Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
282. Meminta ganti rugi


__ADS_3

Tentu saja Bagus mengetahui bahwa saat ini pria di dalam mobil tersebut, tak lain adalah Jack. Sosok pria yang tadi terlihat sangat murka padanya.


"Jack?"


Sedangkan Noah Martin masih merasa tenang ketika melihat pria yang semalam hendak menghentikannya.


"Sepertinya kau merasa penasaran denganku, jadi mencari informasi dengan cara apapun untuk menemukan kekasihmu, bukan?"


Sementara itu, Jack sama sekali tidak mengeluarkan suara karena satu tujuannya saat ini hanyalah ingin menghabisi pria yang sudah membawa wanita yang dicintainya.


Ia kali ini mengepalkan tangan ketika berjalan cepat menuju ke arah pria dengan profesi sebagai bartender tersebut.


Jack secepat kilat mengangkat kepalan tangan kanan dan langsung mengincar wajah Noah Martin. Suara pukulan yang sangat keras menggema di udara dan berhasil membuat Noah terhuyung ke belakang beberapa langkah.


Hingga tanpa menunggu lama, Noah yang merasa sangat murka ketika rasa nyeri menjalar di area wajah serta bibir yang pasti sudah lebam karena ukuran sangat kuat dari pria bernama Jack tersebut.


Dengan wajah memerah dan kilatan amarah antara dua pria yang saat ini seperti hendak saling menghabisi dan menunjukkan kekuatan masing-masing.


Noah tak kalah murka dan melakukan hal sama, dengan cara memukul perut Jack. Bahkan ia kali ini tidak bisa menghentikan luapan emosi yang meledak saat ini di dalam jiwanya ketika ingin menunjukkan bahwa ia bukanlah pria lemah dan akan membalas jika mendapatkan sebuah pukulan.


Hingga dua pria tersebut saling menyerang dengan membabi buta dan menunjukkan kekuatan masing-masing.


Keduanya tidak menyerah untuk saling mengincar bagian yang diserang. Bahkan suara teriakan dari Noah dan Jack berhasil membuat beberapa orang yang melintas di area tersebut segera melerai, agar tidak saling membunuh.


Bahkan Bagus yang ingin menghentikan aksi perkelahian tersebut, malah mendapatkan sebuah pukulan pada bagian perutnya. Akhirnya ia memilih untuk meminta bantuan dari beberapa orang di sekitar agar menghentikan aksi baku hantam tersebut.


Hingga aksi perkelahian itu bisa dihentikan, meskipun masih terdengar suara teriakan antara Jack dan juga Noah yang saling mengumpat.


"Aku akan membunuhmu, berengsek!" umpat Jack yang masih terlihat memerah wajahnya karena dikuasai oleh kemurkaan.


"Kemarilah dan tunjukkan padaku!" sarkas Noah yang saat ini berniat untuk melayangkan tinju pada Jack, tetapi tidak bisa melakukannya karena kedua tangannya ditahan oleh beberapa tetangga.

__ADS_1


"Sudah, hentikan! Atau akan kubawa kalian berdua ke kantor polisi!" teriak salah satu pria yang mewakili lainnya untuk mengungkapkan ancaman, agar tidak lagi berbuat sesuka hati di area tersebut karena mengganggu ketenangan warga sekitar.


Hingga suara dering ponsel milik Jack membuat ia menatap tajam dua pria yang masih memegangi tangannya. "Lepaskan! Aku ingin mengangkat telepon!"


Dua pria yang melerai aksi perkelahian tersebut, akhirnya melepaskan kuasa dan membiarkan mengangkat panggilan.


Jack langsung meraih konser miliknya yang berada di saku celana dan menggeser tombol hijau ke atas begitu melihat nomor dari pria yang merupakan ayah dari Amira Tan.


"Halo, Om."


"Jack, kamu sudah tahu kan kalau Amira Tan telah pulang dengan selamat. Tadi ia menceritakan kalau pria itu tidak melakukan apapun padanya. Jadi, Amira tadi menyuruh orang yang kusuruh untuk menghabisi pria itu pergi semua."


Jack yang saat ini merasa sangat lega begitu mendapatkan kabar yang membuatnya langsung menatap ke arah pria dengan wajah bapak belur tersebut.


Namun, ia tidak berniat untuk meminta maaf karena telah memukul sang bartender. Tadi, ia memang sengaja datang ke tempat ia yang membawa Amira Tan. Selama beberapa jam ia sibuk mencari keberadaan wanita yang dicintai.


