Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
209. Merayu suami


__ADS_3

Belum puas dengan rencana yang selalu gagal. Rani masih memiliki banyak cara untuk bisa memisahkan putranya dari Putri.


Terlihat Rani yang sedang berada di salah satu Mall tengah melihat-lihat barang bermerek di sana. Mendengar kabar ada tas keluaran terbaru dari merek terkenal, membuatnya bersemangat datang ke salah satu outlet di sana.


Dari luar, Rani melihat ada tas yang sedang diinginkannya tepat di etalase depan. Rani berjalan santai dan masuk ke outlet itu dengan gayanya. Ia melambaikan tangan dan seorang pekerja di sana menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”


“Ya, bungkus satu untukku.”


“Tas itu? Maaf, Nyonya, tapi baru saja ada yang memesannya. Wanita itu masih memilih tas lainnya di sana,” jelas pegawai di sana dengan menunjuk pada seorang wanita dewasa yang terlihat berkosentrasi menatap ke arah koleksi tas di toko tersebut.


Seketika Rani berjalan ke arah kasir dan berkata, “Aku akan membayar tas yang sudah dipesan itu.”


Rani mengeluarkan kartu kreditnya dan setelah dibayar, akhirnya ia bisa mendapatkan tas tersebut. Sementara wanita yang sudah memesannya tampak bingung karena saat ingin membayar, tas itu sudah berada di tangan orang.


Tentu saja wanita itu ingin mengetahui siapa yang sudah merebut tas pesanannya. Ia mendatangi Rani yang kini ada di pintu masuk dengan menerima telpon. Setelah selesai dengan teleponnya, Rani merasa ada yang berdiri di sampingnya.


“Siapa kamu?” tanya Rani yang tampak asing dengan wanita di sampingnya.


“Maafkan aku, Nyonya, tapi itu adalah tas yang sudah aku pesan di dalam. Kenapa Anda mengambilnya begitu saja?”


"Aku tidak tahu jika ini milikmu karena yang aku tahu barang ini belum dibayar.”


“Setidaknya Anda bisa bertanya dulu pada salah satu pegawai di sini. Namun, sepertinya Anda juga sudah mengetahuinya. Hanya pihak kasir saja yang lalai.”


“Jangan salahkan aku yang sudah membayar tas ini. Sebaiknya kamu cari di outlet lain sebelum habis. Bukankah ini tas limited stok?”


“Memang benar, itu adalah tas yang terbatas. Aku jauh-jauh datang dari kota sebelah hanya untuk menemukan tas ini. Bahkan aku sudah melakukan pemesanan sejak pagi ini.”


“Intinya, tas ini sudah menjadi milikku.”


Rani akan berpaling dan pergi dari sana, tetapi wanita itu tetap mengejarnya dan justru menyodorkan uang tunai pada Rani.


“Ini, aku akan membayarnya dengan uang tunai. Jumlahnya seharga tas itu. Lima puluh juta, kan?"


Seketika Rani membulatkan matanya melihat nominal yang ada di hadapannya.


“Tidak!” Rani sungguh menguji kesabaran wanita itu.


“Bagaimana dengan tujuh puluh? Akan aku bayar lebih.”


Rani tampak bingung, pasalnya tas itu memang sangat terbatas di kota ini. Sekarang hanya tersisa satu di tangannya. Jika wanita itu menginginkan tas tersebut dan menambah nominal, bisa dipastikan wanita di hadapannya sangat kaya.


“Baiklah, tapi aku memiliki syarat untukmu.”


“Benarkah? Katakan apa syaratnya?”


“Aku ingin kau merayu putraku.”

__ADS_1


“Maaf, Nyonya. Aku tidak bisa.”


“Apa kamu sudah menikah?”


“Tidak, aku belum menikah maupun memiliki pasangan. Hanya saja, dalam satu minggu ke depan, aku sedang sibuk dengan pernikahan adikku dan tas itu akan kujadikan sebagai hadiahnya.”


Rani kembali memutar otaknya, satu minggu baginya terlalu lama. Bibirnya mulai bergerak dan kembali bernegosiasi tentang hari.


“Kapan hari pernikahan adikmu?”


“Sabtu, tetapi hari ini sampai jumat, aku sibuk dengan urusan perusahaan. Adikku masih mengurus pernikahannya, sehingga tidak bisa membantuku.”


“Bagaimana jika putraku membantumu selama satu minggu ini? Kamu bisa bekerja sekaligus mendekatinya. Bagaimana?”


“Putra Nyonya? Tapi, apa ia akan mau melakukannya?”


“Tentu saja, putraku pasti akan tertarik. Kamu katakan saja nama perusahaanmu, lalu aku akan membujuknya dengan mudah. Lagipula dalam perusahaan kami, sudah ada suamiku yang bekerja dan orang-orang kepercayaannya.”


