
Entah sudah berapa lama Arya bergerak liar tanpa memperdulikan apapun di sekitarnya. Ia merasa akan mencapai *******, kini semakin mempercepat ritme gerakannya di depan tubuh wanitanya.
Beberapa saat kemudian, suara rahangnya mengeras dan tatapan tajam serta lenguhan dengan geraman lolos dari bibirnya.
Di saat bersamaan, ia sudah meledakkan cairan kenikmatan ke rahim wanita yang sangat dicintainya dengan mencengkeram kuat kedua sisi pinggang Putri.
Beberapa saat kemudian, Arya yang baru saja mengeluarkan geraman parau, kini sudah sangat lemas dengan napas yang memburu setelah percintaan panas yang berlangsung beberapa menit tersebut.
Masih mencoba untuk menormalkan deru napasnya, ia yang masih enggan menarik diri, kini meluapkan perasaan yang dirasakan.
"Kamu tetap luar biasa, Sayang," ucap Arya yang kini perlahan menarik diri dan membersihkan bekas perbuatannya..
Di sisi lain, Putri yang sudah berhasil menormalkan deru napasnya, kini kembali berdiri tegak dan berbalik badan. Kemudian tersenyum tipis pada pria yang tak berhenti menciumnya.
Namun, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena benar-benar merasa bingung dengan kejadian begitu cepat hari ini.
Kegilaan yang dilakukannya hari ini benar-benar diluar batas dan saat ia menyadari telah menghancurkan hati seseorang yang berhati emas, karena tidak mendengar ancaman sang suami.
Pria yang selama ini tidak pernah menjadikan **** merupakan kebutuhan karena ketidaknormalan yang diderita. Namun, ia selalu merasa terlahir kembali saat bersama dengan Arya.
"Kamu memang seorang perayu ulung saat merayuku?" ucap Putri yang saat ini mendorong tubuh kekar berotot pria di hadapannya.
Kemudian membersihkan sisa-sisa perbuatan pria yang baru saja membuatnya gila karena berkali-kali merasakan ******* sambil merutuki kebodohannya.
'Dasar wanita bodoh!' umpat Putri yang kini sibuk merutuki kebodohannya sendiri karena tidak pernah bisa menolak Arya yang berkali-kali membuatnya ******* hari ini.
Sementara itu, Arya melakukan hal yang sama karena langsung berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin dan memejamkan mata.
'Putri hanya milikku dan tidak akan pernah kubiarkan ada yang mengusik ketenangan kami karena aku telah memilihnya," ucap Arya yang saat ini masih sibuk dengan kegiatannya untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Putri pun buru-buru membersihkan diri karena tidak ingin ketahuan oleh Bagus.
Kini, ia bahkan merasakan bukti kenikmatan Arya yang mengalir menuruni pahanya dan membuatnya menunduk menatap ke bawah.
Berbagai macam pertanyaan yang sudah menari-nari di otaknya saat ini ketika membayangkan berbagai macam pertanyaan yang mengganggunya.
'Apa ia benar-benar akan datang dengan orang yang akan menikahkan kami? Sudah cukup lama dia pergi dan sampai sekarang belum kembali. Dia tidak bohong, kan?'
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Putri yang merasa kakinya gemetaran saat menumpu lantai karena terlalu banyak berdiri, membuatnya memilih untuk berjongkok di kamar mandi.
Hingga ia yang masih berusaha memulihkan tenaga, kini berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton sosok pria yang beberapa saat lalu membuatnya sibuk menjerit dan mendesah dalam ledakan gairah, terlihat berjongkok di hadapannya.
"Ada apa, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arya yang baru saja selesai membersihkan diri dan terkejut melihat Putri tiba-tiba berjongkok.
Arya yang masih menatap penuh khawatir, kini sudah berpikir macam-macam karena ia takut jika perbuatannya tadi yang cukup lama bercinta, membuat Putri kesakitan, sehingga ingin memastikannya.
Putri yang refleks langsung menggelengkan kepala, menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.
Ia yang kini masih berjongkok dan tidak menampilkan bagian-bagian sensitif miliknya yang tidak ingin dilihat pria yang langsung menyamakan posisi dengan berjongkok di hadapannya.
Refleks ia mengangkat pandangannya dengan menatap sosok pria dengan wajah penuh kekhawatiran tersebut.
"Tenanglah, aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku lelah berdiri dari tadi. Kakiku gemetar saat berdiri, jadi memilih untuk berjongkok sebelum keluar."
