Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
200. Berhak menikah lagi


__ADS_3

Bagus yang saat ini merasa tertampar dengan perkataan dari seorang wanita yang merupakan ibu sekaligus istri yang baik tersebut. Ia sebenarnya merasa sangat malu saat mendengar ucapan nyonya Lily.


Namun, menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh wanita tersebut memang benar adanya. Bahkan ia tidak bisa mengenali sang istri ketika menatapnya dengan penuh kebencian kala ketahuan berselingkuh dan hamil benih pria lain.


Ia hanya tersenyum miris, lalu memberikan beberapa lembar uang pada nyonya Lily.


“Maafkan aku karena tidak memiliki uang lebih. Ini nanti untuk untuk jajan Putra dan juga sedikit untukmu."


“Tidak perlu! Aku tidak meminta bayaran untuk ini. Jika kamu mau memberikannya untuk kepentingan Putra, aku akan menerimanya dan akan membelikan sesuatu untuk Putra nanti.”


“Baiklah, setidaknya biarkan uang ini untuk mengganti makanan yang akan dimakan Putra di rumahmu.”


“Kamu ini, aku tidak akan jatuh miskin hanya dengan memberikan makanan pada anak kecil. Makanan di rumahku sangat banyak, Putra tidak akan kekurangan di sana, tapi baiklah. Aku menerimanya dan akan mengembalikan pada anakmu.”


“Nyonya Lily sangat baik. Maafkan aku yang merepotkanmu.”


“Hei, aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Kamu bisa pergi sekarang dan bekerjalah!” Wanita itu kini terlihat mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran agar pria yang saat ini masih berstatus sebagai suami tersebut segera pergi berangkat bekerja untuk mencari nafkah demi anak-anak.


Kemudian Bagus hanya terkekeh dan mengangguk perlahan. Sebelum pergi, ia merendahkan tubuhnya untuk mencium kening anaknya dan berpamitan.


Setelah kepergian sang ayah, Putra mengikuti langkah nyonya Lily menuju ke rumah yang ada di sisi kanan, berjarak dua bangunan dari rumah.


Nyonya Lily memiliki keluarga kecil, anaknya yang sudah dewasa tidak lagi tinggal di sana. Oleh karena itu, nyonya Lily merasa iba dengan Putra yang selalu ikut ayahnya bekerja.


“Putra bisa bermain di sini. Apa Putra sudah makan?” tanya nyonya Lily dengan lembut.


Putra hanya menggeleng. Anak itu biasa makan di kedai kecil bersama Bagus. Namun, pagi ini ia melewatkan makan pagi karena berada di rumah nyonya Lily.


Saat itu juga, wanita paruh baya itu mengambilkan seporsi makanan untuk anak laki-laki malang itu. Dengan perhatiannya, nyonya Lily menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulut yang mungil itu.


“Enak?” tanya nyonya Lily dengan nada anak-anak.


“Enak,” jawab Putra dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


Kegiatan itu berlangsung hingga satu porsi makanan habis dilahap. Setelah kenyang, anak itu diajak bermain di halaman rumah oleh Lily.


Bocah laki-laki itu selalu membawa satu mainan mobil-mobilan miliknya. Di depan rumah, memainkan mainannya itu sendiri dengan menggerakkan di halaman.


Sementara nyonya Lily mengawasi dari kursi yang ada di teras rumah. Lalu, berselang beberapa lama, terlihat ada seorang wanita yang mendekati mereka.


Wanita itu memiliki gaya berpakaian layaknya seorang pekerja kantor, tetapi lebih santai. Tiba-tiba saja wanita itu mendekat dan mengulas senyuman.


“Sayang.”


"Tante."


Mendengar Putra menyebut tante, membuat nyonya Lily berdiri dan mendekati mereka.


“Kamu siapa? Kenapa bisa tahu nama Putra? Aku melihatmu saat dulu acara pernikahan Putri, tapi tidak tahu ada hubungan apa dengan keluarga malang itu."


Wanita dengan mengenakan seragam berwarna hitam dengan bawahan selutut, kini kembali menyunggingkan senyuman dan memperkenalkan diri.


“Saya Amira Tan, kakak dari Putri–ibu anak ini,” jelas Amira yang mengulurkan tangan dan menunggu balasan dari wanita yang lebih tua tersebut.


