Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
107. Tanggapan Arya


__ADS_3

Masih pada posisi dengan tidur meringkuk seperti bayi, Putri menatap kosong pada lantai yang dihiasi oleh bantal dan guling yang tadi dilempar olehnya.


Karena meluapkan kekesalannya ketika Bagus tidak mau meminjam uang pada saudara tirinya sekaligus pada Arya yang mematikan sambungan telpon sepihak.


Sebenarnya jika tidak memikirkan harga diri pada saudara tirinya yang menurutnya sangat sombong, membuat Putri tidak ingin melihat wajah wanita itu lagi.


Jauh di lubuk hatinya kini, ia diam-diam membandingkan dua pria yang hadir dalam hidupnya dari masa lalu dan masa depan.


'Arya benar-benar sangat berbeda dengan Bagus. Ia lebih sering marah dan kesal padaku saat aku mengungkapkan apa yang kurasakan padanya. Sementara Bagus, ia tidak pernah marah saat aku memarahinya. Bagus jauh lebih sabar jika dibandingkan dengan Arya.'


Ragu, mungkin itu yang saat ini terpikirkan oleh Putri. Bagus Setiawan yang menjadi suaminya selama lebih dari sepuluh tahun. Mengingat tentang masa-masa indahnya ketika memiliki seorang suami yang sangat penyabar serta penyayang. Bahkan tidak pernah memakai cara kekerasan padanya.


"Bagus selama ini memang sangat baik dan tidak pernah berkata kasar padaku saat aku kesal padanya. Ia selalu merayuku, agar tidak melanjutkan marahku dan berusaha untuk membuatku melupakan kekesalan padanya dengan cara memberikan hal-hal kecil seperti makanan kesukaanku."


"Hanya saja, semenjak lima tahun belakangan ini, ia sangat lemah dan tidak pernah memuaskanku. Bahkan aku tidak pernah lagi bisa merasakan sensasi kenikmatan ketika bercinta dengannya yang hanya tahan beberapa menit saja."


"Sementara aku masih muda dan haus akan kegiatan **** yang normal. Bahkan aku bosan hidup miskin selamanya. Salahkah aku jika ingin hidupku berubah?"


Putri yang kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Arya dan langsung membuatnya jatuh cinta pada pria yang merupakan keturunan konglomerat tersebut.


"Sementara Arya, saat bertemu dengannya, hidupku benar-benar jauh lebih berwarna dan menyenangkan. Bahkan aku merasa seperti kembali pada masa remaja ketika jatuh cinta padanya. Arya adalah seorang pria yang sangat tampan, seksi dan berasal dari keluarga kaya raya."


"Bahkan segala hal yang kuinginkan ada padanya. Mungkin untuk mendapatkan pria sepertinya, membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Jadi, aku harus selalu bersabar menghadapi Arya. Apalagi dia berusia empat tahun lebih muda dariku dan memaksaku untuk bersikap lebih dewasa.

__ADS_1


Saat ini, ia introspeksi pada kesalahannya karena tadi menelpon dan langsung marah-marah hanya karena mendengar suara Arya yang jelas-jelas terdengar baru bangun tidur.


"Aku memang bersalah," ucap Putri yang kini menyadari akan kesalahan yang telah diperbuat, sehingga ia memilih untuk meraih ponsel miliknya di sebelah kiri tempatnya berbaring.


Kemudian kembali menghubungi nomor dari sang kekasih dan mengembuskan napas panjang saat menunggu suara dari seberang telpon.


'Aku harus meminta maaf padanya terlebih dulu agar ia tidak lagi marah padaku.'


Kemudian Putri menghubungi Arya lagi dan langsung mendengar suara bariton dari seberang telpon yang terdengar masih marah padanya.


"Apa lagi? Apa kamu mau marah-marah lagi?"


Putri yang terlihat meremas pakaiannya dengan tangan kanan sambil menahan diri agar tidak kembali merasa marah padanya.


