Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
104. Sedikit sekali


__ADS_3

Putri kali ini merasa sangat lemas dan tubuhnya benar-benar lunglai. Pupus sudah harapan terakhirnya kali ini. Ia bahkan tidak tahu harus kepada siapa lagi meminta pertolongan karena selama ini tidak pernah memiliki teman dekat.


'Apa yang harus kulakukan karena Bagus tidak mau meminjamkan uang padaku? Sementara saat ini, Arya di sana sedang menunggu kabar baik dariku. Bahkan ia menaruh harapan besar padaku dan percaya bahwa aku bisa menyelesaikan masalah yang terjadi sekarang.'


Masih terdiam karena sibuk memikirkan bagaimana caranya merubah pendirian dari pria yang berdiri di hadapannya tersebut, Putri kini terlihat menunjukkan kepala dengan sesekali meremas pakaian.


Sementara di sisi lain, yaitu Bagus yang sebenarnya hanya ingin melihat ekspresi kekecewaan yang sudah bisa diduga olehnya, kini ia mengatakan hal yang sebenarnya.


"Aku memang tidak akan pernah meminjamkan uang untuk kamu gunakan untuk menikah dengan pria itu, tapi akan memberikan uang itu dengan tujuan sebagai salam perpisahan."


"Setelah ini, aku tidak akan pernah peduli lagi padamu. Anggap saja ini adalah kebaikan terakhir yang akan kuberikan pada ibu dari anak-anakku."


"Aku akan kembali ke kampung dan meninggalkanmu bersama pria itu. Kamu bisa berbuat sesuka hati tanpa kami."


"Namun, setelah kamu memutuskan untuk menikah dengan pria itu, jangan pernah sekalipun menunjukkan wajahmu di hadapan anak-anak kita karena aku tidak ingin mereka menanggung dosa darimu."


Bagus sengaja mengatakan kalimat yang sangat menyayat hati karena mengetahui bahwa hukum karma di dunia memang berlaku dan tidak bisa dihindari oleh siapapun.


Ia kali ini merasa takut jika dua anaknya yang menanggung karma dari perbuatan orang tuanya.


Jika dulu ia merasa khawatir jika Putri yang mendapatkan sebuah balasan dengan hidup menderita di dunia, tetapi kali ini berubah pikiran karena memikirkan dua anaknya.


Tentu saja kembali pada pepatah 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' menjadi sesuatu yang sangat menakutkan jika itu benar-benar terjadi.


Bagus saat ini menatap ke arah sosok wanita yang terlihat berbinar begitu mendengar keputusannya. "Apakah saat melakukan sebuah dosa, kamu sama sekali tidak mengingat anak-anak kita?"

__ADS_1


"Apalagi kamu memiliki seorang anak perempuan. Apakah kamu tidak takut jika putri kita yang menanggung karma atas perbuatanmu?"


Wajah Putri yang tadinya berbinar karena merasa bahwa permasalahannya kali ini telah selesai karena Bagus mau menolongnya. Namun, seketika berubah muram begitu mendengar pertanyaan terakhir tersebut.


Refleks ia yang saat ini masih bersimpuh di lantai, sudah mendongak, menatap ke arah sosok pria dengan wajah mengenaskan tersebut.


"Biar aku yang menanggung semuanya. Anak-anakku tidak akan menanggung dosa yang kau lakukan. Aku ... Akulah yang harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan, bukan anakku!"


Meskipun jauh di dasar hati, Putri merasa sangat takut jika itu benar-benar terjadi. Namun, ia kali ini berpikir akan menanggung semuanya sendiri dan tidak akan membiarkan anak-anaknya mendapat balasan karena atas perbuatan yang telah berselingkuh dengan pria lain.


"Biarkan aku yang menanggung dosaku sendiri dan kamu sebagai seorang ayah bagi mereka harus mendoakan agar semua ketakutan yang tadi tidak akan pernah terjadi."


Kini, ia memilih bangkit dari posisinya agar bisa berdiri sejajar dengan pria yang sudah dianggap sebagai mantan suaminya meskipun belum resmi bercerai.


"Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan ini. Tenang saja karena akan mengembalikan uangmu setelah Arya kembali ke kehidupannya semula karena ia akan menjadi penerus dari ayahnya."


Lagi-lagi Bagus kali ini merasa terhina karena niat baiknya malah disalah artikan oleh Putri.


"Bukankah tadi aku sudah mengatakan tidak akan meminjamkan uang kepadamu karena hanya menganggap ini adalah pemberian terakhirku sebagai nafkah seorang suami sebelum kamu menikah dengan pria berengsek itu."


Bagus yang berkomentar untuk menanggapi perkataan dari wanita yang ada di hadapannya, kini berbalik badan tanpa menunggu jawaban.


Karena perasaannya benar-benar terluka hari ini melihat sang istri telah memutuskan untuk tidak memperdulikan lagi keluarga kecil mereka.


'Kamu bukanlah Putri yang kukenal selama ini. Kamu sekarang hanyalah seorang wanita yang bukan merupakan siapa-siapa untukku. Selamat tinggal masa lalu. Sudah saatnya aku meninggalkan semua kenangan buruk yang kau ciptakan ini hingga membuatku tidak mempunyai harga diri sebagai seorang suami.'

__ADS_1


Saat Bagus berjalan dengan bergumam miris untuk mengeluarkan semua beban yang dirasakan kali ini. Namun, saat ia membuka pintu, indra pendengaran yang menangkap suara Putri yang bertanya padanya.


"Tunggu! Aku belum selesai berbicara. Jangan pergi dulu!" Putri kini sedikit berlari untuk mengejar Bagus karena memikirkan mengenai uang yang dikatakan oleh pria di depan pintu tersebut.


Bagus yang kali ini mengetahui apa keinginan Putri, hanya menoleh sekilas dan membuatnya tetap keluar dari ruangan kamar wanita yang menahan kepergiannya.


"Mulai sekarang, kita tidak boleh berada di satu kamar karena aku menganggapmu bukan siapa-siapa lagi untukku. Jadi, jika ingin bertanya atau pun membicarakan sesuatu, lebih baik keluar dari kamar."


"Meskipun aku belum bisa mengucapkan talak pada wanita hamil seperti dan menceraikannya di pengadilan agama, tapi sudah menganggap bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa."


Putri sama sekali tidak memperdulikan apa yang ada di pikiran Bagus saat ini karena yang dipikirkan hanyalah mengenai masalah uang.


"Baiklah, aku akan selalu mengingat hal itu. Sepertinya semua orang akan menghujatku. Padahal rumah tangga kita sudah tidak sehat setelah banyak perubahan yang kurasakan darimu dan membuatku memilih untuk berada di jalan ini."


"Aku hanya ingin bertanya, berapa uang yang akan kau berikan? Meskipun aku tetap akan menganggapnya sebagai utang."


Bagus kini berbalik badan dan mengatakan jawabannya agar sosok wanita yang berdiri di hadapannya tersebut puas.


"Bukankah kamu hanya butuh uang untuk menikah siri dengan pria itu? Aku pun tidak bisa memberikan uang yang banyak karena bukanlah pria konglomerat seperti ayah dari calon bayi yang kau banggakan itu."


"Aku hanya mempunyai simpanan uang satu juta dan akan kuberikan padamu secara cuma-cuma."


Awalnya, Putri berpikir akan meminjam uang sebesar lima juta untuk pernikahan, serta mencari tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, begitu mendengar uang dan diberikan Bagus hanya cukup untuk menikah saja, membuatnya merasa sangat kecewa.


"Kenapa sedikit sekali? Itu tidak akan cukup. Aku butuh uang lima juta untuk biaya pernikahan, tempat tinggal sementara dan biaya hidup sehari-hari."

__ADS_1


"Tidak mungkin aku setelah menikah tinggal di sini, kan? Jika aku tidak mendapatkan uang segitu, aku tinggal di mana dan makan apa dengan Arya?" ucap Putri dengan wajah penuh permohonan pada Bagus.


To be continued...


__ADS_2