Putri kini mengibaskan tangan untuk mengusir Arya agar segera keluar meninggalkannya. Namun, tidak seperti yang dipikirkan olehnya, ia melihat Arya malah mengangkat tubuhnya setelah memakaikan handuk.
"Aku akan memijatmu agar tubuhmu rileks."
Sementara itu, Putri benar-benar merasa terkejut dan kebingungan karena tubuhnya sudah berpindah ke atas tangan kekar nan kokoh yang menurunkannya secara berhati-hati ke atas ranjang tipis yang dianggapnya seperti alas kaki itu.
"Diam dan jangan membantahku, Sayang."
Tanpa menunggu jawaban dari Putri, Arya sudah mengarahkan kedua sisi pundak polos itu agar duduk membelakanginya.
Sementara itu, Putri yang kali ini lagi-lagi tidak bisa melawan, akhirnya memilih untuk menuruti semua perintah pria yang mulai menggerakkan tangan untuk melakukan pijatan pada punggung hingga turun ke bawah.
Ia merasa pijatan tangan Arya benar-benar sangat memanjakannya dan nyaman, sehingga berhasil membuat otot-ototnya yang kaku mulai rileks.
Putri akhirnya memilih diam dan menikmati saat Arya benar-benar membuatnya merasa lebih baik.
Arya yang tidak tega pada Putri ketika kelelahan, kini membuatnya fokus memanjakan wanita yang duduk memunggunginya.
Sementara Putri yang kali ini terlihat tersenyum simpul karena merasa senang mendapatkan pijatan lembut dari Arya, masih memejamkan mata, ia tidak bisa menahan diri untuk meloloskan kalimat pujian.
"Ternyata kamu pintar memijat. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika tanganmu senyaman ini," ucap Putri yang kini masih memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Arya.
__ADS_1
Sementara di sisi belakang, Arya yang tadinya fokus memijat, kini tersenyum smirk saat mendapatkan pujian dari Putri, sehingga ia ingin menggoda dan mengarahkan tangannya menelusuri bagian depan dan memainkan ujung dada wanitanya.
Putri yang sangat kaget dengan perbuatan Arya, refleks langsung mencubit tangan yang baru saja memainkan salah satu ujung sensitif miliknya hingga menegang.
"Jangan macam-macam!"
"Mana mungkin aku macam-macam, Sayang. Ini hanya satu macam," sahut Arya yang kini hanya terkekeh geli.
Namun, ia terdiam sejenak ketika mendengar suara wanita yang dianggapnya sangat merdu tersebut.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?" Putri yang dari tadi sibuk bertanya di dalam hati mengenai perihal pria yang memilih untuk bercinta dengannya.
Ia tidak ingin tersiksa dengan berbagai macam hal di otaknya.
Kini memutuskan untuk mencari tahu apa yang ditakutkannya tanpa membuat Arya curiga padanya.
"Bertanya tentang apa? Katakan saja?" Arya yang kini tidak mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh sosok wanita yang mulai bergerak untuk menghadapnya.
Seolah menegaskan bahwa ada berbagai macam masalah yang sudah terjadi kali ini.
'Apa yang ingin ditanyakan Putri padaku? Apa dia ingin membahas mengenai kegiatan panas dan liar tadi?'
Saat Arya sibuk dengan pikirannya dan bertanya-tanya tentang hal yang akan diungkapkan oleh Putri, kini terjawab sudah begitu mendengar pertanyaan wanita yang menatapnya dengan tatapan intens.
"Bagaimana jika orang tuamu nanti menyuruhmu kembali, tapi tidak mengizinkan aku ikut atau masuk rumahmu karena tidak menerimaku."
Putri kali ini merasa sangat lega begitu mengungkapkan semua ketakutan yang dirasakan. Ia ingin mendengar apa jawaban yang akan diungkapkan oleh pria dengan tatapan masih terlihat sangat tenang tersebut.
Sementara itu, Arya yang kali ini dihujani banyak pertanyaan dari Putri, masih belum berniat untuk menjawab karena balik bertanya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal berselingkuh denganku? Akhirnya ketakutan seperti ini dengan berpikir hal yang sangat buruk akan terjadi padamu."
Tentu saja ia kali ini berpikir bahwa Putri tengah membandingkannya dengan suami dan wanita itu ingin menjawab rasa ingin tahu.
Apalagi pertanyaan Putri diyakini olehnya berhubungan dengan pria bernama Bagus Setiawan yang dianggapnya bukan apa-apa.
Pertanyaan yang selama ini ingin ditanyakan Putri pada Arya hari ini benar-benar sudah meledak di kepalanya.
__ADS_1
To be continued...