Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
155. Hujan air mata


__ADS_3

Putri dan Arya saat ini hidup dengan tenang untuk saat ini. Arya masih memiliki sedikit uang untuk mereka hidup dalam beberapa hari ke depan.


Bahkan, sebagian uangnya sudah dipegang oleh Putri dan digunakan untuk membeli bahan makanan yang bisa disimpan dalam lemari penyimpanan.


Hari pertama mereka habiskan dengan kisah cinta yang tiada henti di atas ranjang. Meski tengah hamil, Putri tidak pernah menolak dalam urusan ranjang. Apalagi kini mereka bisa melakukannya sepanjang hari hingga tak perduli rasa lelah maupun nyeri setelah selesai.


Putri baru saja selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Ia masih melihat suaminya terlelap tanpa mengenakan sehelai benang pun untuk menutup area intimnya. Dengan penuh perhatian, ia menutup tubuh itu dengan selimut, lalu mengecilkan pendingin ruangan.


Langkah wanita itu kini menuju dapur yang sudah terisi dengan lengkap. Hari ini, ia akan memasak makanan yang biasa dimakan oleh Arya saat di rumah orang tuanya.


Menu-menu yang menghabiskan sejumlah uang, tidak membuat Putri khawatir. Ia berpikir bahwa Arya sudah bekerja dan pasti akan mendapatkan uang yang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.


Hanya saja, sampai detik ini, belum tahu apa pekerjaan Arya. Meski sudah bertanya beberapa kali, pria itu enggan untuk menjawab. Justru, pertanyaan yang dilontarkan berakhir dengan pertengkaran.


Selesai dengan kegiatan pagi di dapur, ia kembali ke kamar dan membangunkan Arya untuk makan pagi bersama. Namun, perlakuan tidak mengenakkan didapatkan wanita itu hingga membuatnya hampir saja terjatuh.


“Arya, bangun! Ini sudah siang, kamu tidak bekerja?”


“Apa sih! Ganggu saja! Siapa yang bekerja? Kalau kamu mau, ya kerja sana!”


Mendengar ucapan Arya, membuat Putri seperti tertusuk tepat di dadanya. Kenapa pria itu bisa berkata kejam padanya? Padahal itu hanya pertanyaan yang biasa dikatakan oleh seseorang.


Akhirnya, ia memilih untuk kembali ke ruang makan dan menikmati masakan yang sudah dibuat dengan susah payah.


Rasa lapar membuatnya tidak menunggu Arya untuk ikut bergabung. Putri makan hingga habis tak tersisa. Sementara porsi untuk Arya disimpan di bawah tudung saji.


Putri mencoba berkeliling rumah sembari menghafalkan apa-apa saja yang ada di sana. Rumah itu adalah rumah sewa, ia harus teliti dan memeriksa kondisi barang-barang yang ada di sana, agar tidak terjadi salah paham dengan pemiliknya nanti.


Rumah itu masih terlihat baru, Putri cukup terkesan dengan Arya yang berhasil mendapatkan hunian seperti itu untuk mereka.


“Semua masih baru, sepertinya rumah ini baru saja selesai dibangun.”


Putri mulai dari pintu masuk, ia bisa melihat ruang tamu yang luas dengan sofa dan meja yang terlihat baru. Di sudut ruangan ada lemari kaca berisi pernak-pernik, seperti souvenir pernikahan. Tidak hanya itu, pada lantainya juga terdapat karpet merah dengan motif polkadot.


Rumah itu memiliki dua kamar utama dan satu kamar tamu. Ada gudang di bagian belakang dapur dan kamar mandi kecil untuk tamu jika berkunjung di sana. Rumah dengan satu lantai itu memang terlihat besar dan nyaman.

__ADS_1


Hanya saja, mereka tinggal berdua, sehingga membuat suasana sepi jika Putri seorang diri saat Arya bekerja.


Belum puas dengan kegiatan berkeliling, ia mengintip area taman kecil yang ada di depan rumah itu.


Taman itu memiliki air mancur dengan patung ikan koi. Ada kolam ikan kecil di bagian bawah patung itu, sehingga membuat suasana di sana terlihat segar dan enak dipandang.


Putri memutuskan untuk duduk di kursi taman yang ada di teras rumah. Sembari melihat ke luar pagar, ia memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang di sana.


Tidak hanya itu, ternyata ada beberapa orang yang menyapanya dengan tersenyum ramah. Pasti mereka adalah penghuni komplek tempat Putri dan Arya tinggal.


Baru saja Putri bersantai dengan menatap taman dan jalanan di luar pagar, suara Arya membuatnya berjenggit kaget dan segera menghampiri suaminya itu.


"Sayang!" teriak Arya dengan wajah kusut khas bangun tidur.


“Ada apa?” tanya Putri dengan napas tersengal.


“Dari mana saja? Aku lapar!”


