Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
95. Gen


__ADS_3

Sementara itu, Bagus yang sangat terkejut, kini membulatkan mata begitu mengerti arah pembicaraan dari wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.


"Apa yang pria itu katakan? Apa dia tahu jika kamu adalah kakak tiri Putri?"


Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Amira Tan kali ini. Ia menatap kesal pada Bagus karena ancamannya tadi sama sekali tidak digubris.


"Bukankah aku tadi bilang, jangan menyela pembicaraan?"


Raut wajah penuh penyesalan kini tampak jelas dari Bagus, sehingga kini ia mulai mengungkapkan penyesalan dengan menyatukan kedua tangan.


"Maaf. Kali ini aku akan benar-benar mendengarkan."


Amira hanya bisa mengungkapkan kekesalannya pada pria yang duduk di sebelahnya tersebut dengan geleng-geleng kepala. Kemudian ia mulai kembali menceritakan tentang pertemuannya dengan Ari Mahesa beberapa saat lalu.


"Biasanya aku sangat menyukai pekerjaanku, tapi kali ini tidak menyukainya. Namun, ini adalah kabar baik untukmu, sedangkan bagiku adalah kabar buruk. Ari Mahesa menyuruhku untuk mengurus pembatalan gugatan cerai Putri karena sudah mengetahui bahwa putranya yang membantu."


"Bahkan Ari Mahesa mau membayar mahal asalkan Putri tidak jadi bercerai denganmu. Sepertinya dia tidak akan pernah memberikan restunya pada istrimu yang dianggap telah menggoda putranya."


"Sebenarnya tidak salah jika dia tidak ingin putranya menikah dengan wanita biasa dan statusnya sebagai istri orang, pula! Bisa-bisa nanti nama baik keluarga besar Mahesa tercemar dan berakibat harga saham anjlok."


Bagus yang mengerti sedikit mengenai orang-orang konglomerat yang selalu berhati-hati dalam hal pasangan untuk keturunannya dan berpikir untuk mengembangkan bisnis dengan penyatuan kekuasaan.


Seharusnya ia merasa senang karena istri yang durhaka padanya tidak akan pernah bisa menikah dengan pria idaman lain tersebut. Namun, pada kenyataannya ia malah semakin merasa iba pada nasib Putri ke depannya.


"Bagaimana nasib Putri nanti saat menikah dengan pria itu? Apa yang akan terjadi padanya? Aku takut dia akan hidup semakin menderita karena tidak mendapatkan restu dari orang tua pria konglomerat yang sudah diusir oleh orang tuanya karena memilih Putri."


Lagi-lagi Amira Tan menepuk jidat karena penjelasannya panjang lebar tadi ia pikir akan membuat Bagus senang dan juga lega, tapi ternyata semuanya adalah kebalikannya.

__ADS_1


Refleks ia yang merasa sangat geram pada pria di sebelahnya, langsung meraih tas miliknya dan mengarahkan ke punggung belakang pria itu.


"Dasar pria bodoh! Pria naif dan menyebalkan!" umpat Amira Tan yang tidak berhenti untuk memukul.


Ia berpikir bahwa pria yang saat ini ada di sampingnya tersebut tidak akan merasa kesakitan atas perbuatannya. Apalagi ia bukan memukul kepala, jadi berpikir tidak apa-apa.


"Kau seperti manusia langka di dunia ini, Bagus Setiawan. Sialnya, aku sekarang malah kagum padamu. Seharusnya Putri sangat bangga bisa memiliki seorang suami sepertimu, tapi dia sangat bodoh karena hanya mementingkan nafsu semata."


Bagus yang saat ini menelan kasar salivanya karena menyadari bahwa kalimat terakhir Amira Tan berhasil menyindirnya. Ia bahkan tidak mungkin menceritakan bahwa sangat lemah di atas ranjang, sehingga hanya diam saja ketika melihat kemurkaan wanita itu.


Seharusnya itu merupakan sebuah pujian, tapi tidak baginya karena malah merasa sangat tertampar kali ini.


