
“Kamu tahu di mana pintu keluar rumah ini, bukan? Sebaiknya segera lakukan jika itu yang kamu inginkan. Aku juga tidak akan menghalangi apapun yang akan kamu lakukan di luar sana. Perintahku sudah sangat jelas di rumah ini."
"Jika kamu tidak bisa mematuhinya dengan baik, sebaiknya mencari orang lain yang bisa melakukan semua keinginanmu itu.”
Ari Mahesa tidak lagi melanjutkan kegiatan makannya karena tiba-tiba moodnya berubah buruk. Ia berjalan menuju pintu dan berangkat ke kantor dengan mobilnya dengan perasaan berkecamuk dan membuncah.
Sementara di ruang makan, Rani Paramitha masih duduk dengan lemas. Kemarahan suaminya terlihat jelas penuh kemurkaan dan ia sangat heran dengan tingkah pria yang sudah bersamanya lebih dari 25 tahun tersebut.
Hanya saja, masih ada rasa yang mengganjal hingga membuat Rani tidak bisa mengacuhkan putranya.
“Kenapa suamiku berkata seperti itu? Seakan kami ini kriminal yang perlu disingkirkan. Ini semua memang karena wanita itu. Wanita bernama Putri itu tidak tahu diri dan sangat murahan Aku tidak bisa membiarkan Putri mempermalukan putraku."
Setelah selesai dengan kegiatannya, Rani berencana akan kembali menemui Putri. Berharap kali ini rencana untuk memisahkan mereka berhasil, Rani juga memiliki rencana cadangan.
Satu jam kemudian, wanita yang terlihat masih cantik, meskipun sudah tidak lagi muda itu sudah siap dengan pakaian rapi, tas jinjing pun tidak lupa ia tenteng hingga sampai mobil.
Rani mengetahui jika Putri pasti berada di rumah selama Arya bekerja. Ia pun segera menginjak pedal gas agar bisa sampai dengan cepat ke rumah sewa yang ditempati putranya sudah beberapa bulan.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil sedan berwarna hitam yang saat ini tengah membawa Rani memasuki halaman rumah.
Di depan pintu, Putri terlihat menatap Rani yang baru saja keluar dari mobil. Dengan tersenyum, Putri menyapa Rani dengan menyembunyikan rasa kesalnya.
Meskipun mengetahui jika ibu mertuanya tersebut ingin membuat masalah, tetapi tidak bisa melawan karena hanya akan membuat Arya marah padanya dan tidak ingin itu terjadi.
“Jangan tersenyum padaku. Aku merasa jijik melihatmu yang berpura-pura seperti ini.”
"Maksud Mama apa?” Putri bertanya. Kemudian memilih untuk memalingkan wajah ketika dihina.
__ADS_1
“Sudah aku katakan jangan panggil aku mama! Apa kau tuli?" sarkas Rani dengan wajah memerah penuh kilatan amarah.
“Maaf, ini sudah kebiasaan. Bukankah ibu dari suamiku juga harus dianggap sebagai orang tua sendiri?”
“Aku tidak rela dipanggil mama olehmu! Kamu ini hanya wanita murahan yang menjebak anakku. Kamu tahu Arya itu kaya, sehingga dengan licik memberikan tubuhmu hingga hamil seperti ini."
"Aku curiga, jangan-jangan kehamilan ini juga salah satu rencana busukmu. Kamu pasti hamil dengan suamimu sendiri, lalu menjebak anakku! Lebih baik katakan sekarang karena jika nanti hasil tes DNA menjelaskan hasil tidak ada kaitannya dengan Arya, aku akan langsung melaporkanmu pada polisi."
Mendengar perkataan Rani sungguh menyakiti hati Putri. Jika memang seperti itu, tidak akan ada kata cinta di antara Arya dan Putri.
“Aku tidak percaya Anda akan berkata seperti itu. Aku sadar hanya wanita biasa dan masih berstatus istri orang. Hanya saja, aku tidak bisa menerima jika Anda mengatakan bahwa anak ini salah satu rencana licikku."
