
Pertemuan dengan Klien berjalan dengan lancar, semua bisa dihadapi oleh Arya dan Calista. Keduanya adalah pasangan yang membuat Rudi kagum.
Semua itu karena beberapa hari saja sudah membuat perusahaan mendapatkan keuntungan hampir sepuluh persen.
Menjadi seorang ahli perbankan menjadi sebuah keuntungan bagi Calista. Ia sudah memikirkan dengan baik nilai-nilai yang bisa didapatkan perusahaan dengan kinerjanya.
Bahkan, setiap proposal yang akan diajukan, sudah diperiksa olehnya dan Arya sebelum benar-benar diterima Ari Mahesa.
Prosedur pekerjaan mereka juga diawasi oleh orang kepercayaan Ari Mahesa yang bernama Henry. Selama keduanya bekerja, Henry bertugas untuk mengawasi setiap pekerjaan yang tengah mereka kerjakan.
Henry juga melihat kedekatan keduanya tampak lebih intim dari sebelumnya. Terlihat dari cara berjalan keduanya yang berdampingan dan terkadang sikap manis Arya pun terlihat jelas di depan publik.
“Hari ini kita makan malam bersama, bagaimana? Untuk merayakan kesuksesan kita hingga mendapat penghargaan karena telah membawa keuntungan bagi perusahaan," ujar Arya yang saat ini ingin merilekskan pikirannya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Pekerjaan yang cukup menguras otak dan tenaga, tetapi terbayar sudah lelahnya karena mendapatkan kesuksesan saat mendapatkan proyek kerjasama dengan nilai fantastis dari klien besar yang menerima persentasinya barusan bersama dengan Calista.
“Kamu memiliki waktu malam ini? Aku pikir kamu tidak akan mengajakku makan malam.”
“Semua itu karena kita sedang di luar dan sekarang sudah waktunya jam makan malam. Kalau tidak percaya, lihat jam tanganmu.”
“Kamu benar. Kita terlalu rajin bekerja, sehingga tidak tahu jam sudah lewat dari seharusnya.”
“Ya. Ayo! Kita makan bersama.”
Arya menepikan mobil disebuah restoran dan mereka duduk di sudut ruangan, memesan beberapa makanan.
Setelah itu, keduanya tampak lebih serius untuk mengenal satu sama lain dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi.
“Aku belum tahu, apa kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Calista yang akhirnya membuat kegiatan Arya terhenti sejenak.
“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat sudah memiliki kekasih atau bahkan istri?” Arya yang sebelumnya sedang menikmati makanan di mulut, tidak berniat untuk menjawab karena ingin menyelesaikan apa yang sedang dikunyah.
__ADS_1
Begitu makanan tersebut ditelan, Arya justru balik memberikan pertanyaan pada Calista.
Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan statusnya yang sudah menikah karena memang dilarang oleh sang ayah dengan alasan akan mencemarkan nama baik keluarga besar mereka.
Bahkan jika sampai itu terjadi, kemungkinan besar, saham perusahaan akan anjlok dan mengakibatkan bangkrut. Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi karena perusahaan keluarga menopang hidup banyak orang dan juga masa depan untuknya.
Akhirnya ia memilih untuk diam dan merahasiakan tentang statusnya yang bukan merupakan pria single, tetapi adalah suami Putri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah demi kebaikan bersama.
Berbeda dengan yang saat ini tengah dipikirkan oleh Calista begitu mendengar jawaban Arya yang seolah tidak akan pernah membuka rahasia besar yang sengaja disembunyikan.
Kini ia berpikir jika itu adalah sebuah permainan yang membuat Calista tersenyum dan sempat berpikir jika jawaban dari pria dihadapannya tersebut. Seolah memiliki dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama memastikan bahwa Arya siap menjalani hubungan tanpa diketahui oleh istrinya, sedangkan kemungkinan kedua, pria itu tidak ingin membuka rahasia karena memikirkan nama baik wanita dengan perut buncit itu.