Wanita tersebut tampak berpikir. Sebuah bantuan dengan balasan tas yang akan dihadiahkan untuk sang adik. Sepertinya sepadan, pikirnya


“Siapa namamu?”


“Tania Enggar Saputra, Nyonya.”


“Oh, kamu anak dari mendiang tuan Saputra rupanya?”


“Nyonya mengenal ayahku?”


“Tuan Ari Mahesa? Aku tahu keluarga Anda sangat terkenal dengan kebaikannya dan juga perusahaan terbesar yang sangat menguntungkan untuk perusahaan kami.”


“Ya, jika tahu tuan Saputra memiliki anak sepertimu, kenapa tidak dari lama saja."


Tania tampak bingung dengan ucapan wanita tersebut. Kini mereka berpindah tempat ke sebuah restoran yang ada di Mall.


Keduanya duduk berseberangan dengan makanan yang sudah dihidangkan di meja. Saling berbincang dan semakin mengenal satu sama lain.


Rani sudah bertekad untuk menjodohkan Arya dengan Tania. Hanya sedikit rayuan untuk suaminya saja yang perlu ia lancarkan dengan baik.


“Jadi, putra Tante itu bekerja di perusahaan, tapi hanya sebagai seorang cleaning service?"


“Iya, biasalah. Arya itu suka sekali melihat orang-orang yang ada di bawahnya. Melihat kinerja karyawan dan membantu karyawan biasa. Seperti itu pokoknya. Untuk kemampuan, jangan ditanya. Putraku itu hanya terlalu baik saja orangnya.”


“Tapi, kalau hanya sekadar membantu di perusahaan milik keluargaku. Apa ini tidak berlebihan? Bagaimana jika aku memberikan keuntungan untuk perusahaan Mahesa?”


“Kamu bicarakan dengan Arya saja nanti. Atau biar Tante saja yang bicara dengan suami.”


“Baiklah. Terima kasih untuk tasnya. Jika bukan tas ini, aku pasti bingung harus mencari ke mana lagi? Karena ada kendala visa yang tidak bisa digunakan. Aku jadi tidak bisa ke luar negeri untuk membelinya.”


“Begitu rupanya. Ya sudah. Lagi pula Tante ada rencana ke London. Semoga saja di sana ada dan bisa membeli lagi dengan uang yang kamu beri ini.”

__ADS_1


“Iya, Tante.”


Kegiatan makan itu berlangsung hingga akhirnya sebuah telpon mengharuskan Tania segera pergi dari sana.


Tania berpamitan setelah acara makan bersama itu, tetapi saat ia akan membayar tagihan, wanita paruh baya itu meraih bill dan membayar semuanya.


“Sudah, biar Tante saja.”


“Terima kasih, Tante. Maaf merepotkan.”


“Tidak sama sekali. Tante akan memberikan nomormu pada Arya, biar segera datang ke sana.”


“Siap. Sekali lagi terima kasih.”


Setelah kepergian Tania, Rani tampak senang dan tidak sabar menceritakan kembali pada suaminya tentang pertemuan hari ini. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya berkeliling Mall.


Ya, bagaimanapun, wanita itu belum mendapatkan satu barang pun di sana.


Puas berbelanja dan mendapatkan bonus berkenalan dengan salah satu wanita yang akan membantunya.


Bahkan sekarang Rani pulang dengan senyum bahagia dan tidak sabar untuk menceritakan pada suaminya mengenai pertemuannya siang ini.


Rani yang kini ada di rumah, tengah merapikan koleksi tasnya yang ada di ruangan khusus.


Ya, barang-barang bermerek milik Rani berada di satu ruangan yang memang secara khusus untuk menyimpan tas, sepatu, hingga perhiasannya.


Tidak heran jika wanita sosialita ini menginginkan menantu yang memiliki derajat sama dengan keluarganya.


“Tidak dapat yang terbatas, tapi aku bisa dapat yang paling unik dan best seller. Apalagi harganya lebih murah dari yang tadi."


“Nyonya, tuan sudah datang,” ujar seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan pintu masuk.


“Baiklah."


Rani meletakkan kembali tasnya, lalu berjalan menyambut kedatangan sang suami yang terlihat lelah.


“Pa, Mama punya kabar bagus sekali.”


“Jangan menunda untuk memberitahu jika itu kabar baik.”


“Jadi, Mama tadi ketemu sama anaknya mendiang tuan Saputra.”


“Tania?”


“Papa kenal? Bagus kalau begitu.”


“Kenal. Wanita itu sering datang ke kantor untuk mengajak bekerja sama dengan beberapa perusahaan kecil, tetapi sangat menguntungkan.”


“Pas sekali! Jadi Papa harus bantu Mama.”

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2