Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
242. Tidak mungkin


__ADS_3

Putri memang bukanlah wanita karier saat ini. Kehadiran bayi yang baru saja ia lahirkan, membuat wanita itu terlihat lebih sibuk akhir-akhir ini.


Selain sibuk di pagi hingga sore hari, ia juga harus terbangun beberapa kali di malam hari untuk memberikan ASI pada bayinya dan juga menggantikan popok.


Sementara Arya berusaha untuk memahami sang istri. Ia ikut membantu sebisanya.


Terkadang ia bangun di malam hari untuk ikut menggantikan popok Xander dan membuat sarapan sebelum berangkat kerja.


Arya berusaha membantu pekerjaan rumah lainnya saat ia sempat karena merasa kasihan pada sang istri.


Arya tahu, Putri juga tidak mudah untuk melalui semua itu. Apalagi hanya seorang diri mengurus anak yang baru dilahirkan.


Sesibuk apapun Arya, selalu berusaha untuk pulang cepat saat semua pekerjaan sudah diselesaikan.


***


Sang mentari telah muncul dan menyapa dengan cahayanya yang menghangatkan.


Arya sudah bangun sejak pagi dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang istri. Pria itu juga menyempatkan membantu Putri mencuci popok dan pakaian putra mereka yang memang dicuci menggunakan tangan.


Ia juga membantu menjemur pakaian mereka yang sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci satu jam sebelumnya.


"Sayang, kamu siap-siap saja. Tidak usah repot menjemur pakaian. Aku bisa melakukan nanti setelah Xander tidur." Putri menghampiri suaminya yang tengah menjemur pakaian di dalam ember sambil menggendong bayi mereka.


"Tidak apa-apa, Sayang. Masih ada waktu dua jam sebelum aku berangkat bertemu dengan klien," jawab Arya dan kini tengah tersenyum lembut menatap sang istri dan putranya


Setelah menjemur baju, mereka menikmati sarapan bersama di meja makan.


"Makan yang banyak, Sayang. Ingat, kamu sedang memberikan ASI untuk putra kita. Aku tidak mau kalau kamu sampai sakit." Arya menyendok sayur bayam yang dicampur dengan wortel ke dalam mangkuk dan menyodorkan di hadapan sang istri. "Sayuran bagus untuk ibu menyusui," ucap Arya yang mengetahui pengetahuan itu karena memang bertanya pada dokter.


"Terima kasih, Sayang." Putri tersenyum bahagia dan segera melahap makanan yang diberikan oleh suaminya.


Dua jam kemudian, pada pukul delapan pagi, Arya berangkat menggunakan taksi online yang sudah ia pesan. Ia tidak bisa mengendarai bus karena pagi itu akan langsung bertemu klien yang beberapa hari lalu menelpon untuk melihat sebuah rumah yang Arya tawarkan.


"Aku berangkat dulu, ya, Sayang. Jangan lupa buahnya di makan nanti!" Arya mengecup kening istrinya sebelum pria itu beranjak masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati juga di jalan. Jangan lupa makan, sesibuk apapun bekerja karena kesehatan mahal harganya. Jadi, jangan sampai sakit," pesan Putri untuk mengingatkan sang suami.


"Siap, Tuan Putri," sahut Arya sembari membungkuk hormat ala pangeran kerajaan dan berhasil membuat Putri terkekeh dan menciptakan rona merah di kedua pipi wanita itu.


Putri mengantar Arya hingga pria itu masuk ke dalam taksi dan kendaraan roda empat yang membawa suaminya menghilang di balik belokan dan sudah tidak terlihat lagi.


Putri memanfaatkan waktu sebaik mungkin selagi putranya tertidur.


Wanita itu bergegas membereskan rumah yang masih berantakan dan melipat pakaian dan popok yang belum sempat ia lakukan kemarin.


Menjadi seorang ibu yang mengurus sendiri bayinya sekaligus juga pekerjaan rumah, ternyata cukup membuat Putri lelah karena ia belum sepenuhnya pulih dari luka jahitan.


