
Wajah Putri yang tadinya sedikit lebih cerah setelah melihat Amira dan Bagus datang untuk berkunjung, kini seketika berubah buruk begitu mendapat pertanyaan dari saudara tirinya tersebut.
"Apa kamu sedang mendoakan agar rumah tanggaku dengan Arya berantakan? Apakah tidak bisa kamu mendoakan saudara sendiri dengan hal-hal yang baik?"
Masih dengan sangat santai berjalan mendekati sosok bayi yang terlihat damai ketika tertidur tersebut, kini Amira Tan sudah mendaratkan tubuhnya tepat di dekat pembaringan malaikat kecil yang hadir dalam situasi memanas.
"Siapa nama putramu?"
Putri masih menampilkan wajah masam karena Amira Tan tidak menjawab pertanyaan darinya. Mood-nya kembali buruk karena takut jika apa yang dikatakan oleh saudara tirinya itu benar-benar terjadi.
"Panggil saja Xander karena itu nama yang diberikan oleh Arya." Tangan Putri digerakkan oleh putranya yang memintanya untuk digendong.
Namun, ia tidak bisa menuruti keinginan Putra karena baru melahirkan dan belum sepenuhnya pulih. "Putra melihat adik Xander saja, ya?"
Putri masih mencoba untuk merayu putranya agar tidak meminta digendong. Namun, seolah usahanya sia-sia karena saat ini yang terjadi adalah bocah laki-laki tersebut menangis dengan suara yang keras.
Ya, Putra yang sangat merindukan sang ibu, ingin bermanja-manja dengan meminta untuk diperhatikan. Seolah mengerti dan merasa takut jika bayi yang ada di atas ranjang tersebut yang telah merebut ibunya, sehingga langsung menangis sejadinya.
Tentu saja suara tangisan Putra yang sangat kencang tersebut berhasil membangunkan tidur nyenyak bayi yang masih berusia satu minggu tersebut.
Kini, Putri yang refleks langsung berlari untuk menenangkan bayinya karena menangis dengan suara yang tak kalah kencangnya.
Suara berisik yang berupa tangisan dari Xander dan Putra tersebut, membuat ruangan kamar yang tadinya tenang tersebut berubah bising.
Hingga Amira Tan yang merasa kasihan pada Putra, kini berusaha untuk merayu bocah laki-laki tersebut agar tidak menangis lagi. Ia bahkan mengerahkan segala cara, tetapi tidak berhasil.
__ADS_1
"Putra digendong Tante saja, ya? Sini, Sayang!"
Namun, anak laki-laki yang saat ini tidak tertarik dengan tawaran itu, semakin marah dan cemburu ketika melihat ibunya lebih perhatian pada bayi yang sudah dipangku dan sedang menyusu tersebut.
Putra berlari ke arah sang ibu dan refleks mengangkat tangan, lalu memukul kepala bayi yang dianggapnya telah merebut kasih sayang ibunya.
"Nakal!" Putra berteriak sambil menangis lagi dan memanggil sang ibu karena juga ingin digendong.
Namun, bukan mendapatkan keinginannya, yang terjadi adalah ia sangat kesal.
Melihat kemurkaan putranya dan berhasil membuatnya berjenggit kaget. Putri sama sekali tidak pernah menyangka atau pun berpikir jika Putra akan berani memukul bayi yang sudah berhasil ia tenangkan dengan menyusui.
Namun, pukulan yang sangat keras dari putra keduanya tersebut berhasil membuatnya refleks memukul pantat Putra. "Dasar anak nakal! Kenapa memukul adikmu yang tidak bersalah? Apa mau Ibu pukul lagi?"
Apalagi saat ini perasaannya sedang tidak baik dan ia merasa sangat stres, jadi tidak bisa mengendalikan emosi begitu melihat ulah nakal Putra pada Xander.