Hingga memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal sang bartender. Kemudian begitu melihat pria yang membuatnya merasa sangat murka, akhirnya tidak bisa menahan diri dan meluapkan amarah dengan mengarahkan pukulan bertubi-tubi.


Jack saat ini langsung mematikan sambungan telepon begitu mendapatkan jawaban dari seberang dan berlari menuju ke arah mobil.


Sementara itu, Bagus yang melihat pergerakan dari Jack, seolah bisa membaca apa yang saat ini terjadi. Ia pun melakukan hal yang sama karena ingin mengikuti mobil pria itu yang diduga akan pergi ke rumah keluarga Amira Tan.


Ia tidak mengetahui di mana rumah keluarga Amira Tan, jadi memilih untuk mengikuti mobil Jack dari belakang.


Sementara itu, Noah Martin saat ini meringis menahan rasa nyeri pada bagian wajah serta bibir yang lebam karena pukulan Jack. "Sialan!"


"Aku belum sempat membalas dendam, tetapi ia sudah pergi." Noah Martin menatap ke arah beberapa pria yang masih berada di kediamannya. "Lebih baik kalian semua pergi dari sini karena telah selesai pertunjukannya!"


Beberapa orang yang merasa iba ketika melihat wajah bapak belur dari Noah, ada salah satu yang mewakili untuk berbicara.


"Kau harus segera diobati. Apa kau mempunyai persediaan obat?"

__ADS_1


"Pergi saja dari sini. Aku akan mengobati lukaku sendiri." Noah langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.


Hingga terdengar suara memekakkan telinga dan akhirnya mereka semua memilih untuk pergi dari rumah itu.


Noah yang merasakan tubuhnya sakit semua, kini menghubungi salah satu temannya agar datang ke rumah untuk membantu mengobati.


"Sial! Aku tidak punya obat sama sekali."


Noah Martin mengatakan pada sahabatnya untuk sekalian membeli obat. Hingga ia yang merasakan pusing di kepala dan rasa nyeri pada beberapa bagian tubuh, memilih untuk membaringkan diri di atas ranjang di ruangan kamarnya.


"Aku harus meminta ganti rugi atas semua ini. Untung tadi aku membuka tas milikmu dan mengambil kartu nama wanita yang berprofesi sebagai pengacara itu."


Noah kini meraih kartu nama yang ada di dalam dompet dan menyimpan nomor tersebut pada ponselnya dengan kontak yang diberi nama pembawa musibah.


Setengah jam kemudian, sahabat Noah telah tiba di rumah langsung mengobati beberapa luka lebam di wajahnya sambil memarahinya.


"Lain kali, jangan sok pahlawan pada orang lain. Ingat bahwa terkadang kebaikan tidak mendapatkan respon positif dari orang. Wanita itu seharusnya memberikan ganti rugi padamu karena babak belur seperti ini. Padahal berniat baik untuk menolong."


"Tenang saja, aku sudah menyimpan nomornya di ponselku. Jadi, nanti akan meminta ganti rugi padanya atas pukulan yang kudapatkan hari ini." Noah Martin menunjukkan daftar kontak yang tadi diberi nama pembawa musibah.


"Biar aku menelpon yang untuk memberitahukan apa yang terjadi!" Merebut ponsel yang ada di tangan Noah dan langsung menekan tombol panggil.


Begitu mendengar suara dari wanita di seberang telepon, ia langsung mengungkapkan kekesalannya karena tidak tega melihat sahabat baiknya malah mendapatkan banyak pukulan saat sudah menolong wanita itu.


"Astaga! Apa yang kamu lakukan?" Noah Martin langsung merebut ponsel dari sahabat baiknya dan langsung mematikan sambungan telepon.


"Aku tidak ingin ia marah." Noah kini berpikir jika ia tidak ingin memantik amarah dari wanita yang memiliki sifat arogan tersebut.


"Akhirnya nanti ia tidak mau memberikan ganti rugi untuk atas luka yang kudapatkan ini jika merasa marah. Biarkan aku yang mengurus semuanya sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur karena aku memanggilmu untuk membantu mengobati lukaku."


"Baiklah, terserah apa katamu saja!" sahut pria yang mulai membuka kantong plastik berisi obat tersebut dan mengobati luka lebam di wajah sahabatnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2