
Beberapa saat lalu, Bagus telah mengantarkan penumpang yang rumahnya berjarak empat rumah dari Putri. Jadi, begitu melihat Putri naik taksi, ia pun memilih untuk mengikuti.
Setengah jam kemudian, mereka telah tiba di sebuah klinik.
Putri sedang malas berdebat dengan Bagus. Ia tadi memang membiarkan saja pria itu mengikutinya sampai ke klinik.
Bahkan Bagus mengikuti Putri sampai poli anak yang ada di klinik tersebut. Putri harus mendaftar terlebih dahulu untuk memeriksakan keadaan putranya.
Sebelum masuk ke dalam ruangan dokter, salah seorang perawat di sana terlebih dulu memeriksa berat badan, tinggi badan, dan menanyakan keluhan yang dialami oleh bayi itu pada sang ibu.
Setelah mencatat semuanya, perawat itu membawa catatan tersebut ke dalam ruangan, bersama dengan catatan beberapa pasien lain.
Putri duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ia kini menunggu bersama beberapa pasien lain di depan ruang tunggu yang ada di sana. Tampak sekali gurat khawatir di wajahnya.
"Kenapa dengan bayimu?" tanya Bagus yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi sebelah mantan istrinya tersebut.
Sedangkan Putri tidak menyadari karena terlalu khawatir dan fokus pada putranya.
"Putraku demam. Bahkan demamnya naik turun. Kemarin demam, tapi turun lagi, terus saja seperti itu. Rewel dan tidak mau minum susu. Bahkan muntah-muntah." Putri menjelaskan sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh bayinya.
“Apa Arya akan menyusul ke sini?” tanya Bagus.
Ia ikut memandangi Xander yang sedang tertidur di pangkuan Putri.
"Arya masih di kantor. Ia tidak bisa pulang cepat hari ini. Mungkin nanti saat kami sampai rumah, baru pulang."
Putri tidak mungkin menceritakan perihal Arya yang memang sengaja menolak untuk menemaninya membawa Xander ke klinik. Bahkan ia bisa mendengar helaan napas berat dari pria yang duduk di sebelahnya.
Bagus sebenarnya ingin menyanggah ucapan Putri tentang Arya.
Sesibuk apa pria itu sampai ia tidak bisa pulang saat anaknya sedang sakit dan membiarkan Putri membawa seorang diri ke klinik?
Ia mengatupkan bibir, menahan hatinya agar bibirnya tidak sampai berucap kata yang menyinggung perasaan Putri karena ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan wanita itu.
Bagus sudah cukup mengenal bagaimana sifat mantan istrinya. Ia tidak ingin memperburuk suasana hati wanita itu dan membuat Putri semakin menjauh darinya.
Dengan Putri yang tidak mengusirnya dari sana saja, itu sudah cukup bagus baginya.
__ADS_1
Setelah menunggu selama 30 menit, seorang perawat memanggil nama Xander dan Putri segera beranjak masuk ke dalam ruangan dokter.
Seorang dokter anak wanita menyapa sang ibu dan menanyakan apa keluhan si kecil.
Kemudian Putri menceritakan apa yang dialami oleh putranya pada dokter tersebut secara detail.
“Anda tidak perlu panik. Silakan dibaringkan baby-nya. Kita periksa suhu tubuhnya dulu.”
Putri beranjak dari duduknya dan seorang perawat membantu mengukur suhu tubuh.
Bahkan melakukan pemeriksaan lainnya pada Xander. Sang dokter juga melakukan pemeriksaan lain pada bayi itu.
Putri yang berdiri di samping putranya, ikut menenangkan karena kini menangis.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter wanita itu kembali duduk di kursi, diikuti Putri yang juga berada di seberang meja depan sang dokter.
“Panasnya cukup tinggi. Kemungkinan si kecil mengalami infeksi virus. Saya akan meresepkan beberapa obat yang bisa diberikan untuk si kecil.
Jika dalam tiga sampai empat hari belum ada perubahan atau kondisinya semakin parah, bisa kembali lagi ke sini dan kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.” Dokter mencatat beberapa poin penting dan meresepkan obat untuk bayi itu.