"Airin, jangan membentak dan marah pada Putra karena ia hanya sedang mengungkapkan rasa cemburunya karena merasa kasih sayang ibunya telah direbut oleh Xander. Dia masih kecil dan membutuhkanmu. Jadi, melakukan hal secara refleks, tanpa berpikir terlebih dahulu!" Amira kini langsung menggendong anak laki-laki yang menangis tersedu-sedu tersebut.
Meskipun sebenarnya ia tadi juga sangat terkejut ketika melihat gerak refleks Putra saat memukul kepala bayi yang sedang menyusui tersebut.
Putri yang tadi sibuk menenangkan tangisan bayinya karena pukulan Putra, kini menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Amira Tan benar. Bahwa putranya merasa cemburu dan tanpa berpikir apapun, langsung mengungkapkan perasaan yang terluka.
"Aku pun tadi refleks marah karena sangat terkejut pada perbuatan Putra. Aku tahu jika semua yang kamu katakan benar. Hal itulah yang membuatku menahan diri, agar tidak menemui putraku lagi."
"Meskipun aku juga merindukannya, tetapi hal seperti inilah yang kutakutkan. Dia memang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang, tapi kesalahanku yang akhirnya mengorbankan Putra."
__ADS_1
"Aku berharap Bagus menikah lagi dan mendapatkan seorang istri yang baik dan menyayangi Putra dan putriku seperti anak sendiri. Meskipun aku menyadari bahwa itu sangat susah."
"Banyak pasangan yang tidak mau mengurus anak dari mantan karena berpikir hanya akan menyakiti hati sendiri. Atau kamu saja yang menikah dengannya. Aku tahu jika kamu bisa menyayangi Putra sebagai putra sendiri."
Saat Amira Tan ingin mengatakan jujur bahwa ia sama sekali tidak keberatan jika menjadi ibu untuk menggantikan peran Putri, tetapi suara bariton dari Bagus yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar tersebut, membuat dua wanita saling bersitatap.
"Sayang, ayo kita pulang." Bagus yang tadi mendengar suara tangisan putranya, langsung berlari cepat untuk mengecek apa yang terjadi.
Namun, ia tidak bisa langsung masuk ketika melihat sikap putranya yang nakal karena ingin menunjukkan pada orang tua, demi bisa mendapatkan perhatian.
Apalagi melihat sikap Putri yang memarahi Putra, membuatnya menyesal karena mengajak putranya untuk bertemu dengan sang ibu terakhir kali.
"Kita belum bicara. Ada hal yang ingin kusampaikan!" ucap Putri yang kini bangkit berdiri dari posisinya yang tadi duduk di atas ranjang.
"Ya, Putri benar. Ada beberapa poin penting yang harus kita bahas hari ini. Lebih baik tenangkan dulu Putra agar tidak menangis lagi!" teriak Amira Tan yang saat ini tengah sibuk merayu anak laki-laki di gendongannya agar tidak marah dan nakal lagi dengan memukul.
Sementara itu, Bagus saat ini hanya menggelengkan kepala karena setelah hari ini, ia tidak tahu akan bertemu dengan Putri lagi.
"Tidak perlu karena tujuanku hari ini datang menemuimu untuk memberitahu bahwa gugatan cerai yang kamu inginkan sudah diurus. Jadi, sebentar lagi kamu bisa bebas dan bisa menikah secara sah dengan Arya. Namamu akan terkenal sebagai istri dari keluarga konglomerat Mahesa."
"Hari ini, aku menceraikanmu, Putri! Hiduplah berbahagia." Bagus mengakhiri talak yang ia ucapkan dengan doa.
Kemudian menggendong putranya yang berada di gendongan Amira Tan. "Temani adikmu di sini sampai suaminya pulang. Aku mau pulang dulu," ucap Bagus yang saat ini memilih untuk segera pergi dari tempat bahagia wanita yang baru saja diceraikannya tersebut.
To be continued...
__ADS_1