Akhirnya seperti biasa dan ingin mengikuti alur yang dibawa oleh pria tampan di hadapannya tersebut, kini Calista hanya mengungkapkan sesuatu yang tidak memojokkan Arya.
“Jika melihat dari penampilan dan kesibukanmu di perusahaan. Aku rasa kamu terlalu banyak bekerja, sehingga tidak memiliki pasangan. Bahkan kamu juga tidak sedang dekat dengan wanita manapun. Apa itu benar?”
“Baiklah, itu berarti tidak masalah jika kita bekerja bersama dan melakukan perjalanan bisnis. Karena tidak akan ada wanita lain yang cemburu dan mengejarmu untuk memberikan seribu pertanyaan.”
“Ya, bisa dikatakan seperti itu.”
Baiklah, Arya sudah masuk dalam perangkap pertama, batin Calista.
Arya melihat ada sisa makanan di sekitar bibir Calista. Ia dengan sigap meraih tisu untuk membersihkannya dengan lembut.
Suasana itu membuat canggung dan Calista merasa jantungnya tidak bisa dikendalikan. Detak jantung yang dua kali lebih cepat itu, membuatnya tidak tenang.
“Terima kasih,” ucap Calista dengan wajah yang merona.
Sementara Arya yang tadi refleks membersihkan sisa makanan di bibir Calista, tidak bermaksud apapun ataupun menggoda. Apalagi ia bukanlah seorang pria penggoda yang sering disebut playboy.
__ADS_1
Ia adalah seorang pria yang tidak mudah jatuh cinta, tapi dengan sangat gampang takluk di bawah kaki Putri. Bahkan tidak mempedulikan apapun saat memilih wanita itu.
Setelah acara makan malam selesai, Arya mengantarkan Calista kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya. Mereka berpisah di sana dan seperti biasa, Arya menggunakan kendaraan umum untuk pulang ke rumahnya.
Setengah jam berlalu dan saat ia sampai di rumah, sang istri menyambut seperti biasa. Bahkan sudah menghidangkan banyak makanan di meja.
Namun, sayangnya Arya berkata bahwa sudah makan malam di luar bersama rekan kerjanya. Hal itu tentu saja membuat Putri kecewa.
“Arya, akhir-akhir ini kamu sangat sibuk dan lupa untuk memberikan kabar padaku. Apa pekerjaan yang diberikan papamu membuatmu tidak ingat jika ada aku di sini yang menunggu?”
“Sayang, aku sangat lelah. Jangan mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Kamu tahu sendiri, bukan? Aku bekerja untukmu dan anak kita. Apa ini masih kurang?”
“Tidak. Aku hanya merasa … kamu sedikit berubah akhir-akhir ini.”
“Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat denganmu! Sebaiknya kamu makan saja. Aku akan mandi dan beristirahat. Oh ya, mungkin lusa aku akan pergi ke luar kota. Papa mengirimku untuk perjalanan bisnis, aku harap kamu tidak masalah di rumah seorang diri.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu. Papa belum menentukan kota yang akan aku kunjungi. Perusahaan ingin melebarkan sayap pada kota besar yang sulit untuk dijangkau."
"Kali ini Papa memberikan kepercayaan padaku. Jadi, aku tidak akan membuatnya kecewa lagi dan demi kembalinya jabatanku yang hilang.”
“Aku mengerti. Aku akan baik-baik saja di rumah. Jangan lupa memberikan kabar, hanya itu yang aku inginkan.”
“Ya, aku pasti akan melakukannya.” Arya berjalan ke kamar mandi. Ia meraih handuk dan membersihkan diri dengan guyuran air dingin.
Sementara Putri berjalan ke ruang makan untuk menikmati hidangan di sana seorang diri.
Hingga beberapa saat telah berlalu, malam semakin larut, Arya sudah terlelap di samping Putri.
Meski wanita itu tengah kesulitan untuk terpejam, ia mencoba untuk tidak mengganggu suaminya yang sedang lelah karena bekerja seharian. Meskipun berbagi macam pikiran buruk tengah menari-nari di otaknya, tetapi tidak berniat untuk mengungkapkan pada sang suami.
__ADS_1
To be continued...