“Makanan sudah ada di atas meja makan. Kenapa hanya untuk membuka tudung saji saja kamu malas?” omel Putri sembari menarik kursi untuknya duduk.


Arya tidak menjawab dan memilih untuk duduk di sebelah istrinya. Pria itu meraih piring dengan menu sandwich daging dan segelas teh hangat. Setelah menghabiskan makanan itu, Arya beranjak dari sana.


“Mau ke mana?”


“Pergi.”


“Iya, ke mana? Kerja atau hanya sekadar keluar tidak jelas?”


“Terserah aku mau ke mana dan mau ngapain, itu bukan urusanmu! Kamu bisa tidak, untuk diam tanpa terus bertanya urusanku?”


“Kita ini sudah menikah! Sudah seharusnya kamu memberitahu aku ke manapun kamu pergi. Lalu jika bukan aku yang kamu beritahu, siapa lagi? Jika terjadi sesuatu padamu di luar sana? Memangnya siapa yang akan dihubungi?” Airin kini merasa sangat kesal dengan sikap Arya yang seperti marah.


Padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun, sehingga membuat emosi meluap-luap.


“Aku akan mengembalikan mobil itu. Bukankah aku sudah mengatakannya? Itu mobil milik seorang teman.” Akhirnya Arya menjawab dengan seadanya karena tidak ingin terjadi pertengkaran pagi-pagi.

__ADS_1


Putri masih merasa penasaran dengan pekerjaan Arya. “Baiklah. Setelah itu, apa kamu akan pergi bekerja?”


“Tidak. Aku tidak bekerja," sahut Arya singkat dan sangat bosan dengan pertanyaan yang selalu sama dari sang istri.


Putri yang kini membulatkan matanya karena sama sekali tidak pernah berpikir jika Arya akan mengatakan hal seperti itu. Padahal uang sudah dibelanjakan bahan-bahan dapur karena Arya ingin makan yang enak setiap hari.


“Apa? Lalu, apa yang akan kita lakukan jika tidak ada pemasukan? Bagaimana caranya bisa membeli bahan makanan untuk bisa makan setiap harinya? Uang yang kamu kasih sudah berkurang untuk makananmu yang selalu saja mahal.”


Arya kini mengacak frustasi rambutnya. “Argh! Cukup! Aku lelah saat kamu terus bertanya dan selalu mengomel! Sebaiknya kamu diam jika tidak memberikan solusi padaku! Lagipula, aku akan kembali bekerja di perusahaan milik keluargaku nanti. Aku yakin papa akan menyuruhku kembali ke rumah itu.”


Mendengar harapan Arya, Putri memahami tentang kehidupan suami yang berubah drastis setelah menikah dengannya.


Arya yang terbiasa hidup mewah dan semua sudah tersedia di rumahnya. Kini harus menelan rasa pahit dengan tinggal di rumah sewa dan hidup seadanya bersamanya.


Dengan perasaan berkecamuk, Arya melangkah ke luar dari rumah dan mengemudikan mobilnya ke jalanan yang tampak sepi.


Setelah kepergian Arya, Putri kembali masuk dan memikirkan apa yang harus dilakukannya kali ini?


Tidak ada pemasukan, itu artinya mereka tidak akan memiliki bahan makanan dan juga uang untuk memeriksakan kehamilannya.


Rasa sedih dan cemas berkecamuk dalam dirinya. Berharap akan ada keajaiban yang membuat Arya segera kembali pada keluarganya.


Ia pasti akan memiliki kehidupan yang sempurna. Selama masa itu belum datang, Putri akan rela menjadi istri yang sabar dengan perilaku Arya yang kasar dan sudah tidak seperti pertama dulu selalu lembut dan memperlakukannya seperti seorang ratu.


Putri menghabiskan waktu di rumah itu seorang diri. Sembari berkutat pada ponselnya dan melihat pesan masuk dari Bagus.


Putri mengkhawatirkan keadaan putranya yang kini bersama suami pertama hingga terpaksa ikut bekerja.


Putra selalu menanyakanmu. Bagaimana di sana?


Aku juga merindukannya. Aku baik, rumahnya sangat nyaman.


Putri sengaja tidak mengatakan apa yang terjadi pada rumah tangganya saat ini. Jika pria itu tahu, akan diseret kembali ke kontrakan dengan paksa.


Hanya kisah bahagia saja yang Putri ceritakan pada suami pertamanya itu. Hingga akhirnya, ada hujan air mata yang membuatnya tidak kuasa lagi menahan semua rasa sakit di dada.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak boleh menangis. Ini semua adalah pilihanku. Aku yakin Arya akan kembali pada keluarganya kelak dan kami akan hidup bahagia selamanya," lirih Putri yang mencoba untuk memenuhi kepalanya dengan hal-hal positif demi menghibur diri sendiri.


To be continued...


__ADS_2