Hening selama beberapa saat, seorang pria di seberang telpon sedang memikirkan sesuatu untuk menjawab pernyataan-pernyataan dari Putri.


"Bukankah ini adalah anak ketiga untukmu? Seharusnya kamu sudah terbiasa karena pernah merasakannya. Kamu seperti seorang wanita yang belum pernah hamil saja," ucap Arya yang kini merasa sikap Putri terlalu berlebihan.


Apalagi ia mengetahui bahwa Putri bukanlah seorang wanita muda atau pengantin baru yang langsung hamil dan tidak punya pengalaman.


Sementara itu, Putri yang saat ini tengah menelan kasar salivanya karena benar-benar sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak kembali marah pada Arya.


"Hamil trimester pertama tidak pernah memandang belum pernah punya anak atau pun sudah, Arya. Semua wanita merasakan tersiksa saat hamil muda. Semua itu karena perubahan hormon dan akhirnya sangat berpengaruh pada tubuhku hingga membuatku mual dan muntah."

__ADS_1


"Belum lagi kram perut yang kurasakan saat muntah-muntah dan membuatku sangat kesakitan."


Putri kini dengan sabar menjelaskan tentang perihal kehamilan bagi seorang wanita kepada pria yang berada di seberang telpon. Bahkan ia kali ini merasa seperti sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa mengenai dampak dari hamil muda yang selalu menyiksanya.


Ia bukanlah tipe wanita yang hamil tidak merasakan apapun dan bisa makan dengan lahap tanpa mual dan muntah seperti salah satu temannya dulu di kampung.


Namun, selama ia hamil selalu merasa tersiksa karena efek mual, muntah dan perut kram. Itulah sebabnya ia benar-benar ingin Arya mengetahui bagaimana perjuangannya untuk melindungi benih di dalam rahimnya.


Putri yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu karena ia benar-benar sangat menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah pada pria yang seperti tidak memperdulikan keadaannya.


Bahkan ia merasa seperti berubah menjadi orang lain ketika berada di dekat Arya karena harus selalu menahan diri agar tidak bersikap buruk pada pria yang ingin dijadikan pelabuhan terakhir untuknya.


Tentu saja sangat berbeda saat ia bersama dengan Bagus karena selalu bersikap sesuai dengan apa yang dirasakan tanpa menahan diri. Apalagi saat marah, ia selalu dirayu oleh Bagus agar tidak berlanjut lama.


"Aku menelponmu karena ingin mengatakan bahwa saat ini hanya punya uang sedikit. Hanya cukup untuk kita menikah. Aku ingin kamu juga mencari jalan keluar karena kita butuh tempat untuk tinggal setelah menikah. Kita butuh uang untuk biaya hidup sehari-hari. Apa kamu tidak punya saudara atau teman yang bisa membantumu tanpa sepengetahuan dari orang tuamu?"


Putri terpaksa mengatakan semuanya karena tidak ingin merahasiakan hal yang membuatnya merasa sangat pusing karena tidak menemukan orang yang mau meminjamkan uang untuknya.


Hingga jawaban di seberang telpon membuatnya membulatkan mata dan jantungnya seketika berdetak sangat kencang.


"Bukankah aku kemarin sudah mengatakan bahwa orang tuaku menyuruh semua kerabat serta teman-temanku agar tidak meminjamkan uang padaku. Aku sudah berusaha semampuku. Apa kamu pikir aku hanya duduk diam dan masih tiduran seperti perkataanmu tadi?"


"Minta tolong saja pada suamimu agar menampung kita di rumah itu sementara. Meskipun aku benar-benar tidak pernah berpikir untuk tinggal di kontrakanmu yang kecil itu, tapi menurutku, itu adalah jalan satu-satunya. katakan padanya bahwa setelah aku kembali ke rumah, akan menggantinya dua kali lipat karena menampungku."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2