Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
72. Mencari alasan


__ADS_3

Putri dan Arya kini telah berada di dalam mobil menuju ke kontrakan. Seperti janjinya, Arya kini mengantarkan Putri dan tidak menyuruh untuk menginap seperti kemarin lusa yang menghabiskan waktu dengan penuh gairah di hotel.


Sebenarnya Putri sangat penasaran dengan tempat tinggal Arya seperti apa, tetapi menahannya untuk tidak bertanya, sampai sang kekasih mengajaknya sendiri ke rumah dan memperkenalkan pada orang tua.


Dengan sesekali tangan bertautan, Arya terlihat selalu mengusap lembut punggung tangan Putri untuk menunjukkan betapa ia sangat mencintai wanita yang duduk di sebelahnya.


Beberapa saat kemudian, Putri yang merasa perutnya nyeri dan kram, dari tadi hanya menyandarkan kepala pada punggung jok mobil seraya memejamkan kedua mata karena sedang menahan rasa nyeri.


Nyeri haid selalu dialaminya dan masih normal karena berlangsung antara dua sampai tiga hari.


Namun, saat terjadi sepanjang waktu menstruasi, dokter mengatakan bahwa itu tidak normal, sehingga dulu berkonsultasi ke dokter tentang kram perut yang terjadi sepanjang jadwal haid atau sampai tujuh hari.


Meskipun itu merupakan adanya peluruhan dinding rahim saat haid dan memicu kontraksi, sehingga menekan pembuluh darah yang mengelilingi rahim.


Kontraksi yang memutuskan suplai darah dan oksigen ke rahim, sehingga jaringan rahim melepaskan bahan kimia yang menimbulkan rasa nyeri saat haid. Penjelasan itulah yang menjadi pedomannya dan selalu menyiapkan obat.


Namun, hari ini ia tidak membawa dan ada di rumah. Saat ia memejamkan mata, mengingat perkataan dari sang suami yang menelpon tadi dan membuatnya bersedih saat mengingat sang ibu yang telah melakukan kesalahan di masa lalu.


Putri kini mencoba melupakan semua yang tadi dikatakan oleh Arya. Namun, ia merasa penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh sang suami.


'Sebenarnya siapa wanita yang dimaksud?'


Kini, Arya menoleh ke arah Putri yang masih memejamkan mata dan merasa sangat khawatir.


"Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat, Sayang? Kamu pasti merasa lelah."


Tidak ingin membuat Arya khawatir, Putri refleks langsung membuka kelopak mata indahnya dan duduk tegak dengan bersandar di punggung jok mobil.


"Aku tidak apa-apa. Ini hanya nyeri haid dan sudah terbiasa merasakannya. Aku saat ini membayangkan sangat membahagiakan saat mempunyai seorang suami yang perhatian dan romantis."


Arya yang hanya mengulas senyuman saat melihat Putri terlihat sangat bersemangat.


"Bersabarlah, Sayang. Aku tadi sudah mengirimkan pesan pada salah satu temanku yang memiliki saudara seorang pengacara. Besok, aku akan bertemu dengannya."


Sementara itu, Putri terlihat berbinar dan menganggukkan kepala. Membayangkan ia akan bebas dari suami dan menikah dengan Arya, tentu saja membuatnya merasa sangat bahagia.

__ADS_1


Sementara mobil mewah berwarna hitam yang dikemudikan Arya masih melaju membelah jalanan ibu kota.


Setengah jam kemudian, Arya menepikan mobilnya di depan halte bus yang tadi merupakan tempat ia menjemput Putri.


"Kita sudah sampai dan inilah hal yang paling tidak kusukai. Perpisahan." Arya mengusap beberapa kali punggung tangan Putri, seolah tidak rela untuk melepasnya.


Sementara itu, Putri melihat suasana di luar mobil, di mana di sana ada beberapa orang yang menunggu bus.


"Aku pun juga merasakannya, tapi bukannya kamu yang mengatakan harus bersabar selama mengurus semuanya? Jadi, aku akan bersabar."


Putri bahkan kini sudah membayangkan bahwa kekayaan keluarga Arya tak bisa dibandingkan dengan keluarganya dan merasa bahwa apa yang didapatkan adalah sebuah keberuntungan karena impiannya untuk menjadi istri sempurna dan dicintai, sebentar lagi menjadi kenyataan.


Menjadi seorang istri yang bahagia seperti ratu, bukan lagi menjadi pembantu, merupakan salah satu kebahagiaan terbesarnya.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera menjadi istrimu."