"Pantas saja kamu mengenal Putra dengan baik. Aku Lily. Mulai hari ini, Putri akan ada di rumahku selama ayahnya bekerja. Aku merasa kasihan dengan anak ini. Ia selalu terlihat lelah saat kembali bersama ayahnya.”


“Maaf. Mereka memang sangat sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga lupa dengan anak yang membutuhkan perhatian.”


“Ayo masuk! Maaf, rumahku kecil, kamu bisa mengajak bicara Putra di dalam.”


“Terima kasih, Nyonya. Sepertinya aku terlambat datang. Sebenarnya aku memiliki keperluan dengan ayahnya.”


"Bagus sudah berangkat pagi tadi. Pria itu sangat pekerja keras. Entah kenapa adikmu meninggalkannya. Aku tidak bisa berpikir mengenai hal itu.”


“Aku tahu. Bahkan aku pun tidak bisa berkomentar apapun mengenai Putri."


Amira Tan mengajak Putra duduk di ruang tamu, wanita itu membawa satu bingkisan berisi mainan dan makanan untuk anak balita itu.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, juga memberikan sedikit uang pada nyonya Lily yang sudah membantu keluarga Bagus


“Tidak perlu repot. Aku bahkan menolak pemberian Bagus tadi. Aku membantunya karena merasa iba dengan keadaan mereka. Beruntung anak ini tidak rewel. Ia anak yang manis dan selalu menurut.”


Kini, Amira Tan tersenyum, tiba-tiba saja Putra naik ke pangkuan wanita itu dan menceritakan tentang mainan yang ada di tangannya.


Mendengar penuturan anak berusia tiga tahun itu, Amira Tan merasa kasihan dan ingin membawa Putra. Namun, Bagus pasti akan marah padanya jika tidak meminta izin terlebih dahulu.


Akhirnya, hanya bisa menemani Putra di rumah nyonya Lily tanpa mengajaknya ke luar dari area itu.


Sampai dua jam berlalu, ia berpamitan karena harus kembali bekerja. Wanita itu berpamitan pada nyonya Lily dan Putra, lalu berjalan menjauh dengan melambaikan tangan


Hingga tidak bisa lagi melihat Putra yang berdiri di depan rumah.


Amira Tan menghela napas, rasa sakit dirasakan saat melihat balita yang tidak bisa merasakan kasih sayang ibunya.


“Kamu sangat keterlaluan Putri,” ucap Amira dengan wajah memerah dan mengepalkan tangan sebelum masuk ke dalam mobil.


Sementara di rumah nyonya Lily, Putra kembali menikmati makanan yang diberikan Amira Tan. Anak itu sangat suka makan, dan membuat nyonya Lily merasa senang. Itu artinya adalah anak yang sehat.


Nyonya Lily kembali didatangi beberapa tamu, tetapi kali ini dari tetangga sekitar. Tentu saja mulut tetangga sangat pedas. Hingga membuat nyonya Lily geram dan mengusir mereka.


Nyonya Lily tidak ingin anak kecil itu mendengar percakapan dari mereka yang tidak tahu mengenai masalah keluarga Bagus yang sebenarnya.


“Kalian ini tidak pantas berkata seperti itu! Sebaiknya kalian pergi dari sini. Sebelum aku marah dan menampar satu persatu mulut kalian!” ancam nyonya Lily dengan berkacak pinggang.


Ia merasa risi saat para wanita yang datang itu membicarakan aib di depan bocah laki-laki yang tidak bersalah dan akan mendapatkan imbas buruk jika selalu mendengar tentang keburukan sang ibu.


Setelah kepergian tetangganya, kini ia mengajak Putra masuk ke rumah. Sudah waktunya makan siang dan tidur untuk anak seusia itu.


Meski setiap harinya selalu ikut ayahnya bekerja, Dedi tidak pernah merengek maupun manja. Sama seperti saat ini. Ia lebih banyak melakukan semua sendiri.


“Kamu anak yang manis dan juga tidak nakal. Ibumu pasti akan menyesal sudah membuatmu seperti ini. Tidurlah, Sayang. Semoga kelak kamu akan hidup bahagia bersama orang tua yang lengkap. Ayahmu masih muda dan berhak menikah lagi dengan seorang wanita yang baik."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2