Putri mengangguk dan mendengarkan dengan seksama penjelasan, serta pesan apa saja yang diberikan oleh dokter.
Ia sedang merekam ucapan dokter wanita itu dalam memori ingatannya.
“Saya sudah tuliskan resep obat. Anda bisa mengambilnya di apotik klinik langsung dan juga harus menjaga kondisi tubuh dan makanan yang dikonsumsi juga."
"Semua itu karena Anda sedang memberikan air susu ibu untuk si kecil, jadi harus banyak mengkonsumsi makanan yang bisa memperbanyak produksi susu."
"Jika ASI yang dihasilkan hanya sedikit dan tidak seimbang dengan konsumsi yang dibutuhkan oleh si kecil, maka yang terjadi bisa dehidrasi.” Dokter kembali menjelaskan pada sang ibu.
Dokter juga memberikan semangat dan meminta agar sang ibu tidak perlu terlalu panik dan khawatir.
“Baik. Terima kasih, Dokter. Saya akan ikuti apa yang Dokter sarankan,” ucap Putri sembari mengangguk.”
"Semoga si kecil lekas sembuh,” balas dokter wanita itu sambil tersenyum ramah pada Putri.
Putri keluar dari ruangan dokter tersebut dengan Xander yang masih terus menangis di dalam gendongannya.
__ADS_1
“Bagaimana?” Bagus langsung berdiri menghampiri Putri saat mantan istrinya itu berjalan keluar dari ruangan dokter dengan Xander yang terus menangis.
“Aku harus ke bagian administrasi dan apotik dulu untuk mengambil obat untuk Xander,” ucap Putri sembari terus berjalan.
“Biar aku saja. Kasihan Xander, sepertinya ia lapar dan haus. Sebaiknya kamu menyusuinya lebih dulu.”
Kalimat Bagus berhasil menghentikan langkah Putri. Ia menatap sebentar pria yang berdiri di sampingnya dan kemudian beralih pada Xander yang masih menangis dalam gendongannya.
“Tidak ada waktu untuk berpikir lagi. Kita belum tahu apakah di apotik bisa langsung mendapatkan obat itu atau harus mengantri lagi dengan pasien lain. Kasian anakmu kalau harus menunggu lagi.”
“Baiklah.” Putri menyerah dan memilih untuk menerima bantuan Bagus. Ia menyerahkan lembar kertas yang diberikan oleh dokter tadi.
“Kamu bisa menyusul jika aku masih belum kembali saat sudah selesai.” Bagus menerima kertas yang diberikan oleh Putri. Kemudian berlalu meninggalkan wanita yang
berbalik menuju ruang ASI yang ada di sana.
Ruangan yang memang dikhususkan untuk sang ibu memberikan ASI pada anak mereka.
Benar yang dikatakan oleh Bagus, ternyata setelah diberikan ASI, Xander kembali tenang dan mulai terlelap.
Putri menghela napas lega melihat Xander yang kembali tidur dengan tenang. Ia tidak bisa berpikir dengan tenang saat dalam keadaan panik.
Bahkan Bagus lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh anaknya dibandingkan dirinya.
Kembali ia mengingat obrolannya bersama Arya di telepon beberapa jam lalu. Putri mulai merasa Arya seperti sedang menghindarinya.
Bahkan tidak pernah menjawab saat Putri menanyakan keadaan mertuanya. Putri selalu saja menghindar dan mengalihkan pembicaraan.
Putri juga tidak lagi mendengar suara bahagia dari pria itu saat ia menelpon atau chat panjang lebar dan sang suami membalas pesan yang dikirimkan.
Arya jauh berbeda. Dulu selau lebih dulu mengirim pesan atau menelponnya. Namun, sekarang, jangankan untuk menghubungi lebih dulu, membalas pesannya saja harus menunggu seharian.
Putri merasa seperti akan bertemu dengan presiden saja, sangat sulit. Segera ia menepis segala pikiran buruk yang bisa membuat hatinya kembali merasakan nyeri.
Biarlah semua berjalan seperti ini. Hingga benar-benar mengetahui apa penyebab Arya berubah seperti itu.
To be continued...
__ADS_1