"Kamu salah karena pada kenyataannya, aku adalah suami tidak berguna yang membuat istriku tersesat. Aku tidaklah sebaik itu karena kamu sama sekali tidak mengenalku."


Bagus yang saat ini berbicara, melihat tatapan beberapa orang yang aneh dan beralih menatap ke arah Amira.


Embusan napas panjang dan berat terdengar dari bibir Bagus saat ini, seolah menjelaskan tentang perasaannya saat ini.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Memilih dendammu atau uang?"


Tentu pertanyaan yang bernada menyindirnya habis-habisan membuat Amira Tan tersenyum masam. Ia yang tadi memang belum mengambil keputusan karena masih beralasan akan mempelajari tentang semuanya.


"Jika boleh memilih, aku ingin memilih keduanya. Membiarkan Putri hancur dan juga mendapatkan uang banyak."


"Aku masih suami Putri. Jadi, jangan berbicara sejujur itu padaku. Kita hidup di dunia ini adalah sebuah pilihan karena semuanya tidak akan berjalan selalu sesuai dengan keinginan kita. Jadi, pilihlah salah satu. Kamu mau pilih yang mana? Agar aku bisa mempertimbangkan apa yang harus dilakukan."


Tidak ingin mengatakan keputusannya, Amira Tan memilih beranjak dari tempatnya dan kini sudah berdiri menjulang di hadapan sosok pria yang membuatnya merasa sangat kesal karena kebodohan.

__ADS_1


"Tanggapanmu selalu berbeda dan tidak pernah sesuai dengan yang kupikirkan dan itu membuatku kesal. Jadi, aku memilih untuk merahasiakan keputusanku."


Tanpa berniat untuk menunggu respon dari Bagus, kini ia sudah berjalan meninggalkan sosok pria yang dianggapnya sangat bodoh sambil mengumpat.


"Dia adalah pria paling bodoh yang ada di dunia ini? Bahkan apapun yang dilakukan oleh wanita murahan itu, tetap saja dia memaafkan. Kenapa Putri selalu mendapatkan banyak cinta dari para pria?"


"Berbeda denganku karena saat ini belum ada satu pria pun yang cocok denganku."


Amira yang sudah tiba di mobilnya, kini mendaratkan tubuhnya di balik kemudi dan mulai mengemudikan mobil meninggalkan rest area tersebut.


Sementara di sisi lain, Bagus Setiawan yang masih duduk di kursi yang berada di bawah pohon rindang, hanya menatap nanar kepergian dari kakak tiri istrinya.


"Wanita itu sangat arogan dan jika dipikir-pikir, sangat mirip dengan Putri yang sekarang. Sepertinya gen itu menurun dari ayahnya."


***


Sementara itu, sosok wanita yang saat ini tengah fokus mengemudi, terlihat bibir mengerucut dengan wajah masam yang menunjukkan bahwa saat ini benar-benar tidak baik suasana hatinya setelah tanpa sengaja bertemu dengan pria yang menurutnya sangat naif.


Tidak ingin membuat ia semakin bertambah kesal, wanita yang tak lain adalah Amira kini menghentikan mobilnya di tepi jalan karena berpikir bahwa sangat berisiko ketika mengemudi dengan kecepatan tinggi karena merasa marah.


"Kenapa aku harus bertemu dengan pria naif itu tadi. Aku jadi kesal seperti ini karena merasa geram dengannya. Bagaimana mungkin ada pria senaif itu di dunia ini. Astaga!"


Amira mengacak rambutnya untuk meluapkan emosi karena benar-benar sangat geram melihat seorang pria yang tidak marah pada istrinya ketika dikhianati. Bahkan malah menyalahkan diri sendiri dan membuatnya benar-benar sangat heran.


Terbuat dari apa sebenarnya hati dan otak pria itu. Bagaimana mungkin dia dari tadi sibuk menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh wanita sialan itu! Bahkan ia masih tetap membela Putri ketika saudara perempuan yang masih mengalir darah yang sama saja sangat marah dan lebih mendukungnya."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2