Arya yang hanya terkekeh geli mendengar sikap jujur dari Putri "Besok aku kabari setelah dari kantor pengacara."


Kemudian ia langsung turun dari mobil dan membuka pintu untuk Putri. Mengulurkan tangannya untuk membantu menopang beban berat tubuhnya.


Tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitarnya, Arya memeluk erat tubuh ramping Putri untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Tunggu telepon dariku, Sayang. Satu minggu lagi, aku harus menahan rindu karena kamu tidak bisa dipakai," bisik Arya di dekat telinga Putri.


"Astaga! Kau selalu mesum. Aku pulang dulu, daripada nanti kamu makan." Putri yang mendorong tubuh kekar itu agar menjauh darinya karena ia akan segera pergi.


"Aku akan menunggu telponmu. Hati-hati di jalan, Arya." Melambaikan tangan saat berjalan menjauh dari pria yang juga membalas lambaian tangannya.


Sebenarnya saat berjalan, Putri merasa sangat lelah pada kakinya. Bahkan kini ia berharap bisa berbaring di atas ranjang empuk dan mendapatkan pijatan lembut dari tangan Arya.


"Pasti akan sangat menyenangkan," ucap Putri yang saat ini tersenyum sendiri saat melangkah menuju ke arah kontrakan.


Saat ia mengingat sesuatu, refleks menepuk jidatnya berkali-kali. 'Aku lupa belum belanja. Nanti pria tua tidak berguna itu akan banyak bertanya. Sementara aku sangat malas untuk meladeninya.'


Seperti biasa, Putri berbelanja di toko langganan yang letaknya tak begitu jauh dari kontrakan.

__ADS_1


Ia membeli beberapa kebutuhan, diantaranya beras, telur, minyak dan sayur-sayuran sebagai persediaan selama beberapa hari.


Sebagai seorang istri yang harus pandai mengatur uang, Putri sudah terbiasa menghemat pengeluaran agar tidak sampai pinjam uang pada tetangga karena pantang baginya untuk melakukannya.


Apalagi ia tahu bahwa banyak ibu-ibu yang seperti memandangnya sebelah mata karena tidak pernah suka berbaur dan bergosip bersama mereka.


Begitu selesai berbelanja, saat Putri hendak pulang ke kontrakan, mendengar suara dari seorang wanita yang membuatnya merasa sangat kesal karena jelas-jelas telah menyindirnya.


"Wah ... lagi memborong?" tanya sosok wanita berbadan gemuk yang tengah mengamati penampilan Putri yang lain dari biasanya.


"Cuma ke warung saja, tapi kamu memakai gaun seperti itu? Kamu belanja sendiri? Lalu anakmu kamu tinggal sendirian di rumah? Astaga!"


Merasa sangat tertampar dengan pertanyaan sekaligus seperti interogasi dari salah satu tetangga yang seperti tidak pernah suka padanya, sebenarnya Putri mengerti apa alasannya apa.


Namun, tidak ingin berdebat dengan tetangga yang seperti menganggap ia adalah wanita penggoda suami orang.


'Wanita ini selalu menatap tidak suka padaku karena aku lebih muda dan lebih cantik darinya, sehingga suaminya suka curi-curi pandang padaku,' gumam Putri yang berusaha untuk tersenyum dan menyembunyikan perasaan dongkol.


"Iya, belanja seadanya saja. Ini harus buru-buru karena putraku tadi tidur. Aku duluan, ya."


Setelah mengangguk perlahan untuk berpamitan, Putri buru-buru berjalan meninggalkan toko dan wanita yang menurutnya sangat ilfil untuk dilihat.


'Dia yang tidak pandai menjaga badan, tetapi menyalahkanku karena membuat suaminya menyukaiku. Padahal aku tidak pernah melirik suaminya. Melihat saja tidak karena seleraku adalah Arya,' gumam Putri yang saat ini sudah sampai di kontrakan dan saat berjalan masuk melalui pintu belakang, ia melihat putranya sedang menonton TV.


Sementara wanita yang saat ini sedang mendampingi putranya, seketika menyapa.


"Kamu sudah pulang, Putri?"


"Iya," ujar Putri yang kini langsung menoleh ke arah pintu depan karena mendengar suara bariton dari pria yang tak lain adalah sang suami.


"Sayang."


Refleks degup jantung Putri sudah tidak karuan dan langsung bersitatap dengan wanita yang menjaga putranya.


'Astaga, ia sudah pulang. Apa yang harus kulakukan pada wanita ini?' gumam Putri yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari alasan pada suaminya mengenai wanita gemuk itu.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2