersama dengan orang lain tanpa kalian. Jika ayah bisa memberikan kehidupan yang layak dan kepuasan batin untuk ibumu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.'


Meskipun merasa sesak di dalam hati, ia masih berusaha untuk bersikap tenang karena tidak ingin terlihat lemah di depan saudara tiri Putri yang kini sudah sibuk mengemudi dan fokus menatap ke arah depan.


Saat ia mengalihkan pandangan dari putranya ke arah jalanan ibu kota dengan banyaknya kendaraan melintas, mendengar suara ponsel miliknya yang berada di saku celananya berdering.


"Sebentar, Sayang."


Bagus kini sedikit menggeser tubuh putranya dari pangkuan karena akan mengambil benda pipih dari saku celana dan begitu melihat daftar kontak yang menghubungi, membuatnya mengerutkan kening karena merasa aneh.


"Siapa? Kenapa tidak kamu angkat?" tanya Amira Tan yang saat ini sekilas menoleh ke arah sebelah kiri ketika merasa aneh begitu Bagus terdiam sejenak, seorang ragu untuk mengangkat panggilan yang tidak diketahuinya dari siapa.


"Tumben tetangga sebelah rumah menelpon. Biasanya wanita ini tidak pernah menghubungiku. Aku pun kurang suka dengan wanita ini. Karena dia asyik bergosip dengan yang lain untuk membicarakan keburukan tetangga sendiri."


Tentu saja ia mengetahui bahwa kehidupan orang-orang yang berada di sekitar area kontrakan Bagus sering sekali meresahkan karena mendengar cerita dari pria itu saat membahas para tetangga sekitar saat selalu ikut campur.


Sementara di sisi lain, Bagus merasa khawatir jika itu benar-benar terjadi karena jujur saja semenjak keluar dari rumah tadi, berpikir hal buruk, yaitu para tetangga akan murka begitu mengetahui perselingkuhan Putri di dalam rumah dan ia sama sekali tidak mempermasalahkannya.


Tidak ingin bertanya-tanya di dalam hati, kini ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara gaduh dari seberang telepon, sehingga semakin membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi.


Satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya adalah ada tetangga yang menangkap basah Putri ketika sedang bercinta dengan pria itu. Padahal ia tadi sudah mengeluarkan ancaman agar pasangan terlarang itu tidak melakukan hal-hal yang buruk di kontrakan sebelum dinikahkan.


"Halo, Bagus. Kamu ada di mana sekarang? Cepatlah pulang karena saat ini terjadi hal buruk dikontrakanmu!"

__ADS_1


Jantung Bagus seketika berdebar kencang saat suara dari seberang telepon membuatnya berpikir bahwa saat ini sang istri dan selingkuhannya tertangkap basah oleh para warga. Bahkan ia saat ini berpikir bahwa Putri dan Arya diarak oleh para warga dan dipermalukan.


Tidak ingin sibuk menebak-nebak sendiri, ia langsung bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada di rumah kontrakan.


"Ada apa? Aku saat ini sedang bekerja? Katakan saja padaku karena harus kembali mengemudikan taksi mencari penumpang."


Terpaksa ia berbohong karena tidak ingin terlihat bodoh saat mengetahui bahwa wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut berada di kontrakan dengan pria selingkuhan dan ia akan menikahkan mereka, tetapi secara diam-diam dan mengatakan kepada para tetangga bahwa keduanya adalah masih saudara jauh.


Ia masih menyembunyikan aib dari Putri karena sebelum sah bercerai dengan ibu dari kedua anaknya tersebut, akan tetap melindungi dan menjaga nama baik wanita yang telah mengkhianatinya.


Hingga suara gaduh dari seberang telpon semakin membuatnya merasa khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk pada Putri. Hingga penjelasan dari wanita yang merupakan tetangganya dan suka bergosip tersebut seketika membuat bola matanya membeliak karena terkejut.


"Ada seorang wanita yang merupakan ibu dari pria selingkuhan istrimu baru saja mengamuk dan tidak berhenti menarik rambutnya. Bahkan suara teriakan wanita itu berhasil membuat semua tetangga datang untuk melihat karena merasa sangat penasaran. Apa kamu tidak mau pulang melihat istrimu yang berselingkuh?"


Refleks Bagus kini mematikan sambungan telepon dan menoleh ke arah wanita di belakang kemudi.


"Antarkan aku ke kontrakan sekarang karena terjadi sesuatu pada istriku. Ibu pria itu mengamuk pada Putri dan membuat semua orang sekarang mengetahui apa yang terjadi pada rumah tanggaku."


Sementara itu, Amira merasa puas begitu mendengar apa yang terjadi pada saudara tirinya tersebut karena menganggap hukum tabur tuai mulai bekerja dan ingin sekali pria yang terlihat sangat khawatir tersebut hanya melihat tanpa campur tangan.


Ia masih terlihat tenang dan sekilas menoleh ke arah Bagus. "Biarkan saja. Ini adalah hukuman bagi Putri karena mengkhianatimu. Jika kamu saat ini datang ke sana, hanya akan menambah rasa malu karena menjadi seorang suami yang gagal dan dikhianati."


"Lebih baik kamu melaksanakan rencana pertama untuk memilih menenangkan diri di apartemenku bersama putramu. Biarkan saja Putri langsung dinikahkan karena orang-orang yang kusuruh sudah menuju ke sana."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2