"Kehidupanku memang tidak semewah hidup Anda, tetapi selama menjadi istri, setidaknya pernah mau bekerja keras demi membantu suami. Bahkan semua aku lakukan demi mendukung Arya."
"Demi menyelamatkan keluarga ini. Jika Anda ingin memisahkan kami, bukan hanya aku yang hancur, tapi juga Arya."
Putri meneteskan air matanya sebagai bentuk ungkapan kesedihan. Bahkan wanita dengan perut buncit itu tidak bisa menahan lagi emosi yang sedang dirasakan karena mertuanya selalu menganggap ia hina.
Kali ini, ia berpikir jika yang terjadi adalah wanita itu hanyalah sedang berakting di depannya saja
"Aktingmu memang sangat bagus, tapi sayangnya tidak akan mempengaruhiku. Aku datang ke sini hanya ingin mengatakan setelah melahirkan, kau harus melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa anak ini adalah darah daging Arya."
"Setelah terbukti, kamu bisa menguasai Arya. Akan tetapi, jika tidak, bersiaplah menerima akibatnya.”
Tanpa membuang waktu, Rani pun kini langsung berbalik badan. Langkahnya kembali ke mobil untuk segera pergi dari sana.
Putri tidak menunggu mobil itu pergi. Ia melangkah ke kamar dan terisak di sana hingga merasa sesak.
__ADS_1
Tidak ada yang pernah menghinanya seperti saat ini. Ibu Arya memang tidak menyukai dirinya sejak awal. Apalagi saat mengetahui jika ia hamil dan masih berstatus istri pria lain.
“Sial! Dasar sialan! Berani sekali wanita itu menghina dan menuduhku?” Putri tampak kesal dengan wajah memerah.
Tangisannya tidak berlangsung lama, ia memilih untuk berhenti dan melanjutkan kegiatannya meski hatinya hancur.
Langkahnya kini menuju ke arah dapur untuk melanjutkan kegiatan mencuci piring yang sempat tertunda tadi.
Dari pintu terdengar derap kaki yang mendekat. Benar saja, langkah kaki itu berhenti di belakangnya dan sepasang tangan memeluknya dari belakang.
“Arya, aku sedang mencuci piring. Aku tidak mau ada piring yang pecah karenamu.”
Mendengar suara istrinya yang sumbang, Arya membalikkan tubuh Putri untuk menghadapnya. Putri menundukkan wajah tidak berani menatap suaminya.
“Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanya Arya dengan wajah penuh kekhawatiran melihat wajah sembab sang istri.
“Tidak apa-apa. Aku baru saja melihat drama yang sedih.” Putri sengaja menyembunyikan semua yang terjadi padanya hari ini karena berpikir akan terjadi pertengkaran besar antara ibu dan anak jika sampai Arya mengetahuinya.
“Kamu ini terlalu banyak menonton drama seperti itu. Aku pikir ada sesuatu yang terjadi. Sore ini, kita ke dokter untuk memeriksakan bayi kita. Ini, aku membeli beberapa bahan makanan. Aku tidak tahu ini semua bisa dimasak apa tidak?”
Kesedihan Putri seketika berkurang begitu mengintip ke arah kantong plastic berwarna hitam yang dibawa suaminya.
Wanita itu tersenyum dan berkata, “Ini bisa aku masak menjadi makanan yang lezat. Kita akan makan ini nanti. Sekarang aku akan mencucinya dulu.”
Arya tersenyum lega. Ia pikir istrinya tidak akan bisa membuat makanan dari bahan yang sudah dibawa. Setelah memberikan bahan makanan itu, Arya berbalik badan untuk menuju kamar.
Putri mengatur napas, dan berharap suaminya tidak akan tahu mengenai kedatangan sang ibu yang mencaci makinya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Arya mendapatkan jatah libur dan hari ini adalah waktu untuk memeriksakan kandungan Putri. Tentu ia tidak ingin melewatkan hal yang sangat dinantikan setiap satu bulan sekali untuk melihat perkembangan putranya.
To be continued...