Sebagai seorang ibu yang baru melahirkan, tidak bisa dipungkiri jika Putri juga akan kurang tidur di malam hari. Namun, ia terus berusaha untuk menikmati setiap momen yang dijalani.


Ia juga merasa beruntung mempunyai suami seperti Arya yang selalu membantu pekerjaan rumah. Selagi masih ada pria itu, ia tidak akan mengeluh dan akan menikmati masa-masa seperti saat ini.


Sementara itu di tempat berbeda, yaitu di dalam mobil, ponsel Arya terus saja bergetar dan sebuah nama yang sangat ia kenal tertera di layar.


Nama itu adalah Calista yang menelpon. Wanita itu langsung memberikan rentetan pertanyaan yang membuat telinga Arya terasa panas.


Saat Arya mengatakan jika ia tidak akan langsung ke kantor, tetapi akan bertemu dengan klien di luar, wanita itu melayangkan protes karena tidak memberitahu terlebih dahulu.


Tidak ingin memperpanjang percakapan dengan Calista, Arya memilih untuk meminta maaf dan mengakhiri telepon.


Arya kini menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus berdoa dalam hati, semoga kliennya kali ini akan tertarik juga dengan beberapa bangunan yang akan ia tawarkan.


***


Hari-hari Arya berjalan normal seperti biasa. Hanya saja, ia harus ke rumah sakit setiap hari pada jam besuk sang ibu di sore hari.


Bersama sang ayah, Arya melakukan yang terbaik untuk membuat ibunya cepat sadarkan diri dari koma.


Satu minggu sudah wanita itu terbaring di atas ranjang rumah sakit. Hanya sekali memberikan respon dengan menggerakkan satu jarinya, setelah itu tidak ada lagi pergerakan yang terlihat.


Hingga karena kejadian itu pula, hubungan Arya dengan sang ayah yang sempat menegang, kini sudah kembali menghangat dan mereka tidak merasa canggung lagi saat mengobrol berdua.

__ADS_1


"Arya, ada yang ingin Papa sampaikan. Ayo kita makan malam bersama. Setelah itu, baru kita bicara." Ari mengajak putranya dengan berjalan lebih dulu di depan.


Bagi Arya, itu bukanlah sebuah ajakan, melainkan sebuah perintah.


"Baik, Pa." Arya tidak membantah dan mengikuti langkah sang ayah.


Pria paruh baya itu masih mengenakan setelan jas yang masih melekat di tubuh dan masih terlihat gagah di usia yang sudah tidak muda lagi.


Ari Mahesa memang memiliki tubuh tegap yang gagah dan juga wajah tampan dengan aura yang sangat berwibawa.


Ayah dan anak itu pun meninggalkan rumah sakit menuju salah satu restoran yang menjadi tempat baru untuk mereka makan malam selama menjaga Rani di rumah sakit.


Sebuah restoran mewah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Rani dirawat.


Malam ini, Ari Mahesa sengaja memilih tempat yang lebih privasi karena ada hal penting yang akan ia sampaikan pada putranya.


Obrolan mereka sembari menunggu pesanan datang hanyalah seputar pekerjaan Arya di kantor.


Ari menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian yang putranya tunjukkan selama ini. Pria paruh baya tersebut bisa melihat bagaimana kerja keras putranya sebulan belakangan ini.


Sampai pesanan datang, dua pria berbeda usia tersebut menyantap makan malam dalam diam dan hening.


Bahkan suara denting sendok dan piring pun tidak terdengar.


"Tadi Papa bilang ada hal penting yang ingin disampaikan?" tanya Arya saat mereka selesai menyantap makan malam dan meja di hadapan sudah dibersihkan oleh pelayan restoran.


"Ya. Papa ingin memberikan ini." Ari Mahesa menyodorkan sebuah amplop yang berlogo sebuah rumah sakit di depannya.


"Bukalah," titah Ari Mahesa pada putranya.


Arya segera meraih amplop di depannya dan membuka perlahan. Ia mengeluarkan isi kertas di dalamnya dan membaca dengan seksama.


Tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu tak kasat mata yang menghantam dadanya, hingga membuat nyeri dan sesak di sana.


"Ini tidak mungkin," ucap Arya dengan lirih.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2