
"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Arya saat melihat sang istri beranjak dari posisinya yang tengah berbaring.
"Aku dari tadi menunggumu," ucap Putri yang kini bisa melihat wajah sayu penuh kelelahan dari sang suami.
"Maaf, Sayang. Ponselku mati dan aku tidak membawa charger. Maaf sudah membuatmu khawatir." Arya duduk di samping istrinya dan mengecup lembut kuning wanita itu.
Putri mengangguk dan mengulas senyum tipis. "Bagaimana keadaan mama, Sayang?" tanya Putri kemudian.
"Kamu sudah tahu?" Alih-alih menjawab, Arya justru bertanya balik.
"Tadi aku mendengar berita tentang kecelakaan itu di televisi klinik. Aku cukup terkejut saat pembawa berita mengatakan jika salah satu korban adalah mamamu. Aku turut berduka cita atas musibah itu, ya, Sayang." Putri kali ini benar-benar berucap tulus dari dalam hati.
Tentu saja Arya menyadari ketulusan istrinya dan hanya mengangguk perlahan.
"Bagaimana keadaan mama sekarang?"
"Terima kasih, Sayang. Mama masih belum sadarkan diri pasca menjalani operasi di bagian kepala. Kita berdoa saja semoga mama cepat siuman."
"Kamu yang sabar, ya, Sayang." Putri menggenggam tangan suaminya. Ia tahu, Arya pasti merasa terpukul dengan kejadian yang begitu tiba-tiba.
"Aku masih tidak menyangka jika ini semua nyata. Baru saja aku merasakan kebahagiaan, tetapi seketika semua itu berganti dengan air mata." Arya memeluk erat tubuh Putri untuk mencari sebuah kekuatan agar tidak lemah.
Putri bisa merasakan jika pundak suaminya bergetar, pria itu menangis. "Mama pasti akan cepat siuman, Sayang."
Ia mengusap punggung suami tercinta, mencoba menyalurkan kekuatan pada pria yang dicintai saat tengah terpukul dengan musibah yang menimpa keluarga.
Arya benar-benar bersyukur memiliki istri seperti Putri yang selalu ada untuknya dan tidak pernah lelah mendampingi.
Bahkan selalu memberi dukungan padanya. Arya bisa melihat kesedihan yang sama terpancar di mata sang istri.
__ADS_1
Wanita itu seolah-olah sama terpukulnya dengan dirinya. Di depan Putri, Arya bebas untuk meluapkan segala apa yang ia rasakan.
***
Mentari sudah bersinar. Cahaya hangatnya masuk melalui celah ventilasi jendela, memberikan sensasi hangat yang menenangkan.
Sejak pukul enam pagi, Putri sudah mengemas barang-barangnya dan bersiap untuk pulang karena ia dan bayinya sudah diperbolehkan keluar dari klinik hari ini.
Pada akhirnya mereka akan kembali ke kontrakan, tempat tinggal yang selama ini ia dan sang suami tempati.
Malam tadi, Arya sudah menceritakan perihal sang ayah yang tidak setuju dengan keputusan sepihak ibunya.
Putri mengerti dengan keadaan tersebut karena ia sudah tahu jika itu memang bukan keputusan mertuanya.
Justru ia sendirilah yang menjebak wanita paruh baya tersebut agara masuk ke dalam permainan yang Rani buat sendiri.
"Sudah, Sayang."
"Kamu benar tidak masalah, kan, jika kita harus kembali tinggal di kontrakan?" tanya Arya ingin kembali meyakinkan pada istrinya jika wanita itu baik-baik saja.
"Tidak masalah, Sayang. Di manapun kita tinggal, aku tidak masalah selama itu bersama dengan kamu."
Jawaban Putri berhasil membuat hati Arya berbunga karena bahagia.
"Terima kasih, Sayang." Arya memberikan kecupan sayang di kening istrinya dan dibalas dengan anggukan, serta senyum manis yang terbit di wajah Putri.
Beberapa saat kemudian, mobil yang membawa Arya dan Putri serta bayi mereka meninggalkan pelataran rumah sakit dan siap mengantar keluarga kecil tersebut kembali ke rumah kontrakan sederhana yang menjadi tempat ternyaman selama mereka bersama.
Karena di dalamnya terdapat banyak cinta kasih yang mampu menciptakan kehangatan yang membahagiakan.
__ADS_1
Tidak peduli seburuk apa tempat itu di mata orang yang memandang rendah mereka, selagi masih ada cinta kasih yang menaungi, maka hanya kebahagiaan yang dirasakan.
Jarak antara klinik tempat Putri melahirkan dengan rumah kontrakan mereka tidaklah terlalu jauh. Hanya memakan waktu 15 menit menggunakan mobil.
Dari awal kehamilan, Putri memang sudah merencanakan akan melahirkan di sana karena hidup mereka yang sedrhana tidak memungkinkan untuk wanita itu melahirkan di rumah sakit dan bisa mendapatkan pelayanan lebih mewah.
Putri cukup sadar diri dan tidak ingin terlalu banyak menuntut pada suaminya. Bisa melahirkan dengan normal dan bayi mereka lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun, itu sudah lebih dari cukup.
Keadaan kontrakan cukup rapi saat Arya membuka pintu. Itu karena Arya memang sudah menyuruh orang untuk merapikan tempat tinggal mereka.
"Kamu siapin ini sendiri, Sayang?" tanya Putri pada suaminya.
Ia cukup terkejut karena di kamar mereka sudah terdapat box bayi dan lemari kecil untuk menyimpan pakaian bayi mereka.
"Tidak, karena aku menyuruh orang, Sayang. Maaf kalau ini tidak seperti harapan kamu. Aku belum bisa memberikan tempat yang mewah untuk bayi kita."
"Sayang, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih, Sayang." Putri memeluk suaminya yang tengah mengendong bayi mereka.
"Kamu adalah seorang ayah yang luar biasa. Putra kita pasti bangga memiliki ayah seperti kamu. Iya, 'kan, Sayang?"
Putri beralih menatap bayi kecil yang tengah memejamkan mata tersebut. Ia kemudian mencium pipi merah bayinya, membuat bayi mungil itu menggeliat, tetapi tidak sampai terbangun.
Setelah mengantar istri dan anaknya, Arya memilih untuk beristirahat sebentar. Barulah setelah makan siang, ia pergi kembali ke rumah sakit, di mana mamanya dirawat untuk mengetahui kondisi wanita itu saat ini.
Sebelumnya, ia sudah meminta izin pada Putri jika siang ini akan pergi kembali ke rumah sakit dan merasa senang saat sang istri mengizinkan.
Bahkan Arya sudah mencoba menghubungi sang ayah untuk menanyakan perihal kondisi sang ibu, tetapi pria paruh baya tersebut tidak kunjung mengangkat panggilannya. Arya memutusakan untuk datang sediri agar bisa memastikan langsung.
To be continued...
__ADS_1